Menghibur

2400 Words
Sepulang seolah, Becca masih saja melamun di tempat duduknya. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa bel pulang sudah berbunyi. Kebanyakan murid sudah pulang, sedangkan dia masih melamun disitu. Dean yang memerhatikan jadi penasaran kenapa gadis itu jadi begini. Langsung saja, dia menghampiri Becca dan langsung menyapanya. “Oi? Loe kenapa?” tanya Dean sambil memerhatikan raut wajah sedih yang jelas terlihat di wajah Becca. “Dean? Ki-kita sudah pulang?” Becca celingak-celinguk baru menyadari kalau ternyata jam pelajaran sudah usai da waktunya pulang. Dan Dean menyadari kalau dia sedang melamun memikirkan soal dirinya yang mengundurkan diri dari olimpiade. Padahal, mengikuti olimpiade itu adalah salah satu impiannya. Tentu saja dia sedih, terlebih lagi, sikap Irene yang sangat berambisi demi mengikuti olimpiade itu. Sampai mengancam dia pula! “Iya dah pulang! Jangan melamun terus, ntar kesambet!” jawab Dean. Becca hanya mengangguk pelan sambil menyusun bukunya dan menyimpannya di tasnya. Gadis itu berdiri sambil berjalan keluar kelas diikuti oleh Dean. Dia masih belum bisa menerima kalau dia harus mengundurkan diri dari olimpiade karena mendapat ancaman dari Irene. ‘Tidak! Jangan mundur, Becca! Jalanmu masih panjang!’ Becca berusaha menguatkan dirinya sendiri dan tidak mau jatuh hanya karena satu hal yang belum bisa digapainya. Dia yakin, kalau lain waktu dia bisa mendapat kesempatan lagi. Semuanya akan indah pada waktunya. “Becca, Loe… mau makan es krim? Loe kelihatan sedih, bolehlah cerita dikit sama gue,” ajak Dean tanpa sadar membuat wajah Becca yang murung tersenyum tipis. Entah kenapa, walau ajakan Dean terkesan biasa saja, tetapi dia selalu bertindak tepat pada waktunya. Akhirnya, Becca mengangguk menerima ajakan Dean. Lagipula, masih ada waktu satu jam lagi sebelum dia kerja paruh waktu. Café Di sinilah mereka, di tempat kerja paruh waktunya Becca. Dia gak sangka kalau Dean memilih tempat ini untuk mentraktirnya es krim. Ya, sekalian saja dia langsung kerja. Becca memakan es krimnya perlahan dan hal itu tidak luput dari pandangan Dean. Dia bisa melihat temannya itu memang sedang bersedih akan sesuatu hal. Sebagai teman yang baik, Dean ingin sedikit menghiburnya. Dia bukan sedang modus ala buaya. Hanya saja, dia melakukan ini karena Becca juga sering membantunya dalam pelajaran di kelas. Becca adalah salah satu teman terbaiknya selama SMA. Mana mungkin, dia membiarkan Becca berlarut dalam kesedihan begini. Dean langsung terpikir sebuah hal. Dia melahap es krim dengan cepat sampai dia cemongan sana-sini. Dia sengaja menarik perhatian Becca supaya memerhatikannya. Dan yang benar saja, Becca langsung menyipitkan matanya sambil menatap heran pada Dean. “Kenapa makannya kayak anak kecil gitu?” tanya Becca sambil meraih tisu lalu membersihkan bekas es krim di bibir Dean. “Hehehe! Sengaja tahu! Gue lucu kan kalo kayak gini?” Dean malah nyengir dan membuat Becca menautkan alisnya bingung. Tingkah Dean agak absurb di matanya. “Coba loe perhatiin, deh! Gue sanggup gak, langsung memakan satu sendok penuh es krim?” Dean berucap sambil menyendokkan es krimnya penuh dan memasukkannya ke mulutnya. Langsung saja, Dean merasakan giginya ngilu sampai menyipitkan matanya. Melihat itu, Becca langsung tertawa dengan tingkah Dean. “Hahahahaha! Ada-ada saja kamu ini!” tawa Becca langsung membuat Dean lega. Akhirnya, temannya ini bisa tertawa lepas setelah bersedih tadi. “Aku harus pake sens*dyne setelah ini. Biar makan es krimnya makin lahap!” kata Dean membuat Becca tertawa lagi. “Gini dong! Kamu cantik kalo tertawa lepas,” ungkap Dean bukan gombal tapi suatu bentuk kejujuran. Mendengar itu, Becca langsung merasakan jantungnya berdegup. Dia agak memerah dan langsung menunduk malu. Dia tahu, kalau Dean bukan bermaksud menggombalinya, hanya saja, perasaannya yang membuat dia begini. “Makasih, kamu sampai begini demi menghiburku.” Becca tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. “Itu kan gunanya teman!” jawab Dean sambil tersenyum polos. Entah mengapa, saat Dean memperjelas kalau dirinya hanya menganggapnya sebagai ‘teman’ hatinya sedikit sakit. Apalagi, kalau mengingat Dean yang menyukai orang yang sudah membuatnya sedih. Entahlah, Becca sendiri tidak tahu mau bagaimana soal perasaannya pada Dean yang hanya sepihak. Waktu berlalu begitu saja dan hari terus berganti. Becca sudah merasa lebih baik sekalipun dia tidak jadi berpastisipasi dalam olimpiade matematika nasional. Hari ini, adalah pengumuman bahwa sekolah mereka sudah memenangkan olimpiade. Seusai upacara, kepala sekolah langsung mengumumkan dengan bangga kalau Irene Alicia Hanendra sudah berhasil menyabet prestasi yang luar biasa walau baru kelas X. Semua orang bisa melihat wajah penuh kebanggaan pada Irene. Dia sudah berhasil membuktikan kalau dia bisa jadi yang terbaik di sekolah ini. Dia menerima piala itu dengan bangga sambil memandang remeh ke arah Becca. Saat melihat pandangan remeh dari Irene, dia hanya menunduk. Becca sama sekali tidak mau mencari masalah dengan Irene. Kelas X-A Irene menatap bangga pada trophy dan sertifikat yang baru saja didapatnya, semua murid mengucapkan selamat padanya. Irene tentu saja menerima semua ucapan terima kasih dari mereka. Dia tidak mau menyombongkan diri untuk saat ini. Tanpa sombong pun, dia sudah membuktikan bahwa dirinyalah yang terbaik disini. “Loe keren, Rene!” puji Lani pada Irene. “Gue tahu!” balas Irene bangga. Sedangkan di sisi lain, Marsha menatap Irene dengan kesal. Karena memenangkan itu olimpiade, Irene seakan sudah menunjukkan tanduknya. Dia yakin Irene akan semakin gencar mendekati Kevin setelah ini. Marsha langsung berpikir untuk bergerak cepat sebelum dia dikalahkan oleh Irene lagi. Tiba-tiba, sebuah ide merasuk ke kepalanya karena dia memikirkan sebuah ide. Tanpa terasa, jam pelajaran berlalu begitu saja. Kini, Marsha sedang berjalan menuju ruangan OSIS. Dia adalah salah satu anggota OSIS, jadi wajar saja kalau dia pergi kesana. Tapi dari jauh, dia melihat Kevin sedang berbincang dengan Becca. Diam-diam, dia menguping pembicaraan mereka. “Kamu gak bisa ikut ya? Sayang sekali,” kata Kevin dengan nada kecewa. “Iya kak, saya gak punya baju yang bagus untuk prom night. Maaf ya, kak.” Becca menjelaskan alasannya. Sebenarnya, lusa ada acara promnight untuk merayakan ulang tahun sekolah ini. Mendengar Becca tidak bisa menemani Kevin, Marsha merasa langsung mendapatkan kesempatan di depan matanya. Setelah Kevin dan Becca bubar, dia langsung menyamperin Kevin. Memang sih, dia gak terpikir, kenapa Kevin langsung mengajak Becca. Mungkin saja, Kevin memiliki perasaan kepadanya. Di OSIS, Becca juga selalu mendapat perlakuan khusus yang membuatnya tidak disukai. Tapi jujur saja, Marsha bisa melihat kalau Becca sama sekali tidak memiliki perasaan pada Kevin. ‘Dia aneh! Kenapa ya, dia tidak menunjukkan ketertarikan sedikit pun kepada Kak Kevin?’ Marsha berpikir. “Marsha? Kamu datang untuk membantuku mengurus Prom night?” tanya Kevin saat melihat kehadiran Marsha di ruang OSIS. Gadis itu langsung mengangguk cepat. Dia membantu Kevin mengurus sedikit hal untuk menyelesaikan semua rangkaian acara Prom night nanti. “Woahh! Akhirnya selesai juga ya! Makasih loh! Memang, aku bisa mengerjakannya sendiri, tapi kalau dibantu cepat selesai juga ya,” ujar Kevin lega karena sudah menyelesaikan sisa tugasnya. “Sama-sama, Kak! Oh iya, kakak udah punya teman untuk ke Prom nanti?” tanya Marsha hati-hati. Kevin diam dan berpikir sebentar sambil menatap Marsha. Tak lama, dia tersenyum sambil menggeleng. “Belum,” jawabnya singkat bagaikan lampu hijau untuk Marsha. “Kalau begitu, boleh saya jadi teman kakak nanti?” tawar Marsha penuh harap pada Kevin. “Boleh!” jawab Kevin cepat tak lupa dengan senyumannya yang hangat. Marsha yang mendapat jawaban itu langsung kesenangan bukan main. Dia serasa menang dalam taruhannya dengan Irene. “O-oh! Kalau begitu makasih ya kak!” Marsha berterima kasih dibalas anggukan ramah oleh Kevin. Gadis itu langsung keluar dari ruang OSIS dengan perasaan yang luar biasa bahagia. Dia serasa terbang ke langit ke tujuh. Di kantin, Irene mendapat banyak pujian dari semua siswa sekolah yang berpapasan dengannya. Semuanya menatap kagum pada kepintaran seorang Irene. Saat ini, dia tengah bersama Lani dan yang lainnya. Tiba-tiba, dia teringat soal Promnight yang bakal di adakan lusa. “Rene, Loe gak berpikir untuk ajak kak Kevin jadi pasanganmu kesana?” tanya Lani mengingatkan Irene. Ya! Irene hampir lupa soal ini karena ini karena terlalu terbuai dengan segala pujian yang didapatnya. Dia juga baru ingat, kalau Kevin belum mengucapkan apa-apa soal keberhasilannya. “Loe bener, Lan! Thanks ya! Gue langsung kesana sekarang juga!” Irene langsung beranjak dari duduknya dan melangkah menuju ruang OSIS. Dia berlari begitu cepat, sampai ada sebuah tangan yang menahannya. “Oi! Oi! Matte kudasai!” (artinya= tunggu sebentar) sebuah suara yang dikenal Irene langsung membuat gadis itu berhenti. Dia kemudian menyipit sambil menatap orang itu yang adalah Dean. “Paan sih, loe? Dasar wibu!” kata Irene sebagai sahutan pada Dean. “Hehehe! Loe kelihatan buru-buru amat kayak baru dikejar penagih utang,” balas Dean. “Napa loe?” Irene menanyakan maksud dan tujuan Dean. “Pertama, gue mau ngucapin selamat sama loe karena sudah membanggakan sekolah kita ini,” ucap Dean diangguki oleh Irene. Okey, ini adalah ucapan selamat yang kesekian kalinya. “Sama-sama! Apalagi?” Irene berterima kasih sambil bertanya apa hal berikutnya yang ingin disampaikan oleh Dean. “Kedua, lusa ada Prom night. Gue pengen ngajak loe barengan sama gue. Gimana?” kata Dean sambil memainkan alisnya. “Gak bisa, Dean! Sorry ya!” tolak Irene sambil melanjutkan langkahnya untuk menemui Kevin. Dia pasti akan lebih memilih Kevin daripada Dean, tentu saja. Mendengar penolakan Irene, Dean hanya menghela napas panjang. Dia udah tebak kok, kalau ada kemungkinan Irene tidak mau menerima ajakkannya. ‘Ini masih awal, Dean! Ayo, berjuang!’ Dean menyemangati dirinya. Tak lama, Irene sudah tiba di ruang OSIS. Sesuai tebakan, Kevin memang masih ada disana. Dia tersenyum senang, karena Kevin saat ini tengah sendirian. Irene yakin, bahwa Kevin akan menerima ajakkannya untuk ke Prom night bareng dirinya. Langsung saja, dia menghampiri Kevin. “Kak Kevin!” panggilnya membuat empunya langsung berbalik. “Oh, Irene! Maaf ya, kakak belum sempat bilang selamat sama kamu. Kakak terlalu sibuk dengan urusan prom night lusa. Tapi jujur deh, kamu hebat banget!” Kevin mengucapkan selamat atas kemenangan Irene sambil memujinya. Irene tersenyum bahagia saat menerima pujian dari Kevin. Dia sudah mendapat banyak pujian, tapi entah mengapa, kalau Kevin yang memuji rasanya berbeda dan lebih istimewa. “Makasih kak!” Irene berterima kasih. “Oh iya, ada apa kamu kemari?” Kevin menanyakan maksud dan tujuan Irene menemuinya disini. “Eumm… ini soal acara prom night lusa. Kakak sudah ada teman?” tanya Irene. “Sudah!” jawab Kevin cepat dan santai membuat Irene langsung kecewa. Dia ternyata kalah cepat dari seseorang. “Kamu cari teman yang lain ya! Kamu jangan terus bergantung sama kakak, Rene!” ujar Kevin bisa membaca raut kekecewaan di wajah Irene. Dia tahu, kalau Irene sangat mengharapkannya. Tapi, akan lebih baik jikalau Irene bergaul dengan yang lainnya. Gadis itu harus mengepakkan sayapnya selebar mungkin dan mengenal dunia. Jangan hanya berputar di sekita Kevin saja. “Ba-baiklah kalau begitu kak!” Irene langsung berlalu menahan rasa kecewanya. Hatinya sungguh sakit karena lagi-lagi Kevin sama sekali tidak memprioritaskan dirinya. Dia pun melangkah menuju kelasnya. Kelas X-A “Marsha, kamu udah ada temen ke prom?” tanya Dana pada Marsha yang kini terlihat sangat senang. Dana jadi merasa leluasa mengajaknya bicara. “Udah! Gue sama kak Kevin!” jawab Marsha dengan nada sangat senang dan penuh kebahagiaan. Dia sengaja sih mengeraskan suaranya supaya seluruh kelas tahu bahwa dia lebih unggul karena dekat dengan Kevin. “Jadi loe ternyata!” Irene berujar kesal mendengar ucapan Marsha yang merasa sangat bangga itu. Marsha menatap remeh pada Irene. “Iya! Gue udah menang, bukan?” “Cuma ke prom bareng, loe bilang menang? Loe belum jadian sama dia!” kesal Irene melihat Marsha yang sudah merasa menang. “Ini langkah awal, kok! Daripada loe, yang cuma bertepuk sebeah tangan selama bertahun-tahun?” sindir Marsha sengaja membuat Irene emosi. Tapi untung saja, Irene bisa mengendalikannya. Dia tidak mau citranya sebagai murid berprestasi jadi rusak kalau sampai membuat keributan. “Gak usah bangga hanya untuk hal kecil,” bisik Irene lalu duduk di bangkunya. Setelah itu, bel selesainya jam istirahat berbunyi. Jam pelajaran berikutnya pun dimulai. *** Kelas X-B Jam pelajaran sudah berakhir tanpa terasa. Becca langsung saja menyusun bukunya untuk pulang, eh maksudnya kerja paruh waktu sepulang sekolah. Tiba-tiba, Dean menghampirinya. Cowok itu langsung menarik kursinya dan duduk di sebelah Becca. “Kenapa?” tanya Becca. “Prom lusa, loe udah ada temen?” tanya Dean padanya. “Aku gak bisa datang,” jawab Becca dengan nada sedih karena tidak bisa ikut. Sialnya, Dean sendiri sekarang yang mengajaknya. “Kenapa?” tanya Dean lagi. “Aku gak punya baju yang bagus,” jawab Becca seadanya. “Cuma karena itu? Oalah! Pokoknya, loe harus ikut!” ujar Dean seakan ngotot Becca harus ikut acara Prom night nanti. “Aku gak punya uang membeli baju yang bagus. Lagian, kamu tahu sendiri, kalau aku hanya bekerja paruh waktu di café. Aku perlu mengumpulkan uang untuk biayaku dan kuliahku nanti.” Becca menjelaskan kalau memang dia tidak punya uang untuk membeli baju yang pantas untuk promnight. “Nanti ada waktu, gak?” tanya Dean lagi. “Mau ngapain?” tanya Becca balik. “Oh, selesai loe kerja di café, kita belikan baju buat loe! Santai aja, gue yang bayar!” ajak Dean tanpa ragu sedikit pun. Becca agak terkejut dengan ajakan Dean dan dia memilih untuk menolaknya karena merasa tak enak. “Gak usahlah!” “Duit gue, kok! Mau gue habiskan buat apa, loe gak perlu menolak, ya? Okey, Rebecca Karen yang cantik? Nanti gue tungguin loe di café ya!” Dean tak memedulikan penolakan Becca. Cowok itu tetap berkeras untuk membelikannya baju untuk acara promnight. Becca tak tahu harus bereaksi bagaimana, tapi dia tersenyum senang saat melihat perhatian Dean untuknya. ‘Kalau kamu bersikap begini, bagaimana aku tidak semakin jatuh hati padamu, Dean?’ Becca merasa semakin jatuh hati pada Dean. Perasaannya kepada Dean malah semakin besar dari hari ke hari. Walau kenyataannya, Dean masih menatap orang lain. *** “Kamu pasti mengajak Kak Kevin juga, ya? Tapi sayang, sudah didahului oleh Marsha,” ujar Dana saat memerhatikan Irene yang sedang melangkah sedih keluar dari kelas. “Jangan ejek gue!” kesal Irene saat Dana mengingatkan soal Marsha yang selangkah lebih maju darinya. “Dahlah! Jangan kepikiran terus! Kamu mau aku temani gak?” Kali ini Dana mengajaknya. Bagaimanapun, mereka adalah teman sejak SMP, dia tentu saja akrab dengan Irene. “Hm… bolehlah! Loe berpenampilan yang bagus ya!” Irene menrima ajakan Dana. Jika Kevin tidak menjadi temannya, bukan berarti Irene takkan hadir ke Promnight, kan? Dia akan menunjukkan pada Kevin, kalau dia bisa dekat dengan semua orang. Dia berharap Kevin cemburu melihatnya dengan orang lain. Setidaknya, itulah yang dipikirkan oleh Irene saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD