Anggota Baru OSIS

2382 Words
SMA Nusa Bangsa Hari ini adalah pengumuman anggota baru OSIS. Semua siswa/i yang mendaftar OSIS dan sudah mengikuti tes langsung menuju madding untuk memastikan mereka lulus atau tidak. Kebanyakan dari anggota baru OSIS adalah para siswi. Mereka sangat ingin bergabung supaya ada alasan dekat dengan sang ketua OSIS, yaitu Kevin. Irene hanya memandang datar kepada para siswi yang berkumpul disitu. Dia merasa terlalu banyak gadis pecicilan yang memang sengaja mendekati Kevin. Jujur, dia tidak suka dengan cara mereka mendekati Kevin. Tapi kalau begini, Irene jadi merasa saingannya sangat banyak. ‘Kalau terus begini, kak Kevin akan selalu sibuk dengan mereka. Dasar hama s**l!’ rutuknya dalam hati sambil berjalan ke kelas. Sesampainya di kelas, gadis itu duduk di bangkunya sambil membaca buku pelajarannya. Dia mau memastikan kalau dia ingat apa yang dipelajarinya semalam karena hari ini ulangan Matematika. Sekalian dia ingin mengalihkan perhatian dari banyaknya siswi pecicilan tadi. “Rajin amat!” tegur Dana. “Namanya juga ingin jadi si nomer satu! Gue harus jadi peringkat pertama, bahkan juara umum. Tapi karena ada Loe, gue jadi ragu.” Sahut Irene dibalas kekehan oleh Dana. “Ayo kita bersaing sehat, Rene! Kalau dulu, kita selalu gantian jadi juara umum. Tapi kamu gak perlu khawatir, aku akan terus memperjuangkan prestasiku supaya beasiswaku tidak dicabut! Walau begitu, kita tetap teman, kan?” ajak Dana untuk bersaing sehat. “Memangnya harus musuhan kalau bersaing dalam bidang akademik? Kita memang bersaing, tapi tidak salah kalau kita sering sharing. Sama saja, kita saling mengasah satu sama lain.” Irene sama sekali tak keberatan untuk berteman dengan saingannya sendiri. “Yap! Belajar yang rajin, ya! Aku sih, sudah tau semuanya.” Ujar Dana sambil tersenyum dan main mata. “Ahahaha! Kita lihat siapa yang menang!” tawa Irene sambil menantang. Setelah itu, Irene melanjutkan lagi membaca bukunya. Dia sudah pelajari semuanya dan yakin dia menguasai pelajaran ini. Tapi Irene tidak boleh sepele dengan siswa/i di sekolah ini. Pasti mereka yang masuk ke sini punya dedikasi yang tinggi dalam bidang akademik. Tapi tidak semua juga, sih! Di kelas B kita melihat seorang siswa tengah molor di bangkunya. Dia memang datang cepat tapi malah lanjut tidur di sekolah. Dia malas kalau sampai harus telat seperti beberapa waktu yang lalu dan dihukum sampai setengah hari membersihkan halaman sekolah. Siapa lagi dia kalau bukan Dean? “Bro? Loe udah belajar? Hari ini ulangan Bahasa Inggris!” tegur Jogi membuat Dean terbangun dari tidurnya. Tapi belum sadar sepenuhnya, sih. “Ohh! Bahasa Inggris? Kecil itu, mah!” jawab Dean sambil menjentikkan jarinya merasa Bahasa Inggris gampang. “Beneran? Bantuin gue dong bro!” Marco langsung mendekat pada Dean. “Dasar parasite! Dekat pas ada maunya aja!” balas Dean kesal dengan sikap Marco. Masih segar diingatannya kalau Marco tega membiarkan dia tidak menyelesaikan PR Fisikanya. “Maap dong, bro! Sebagai teman, kita harus saling membantu.” Bujuk Marco lagi. “Iya bro! Jangan tinggalkan kita dalam kesusahan!” tambah Jogi lagi. “Yaelah! Iya deh! Kita kan teman! Sans aja lah!” Dean akhirnya termakan bujuk rayu temannya itu. Inilah perbedaan hubungan perteman cowok dan cewek, meskipun sempat kesal, teman cowok akan selalu membantu. Sebaliknya kalau cewek, kalau sudah kesal, bakal di diamin, diabaikan, dan mencari teman baru. Tapi tidak semuanya sih, tapi menurut beberapa survey, solidaritas cowok lebih dari cewek. ‘Sebenarnya, gue gak tahu apa-apa soal ujian nanti! Tapi udahlah, kasih aja jawaban seadanya ke mereka. Toh juga, memang mereka yang minta.’ Batin Dean diam-diam mengakui kalau dia sama sekali tak ingat soal ujian. Dia bahkan ragu kalau bisa menjawab soal dengan benar. Tak terasa, jam istirahat sudah tiba. Para siswa/i bisa bernapas lega setelah jenuh belajar atau ada yang ulangan. Mereka ada yang ke kantin atau tinggal di kelas karena mau mengerjakan tugas untuk pelajaran berikutnya. Contohnya si Dean ini! Dia lupa ada PR Matematika. Untunglah Jogi dan Marco meminjamkannya buku PR. Tadinya mau minta sama Becca, tapi gadis itu kelihatan sibuk. Dean jadi segan sendiri. Sedangkan di kelas A, Irene baru saja bernapas lega telah menyelesaikan ujian dengan baik. Dia merasa soal ujian tidak terlalu sulit dan dia bisa menjawab semuanya dengan benar. Gadis itu kemudian berdiri untuk beranjak ke kantin. Tiba-tiba, Marsha menghampirinya. “Rene! Loe tahu, gak? Gue terpilih jadi anggota OSIS, lho! Gue senang banget, Rene!” ujatrnya senang sambil memeluk Irene. Mendengar itu, Irene sempat kesal, tapi dia terpaksa tersenyum pada Marsha. “Eh, loe kenal kak Kevin, kan? Dia itu gimana sih, orangnya? Gue penasaran lho sama dia! Dia itu kayak pangeran di sekolah ini. Loe dekat sama dia, gak?” pertanyaan Marsha soal Kevin membuat mood Irene kembali down. Dia ingin marah, tapi tak bisa. ‘Dia ini bertanya soal Kevin kepada orang yang menyukainya? Gak salah?’ kesal Irene dalam hatinya. “Kalo loe mau kenal dia, langsung aja sana! Ngapain tanya-tanya sama gue? Lan! Mau ngantin?” Irene mengalihkan perhatiannya ke Lani untuk pergi ke kantin. “Yuk lah!” Lani mengangguk sambil pergi keluar bersama Irene menuju kantin. Marsha yang merasa dikacangin heran dengan sikap Irene yang tiba-tiba jadi judes padanya. “Dia kenapa, sih? Mood-nya rusak karena ulangan?” Marsha bertanya-tanya. “Mar? Tumben gak bareng Irene sama Lani. Kenapa gak ngantin?” tanya Dana pada Marsha. “Dia kayak ngacangin aku, gitu. Loe tahu gak kenapa?” tanya Marsha soal Irene kepada Dana. “Eum… aku kurang tahu sih, tapi dari tadi pagi dia kelihatan kesal, gitu.” Jawab Dana seadanya. “Mungkin ada masalah keluarga kali, ya?” tebak Marsha asal-asalan. “Sudahlah, gak perlu kamu pikirkan. Jadi kamu mau kemana? Aku makan siang dulu, ya.” Ujar Dana lalu menyantap makan siangnya. “Gue mau ke ruang OSIS. Ada beberapa hal yang harus kami dengarkan dari Ketua OSIS. Bye, Dana!” pamit Marsha sambil keluar dari kelas. Setelah kepergian Marsha, Dana hanya tersenyum tipis memandangi gadis itu. Kantin “Loe kok merengut aja, sih? Cerita dong!” Lani heran dengan Irene yang terus merengut dari kelas sampai di kantin. Bahkan makanannya sama sekali tidak dia pedulikan. “Gue benci terlalu banyak saingan!” akhirnya Irene menjawab. Tapi jujur saja, Lani belum mengerti maksud pembicaraan dari Irene. Tapi otaknya berputar dan teringat soal pembicaraan Dana dan Irene yang tadi pagi tanpa sengaja didengarnya. “Loe takut banyak saingan di kelas, ya? Gitu aja kok kesal, sih? Belajar lebih giat lagi, dong!” Lani mencoba mencairkan suasana tapi Irene masih kusut mukanya. “Bukan itu, Lan! Loe gak ngerti.” “Gimana coba gue mau ngerti? Loe kagak cerita! Emang gue Tuhan, bisa baca hati loe?” kesal Lani karena Irene telihat sulit dimengerti saat ini. “Gue suka sama kak Kevin.” Akhirnya Irene jujur. Mendengar itu, Lani jadi mengerti kenapa sikap Irene jadi begini. Dia tahu kenapa dia sangat kesal mendengar Marsha membicarakan soal sang ketua OSIS padanya tadi. Dia tahu kenapa Irene seperti gedek melihat siswi-siswi yang bergabung di OSIS. “Sejak kapan?” tanya Lani lagi. “Sejak kecil,” jawab Irene membuat Lani membelalak. “Ohh! Loe udah pernah menyatakan perasaan? Kayak nembak, gitu?” tanya Lani makin penasaran. “Enggak lah! Kan masih bocil!” “Sekarang udah bukan bocil lagi! Loe udah remaja, bebas dong memiliki hubungan asmara.” Lani menanggapi. “Mana harga diri gue kalau nembak cowok, Lan? Loe mikir gak, sih?” Irene merasa egonya ketinggian untuk nembak cowok. “Gini ya, Rene! Kalo cowoknya kayak Kak Kevin, loe mesti gercep! Telat dikit, langsung ditikung!” Lani memberi penjelasan. Mendengar itu, Irene terbelalak dan langsung merasa ketakutan kalau seandainya Kevin beneran ditikung oleh cewek lain. Sumpah deh! Dia gak ikhlas sampai mati. Setidaknya begitulah perasaanya saat ini. “Gitu ya? Nanti gue pikirin.” Jawab Irene lalu menyantap makanannya. Lani akhirnya bernapas lega melihat Irene sudah lebih mood untuk makan. Setelah cabut dari kantin, mereka berjalan balik ke kelas. Tapi perhatian Irene teralihkan kala melihat Kevin sedang tersenyum hangat kepada siswi lain. Irene mengenal anak itu! Dia adalah anak kelas B. Dia langsung kesal dan memilih menguping pembicaraan Kevin bersama gadis itu. Lani juga penasaran, jadi dia ikut saja. “Kamu pantas, lho untuk jabatan itu. Mau ya, jadi sekretaris OSIS? Mantan sekretaris OSIS sebelumnya yang langsung rekomendasikan kamu! Aku yakin kalau kamu berdedikasi.” Kevin berkata lembut kepada gadis itu yang tak lain adalah Rebecca. Irene yang melihat cara Kevin memperlakukan Becca selembut itu jelas saja cemburu. “Kalau menurut kakak begitu, saya akan terima dengan senang hati.” Jawab Becca pada Kevin membuat cowok itu tersenyum senang . “Makasih, ya! Saya berharap sama kamu, lho! Kamu bakal banyak repot nantinya!” Kevin menatap hangat pada Becca dan gadis itu tersenyum membalas tatapan Kevin. Irene tak sanggup dengan pemandangan ini. Dia langsung lari menuju kamar mandi. Dia tak sanggup menahan air matanya. Hatinya sakit dan dia sangat marah tapi tak tahu pada siapa. Dia tak tahu apakah memang dia layak marah atau tidak. Dia memang bukan siapa-siapanya Kevin, tapi perasaannya sakit melihat Kevin dengan orang lain. Orang lain mungkin dia berlebihan. Tapi begitulah perasaan seorang remaja labil seperti Irene. Dia belum bisa menguasai emosinya dengan baik. Dia merasa bahwa dirinyalah yang paling mencintai Kevin di dunia ini dan hanya dia yang layak berada disebelah Kevin. “Rene, sudahlah jangan nangis! Sebentar lagi masuk, lho!” hibur Lani yang sedari tadi ternyata mengikuti Irene. Dia bisa mengerti bagaimana perasaan Irene. Dia juga pernah jatuh cinta. “Sakit, Lan! Aku merasa sesak!” Irene mengungkapkan rasa sakitnya. Ini adalah kejujuran perasaannya. Lani membawa Irene dalam pelukannya. “Ssshhh! Sudahlah! Kamu jangan menyerah dulu, Rene! Dia cuma baik sekedar formalitas saja! Kamu harus berjuang!” Lani berusaha menyemangati Irene. “Makasih ya, sudah mengerti perasaan aku. Kamu baik banget, Lan!” Irene berterima kasih dibalas senyuman pada Lani. Sebelum keluar dari kamar mandi, Lani mengambil tisu untuk mengelap air matanya Irene. Semenjak itu, Irene merasa Lani adalah teman baiknya. Waktu terus berjalan, sekarang sudah saatnya pulang. Irene kini sendiri di halaman depan sekolah karena Lani sudah lebih dahulu di jemput. Irene malas dengan Marsha karena merasa gadis itu adalah saingannya dalam memenangkan cinta Kevin. Dan entah kenapa, Irene kesal setiap melihat Becca walau sekilas. Dia cemburu pada gadis itu! Padahal baru kenal dengan Kevin, tapi bisa sedekat itu dengannya. Terus terang saja, Irene gak terima! “Jangan melamun! Ntar kesambet! Katanya sekolah ini bekas kuburan Belanda.” Dean berujar pada Irene yang masih menunggu jemputannya. “Loe? Gimana kabar?” Irene bertanya kabarnya Dean soalnya beberapa hari belakangan emang mereka gak jumpa. “Baik dong! Masih bernapas, lah! Gak terasa ya, hampir sebulan kita sekolah disini. Gimana kesan, loe?” jawab Dean dibalas balik tanya soal kesan bersekolah. “Kesan gue? Banyak lah! Pelajarannya makin susah, PR-nya makin banyak, nonton drakor kadang gak sempat, banyak teman walau ada yang toxic sih. Apa lagi, ya? Loe sendiri?” Irene mengungkapkan kesan yang sejujurnya soal sekolah dan balik nanya ke Dean. “Gue sih sama kayak loe, tapi kalo soal temen, gue santai aja. Kenapa loe bilang ada temen yang toxic? Suka manfaatin, gitu?” Dean agak kepo soal Irene yang bilang dia merasa ada temannya yang toxic. “Gue bilang dia toxic, karena suka nusuk dari belakang.” Jawab Irene dengan nada kesal karena teringat soal Marsha yang terang-terangan bilang tertarik soal Kevin padanya. Sebenarnya Marsha gak salah, sih. Soalnya Irene gak pernah cerita dan juga memang Irene bukan siapa-siapanya Kevin. Memang inilah yang disebut cemburu tanpa sebab. Terkadang, hal seperti inilah yang membuat hubungan antar gadis bisa terputus dengan mudahnya. Soal cowok lebih tepatnya. “Nusuk dari belakang? Homo dong?” ucap Dean sengaja berujar iseng. “IH! Gak gitu lah! Nanti loe?” balas Irene sambil sedikit tersenyum. Moodnya lebih baik saat Dean mulai mengajaknya bercanda. “Canda homo! Gue normal, lho! Mau bukti?” Dean masih belum berhenti. “Buktikan saja sana sama ayam!” Irene pura-pura kesal sebagai balasan. “HAHAHAHA! Masa cowok seganteng aku sama ayam!” tawa Dean membuat Irene ikut tertawa juga. Saat melihat tawa Irene, jantung Dean berdebar lagi. Dia merasa Irene sangat cantik kalau tertawa lepas seperti ini. “Dean! Makasih ya, udah buat mood aku jadi oke lagi. Dari tadi mood gue parah, sih! Mungkin karena ulangan Matematika kali, ya?” Irene berterima kasih. ‘Kalau begini, aku ingin jadi alasan kamu tertawa. Dengan membuat kamu nyaman, itu bisa menjadi langkah awal yang bisa mendekatkan kita.’ Batin Dean senang bisa membuat gadis yang dia sukai tertawa. “Ulangan ya? Tadi kami juga ulangan Bahasa Inggris, tapi gue dapat C! Gue pikir, gue udah pintar Bahasa Inggris, tapi ternyata RIP Inglishh! Hahahhahaha! Gue ngakak liat Jogi sama Marco ikutan dapat nilai C, soalnya dia nanya gue.” Dean menjelaskan soal ulangan tadi. “Ih! Santai banget loe dapat nilai segitu? Kalo gue langsung nangis sampe mata bengkak! Loe remed, dong?” Irene heran mendengar Dean sangat santai dapat nilai C. Berbeda dengan dirinya yang harus dapat nilai A atau A+. “Remed-lah! Tapi gue santai aja, sih! Prinsip gue gini, bodoh boleh, bandel jangan! Bodoh ada obatnya, bandel susah diobati.” Dean menjelaskan prinsip pribadinya. “Iya! Harusnya loe segera obati kebodohan dengan rajin belajar. Gue yakin kalo rajin belajar, nilai loe bisa meningkat.” Saran Irene. “Gitu ya? Tapi gue malas! Gimana dong?” Dean beralasan. “Malas gak ada obatnya, bos!” kesal Irene mendengar kalau Dean malas belajar. Tapi syukurlah, moodnya terasa lebih baik walau hanya membicarakan hal-hal ringan bersama Dean. “Lama jemputannya, ya?” Dean bertanya lagi. “Iya, nih! Bokap gue kayaknya sibuk.” Jawab Irene sambil mengangkat bahunya. “Mau gue antar?” tawar Dean. “Gak! Makasih! Nanti kita dikira pacaran.” Tolak Irene terang-terangan. “Gak mau pacaran sama cowok seganteng aku?” goda Dean lagi membuat Irene mendengus lucu. Dia sama sekali gak menganggap serius perkataan Dean. “Gak! Untuk apa ganteng tapi payah dalam pelajaran. Ganteng doang! Nilai Matematika noob!” balas Irene membuat Dean tertawa. Tanpa terasa, ternyata jemputan dari papanya Irene sudah tiba. “Balik dulu, ya! Hati-hati loe di jalan! Awas nabrak semut!” pamit Irene sambil melambaikan tangannya. Dean mengangguk sambil membalas lambaian tangan dari Irene. Jujur, hari ini Dean Alvaro Wijaya sangat senang bisa berbincang bebas dengan Irene. Dia ingin semakin dekat dengan lagi dengan Irene kedepannya. Kisah cinta ini sudah dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD