Hari terus berlalu dan waktu terus berputar secepat roda. Kehidupan setiap orang yang hidup masih terus berjalan. Tidak ada waktu yang terhenti hanya karena berbagai hal yang memilukan bagi beberapa orang. Sama seperti para murid di SMA NUSA BANGSA ini. Semuanya berjalan seperti biasa. Tahun ajaran baru sudah berjalan seminggu lebih dan pembelajaran terus dilakukan seperti biasa.
Seperti yang terjadi di kelas X-B saat ini. Dean sedang kebingungan setengah mati karena dia baru ingat kalau pelajaran Fisika Dasar ada PR dua hari yang lalu. Dan pelajaran itu akan dilakukan di jam pelajaran ketiga. Dean berpikir keras untuk mengerjakannya meski asal-asalan. Tapi sayangnya, waktu pelajaran kemarin, dia sama sekali gak konsen dan tidak menangkap apapun. Dengan sigap, dia berbisik pada temannya Marco untuk minta bantuan.
“Bro? Loe dah siap PR Fisika?” tanyanya.
“Udah, bro! Cuma ngasal aja! Susah soalnya!” jawab Marco.
“Pinjem, bro? Gak apa ngasal yang penting selesai.” Dean meminta.
“Sorry, bro! Gue takut kena marah kalau PR kita ketahuan sama.” Marco menolak meminjamkan buku PR-nya membuat Dean kesal sendiri.
‘Temen k*****t emang!’ rutuknya dalam hati. Dean sama sekali tidak bisa konsenterasi mendengarkan guru Bahasa Inggris mengajar karena fokus memikirkan PR fisika yang belum selesai.
“Dean? Can you answer it?” tanya Miss Diana menyuruhnya menjawab soal yang ada di depan. Dean sama sekali gak fokus sampai gak nyangka tiba-tiba dia dipanggil oleh sang guru.
“Dean, come here!” suruh Miss Diana agar dia maju kedepan dan menjawab di papan tulis. Dean sekarang bingung sendiri disuruh menyusun kalimat sesuai grammar d hadapannya. Tapi, kata-kata yang ada di papan tulis membuatnya teringat sesuatu. Dia pun langsung menjawab walaupun agak ragu. Setelah itu, dia memberikan spidol kepada Miss Diana dan sang guru langsung melihat jawaban Dean.
“Oh, great! Sit down, please!” Miss Diana memuji jawaban Dean yang benar dan mempersilakannya untuk duduk. Dean langsung menghela napas lega dan duduk dikursinya. Tapi, dia belum tenang. PR-nya belum selesai dan guru fisikanya saat kejam dan mengerikan. Tiba-tiba, Becca diam-diam memberikan Dean buku PR-nya.
“Eh?” Dean terkejut. Becca lalu membalas dengan senyuman kepada Dean seakan memberikan izinnya untuk menyalin PR-nya. Tentu saja, Dean langsung tanpa ragu mengerjakan tugas fisikanya dengan cepat. Dean sangat bersyukur dalam hati masih ada teman yang mau membantunya dalam keadaan seperti ini.
Jam pelajaran pun sudah berlalu termasuk pelajaran fisika. Akhirnya, Dean bisa lolos dari guru fisika yang kejam. Untung saja dia tidak menyalin PR-nya Marco yang hanya mendapat nilai F. Sebaliknya, nilai Becca mendapat nilai A+, dan Dean mendapat nilai A. Dia sengaja menyalahkannya sedikit supaya tidak ketara menyalin punya Becca. Biasalah, taktik menyalin tugas supaya gak ketahuan nyontek punya temen.
“Kamu pinter Bahasa Inggris, ya? Aku tadi lihat kamu kayak resah gitu sebelum dipanggil Miss Diana dan berpikir kamu gak bakalan fokus.” Becca memulai pembicaraan dengan Dean. Sedangkan Dean hanya tertawa sambil menjawab,”Sebenarnya bukan pandai sih, cuma agak terbiasa aja. Soalnya, kata-kata itu pernah aku baca di komik. Nah, Miss Diana suruh aku susun sesuai grammar dan akhirnya, aku ingat tepatnya susunannya. Hanya keberuntungan aja, sih!”.
“Wah! Kamu suka komik, ya? Komik apa?” tanya Becca lagi.
“Manga anime! Tapi jangan kasih tahu siapa-siapa, ya? Aku ini wibu.” Jawab Dean sambil berbisik membuat Becca terkikik lucu.
“Bukan kamu aja, kok!” balas Becca.
“Emang, tapi di kelas ini kayaknya cuma aku, deh!” kata Dean sambil berpikir.
“Siapa bilang? Aku juga wibu! Ya, walau hanya seadanya saja, sih.” Mendegar itu, Dean langsung terkejut bukan main. Tapi disisi lain, dia agak senang juga sih. “Woah! Berarti aku ada teman, nih!” katanya bangga dibalas tawa oleh Becca.
“Bro? Ngantin, yuk! Loe gak lapar?” ajak Jogi sama Dean.
“Iya sih, lapar! Yuk lah!” Dean langsung berdiri bersama Jogi. Tapi belum sampai keluar pintu kelas, Dean langsung berbalik,” Becca, yuk ke kantin! Gue yang bayarin! Hitung-hitung loe tadi udah bantu gue”. Mendengar ajakan itu, Becca masih terdiam dan agak terkejut.
“Kenapa melamun? Ayo!” ajak Dean lagi sambil menarik tangan Becca. Sontak, Becca ikut berdiri dan mengikuti langkah Dean. Diam-diam, Becca merasa ada debaran di hatinya.
‘Apa yang sedang aku rasakan ini?’ Becca bertanya-tanya.
Di kantin
Suasana kantin ramai seperti biasa. Semua siswa/i sudah mengambil bangku mereka masih-masing untuk makan bersama teman mereka. Irene juga ada disini bersama Lani dan Marsha. Mereka bertiga sekarang jadi sering pergi ke kantin barengan dan jadi teman yang cukup dekat. Lalu, Dean bersama Jogi, Marco dan Becca sampai di kantin. Mereka berempat bingung karena kantin sedemikian ramai. Dean celingak-celinguk melihat ke kanan dan kiri untuk mendapatkan bangku bersama teman-temannya.
“Rene! Marsha! gue cabut duluan ya! Soalnya gue baru teringat kalau ada tugas MM yang belum selesai dikit lagi.” Lani berdiri untuk balik ke kelas dibalas anggukan oleh Irene dan Marsha. Seperginya Lani, Irene melihat sosok Dean yang sedang bingung untuk mencari tempat duduk di kantin.
“Dean! Sini!” panggilnya sambil agak berteriak. Dean yang mendengar itu, langsung mengalihkan perhatiannya dan melihat sosok Irene. Dia langsung tersenyum senang dan berjalan tanpa ragu ke arah Irene.
“Ada dua bangku kosong,” kata Irene sewaktu Dean sudah sampai ke dekat mejanya Irene.
“Cuma dua, ya? Oke, gue sama Becca disini aja! Loe pada cari tempat lain, husshh!” Dean langsung duduk tanpa memedulikan Jogi dan Marco.
“Kalo cewek diselametin duluan, dasar buaya!” rutuk Marco kesal.
“Bukan gitu, bro! Gue gak bisa milih salah satu diantara kalian, nanti saling cemburu, gitu! Ahahahaha!” balas Dean sambil tertawa membuat yang lain di situ merasa lucu pula. Becca juga ikut duduk disebelah Dean. Dengan sigap, Dean memesan makanan dan menyuruh Becca memesan pula. Setelah itu, petugas kantin pergi ke dapur untuk membawakan pesanan Dean dan Becca.
“Hai, aku Irene! Nama kamu siapa?” tanya Irene ramah memperkenalkan diri.
“Hai juga, saya Rebecca. Panggil saja Becca. Senang mengenalmu, Irene.” Jawab Becca.
“Kalian… pacaran?” tanya Marsha pada Dean dan Becca.
“Hah? Pacaran? Enggaklah! Kita teman sekelas aja, kok!” jawab Dean tanpa ragu diangguki oleh Marsha dan Irene. Meski benar, entah kenapa jawaban spontan dari Dean membuat Becca agak kecewa.
“Oh iya, loe bukannya yang dihukum pas upacara penerimaan siswa baru?” tanya Marsha lagi pada Dean.
“Iya! Ternyata gue se-famous itu ya? Hahahahaha!” jawab Dean santai.
“Bangga ya, famous dengan cara kayak gitu.” Sosor Irene.
“Oh, sorry! Gue Marsha! Lupa ngenalin diri. Kelihatannya, loe akrab dengan Irene, ya?” Marsha mengenalkan diri sambil menanggapi soal kedekatannya dengan Irene.
“Oh iya, Gue Dean! Gue sama Irene emang udah temenan dari hari pertama, sih! Soalnya, papa kita temenan! Jadi kayak ada kontak langsung, gitu.” Jawab Dean santai sambil tersenyum ke arah Irene. Sedangkan Irene hanya membalas dengan tawa. Tak lama, makanan mereka sudah datang. Mereka makan siang bersama, tapi selama itu, Becca dapat memperhatikan kalau tatapan Dean kepada Irene sangat berbeda. Seakan, Irene itu sangat istimewa baginya. Tatapan Dean kepadanya begitu biasa, seakan Dean menganggapnya sama seperti Marco dan Jogi.
‘Cuma teman sekelas.’ Batin Becca lagi.
Walau baru mengenal Dean, entah kenapa Becca merasa sangat nyaman berada di sekitar cowok itu. Jujur saja, Becca sangat memperhatikan Dean selama ini. Meski sikap Dean yang agak kekanakan, tapi dia tahu kalau Dean itu orangnya baik. Tapi sekarang, dia sadar kalau perhatian Dean padanya hanya sebagi teman. Karena di matanya sudah adah Irene yang sangat istimewa baginya.
“Becca? Kamu bisa ke ruangan OSIS sepulang sekolah? Ada yang mau kakak beri tahu.”
Itu Kevin! Dia saat ini ke kantin dan menyamperin Becca. Irene yang juga ada disitu agak terkejut. Memang, sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu Kevin dan bahkan meminta Kevin tidak mengantarnya ke sekolah. Irene merasa lebih baik belakangan ini, tapi sekarang dia merasa sesak lagi. Kevin saat ini berada dihadapannya, tapi dia sama sekali seperti menganggap Irene gak ada. Jujur saja, Irene menunggu-nunggu Kevin menyapanya duluan.
“Baiklah, kak!” jawab Becca sambil mengangguk.
“Kak Kevin? Kapan seleksi anggota OSIS-nya?” Marsha juga bertanya soal seleksi keanggotaan OSIS.
“Iya, nanti kakak umumkan. Kalau begitu, kakak balik ke kelas dulu, ya. Dah semuanya!” pamit Kevin sambil tersenyum kepada keempat adik kelasnya. Irene langsung merasa sesak karena sama sekali tidak dipedulikan oleh Kevin. Dia hanya menyingkat kehadiran Irene dengan kata ‘semuanya’.
‘Apa aku salah kalau ingin memilikimu seorang?’ sendu Irene dalam hatinya. Tak lama, dia berdiri lalu pamit sama yang lain. Dia ingin mengejar Kevin karena ingin tahu apa yang selama ini cowok itu pikirkan soalnya. Bagaimana sebenarnya Kevin menilainya. Saat hampir dekat dengan Kevin, dia terdiam di tempatnya karena melihat Kevin sedang berbincang sedemikian akrab dengan seorang siswi yang kemungkinan adalah teman sekelasnya. Diam-diam, dia menguping pembicaraan Kevin dengan Alda.
“Padahal sayang sekali kamu mundur dari sekretaris OSIS. Aku dah terlanjur cocok sama kamu.” Ujar Kevin pada temannya itu.
“Memang sih, bekerja sama denganmu di OSIS selama setahun belakangan ini menyenangkan. Tapi kamu tahu kan, kalau ujian kelulusan kita jauh lebih penting! Aku harus fokus supaya bisa lanjut ke Universitas di luar negeri.” Jawab siswi itu.
“Oke! Kalau begitu, kamu semangat ya, Ra!” Kevin menyemangati temannya yang bernama Rara.
Hati Irene begitu sakit melihat keakbraban Kevin dengan orang lain sementara dirinya diabaikan. Irene langsung berbalik dan berjalan dengan kecewa ke kelasnya. Dia menyadari sebuah hal, kalau kedekatannya dari kecil bersama Kevin tidak menjamin bahwa dia akan selalu diperlakukan istimewa oleh Kevin. Kevin juga manusia yang perlu bersosialisasi, tapi Irene bahkan memagari dirinya untuk tidak memperlakukan orang lain sedemikian istimewa seperti Kevin. Di hatinya, hanya ada Kevin seorang. Yang lain hanyalah teman dimatanya.
Tapi Kevin sama sekali tak menganggapnya se-istimewa itu. Cowok itu memperlakukannya sama seperti yang lainnya, bahkan dirinya lebih diabaikan. Irene bertanya-tanya dalam hatinya, apa Kevin tidak sedikit pun berpikir untuk mengistimewakan dirinya? Apa kedekatan mereka sejak kecil hanyalah hubungan belaka yang tidak penting? Apa dirinya tidak pantas bersama Kevin? Entahlah, bisa dibilang Irene sangat egois karena perasaannya saat ini.
“Rene? Kenapa melamun di taman? Lima menit lagi sudah bel, lho?” tanya Dana membuyarkan lamunan Irene. Sontak, Irene langsung mengangguk dan berjalan menuju ke kelasnya dengan perasaan sedih. Dana sebagai teman yang sudah mengenal Irene dari SMP tahu kalau saat ini Irene sedang sedih.
“Kamu mikirin apa?” tanya Dana hati-hati.
“Eumm… bukan apa-apa!” jawab Irene tak ingin Dana tahu soal urusan pribadinya. Jujur, dia malu bercerita. Soalnya kalau dia cerita, pasti semua orang akan menyalahkan dia. Dia akan dinilai egois dan kekanakan. Tapi apalah daya, Irene hanya seorang gadis yang jatuh cinta saat ini. Dia sudah menyukai sosok Kevin sejak kecil, bahkan saat berusia 5 tahun. Salahkah dia memiliki perasaan demikian. Bisa dibilang sih, Irene hanya menyiksa dirinya sendiri dengan perasaan sepihak yang dia miliki. Tapi dia memang bodoh dan membiarkan perasaan itu menyiksanya.
Kelas X-B
Sesudah dari kantin, kini Dean dan Becca sudah kembali dari kantin. Sebenarnya, Dean agak kepikiran soal sikap Irene yang tadi tiba-tiba berubah karena kehadiran sang ketua OSIS. Dia ingin bertanya, tapi Irene sudah keburu pergi.
“Dean, makasih sudah traktir aku, ya.” Becca berterima kasih pada Dean karena sudah menraktirnya dikantin. Ini pertama kalinya dia makan di kantin. Dia sangat senang apalagi di traktir.
“Sama-sama! Santai aja!” balas Dean sambil tersenyum kepada Becca.
“Kamu kenal sama Irene yang anak kelas A itu sejak kapan?” tanya Becca agak hati-hati.
“Irene, ya? Gue udah kenal dia sejak hari pertama. Papa kita itu temen dan rekan bisnis, gitu. Oh iya, loe udah jadi daftar OSIS?” jawab Dean sambil balik bertanya kepada Becca.
Becca mengangguk dan berkata,”Udah! Kamu tahu? Kak Kevin rencananya mau langsung meluluskan aku tanpa seleksi! Katanya pengalaman aku di OSIS sejak SMP dan prestasiku cukup memenuhi syarat untuk jadi anggota OSIS. Kemungkinan, itu yang mau dibicarakan Kak Kevin nanti pulang sekolah.
Mendengar itu, Dean mengangguk sambil mengangkat tangannya berisyarat untuk memberikan semangat kepada Becca. “Semangat! Ganbatte!”. Mendengar itu, Becca tertawa kecil sambil membalas,”Yoshh! Ganbatte!”. Setelah itu, keduanya langsung tertawa bersama.
Setelah itu, Dean duduk dibangkunya dan mengeluarkan buku untuk pelajaran berikutnya. Dia sangat santai tanpa menyadari kalau Becca memandangnya diam-diam. Ya, meskipun sudah jelas Dean tertarik dengan Irene, Becca ingin sedikit berharap pada Dean. Hatinya menyuruh dirinya untuk maju karena tidak seru kalau kalah sebelum berperang.
Kisah cinta bersegi-segi dari para siswa/i SMA NUSA BANGSA baru saja dimulai. Para murid tahun ajaran baru sudah memulai kisah cinta mereka, tapi disisi lain, kisah ini bukan saja soal cinta. Tapi juga tentang pengembangan karakter dari mereka masing-masing. Bagaimana mereka semua mendewasakan diri di masa SMA mereka. Dimana mereka mengenal siapa teman yang sebenarnya. Apa perbedaan dari sebuah cinta dan persahabatan. Bagaimana cinta bisa membuat seseorang mau berubah ke arah yang lebih baik dan bagaimana hati yang kokoh perlahan-lahan mulai lunak karena dihujani oleh cinta.