Setelah kericuhan itu, Lani balik ke dalam kelas dengan wajah merengut. Semua anak kelas A menjadikannya bahan ocehan karena tingkahnya yang bisa dibilang sangat bar-bar tadi. Dana juga baru masuk ke kelas setelah semua kejadian itu dan memang melihat keadaan kelas yang rame. Dia menghampiri Irene dan bertanya,”Kenapa ini, Rene? Si Lani kenapa menyembunyikan wajahnya di balik meja gitu? Dan yang lain pada lihatin dia melulu?.
“Aku gak lihat sih, cuma tadi dia bikin ribut sama anak kelas B. Gak tahu apa alasannya.” Jawab Irene sambil menggidikkan bahu. Irene gak terlalu mau tahu sebenarnya soal urusan orang. Mendengar itu, Dana mengangguk-angguk mengerti.
“Loe habis dari mana?” tanya Irene lagi sama Dana.
“Aku baru ambil uang hasil titipan jualan di kantin. Kamu tahu dari dulu aku selalu mencari uang tambahan. Untunglah, ibu kantinnya baik banget.” jawab Dana menjelaskan.
Irene mengangguk sambil berkata,” Tapi hati-hati ketahuan kepala sekolah, nanti kamu bisa di drop out”. Dana langsung mengangguk mengerti mendengar peringatan temannya sejak SMP itu. Bisa dibilang, Irene itu tipikal orang yang supel dan gak suka memilih-milih teman. Tak lama, bel masuk kembali berbunyi. Tanda bahwa pelajaran akan segera dimulai lagi. Semua murid kembali ke tempat duduknya masing-masing sembari menunggu guru masuk ke kelas.
Waktu tak terasa dan tibalah saatnya pulang. Memang, hari-hari sekolah berlalu tanpa terasa. Irene menyusun buku-bukunya ke dalam tasnya. Dia tidak langsung keluar dan mengambil handphonenya. Dia menghidupkannya untuk mengecek isinya. Ya, selama jam pelajaran, murid dilarang menggunakan HP, kecuali diizinkan oleh guru. Wajahnya kembali muram lagi ketika menerima pesan dari Kevin kalau dia gak bisa mengantar Irene pulang.
“Hahhh!” Irene menghela napas kesal sambil menggandeng tasnya untuk berdiri. Tapi, perhatiannya teralihkan karena melihat Lani yang masih duduk di bangkunya. Yang lain sudah pada mau cabut, tapi Lani bahkan belum menyusun bukunya. Entah kenapa, Irene agak simpati dan menghampiri Lani.
“Loe kenapa? Malu karena dibicarain teman-teman? Anggap masa bodoh aja, lagian besok semuanya bakalan lupa, kok.” Irene berusaha menenangkan Lani.
“Gak gitu. Gue hanya kesel lihat muka dia di sini! Gimana hari-hari sekolah gue bisa lancar kalau dia ada di sini?” jawab Lani pada Irene. Jujur saja, Irene jadi penasaran siapa orang yang tadi ditampar sama Lani.
“Dia itu siapa?” tanya Irene.
“Anak kelas B, Dean namanya. Dia mantan gue pas SMP. Tau gak sih loe? Dia itu mengesalkan banget! Dia playboy banget! Makanya aku minta putus!” jawab Lani dengan nada kesal sambil teringat sedikit masa lalu.
Flashback
Dean dan Lani kini sedang berada di taman dekat sekolah. Ini sudah jam pulang, tapi mereka udah janjian untuk jalan hari ini. Ya, walaupun mereka masih SMP tapi dah main pacaran aja! Palingan jalan ala bocil. Tapi, sedari tadi Dean malah mengabaikan Lani yang notebanenya udah pacaran sama dia selama 3 bulan. Cowok itu masih sibuk dengan Hp-nya membuat Lani memberengut kesal.
“Dean! Jadi gak sih, kita jalannya?” tanya Lani kesal. Dean hanya sekilas melihat Lani lalu matanya balik ke Hp-nya sambil menjawab,”Iya, entaran, Lan!”.
Mendengar itu, Lani jadi semakin kesal. Dia merasa kalau yang dilihat Dean di Hp-nya itu jauh lebih penting dari dia. Ya, semenjak punya Hp sebulan yang lalu, Dean malah lebih memperhatikan Hp-nya dari pada Lani. Lani langsung berdiri dari tempat duduknya dan menatap garang ke arah Dean. Tapi tentu saja Dean tidak tahu, karena dia sedang sibuk dengan Hp-nya.
“Dean! Kita putus aja, ya! Kamu mengesalkan banget, tahu! Aku sudah sabar selama ini dengan kelakuanmu! Kamu sibuk dengan Hp melulu! Kamu pasti selingkuh sana-sini.” Ancam Lani sambil menuduh Dean.
“Putus? Ya udah!” jawab Dean dengan gampangnya sambil terus memainkan Hp-nya. Dia sama sekali tidak peduli dengan Lani yang sudah dipuncak kemarahan. Lani yang mendengar Dean memutuskannya dengan mudah, langsung emosi dan menghempas Hp Dean sampai jatuh ke tanah lalu pergi dengan marah. Dean hanya terdiam melihat Hp yang bar dibelikan papanya sebulan yang lalu sudah rusak begitu saja.
“Aduh! Padahal aku lagi pushrank!” gumam Dean kesal sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena heran dengan tingkah pacarnya yang baru saja jadi mantan.
End Of Flashback
“Loe masih ada rasa sama dia?” tanya Irene menilai kalau Lani masih suka sama Dean.
“Sialnya iya, Rene! Padahal kalau dipikir ya, si Dean itu cuma modal tampang dan dompet bapak doang! Dia itu terkenal bandel dan juga bodoh! Dia juga sering cabut sekolah, malah playboy lagi! Liat aja nanti, gak lama pasti dia bakalan kena kasus!” jawab Lani membuat Irene mengangguk-angguk mengerti.
“Tapi loe suka.” Ejek Irene membuat Lani mendengus kesal. Irene lalu merangkul Lani supaya gak terlalu lama kesal teringat sama mantan sambil memberi motivasi, “Lan, jalan kita itu masih panjang banget. Masa cuma karena dia sekolah disini loe jadi kesel? Anggap aja yang terjadi di masa lalu itu sebagai pembelajaran. Bodoh amat soal keberadaan dia disini”. Mendengar itu, Lani mengangguk sambil tersenyum sama Irene.
“Loe bener, Rene! Thanks, ya! Yuk, kita turun bareng ke bawah!” ajak Lani diangguki oleh Irene. Mereka kini sudah benar-benar jadi teman meski dua hari ini mereka saling mendiamkan. Ya biasalah, namanya juga anak baru.
Mereka sudah sampai di parkiran dan Lani dijemput duluan. Irene masih menunggu jemputan papanya dan duduk disitu. Tak lama, sosok Dean lewat dihadapannya dengan wajah kesal. Irene yang melihatnya langsung saja tertawa.
“Hahahahaha! Muka loe kusut amat?” tawa Irene sambil bertanya ke Dean.
“Irene?” sahut Dean langsung duduk disebelah Irene.
“Gue malu dipermalukan sama teman sekelas loe, si Lani. Dia itu pasti masih ada rasa sama gue makanya dia kesal.” Ujar Dean lagi hanya diangguki oleh Irene.
“Nunggu bokap?” tanya Dean lagi.
“Iya nih! Loe juga sih, kenapa loe nyakitin hati cewek! Jelas lah dia kesal, mana ada yang gak kesal sama yang namanya Playboy.” Jawab Irene membuat Dean terbelalak.
“Playboy? Dia bilang gitu sama loe? Lani gak berubah, setelah putus dia selalu bilang sama semua orang kalo gue playboy. Padahal, waktu putus dia malah merusak Hp gue. Gue gak selingkuh, cuma terlalu sibuk main game.” Dean membenarkan diri karena gak terima di tuduh playboy sama Lani. Malah sampai ke teman SMA-nya dia menuduhkan hal yang sama.
Padahal, sebenarnya Dean juga baru pertama kali pacaran sama Lani. Dia suka sama Lani karena dia cantik dan pintar. Biasalah, cinta monyet! Dia dengan segera menembak Lani dan memang diterima. Awalnya mereka pacaran kayak biasa. Sering jalan, makan dan nonton bareng, gak lebih sih. Tapi semenjak dapat Hp baru, Dean langsung terfokus pada game. Dia jadi mengabaikan segalanya demi bermain game, termasuk pelajaran dan juga Lani. Jujur aja, waktu itu dia juga merasa Lani adalah pengganggu kesenangannya.
“Sibuk nge-game toh! Makanya, kalo otak loe masih bocil, jangan kepikiran untuk pacaran. Kalau pacaran itu, loe harus menjaga hati pacar loe! Jangan egois dan mikirin diri sendiri.” Irene menasehati ala pakar percintaan.
“Bener sih! Makanya, gue gak pacaran dulu. Udah beberapa bulan juga gue yang ganteng sejagat raya ini menjomblo. Loe mau daftar gak jadi pacar gue?” balas Dean sedikit menggoda Irene. Mendengar itu, Irene langsung mengernyitkan dahinya sambil berkata,”PD amat! Lagian gue ini masih sekolah! Mana ada kepikiran untuk pacaran! Emang loe, yang masih belum matang sok dewasa?”.
“Canda lho, Rene!” ujar Dean.
“Iya tahu!” balas Irene sambil bercanda tawa dengan Dean. Tak lama, mereka melihat seseorang sedang berjalan keluar dari halaman sekolah bersama beberapa siswi. Seketika, wajah ceria Irene berubah menjadi kesal lagi. Dia melihat Kevin sedang berbicara dengan sangat ramah kepada para siswi itu dan disisi lain cowok itu mengabaikannya.
“Itu ketua OSIS, kan? Dia populer banget, ya? Biar gue tebak, pasti semua cewek yang daftar OSIS cuma mau deket sama dia. Iya kan, Rene?” tanya Dean tapi tak dibalas oleh apapun oleh Irene. Gadis itu langsung beranjak keluar dari area sekolah karena sangat kesal. Dia sama sekali gak peduli kalau papanya belum tiba untuk menjemputnya. Dean yang melihat itu jadi terdiam dan tak mengerti dengan perubahan sikap Irene.
‘Gue salah ngomong ya? Aduh! Malah gue bilang semua cewek yang daftar OSIS tukang caper. Jangan-jangan dia juga mendaftar OSIS? Dean g****k!’ Dean merutuki dirinya sendiri.
Dalam perjalanan mengambil taksi, ternyata Irene bertemu dengan papanya. Syukurlah, sang ayah masih bisa melihat putrinya dari mobil. Othman berhenti dan langsung membukakan pintu untuk sang putri. Dia bisa melihat ekspresi wajah putrinya sedang sangat buruk. Dia ingin bertanya, tapi ini bukan waktu yang tepat. Othman membiarkan Irene diam sambil memandangi jalan dari jendela mobil.
‘Kenapa kak? Kenapa kakak selalu mengabaikan aku? Harusnya gak begini, kan? Harusnya kakak memperhatikan aku!’ batin Irene merasa kecewa.
Sesampainya di rumah, Irene langsung naik ke kamarnya tanpa mau bicara sama siapapun. Mamanya langsung bertanya kenapa putri mereka bersikap demikian, tapi sang papa juga menjawab tidak tahu. Kedua orang tua Irene paham kalau saat ini putri mereka memang butuh waktu menyendiri. Sedangkan Irene, langsung naik ke kasurnya sambil memeluk gulingnya. Dia menangis mengingat bagaimana Kevin benar-benar mengabaikannya di sekolah. Kevin juga seakan tak ingin mengakui dirinya setidaknya sebagai teman dekat. Begitulah setidaknya pemikiran Irene.
Kemudian Irene mengambil sebuah foto dibingkainya. Itu adalah foto sewaktu dia berusia 7 tahun dan Kevin 9 tahun. Di foto itu, Kevin sedang menaruh mahkota bunga di kepalanya. Foto itu diambil oleh mamanya saat keluarga mereka sedang piknik bersama. Saat itu, Irene dan Kevin sangat dekat seperti surat dan prangko. Saat momen itu, Irene masih ingat saat Kevin mengatakan bahwa dia akan selalu menjadi pangeran untuk Irene. Disaat yang sama, Irene juga berkata bahwa suatu hari di masa depan dia ingin menjadi permaisuri untuk sang pangeran.
“Dan sekarang semua hanya tinggal kenangan,” gumam Irene sendu.
Tak lama, Ruth mengajak Irene turun untuk makan siang. Meski sedang sedih, Irene tetap turun makan siang bersama keluarganya. Orang tuanya tak banyak tanya tentang kebungkamannya. Adiknya juga diam, eum lebih tepatnya terkesan tidak mau tahu, karena menurutnya, cinta kakaknya itu terlalu kekanakan. Setelah makan, Irene permisi pada orang tuanya untuk balik ke kamarnya. Ruth sebagai seorang ibu langsung menyusuli sang putri. Tentu saja dia khawatir melihat keadaan Irene. Biasanya dia tidak pernah seperti ini.
“Sayang? Boleh mama masuk?” tanya Ruth pada putrinya.
“Mama? Kenapa bertanya? Masuklah, ma!” Irene tentu saja mempersilakan mamanya masuk.
Ruth langsung menghampiri dan memeluk putrinya itu. Irene langsung menerima pelukan mamanya sambil mengisak. “Kenapa sayang?” tanya Ruth lembut pada sang putri.
“Ma, a-aku salah ya kalau berharap kak Kevin memperhatikan aku saja? Di-dia sangat akrab dengan semua siswi di sekolah! Aku marah! Aku kecewa! Tapi aku sadar, aku bukan siapa-siapanya kecuali teman, hikss!” Irene menuangkan segala keluh kesahnya kepada mamanya. Ruth langsung membelai penuh kasih sayang rambut putri sulungnya sambil berkata,” Sayang, kamu itu masih muda. Jalan kamu juga masih panjang. Jadi jangan ikatkan hati kamu hanya untuk mencintai satu orang yang belum tentu membalasnya. Lebih baik kamu fokus meraih masa depanmu, lalu cinta akan datang dengan sendirinya”.
Tapi Irene menggeleng sambil menjawab,”Tapi aku maunya cuma Kak Kevin, Ma! Hanya dia yang aku cintai dalam hidupku! Emang gak bisa ya, kalau pacaran dari SMA lalu nanti menikah? Apa susahnya sih?”. Ya, Irene masih keras kepala. Memang, anak remaja labil selalu berpikir seperti itu. Mereka berpikir semua hubungan itu mudah hanya dengan cinta. Tapi, kenyataan hidup tidaklah semudah itu. Makanya, banyak orang tua kesulitan menghadapi masa remaja anak-anak mereka.
“Itu sulit! Kevin juga punya hal yang menurutnya lebih penting daripada urusan percintaan. Dan kamu juga mesti begitu! Jangan biarkan masalah cinta ini membuatmu menjadi drop! Kamu harus tunjukkan bahwa dirimu berharga! Semua anak muda itu ingin kebebasan, karena keinginan itu, banyak yang bermasalah jika berpacaran. Pacaran itu sebenarnya malah mengekang dan tak seindah yang kalian pikirkan. Mama sudah pernah muda, Rene! Jadi kamu jangan sedih lagi ya! Kamu boleh suka sama Kevin, tapi jangan biarkan rasa sukamu membuat kamu lemah dan drop seperti ini lagi. Sekarang kamu istirahat, ya!” nasihat Ruth lalu menyuruh sang putri istirahat siang. Irene hanya mengangguk lalu naik ke kasurnya untuk istirahat.
Ruth hanya menghela napas panjang melihat sang putri yag sudah mulai tumbuh remaja. Tantangan yang sebenarnya sebagai orang tua baru saja dimulai. Putrinya mulai berpikir soal cinta dan hal itu bakalan menjadi masalah yang cukup rumit bukan saja bagi Irene tapi bagi orang tuanya. Ruth berharap agar kedepannya sang putri berhasil melewati masa remaja yang baik tanpa harus merasakan sakit hati dan kepedihan karena cinta.
“Pengalaman adalah guru terbaik, tapi mama gak mau kamu mengalami hal yang pahit untuk mendapatkan sebuah pelajaran. Mama akan selalu melindungi dan membimbing kamu, sayang.” Bisik Ruth lalu mengecup dahi putri sulungnya yang sudah terlelap.