Di sebuah Restoran
Keempat orang dewasa itu sekarang malah asyik bercengkrama. Mereka adalah Othman dan Ruth beserta Eddy dan Elly. Dua pasang insan yang kini sedang reuni di hari anak mereka mengambil rapot. Tadinya, Othman sengaja menghubungi istrinya dan temannya untuk datang ke sini. Mereka memang sengaja berkumpul hari ini karena ingin bernostalgia.
Sedikit info, Othman dan Elly adalah teman sekampus dan sefakultas dengan Eddy yang adalah kakak tingkat mereka. Jadi, wajar kalau mereka dekat. Dan Ruth, dia ikut berteman dengan pasangan itu karena memang itu teman suaminya. Memang, waktu berlalu begitu cepat dan anak mereka sudah menginjak remaja. Ada saatnya, orang tua juga ingin mengenang masa- masa muda bersama teman mereka.
“Pekerjaan dan anak- anak memang menyita waktu kita sehingga tak bisa berkumpul lagi. Jadi pengen mengadakan reuni akbar,” ujar Othman.
“Aku sih sering ketemuan sama beberapa dari mereka,” balas Elly pada Othman.
“Kamu kan memang sering keluar bersama teman kamu, sayang. Oh iya, kalau boleh tahu, Ruth kemarin itu juni*or kita di kampus kan?” tanya Eddy pada Ruth yang sedang fokus makan. Emang sih, mama Irene hanya mendengarkan saja. Dia bukan tipe orang yang pandai bergaul dan cenderung introvert. Mungkin, Irene mewarisi sifat introvert mamanya.
“Iya! Lalu, saya kenal dengan Oth dan menikah setelah lulus S2.” Dia menjawab seadanya dengan ramah. Dia memang tak terlalu kenal dengan Eddy dan Elly. Semenjak menikah, dia memang benar- benar fokus menjadi ibu rumah tangga yang baik. Suaminya jelas sangat mengenal mereka karena sering melakukan kerja sama bisnis dengan keluarga Wijaya.
“Okey… oh iya, kita terlalu asyik sedari tadi sampai mengabaikan anak- anak yang hanya diam di sini!” Eddy kemudian menunjuk anak- anak yang diam memerhatikan pembicaraan orang tua mereka yang sedang bernostalgia.
Irene dan Dean langsung terkejut ketika papanya Dean bicara megarah kepada mereka. Ya memang, anak- anak seperti mereka tahu apa soal pembicaraan orang tua. Lagian, tadi memang terlalu seru jika harus diganggu oleh mereka.
“Aku cukup terkejut kalau anak kita berteman,” kata Othman sambil tersenyum lebar ciri khasnya.
“Gimana kalau kita jodohkan saja anak kita?” tawar Eddy terselip nada iseng di dalamnya.
“UHUK!”
Irene langsung terbatuk mendengar soal ‘perjodohan’ yang diucapkan oleh papanya Dean. Dia agak terkejut karena memang tak terpikir kalau papanya Dean sedang mengisengi mereka saat ini. Soalnya, wajahnya sangat serius. Dan hal ini tentu saja membuat Irene tegang. Dalam novel dan film, jika orang tua sudah menjodohkan anak mereka, mau tak mau anak itu harus menurut. Irene tegang sendiri membayangkan yang seperti itu.
“Tapi, zaman sudah berubah. Anak- anak sekarang mana ada yang suka dijodohkan. Mereka lebih suka cari sendiri,” balas Ruth memberikan tanggapan soal pernyataan Eddy sebelumnya.
“Iya juga ya! Tapi aku lucu aja melihat wajah anak perempuan kalian yang mendengar kata perjodohan. Tegang amat! Jangan takut gitu, dong! Om hanya bercanda!” Eddy kemudian menjelaskan kalau dia hanya bercanda soal pernyataannya sebelumnya. Dia memang memperhatikan wajah Irene yang tegang dan hal itu membuatnya merasa lucu sendiri.
“Hehe… gak apa om.” Irene berusaha untuk santai walau tadinya dia sudah sempat jantungan.
“Aku sih gak masalah kalau dijodohkan sama Irene,” sosor Dean kemudian membuat Irene menatap tak percaya pada cowok itu. Sesantai itu dia mengatakan bahwa dia gak masalah? Irene ingin sekali marah dan mencubitnya kalo masih sempat- sempatnya bercanda di depan para orang tua.
“Irene yang gak mau sama kamu!” sindir Elly pada putranya sendiri membuat Dean langsung cemberut.
Mendengar sindiran mamanya Dean kepada anaknya, Irene langsung menutup mulutnya untuk menahan tawanya. Dia merasa lucu karena sedari tadi Elly sama sekali tak pernah mendukungnya. Bukan apa- apa sih, Elly mengatakan semua itu supaya putranya sadar diri aja dulu. Fokus belajar dan gak usah pikirin yang lain. Usia Dean masih terlalu muda untuk memikirkan hal yang sangat jauh ke depan.
“Biasanya memang anak perempuan itu malu- malu kucing, Elly. Awalnya bilang enggak, lama- lama iya dengan sendirinya kok! Dulu, Ruth juga begitu.” Othman malah seakan mendukung Dean dan membuat putrinya menatap tak percaya pada papanya.
“Ck! Sudahlah sayang! Anak kamu masih muda! Udah bicarain yang beginian! Mending, kita bicarakan di mana bagusnya anak- anak kita kuliah nanti!” Ruth mendecak sebal pada suaminya yang sangat tertarik dengan pembicaraan yang menurutnya kurang berfaedah di bahas sekarang. Dia memilih untuk mengalihkan pembicaraan ke hal- hal yang jauh lebih berguna daripada pembicaraan perjodohan atau percintaan.
“Pemikiran kamu bagus sekali, Ruth! Sangat idealis! Aku setuju sama kamu!” Elly mendukung Ruth yang menurutnya sepemikiran dengannya.
“Harusnya, hal yang seperti itu yang harus kita pikirkan soal anak- anak kita. Masa depan mereka adalah yang terpenting buat kita. Soal cinta, itu akan jadi urusan mereka,” ucap Ruth diangguki lagi oleh Elly.
“Ya… kamu ada benarnya juga. Jadi om mau tahu, Irene cita- citanya pengen jadi apa?” Eddy langsung bertanya penuh minat kepada Irene.
“Irene… pengen jadi desainer om,” jawab Irene sambil tersenyum ramah kepada Eddy.
Dia mengangguk- angguk mendengar jawaban Irene yang seperti memiliki keinginan kuat untuk menggapai cita- citanya. Lalu, dia melirik ke arah Dean dengan tatapan pasrah. Dia bahkan gak tahu anaknya bakal jadi apa kedepannya. Dia hanya berharap yang terbaik untuk anak tunggalnya itu.
“Kalo Dean, cita- citanya mau jadi apa?” Othman juga bertanya soal cita- cita anak temannya itu.
“Dean pengen jadi orang yang berguna untuk orang lain, om!” jawab Dean engan percaya dirinya.
Eddy dan Elly hanya geleng- geleng kepala mendengar jawaban anak mereka. Ruth dan Irene hanya melirik satu sama lain merasa jawaban Dean itu agak gimana gitu. Sedangkan Othman, dia tersenyum sambil memangut- mangutkan kepalanya seakan senang dengan jawabannya Dean.
“Hebat anak kamu, Ed! Ini calon orang sukses!” puji Othman tulus.
Walau jawaban Dean agak gimana gitu, tapi ada nilai yang bisa diambil dalam cita- citanya Dean sebagai orang yang berguna. Kenapa? Karena dia ingin masa depannya diabdikan untuk bisa berguna bagi orang lain. Bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri. Apapun cita- citanya, dia memastikan bahwa dia bisa berguna dalam aspek apapun dan untuk siapa pun.
“Aduh, Oth! Kamu ini kenapa sepemikiran dengan Dean, sih? Anak ini kerjanya cuma main- main doang! Berguna apanya? Beban keluarga iya!” kesal Elly tanpa sadar mengatakan kejelekan Dean di depan keluarga Hanendra. Oh, mohon maafkanlah ibu satu ini. Dia hanya terlalu kesal saja.
“Semua ada waktunya! Mungkin, dia masih mau memuaskan masa mudanya dulu baru serius. Ada pepatah, ‘Nakal dulu baru sukses’. Biarkan saja dulu, asal jangan sampai terjerumus pergaulan bebas,” saran Othman kepada Eddy dan Elly supaya terus mendukung anaknya dan mengarahkannya menuju yang lebih baik.
“Om? Kita kenapa bisa sepemikiran ya? Apa ini tanda kalau sebenarnya aku ini…” Dean sengaja memanjangkan ucapannya membuat semuanya penasaran tentang apa yang ingin disampaikannya.
“….calon menantunya om??” Dean melanjutkan perkataannya membuat Othman tertawa terbahak- bahak.
“Hahahahahaha!” Dean dan Othman malah asyik tertawa berdua.
Yang lain hanya saling menatap satu sama lain merasa kalau mereka terlampau cocok. Eddy adalah tipikal orang yang serius, saking seriusnya orang gak tahu kaan dia bercanda. Kalau Elly dan Ruth tipikal emak- emak yang idealis. Dan Irene, dia tipikal yang sangat realistis. Memang sih, papanya Irene adalah orang yang suka bercanda. Tapi, ada seriusnya kok!
“Nanti kalau sudah bisa kasih makan Irene, om pertimbangan deh!” jawab Othman setelah puas tertawa.
“Papa!!” kesal Irene sambil memanyunkan bibirnya.
Momen ini sungguh berkesan bagi semuanya. Dan setelah puas bercengkrama, berbincang dan bernostalgia, mereka pulang ke kediaman masing- masing. Perbincangan tadi sama sekali tak ada seriusnya dan hubungannya ke masa depan. Tapi, Irene langsung kepikiran kalau seandainya benar dia dijodohkan dengan Dean. Sepanjang jalan, dia hanya diam dan mendengarkan percakapan papa dan mamanya di mobil.
Kediaman Keluarga Hanendra
“Pergi seharian cuma ambil rapot kak Irene? Sungguh aku sangat di anak tirikan!” protes Genie saat papa, mama dan kakaknya baru masuk ke rumah.
“Sayang, mama sudah ambil rapotmu. Tapi maaf ya, mamaterpaksa ninggalin kamu karena papa tiba- tiba nelpon dan suruh datang untuk berjumpa temannya,” ujar Ruth berusaha membujuk putri bungsunya yang dipastikan ngambek sama mereka. Ya, akhirnya Genie dipesankan taksi untuk pulang setelah mengambil rapotnya.
“Genie… jangan gitu dong! Papa penasaran, kamu peringkat berapa?” tanya Othman tulus. Tapi, Genie melihat ke arah kakaknya yang membawa trophy dan sebuah map yang dipastikan isinya sertifikat juara. Dia bisa membaca di trophy itu kalau kakaknya meraih juara satu umum untuk yang ke sekian kalinya.
“Kalian pasti gak ingin tahu! Aku gak kayak kak Irene yang bisa mendapatkan piagam seperti itu!” Genie langsung naik ke kamarnya dan mengunci pintunya.
Dia iri dengan perhatian yang didapatkan Irene setiap kali mengambil rapotnya. Orang tuanya selalu berlomba- lomba ingin mengambil rapotnya dan melupakan dirinya. Genie kesal kalau mengingat dia bahkan pernah mengambil rapotnya sendiri. Orang tuanya pasti lebih bangga kalau mendapat pujian karena anaknya sangat berprestasi.
“Genie! Kamu kenapa sih?” Irene bicara pada adiknya dari luar.
“Gak apa! Aku lagi menggambar!” ketusnya pada Irene. Kakaknya langsung merasa bersalah saat melihat adiknya ini sedih.
“Maafkan kakak! Kakak gak bermaksud! Kamu tahu, kemampuan kamu itu jauh lebih keren daripada kakak!” Irene berusaha menghibur adiknya itu.
“Apanya? Jangan kasihani aku!” Genie sama sekali tak mau mendengarkan Irene. Dia merasa, Irene hanya mencoba membesarkan hatinya.
“Dulu aku suka sekali menggambar dan kamu menirunya. Dan akhirnya, kamu jauh lebih pandai daripada kakak. Dulu, kita sering belajar bahasa Inggris tapi sekarang, kamu jauh lebih menguasainya dengan baik dan intonasi kamu sangat bagus. Kamu itu keren, tahu! Kalau kakak mendapat peringkat di bidang akademik, maka kamu sangat juara di bidang kreativitas! Kamu itu keren!”
Irene menjelaskan semua kemampuan adiknya. Bidang yang ingin Irene kuasai, malah jauh lebih dikuasai oleh adiknya. Dia sebenarnya berusaha melomba adiknya dengan terus menjadi juara satu supaya kelemahannya tertutupi dengan prestasi akademiknya. Genie hanya diam mendengarkan penjelasan kakaknya. Dia kemudian menghapus air matanya dan membuka pintu kamarnya. Dia menatap datar ke arah Irene sambil menepuk pelan bahu kakaknya.
“Aku keren dan aku tahu! Ayo kita ke bawah! Mama pasti udah siapkan makan malam!” Genie sudah tak kesal lagi kepada Irene. Kakaknya hanya bisa tersenyum lalu memeluk adiknya.
“Aishh! Apaan sih? Aku bukan bayi!” keluh Genie hanya dibalas senyuman oleh Genie. Saat melihat kedua putri mereka sudah baikan, Othman dan Ruth saling memandang dan tersenyum. Mereka bersyukur, kedua putri mereka selalu cepat berdamai setiap ada sedikit ketidakcocokkan.
Mansion Keluarga Wijaya
“Mama… mama!” Dean memanggil mamanya seusai makan malam.
“Apa?” tanya mamanya sambil menatap pada anaknya itu.
“Aku mau ikut bimbingan belajar dong, Ma! Dean mau jadi anak pintar seperti Irene!” Dean menjelaskan maksudnya.
“Uhuk! Uhuk!” Eddy langsung terbatuk karena tersedak teh mendengar ucapan putranya. Dia tak percaya mendengar ini.
‘Bimbingan belajar? Bukan Dean sekali?’ pikir Eddy merasa tak percaya putranya meminta bimbingan belajar. Biasanya membuka buku saja dia sangat malas.
“Kamu serius? Tentu boleh dong! Mama akan carikan bimbingan belajar terbaik buatmu supaya nilai kamu bisa naik! Aduh! Mama senang banget mendengar ini dari kamu!” Elly sangat senang sambil mencubit gemas pipi putranya itu. Dia merasa anaknya memang ingin berubah. Jika anaknya mulai rajin belajar, nilainya akan naik. Dan dia akan mendapat peringkat yang bagus di sekolah. Inilah yang sangat dinantikan oleh Elly. Dia ingin anaknya serius menjalani kehidupannya dan fokus belajar.
“Apa faktor pendorongnya?” tanya Eddy kemudian. Dia yakin, anaknya tidak akan begini kalau tak mungkin berkata seperti ini kalau tak ada faktor pendorongnya. Dia mengenal anaknya yang cuma sebiji ini.
“Irene, Pa! Aku mau Irene melihatku dan tidak menganggapku bodoh! Terkadang, kita harus kembali ke realita. Kalau suka sama cewek pintar, maka aku juga harus pintar! Aku juga tak mau disepelekan sama perempuan!” Dean mengungkapkan dengan jujur kepada papanya. Elly tak habis pikir ternyata faktor pendorong anaknya ingin maju ternyata adalah karena dia menyukai Irene.
“Begitu ya? Kalau itu alasan kamu, maka papa tidak masalah! Terkadang jatuh cinta bisa menjadi faktor penyemangat untuk maju. Kamu persis seperti mama kamu!”
Eddy hanya bisa mengangguk- angguk mendengar jawaban putranya. Dia sama sekali tak masalah dengan alasan putranya. Apapun alasan Dean, dia akan terima karena niatnya adalah untuk maju. Bahkan jika alasannya jatuh cinta sekali pun. Dia jadi teringat masa mudanya bersama istrinya. Elly yang selalu mengejar prestasinya supaya bisa dilirik oleh Eddy yang waktu itu adalah ketua Senat di kampus.
“Kamu apaan sih?” Elly manyun seketikan saat suaminya mengingatkannya soal masa lalu.
“Tapi jujur sayang, perjuangan kamu itu yang membuatku jatuh hati padamu!” Eddy membalas sambil menatap hangat pada istrinya.
“Ah, masa?” Elly mulai menepuk pelan bahu suaminya.
“Iya~” Eddy memasang wajah manisnya. Mereka seketika lupa kalau masih ada anak mereka yang menyaksikan keuwuan pasangan tua ini.
“Aku mau muntah!” Dean menanggapi dengan memasang wajah geli.
“Apaan sih, kamu? Romantis sampai tua itu gak salah!” Elly merasa anaknya terlau berlebihan.
“Kalau sudah menikah nanti, kamu harus sayang sama istri kamu sampai tua ya, Dean!” tambah Eddy membuat anaknya hanya menatap malas.
“Dah lah! Lanjut di ranjang sana! Aku mau naik! Bye!!” Dean langsung beranak dari duduknya meningggalkan orang tuanya itu.
“Anak ini! Bicaranya sangat tidak ada akhlak!” teriak Elly kesal mendengar ucapan anaknya yang masih di bawah umur itu.
“Tapi… dia ada benarnya juga,” bisik Eddy malah menambah kekesalan di pihak istrinya. Ah, biarkan saja pasangan ini melanjutkan kegiatan mereka.