Semester Baru

2271 Words
SMA NUSA BANGSA             Semester awal sudah berlalu untuk murid kelas X. Kini mereka memasuki periode semester kedua. Mereka sudah melewati libur panjang untuk istirahat di rumah setelah melewati ujian dan mendapatkan hasilnya lewat pembagian rapot. Semuanya terlihat sangat santai di hari ini. Setelah jam belajar usai, mereka berkumpul di kantin untuk bercengkrama soal liburan mereka atau apa saja yang sudah mereka lakukan selama liburan. “Iya… gue beli ini di Singapure pas libur kemarin!” Marsha membagikan coklat yang dia beli dari luar negeri yang secara tak langsung memberi tahu ke mana dia saat liburan kemarin. Ingat! Sekolah ini adalah sekolah elit dan isinya adalah anak- anak orang berada. Jadi, pembicaraan ini sudah sangat biasa bagi sebagian besar dari mereka. “Buat loe!” Marsha memberikan sebuah coklat kepada Irene yang sedang diam di tempat duduknya. Dia kemudian melihat Marsha dengan tatapan merasa aneh. “Gue mau kita baikan!” lanjut Marsha lagi pada Irene. “Terima… kasih,” Irene akhirnya menerima coklat dari Marsha. Dia sesungguhnya senang karena Marsha yang berinisiatif untuk baikan dengannya duluan. Bahkan Marsha sendiri tak benar- benar percaya Irene mau menerima coklat darinya. Selama ini, dia berpikir kalau mereka terus musuhan, hal itu takkan membawa dampak positif apapun. Marsha juga rindu berteman dengan Irene. Walau kelihatannya sombong, Marsha tahu kalau Irene adalah teman yang baik. “Gue harap… kedepannya kita gak kekanak- kanakan lagi ya, Rene!” Marsha berujar sambil tersenyum menatap Irene. “Kita jangan musuhan lagi hanya karena masalah sepele ya!” balas Irene membalas senyuman Marsha. Ah, ternyata libur panjang bisa mendinginkan ketegangan di antara mereka. “Kita bisa berkumpul lagi kan? Kita bisa selalu sama- sama seperti awal kita berteman lagi kan?” tanya Marsha memastikan. “Iya!” Irene mengangguk. Langsung saja, Marsha memeluk Irene karena dia sangat senang bisa baikan lagi dengan Irene. Beberapa siswa/i yang melihat mereka baikan hanya bisa berbisik- bisik. Tak ada unsur kepentingan masing- masing di antara mereka. Keduanya memang tulus ingin berteman baik lagi.             Di sisi lain, ada Lani yang menatap tak suka pada Irene. Semenjak hari guru tempo hari, dia sama sekali tak memeduikan Irene lagi. Dia merasa kesal tanpa alasan karena melihat kedekatan Irene bersama Dean. Memang mereka semua sangat kekanakan tanpa terkecuali. Bahkan sampai detik ini, Lani sama sekali tak berniat untuk berdamai dengan Irene. ‘Cih! Irene katanya benci dengan orang yang suka caper. Dia sendiri ternyata caper sama Dean! Dasar munafik!’ batinnya sambil melirik sinis pada Irene. “Lan, kamu gak barengan Irene lagi?” tanya Dana yang kebetulan sedang berada di kantin. “Kayaknya dia punya sekutu baru deh!” jawab Lani singkat lalu beranjak dari duduknya dan memilih untuk kembali ke kelas. Dana yang melihat Marsha dan Irene yang sudah baikan hanya bisa tersenyum. “Akhirnya, perang dua kubu di kelas bisa mereda!” gumamnya pelan lalu pergi dari situ. Dan ya, kini Marsha dan Irene sudah baikan. Merea bahkan sudah bisa bicara dan saling akrab seperti dulu.   Di sisi lain…             Dean kini sedang berada di kelasnya dan memilih untuk makan di kelas. Dia tak ke kantin karena sedang malas. Dia terlalu lelah selama liburan. Lelah kenapa? Dia sama sekali tak bekerja keras kok! Dia hanya terlalu lelah karena setiap hari begadang nonton anime kesukaannya. Dia juga sama sekali tak membaca bukunya, padahal kemarin niatnya ingin memperbaiki nilai demi Irene. “Dean? Kamu kelihatannya kelelahan sekali?” tanya Becca memperhatikannya. “Eummhh iya, Becca! Gue kebanyakan nonton sampai begadang,” jawab Dean dengan nada lemas. Becca yang melihat wajah Dean yang tak semangat dan kantung matanya yang mulai menghitam langsung merasa sangat khawatir. “Kamu gak boleh terus begadang! Kamu bisa sakit sirosis hati kalau terus begitu!” Becca memperingatkan kepada Dean. “Beneran? Kalau gitu, gue bisa mati muda dong?” Dean langsung terbelalak panik. “Iya, makanya jangan kebanyakan begadang! Lebih bagus kamu belajar sana!” ujar Becca lagi sambil melipat kedua tangannya di dadanya. “Niatnya sih gitu! Tapi, gue males banget melihat buku! Rasanya penderitaan gue dimulai kalau melihat setiap cetakan huruf di situ,” keluh Dean membuat Becca menggeleng- gelengkan kepalanya. “Hobi boleh, tapi jangan berlebihan! Memangnya, kalian gak liburan?” tanya Becca lagi soal liburan. Dean hanya menggeleng sebagai jawaban. “Bokap dan Nyokap gue sibuk banget. Gue sih gak masalah. Gue juga lebih suka berbaring dan mengurung diri di kamar,” jawab Dean sejujurnya. Dia memang bukan anti sosial, tapi daripada pergi ke luar gak jelas, mending dia diam di rumah. “Kamu beda ya! Padahal, orang lain lebih suka keluar, terlebih anak laki- laki!” puji Becca merasa kagum. “Apa enaknya di luar? Kalau keluar, ngabisin bensin dan kulit bisa kotor dan kusam terkena debu dan sinar matahari. Di kamar, aku punya segalanya. Para haremku lengkap! Game-ku juga banyak! Dan internet lancar!” balas Dean soal pujian Becca soal dirinya yang tak terlalu suka pergi keluar. “Harem?” tanya Becca dengan nada heran. “Oh… harem itu memaksudka para waifuku hehehe!” jawab Dean sambil menyengir. Becca yang mendengar itu hanya bisa menggeleng- geleng karena merasa Dean ini aneh- aneh saja. Walau begitu, dia tetap menyukai cowok ini. Dia adalah tipikal cowok sederhana yang gak banyak tingkah dan baiknya totalitas. “Dean!” panggil sebuah suara membuat Dean dan Becca langsung menoleh. “My waifu? Eh… maksudnya Irene? Kenapa loe ke sini?” tanya Dean sembari berdiri dan menyamperin Irene yang berada di pintu kelasnya. Becca yang merasa dilupakan hanya memilih diam saja. “Ini! Papa sengaja titip untuk loe! Kalau bukan karena papa sih, gue males banget!” Irene memberikan sebuah cendramata. Dia baru saja pulang dari Australia untuk liburan. Dean tersenyum senang menerima oleh- oleh dari papanya Irene. “Bilang makasih sama om ya!” Dean menitipkan ucapan terima kasih untuk disampaikan kepada papanya Irene. “Sampaikan aja langsung! Papa nanti jemput gue kayak biasanya kok!” saran Irene. “Okelah kalau begitu! Loe gak ngantin?” tanya Dean lagi mencari topik pembicaraan dengan Irene. Oh ayolah, sudah dua Minggu dia tak bertemu dengan cewek yang dia sukai. Mana mungkin, dia melewatkan momen ini begitu saja. “Baru aja balik!” jawab Irene singkat. “Ohh!” balas Dean seakan kehabisan topik.                     “Eh, tapi loe tahu gak? Gue sama Marsha udah baikan! Gue seneng banget! Walau kita suka sama orang yang sama, hal itu gak bakal merusak pertemanannya kita. Lagian, gue sadar kalau Kak Kevin masih belum mikirin soal asmara untuk sekarang. Maka dari itu, gue akan berjuang sebaik mungkin untuk mengutamakan prestasi gue! Loe juga harus begitu!” Irene bercerita soal dirinya dan Marsha yang sudah baikan. Tanpa sadar, dia juga menceritakan soal Kevin sambil memotivasi Dean. Sebenarnya sih, Irene ini sama gak pekanya dengan Kevin. “Iya! Gue bakal buktiin ke loe, bahwa gue bisa jadi juara satu umum untuk semester ini! Hati- hati ya, Rene!” Dean memilih untuk menyemangati dirinya untuk maju. “Oh, jadi loe mau menggeser gue? Hmmm… coba saja! Gue tunggu!” Irene menerima tantangan dari Dean dengan santai. “Hahaahaha! Loe sesantai itu ya!” Dean tertawa melihat betapa santainya Irene menanggapinya. “Santai dong! Karena kedengarannya kayak impossible gitu. Tapi, kalau seandainya itu menjadi kenyataan, gue akan menjadi orang pertama yang memberikan sambutan sama loe!” ujar Irene membuat Dean tersenyum lagi. Dia sangat senang bahkan hanya dengan membayangkan Irene yang menjadi orang memberikan sambutan padanya. Dia jadi semakin termotivasi nih! Walau tindakannya masih belum ada. “Oke! Loe harus mengakui kalau gue bisa mengalahkan seorang Irene yang menjadi juara umum di semester pertama!” kata Dean hanya diangguki oleh Irene. “By the way, loe kan mantannya si Lani. Dia kayaknya cemburu deh liat kita. Bisa gak, loe jelasin sama dia kalau kita cuma teman?” Irene mencoba minta tolong sma Dean untuk menjelaskan kepada Lani. Bagaimanapun, dia ingin berdamai dengan Lani. “Loe sama Lani berantem? Karena gue? Hahh… gue tersanjung, Rene!” Dean malah senang mendengar hal itu. “Loe kenapa malah senang? Gue serius nih!” Irene kesal melihat reaksi Dean yang terlihat senang dan santai sekali. “Iya, oke! Gue bakal bilang ke dia. Tapi, Lani itu orangnya keras kepala. Kalau dia udah gak suka, dia gak mau dengerin orang dan selalu negative thinking gitu. Walau begitu, gue akan melakukan apapun buat loe,” ujar Dean mengiyakan permintaan Irene supaya dia bisa berdamai dengan Lani. Dia agak sedikit memberi tahu kejelekan Lani pada Irene. “Oke, makasih ya! Bentar lagi bel, gue mau baik ke kelas dulu. Semangat ya!” Irene berterima kasih sambil tersenyum kepada Dean. Dia pun langsung ke kelas dan Dean masih memandangi Irene yang berjalan ke kelasnya. Becca melihat dan mendengar semua percakapan mereka. Dean sama sekali tak memedulikannya saat bersama Irene. Lagi- lagi, Becca merasakan sesak di hatinya. Gadis itu langsung ke bangkunya sambil mengambil buku untuk pelajaran berikutnya. Dean kemudian duduk sambil tersenyum. Dan ya, dia tak menghiraukan Becca lagi.   ***             Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Semua siswa/i  SMA Nusa Bangsa langsung berhamburan untuk pulang. Irene juga bersiap untuk keluar dari kelasnya. Tapi, sebelum itu dia menghampiri Lani. Dia ingin berdamai dengan Lani. Dia ingin semuanya jelas. Bagaimanapun, Lani adalah temannya selama ini. Mencari satu teman itu sangat sulit, tetapi mencari seribu musuh sangat mudah. “Lan, jangan marah sama gue dong! Gue bisa jelasin semuanya,” ucap Irene berusaha membujuk Lani. “Apaan sih? Gue mau langsung balik!” Lani mengabaikan Irene. Dia terus berjalan melewati Irene begitu saja. Sesampainya di pintu kelas, Lani dikejutkan dengan keberadaan Dean yang juga menahan tangannya. “Tunggu Lan!” Dean menghalanginya untuk pulang duluan. Sudah lama Lani merindukan Dean bicara padanya. Bahkan, saat Dean menahan tangannya saja, dia sudah merasa senang. Tak lama, Dean melepas tangannya dari Lani dan memasukkan kedua tangannya ke sakunya. “Gue sama Irene adalah teman. Sama kayak loe dan dia. Lagian, apa alasannya sampai loe kesal sama Irene?” Dean menjelaskan semuanya sambil menanyakan alasan Lani kesal kepada Irene. “Oh, jadi Irene ngadu sama loe? Dasar tukang caper amat loe ya, Rene!” kesal Lani karena dia tak suka dengan kenyataan kalau Dean sangat menanggapi aduan Irene. Cowok itu langsung bertindak dan berusaha menjelaskan soal hubungan mereka.             Lani tahu kalau Irene dan Dean hanya berteman. Hanya saja, dia terluka dengan kenyataan Dean menyukai Irene. Tatapan Dean pada Irene tak bisa dibohongi. Lani pernah menerima tatapan itu saat pacaran sama Dean dulu. Bahkan, tatapannya kepada Irene jauh lebih bersinar daripada kepada dirinya dulu. Seingkatnya, Lani masih punya perasaan terhadap Dean. “Bukan gitu, Lan! Gue rasa, kalau loe dengar langsung dari Dean, loe bisa mengerti,” kata Irene sebagai tanggapan atas kekesalan Lani kepadanya. “Kalo loe mau baikan sama gue, maka loe harus jauhin Dean, Rene!” pinta Lani membuat Irene dan Dean terbelalak. “Bercanda loe aneh! Emang apa salahnya kalau Irene berteman sama gue?” Dean merasa permintaan Lani terlalu berlebihan. Menurutnya, syukur aja Irene mau berusaha baikan dengannya. “Salah! Karena loe suka sama Irene dan gue cemburu!” jawab Lani tegas lalu pergi meninggal mereka berdua. Dia sudah mengugkapkan perasaannya kepada Dean secara tak langsung. Dean terdiam mendengar Lani mengetahui perasaannya kepada Irene. Dia juga tak menyangka kalau Lani masih suka sama dirinya. “Aneh ya? Kenapa dia bilang kayak gitu? Orang berteman akrab dibilang suka!” Irene berkacak pinggang sambil geleng- geleng dengan ucapan Lani tadi. Dia merasa Lani menanggapi kedekatannya dengan Dean sangat berlebihan karena kecemburuannya. Tapi, sebenarnya Irene salah! Lani takkan cemburu jika mereka terlihat seperti teman biasa. Bahkan, dulu Lani tak masalah jika Irene bernyanyi bersama Dean saat hari guru. Kenyataan bahwa Dean menyukai Irene yang membuatnya seperti itu. Dia sangat peka soal ini! Lani tak cemburu buta, hanya Irene aja yang peka. “Udahlah, Rene. Mendingan kita balik aja.” Dean mengalihkan pembicaraan. “Iya, mendingan gitu sih!” Irene mengangguk sambil berjalan bersama Dean menuju parkiran. Gadis itu seperti biasa menunggu jemputan papanya ditemani oleh Dean yang memang sengaja karena ingin menyatakan terima kasihnya kepada papa Irene. “Itu papa!” Irene langsung berjalan menuju mobil papanya. Dean juga mengikuti Irene untuk menemui Othman. “Oh, Dean! Apa kabar?” tanya Othman sambil tersenyum melihat anak temannya itu. “Saya mau ucapin makasih untuk cendramatanya, om! Makasih ya, sudah mau ingat saya.” Dean menyampaikan rasa terima kasihnya yang tulus. “Oke, sama- sama Dean! Tapi, itu pilihannya Irene lho! Dia gak bilang kaau mau kasih ke kamu. Cuma bilang, kalau dia mau kasih ke teman spesialnya,” kata Othman sedikit melebih- lebihkan fakta. Dia sengaja mengisengi Irene sebenarnya. “Papa?” Irene mulai menatap kesal pada papanya yang mengatakan hal yang tak benar pada Dean. “Lah? Tapi kamu suka yang ini kan? Kamu sendiri yang milih!” Othman tak mau kalah dengan putrinya. “Iya, aku suka! Tapi, papa yang suruh aku kasih satunya lagi untuk Dean!” Irene memperjelas fakta. “Iya- iya! Papa minta maaf!” Othman akhirnya mengalah. “Hehe… gak apa! Malah lebih bagus kalau sama dengan punya Irene. Makasih sekai lagi om. Makasih juga ya, Rene!” Dean berterima kasih kepada keduanya. “Sama- sama! Kita balik dulu ya!” Othman pamit dan mereka pulang. Seperginya Irene dan papanya, Dean langsung melompat- lompat kesenangan sambil melihat cendramata pemberian papanya Irene yang sama dengan punya Irene. Barang itu memang sangat sederhana, tapi karena pemberinya adalah orang yang dia sukai, maka barang itu bakal sangat istimewa untuk Dean. “Aku akan menjaga pemberian ini sampai kapan pun, Irene. Bahkan anak cucuku akan tahu soal kisah pra-sejarah soal pemberian kamu ke aku!” gumamnya sambil tersenyum sambil memikirkan sangat jauh ke depan. Kejauhan sih lebih tepatnya!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD