Hari ini, Dean cepat pulang ke rumahnya karena harus segera belajar. Sebenarnya sih, dia malas! Tapi, kalau malas dia gak bakalan pintar. Dan kalau gak pintar, dia gak bakalan bisa membuat Irene kagum padanya. Jadi, dia memilih mengesampingkan malasnya dan mulai belajar. Biarin aja dulu niatnya demi cewek. Lama- lama, kalau dia sudah jadi anak cerdas dan pintar, cara berpikirnya akan berubah seraya waktu berlalu.
Kini, Dean sudah sampai ke rumahnya. Dia segera ganti baju karena guru privat-nya sudah datang. Dia membawa beberapa bukunya untuk dipelajari hari ini. Dean berusaha seserius mungkin untuk mengikuti pelajarannya. Dia terus memerhatikan guru les privatnya yang sedang mengajar dirinya.
“Hoaaammm!” Tanpa sadar Dean menguap.
“Astaga! Baru sepuluh menit ibu menjeaskan, kamu sudah menguap?” Sang guru les hanya bisa menggeleng- gelengkan kepalanya melihat Dean yang minat belajarnya benar- benar kurang.
“Maaf Bu, kita gak usah belajar Matematika deh! Bagaimana kalau belajar IPS dulu?” tawar Dean merasa malas belajar Matematika. Rasanya, walau dijelaskan ratusan kali pun, dia gak bakalan mengerti pelajaran Matematika.
“Nak, kalau kamu terus menghindar dari pelajaran yang sulit, bagaimana kamu bisa maju? Kita harus berani menantang pelajaran itu!” Ibu les Dean memberi motivasi supaya Dean tidak menghindar dari Matematika.
“Tapi susah bu,” rengek Dean kayak anak kecil.
“Gak ada yang susah, Nak! Semua ada rumusnya. Kamu tinggal hapal versi mudahnya, dan kamu bisa menemukan jawabannya,” jelas sang guru. Ya, akhirnya Dean mengangguk patuh saja. Setelah setengah jam ibu les Dean mengenai satu materi berulang kali, dia memutuskan untuk memberikan soal pada Dean. Soalnya cuma tiga, tapi tingkatannya berbeda. Mulai dari yang tergampang, sedang sampai sulit.
“Coba kamu kerjakan yang ini. Kalau salah gak apa, ibu akan jelasin lagi,” suruh sang guru dan langsung saja Dean menerima soal itu. Dean memerhatikan baik- baik soal itu. Langsung saja, dia mengerjakannya dan dalam waktu lima belas menit, dia menyerahkan soal yang sudah dia jawab kepada guru lesnya untuk diperiksa. Sang guru menerima dan memeriksa jawabannya. Matanya terbelalak melihat semua jawaban Dean.
“Kamu… cepat menangkap juga? Kamu itu sebenarnya pintar loh! Soal nomer tiga ini banyak yang kesulitan menjawabnya kalau baru belajar. Kamu bisa menjawabnya dengan cara yang simple dan benar,” kagum sang guru les membuat Dean terpana. Dia senang karena dibilang pintar dan cepat menangkap.
“Begitu ya, Bu? Hehehe.” Dean menyengir bangga.
“Masalah kamu selama ini cuma malas ternyata! Kalau begitu, ibu akan kasih satu materi Matematika lagi dan PR. Ibu akan periksa besok dan tolong jangan cari di internet. Ibu hanya butuh kejujuranmu, Nak!” jelas sang guru langsung diangguki mantap oleh Dean.
Dia belajar lagi dan tak terasa waktu berlalu selama dua jam. Ibu les itu pulang sambil menitipkan PR untuk Dean. Cowok itu memerhatikan PR sepuluh soalnya dan mengerjakannya langsung. Entah kenapa, saat ini otaknya sedang lancar seperti jaringan 5G. Dalam waktu setengah jam, dia berhasil menyelesaikan PR lesnya tanpa membuka Hp.
“Kok bisa semuadah ini? Pantas saja, Irene bisa menang olimpiade. Ternyata, pelajaran Matematika gak susah- susah amat,” komentar Dean merasa pelajaran Matematika tidak sesulit itu, asalkan dia belajar dan memahami materinya.
“Bagaimana les kamu?” tanya mama Dean yang baru saja pulang.
“Hai, Ma! Anak mama ini sangat pintar dan jenius loh!” Dean memuji dirinya sendiri pada mamanya.
“Masa?” Elly tak percaya.
“Lihat deh!” Dean menunjukkan soal yang baru saja dia selesaikan kepada mamanya. Elly melihat soal itu dan agak terkejut melihat jawaban Dean yang benar semua. Elly memang pandai dari jaman sekolah sampai kuliah, hanya saja, dia gak punya skill untuk mengajar anaknya. Takutnya, dia akan selalu marah- marah karena tidak sabar.
“Kamu… gak pakai internet kan?” Elly bertanya memastikan lagi pada Dean.
“Coba kasih soal lagi deh, Ma. Tapi yang materi begini ya,” tantang Dean.
Mamanya langsung mengangguk dan membalik buku itu. Dia menulis beberapa soal untuk dikerjakan anaknya. Dean yang menerima soal itu, langsung mengerjakannya dengan sigap. Elly yang memerhatikan anaknya yang sangat lancar mengerjakan soal itu, langsung terheran tentu saja. Ini merupakan pemandangan yang sangat langka. Bahkan, diam- diam dia merekam Dean yang terlihat seperti anak yang jenius.
“Udah, Ma! Coba periksa deh!” Dean menyodorkan bukunya pada mamanya dan langsung saja dia memeriksa jawabannya Dean. Setelah memeriksa jawaban Dean, hati Elly sangat terpukau.
“Kyaa!!! Anak mama pintar ternyata!!” Elly berteriak sangat senang dan memeluk anaknya karena sangat gemas.
“Udah Dean bilang, Ma! Sebenarnya, Dean itu cuma males doang kok!” Dean semakin meninggikan dirinya yang menjadi orang pintar baru.
“Kamu cepat sekali mengertinya. Mama aja butuh membaca berulang kali untuk mengerti soal yang seperti ini dulunya. Kamu ternyata mirip papa kamu! Mama sempat berpikir sih, kamu itu bodoh niru siapa? Papa dan mama selalu berprestasi. Tapi ternyata, kamu sangat jenius! Senangnya hatiku!” Elly sangat bangga dengan anaknya.
Walau Elly sering menyindir anaknya selama ini, tapi dia sangat senang ketika mengetahui anaknya punya sisi kecerdasan yang sangat mengagumkan. Elly tak segan memuji anaknya saking senangnya. Dia ingin terus mensupport anaknya supaya semakin maju dan menjadi lebih berprestasi lagi.
“Kalau begitu, kamu harus semangat, Dean! Kalau kamu pintar, papa dan mama akan senang loh!” Elly terus menyemangati putra satu- satunya yang sangat dia sayangi.
“Siap, Ma! Dan setelah ini, aku bisa menunjukkan sama Irene kalau aku bisa menjawab tantangannya!” Dean mengiyakan sambil mengingat soal Irene. Elly tersenyum melihat anaknya yang saat ini punya semangat belajar. Walau mulanya dia punya semangat itu karena Irene, Elly tetap bersyukur.
‘Irene, kamu benar- benar membawa pengaruh yang baik untuk Dean!’ Elly membatin senang memerhatikan putranya.
Setelah belajar, Dean membereskan bukunya dan ikut makan malam bersama keluarganya. Papanya yang mendengar soal Dean yang sangat cepat menangkap pelajaran, tentu saja sangat terkejut. Elly sangat menggebu- gebu menceritakan soal putranya yang mulai menunjukkan kemampuannya.
“Papa gak percaya loh! Tapi, mama juga gak bakal bohong,” komentar Eddy sambil menatap anaknya dengan bangga.
“Dean juga gak percaya. Tapi kata mama, Dean itu sama pintarnya kayak papa. Berarti, Dean cocok dong menjadi pewaris papa,” balas Dean dengan nada super percaya diri.
“Memangnya, pewaris papa siapa lagi? Papa ingin kamu semakin rajin supaya siap menjalankan tanggung jawab perusahaan kedepannya.” Eddy memberikan jawaban. Dean menyengir mendengar jawaban papanya. Ya jelas dong, semua asset dan harta keluarga Wijaya hanya akan jatuh padanya. Kebetulan, anaknya Eddy dan Elly cuma hanya dia.
“Oke, Pa! Dean akan meningkatkan prestasi, supaya papa bisa dengan bangga mengenalkan Dean sebagai pewaris keluarga Wijaya!” Dean bertekad untuk maju karena ingin dibanggakan orang tuanya.
“Tentu saja, kalau kamu pantas dibanggakan, kami takkan menahan pujian, Nak!” kata Eddy mengangguk menanggapi anaknya.
Sekarang, tambahlah semangat Dean untuk meningkatkan prestasinya. Selain untuk Irene, dia juga ingin orang tuanya bangga. Kalau begitu, masa depannya sudah jelas karena Perusahaan Wijaya yang besar akan jatuh padanya. Setidaknya, itu adalah pemikirannya saat ini. Dia masih memikirkan apa yang namanya warisan dan kaya dengan cara instan. Orang tuanya tak mematahkan semangatnya dan membiarkan saja Dean berpikiran seperti ini dulu. Mereka yakin, Dean akan merubah pikirannya seraya waktu berlalu.
Setelah selesai makan malam, Dean masuk ke kamarnya. Dia kemuadian mengambil sebuah gantungan kunci yang adalah cendramata dari Irene, ya walaupun pemberian papanya Irene. Dia tersenyum memandangi gantungan kunci itu dan memasangnya di kunci lacinya. Dia akan selalu membuka laci ini menggunakan kunci yang ada gantungannya dari Irene.
“Aku tak akan menghilangkan barang ini!” gumam Dean memandangi gantungan itu sejenak lalu beranjak tidur.
***
SMA NUSA BANGSA
Kelas X-A
“Bapak gak percaya!” Guru Matematika berujar sendiri saat memasuki kelas X-A. Semua murid juga ikut terheran melihat wajah Sang Guru yang baru masuk terlihat kebingungan. Guru itu berulang kali membuka baik buku tugas seorang murid dari kelas sebelah.
“Anak- anak? Apa kalian percaya keajaiban?” tanyanya pada murid kelas A.
“Memangnya, ada apa pak?” tanya Irene langsung ingin menuntaskan rasa penasarannya. Dia juga ingin tahu apa yang membuat gurunya terheran- heran seperti ini.
“Anak kelas X-B, ada yang namanya Dean Alvaro Wijaya. Dia itu sentimen banget sama pelajaran bapak. Tapi, saat bapak kasih tugas, dia langsung kumpul dan sialnya jawabannya benar semua. Kalian heran gak sih?” tanya guru itu kepada semua murid kelas A.
“Mungkin… dia buka internet, Pak!” Lani menanggapi.
“Tidak! Bapak sengaja selalu memperhatikan dia! Dia gak berlagak mencurigakan sama sekali. Fokusnya benar- benar ke buku. Padahal, bapak baru saja menjelaskan materinya hari ini. Dan dia sudah bisa mengerti dengan baik. Masih heran saya.” Sang guru geleng- geleng saat mengingatnya lagi.
“Itu berarti, dia belum menunjukkan semua kemampuannya, Pak. Sekarang, dia mungkin ingin maju setelah sadar nilainya tidak bagus.” Dana menanggapi.
“Benar juga, ya. Bapak sih senang aja kalau dia mau maju. Tapi, kayak gak percaya aja gitu. Hahh… baiklah! Cukup curhat bapak. Kita lanjutkan materi pelajaran kita.” Sang guru memiih untuk mengakhiri pembicaraan seputar Dean. Semua murid langsung membuka buku pelajaran mereka untuk mengikuti materi yang sedang dijelaskan sang guru.
‘Dean… kamu benar- benar menerima tantanganku dengan baik ya? Aku senang mendengar kamu ada kemajuan,’ batin Irene sedikit tersenyum bangga dengan Dean yang kini sudah mulai menunjukkan kemajuannya.
Kelas X- B
“Loe makan apa, bro? Loe jampi- jampi ya, sampai bisa langsung jenius kayak Albert Einstein?” tanya Jogi di jam istirahat kepada Dean.
“Sebenarnya, aku ini ada hubungan darah dengannya!” Dean membanggakan dirinya yang mulai jadi anak pintar. Sebenarnya, dia gak percaya. Hanya saja, saat mendengarkan penjelasan guru dengan benar, dia bisa mengerjakan soal yang diberikan denga mudahnya. Ternyata, kuncinya adalah mendengarkan dan memerhatikan saja.
“Dia najis kalo sama loe!” Marco menanggapi Dean yang membanggakan dirinya.
“Tapi beneran deh, kamu langsung pintar dalam waktu sehari.” Becca juga menanggapi.
“Bukan begitu, guys. Hanya saja, guru les gue bilang kalau gue harus menantang diri gue sendiri. Jadi, gue mencoba memutar otak saat mendengarkan setiap penjelasan dari guru. Ternyata, setelah diuji secara klinis, rupanya otak gue bisa bekerja secara maksimal gitu!” Dean menjelaskan apa yang sebenarnya membuat dirinya maju dengan pesat. Dia menantang dirinya dan dia berhasil!
“Itu dia kuncinya! Yang penting, kamu ada kemauan dan ada tindakan. Saat kedua hal itu bersatu, gak ada yang gak mungkin. Kamu harus semangat dan maju ya, Dean!” Becca memberi semangat kepada Dean supaya semakin maju lagi kedepannya.
“Tentu, dong!” Dean semakin semangat hari ini.
“Dean!” panggil Irene dari luar. Segera saja, Dean menoleh dan melihat Irene yang lagi- lagi menyamperin dia ke kelas. Dengan segera, dia beranjak untuk mendatangi Irene di pintu kelas.
“Hai, Rene! Kayaknya, loe sering banget nyamperin gue sekarang,” sapa Dean.
“Namanya juga loe temen gue! Salah ya, kalau gue nyamperin loe?” tanya Irene.
“Gak salah sih! Memangnya, ada apa loe kemari?” jawab Dean dan bertanya lagi alasan Irene ke kelasnya.
“Gue mau traktir loe. Mau?” tawar Irene.
“Dalam rangka apa nih? Loe ultah?” tanya Dean dibalas gelengan oleh Irene.
“Ultah gue enam bulan lagi! Gue cuma mau bilang selamat sama loe yang udah nunjukkin kemajuan!” jawab Irene membuat Dean terpana.
“Ba- bagaimana loe bisa tahu?” tanya Dean lagi karena tak mengira Irene mengetahui soal kepintarannya yang mendadak ini.
“Pak guru cerita saking herannya!” jawab Irene dibalas anggukan oleh Dean. Ternyata, guru yang selama ini selalu sentimen sama dia menceritakan soal kepintarannya ke kelas sebelah.
“Gitu ya? Kalau begitu, gue mau dong! Tapi sorry banget ini, Rene. Gue gak terbiasa dibayarin sama cewek. Gue yang bayarin loe aja!” Dean menerima tawaran Irene tapi gak mau dibayarin.
“Kalo gitu juga sih, gak masalah.” Irene mengangguk saja. Dia sama sekali gak masalah. Malah bagus sih, sebenarnya!
“Gimana, kalau pulang nanti kita ke café? Biar sekalian lunch gitu. Kalau sekarang sih, gue barus bareng Jogi dan Marco. Gak enak kalau kita makan ada mereka. Nanti mereka bakal minta dibayarin,” saran Dean mengajak Irene makan setelah pulang sekolah. Modus sih, sebenarnya. Alasan biar kayak nge- date gitu.
“Ohh… okelah! Gue ke kantin dulu ya! Sampai nanti!” Irene pamit sambil pergi ke arah kantin. Setelah Irene berlalu, Dean langsung mencak- mencak di depan kelas. Jogi dan Marco hanya saling menatap melihat Dean yang kesenangan kayak anak kecil. Becca yang melihat kesenangan Dean saat ini, hanya bisa berdiam. Dia ingin ikut senang, tapi hatinya agak kecewa. Semakin hari, semakin jelas perasaan Dean kepada Irene. Bukannya berkurang, malah semakin bertambah.
“Guys! Yuk ke kantin! Gue yang traktir!” ajak Dean pada teman- temannya yakni, Jogi, Marco dan juga Becca. Tapi, Becca malah masih terdiam di tempat duduknya.
“Becca? Kenapa masih diam?” tanya Dean yang melihat Becca masih tak bergerak dari tempatnya.
“Kalian saja ya. Aku ada beberapa tugas di OSIS,” jawab Becca menolak halus ajakan Dean.
“Okelah! Semangat ya!” Dean mengangguk sambil memberikan semangat untuk Becca. Entahlah, para manusia di sini pada gak peka semua. Kevin yang awalnya gak peka sama Irene sebelum gadis itu nembak. Irene yang gak peka sama Dean dan lagi, Dean yang gak peka sama Becca. Entah bagaimana kelanjutan kisah ketidakpekaan para anak remaja labil ini.