Geregetan

1751 Words
Dean sudah siap- siap menunggu di depan kelasnya Irene. Dia bahkan sempat berkaca dulu di Hp-nya untuk memastikan penampilannya. Dia bahkan berulang kali memastikan penampilannya kepada dua temannya. Dianya berasa kayak mau kencan, beda halnya dengan cara Irene menganggapnya hanya sebagai ucapan selamat. Biarlah waktu yang menjawab mau dibawa ke mana hubungan mereka ini. “Lah? Dah ready aja? Yuk, langsung ke café!” ajak Irene ketika melihat Dean yang sudah menungguinya di depan kelas. Cowok itu tersenyum manis lalu jalan beriringan bersama Irene. “Katanya gak ada hubungan apa- apa? Ini yang namanya gak ada hubungan apa- apa, Rene?” sambar Lani dari belakang membuat keduanya berhenti. Lani lalu melangkah melewati mereka dan menatap sinis kepada keduanya. “Memangnya, kalau kita lebih dari teman, apa masalahnya sama loe?” tanya Dean merasa Lani terlalu ikut campur soal kedekatannya dengan Irene. “Gue masih ada rasa sama loe! Dan loe malah memilih mendekati cewek yang jelas- jelas suka sama cowok lain! Loe harusnya buka mata, Dean!” tuntut Lani penuh emosi. Irene hanya diam karena merasa agak bersalah.             Dia mulai berpikir, apa sebenarnya arti kedekatannya bersama Dean selama ini. Dia merasa nyaman. Dia merasa senang. Dia merasa tenang. Semua hal itu dia rasakan saat bersama Dean. Tapi, salahkah kenyamanan itu hanya dibatasi dalam hubungan pertemanan? Kenapa Lani seakan menuduhnya menyukai Dean? Itulah yang membuat Irene tidak habis pikir. ‘Aku juga masih suk dan masih ingin memperjuangkan kak Kevin. Aku yakin soal perasaanku,’ batin Irene merasa kalau cintanya adalah milik Kevin seorang. “Udahlah, Lan! Kita temenan aja ya! Gak usah bahas- bahas soal rasa lagi. Gue… udah ngelupain semuanya tentang kita. Sorry banget nih!” Dean memilih meminta maaf soal Lani yang mengungkapkan cintanya yang masih sama seperti yang dulu.             Udah hampir setahun dia melupakan perasaannya pada Lani, tepatnya setelah putus. Dia masih terlalu bocil saat itu untuk tahu apa artinya menyesal atau merasaa kehilangan. Ah, saat ini dia juga masih terlalu labil juga. Dean hanya mengikuti kata hatinya ketika dia jatuh cinta. Siapa yang tahu apa memang kedepannya, dia masih memiliki perasaan yang sama pada Irene. Tapi untuk saat ini, dia masih memiliki perasaan demikian. “Lani! Mau aku berteman dengan siapa pun atau dekat dengan siapa pun, tolong jangan recoki ya? Sudah jelas kalau kita hanya teman! Dan Dean juga gak punya perasaan lagi sama kamu. So please! Jangan berlebihan!” Irene menekankan sambil menatap tajam pada Lani. Lalu, dia langsung berjalan mendahului Lani diikuti oleh Dean. Gadis itu kesal lalu menghentak- hentakkan kakinya. ‘Enggak Rene! Gue masih belum menyerah!’ Lani masih berkeras dalam hatinya.   Café “Jadi, loe bilang apa sama bokap loe?” tanya Dean pada Irene sambil menunggu pesanan mereka. Dia agak sedikit segan mengajak Irene ke café tanpa sepengetahuan papanya Irene. “Santai aja! Papa jemput satu jam lagi di sini. Katanya juga ada meeting penting, jadinya gak masalah asal kamu gak macam- macam,” jawab Irene. “Gak macam- macam kok, Rene! Satu macam aja, heehee!” balas Dean sambil menyengir. “Iya, satu macam aja. Cuma makan bareng doang!” kata Irene menatap santai pada Dean. Mereka berdua kemudian melahap makan siang mereka yang baru sampai dan memilih bercerita setelahnya. “Apa pemicunya sampai kamu bisa jadi anak pintar?” tanya Irene sambil mengerling pada Dean. “Pemicunya? Itu adalah kamu!” jawab Dean membuat Irene mengernyit heran. “Kamu mau mengalahkan aku untuk semester ini? Gak bakal aku biarin, lho!” balas Irene menganggap Dean ingin mengejar prestasinya. Cowok itu malah ketawa sejadi- jadinya dan menatap Irene lagi yang bingung karena dia tertawa. “Apa yang lucu?” sewot Irene. “Loe gak peka banget sih!” Dean gemes sendiri. “Maksud?” Irene semakin gak mengerti. “Dah lah! Nanti gue akan kasih tahu semuanya, segera setelah gue bisa menggeser loe dari juara satu umum. Jadi, bertahan di tempat loe dan jangan sampai gue geser ya!” Dean malah membuat Irene semakin penasaran. “Coba aja!” Irene masih memasang wajah angkuh yang dibuat- buat pada Dean. Walau dia penasaran dengan maksud Dean, mana mungkin dia membiarkan Dean menggesernya dari kejuaraan umum di sekolah. “I will try, baby!” balas Dean santai kayak di pantai memanggil Irene dengan sebutan ‘Baby’. “Paan sih, Baby? Gue bukan bayi loe,” sahut Irene. “Ya udah, sayang aja deh. Biar jelas!” Dean semakin menjelaskan. “Gak usah lebay!” Irene masih gak peka kawan- kawan.             Tak lama, jemputan Irene datang. Langsung saja, gadis itu pamit sama Dean. Seperginya Irene, cowok itu senyum- senyum sendiri. Dia jadi geregetan, bahkan saking lebaynya, dia mencatat tanggal itu di Hp-nya. Setelah itu, dia langsung pulang juga ke rumahnya. Dia hari ini ada les untuk pelajaran Fisika dan bahasa Inggris. Dia akan terus belajar karena semakin percaya diri akan kemajuannya yang lumayan pesat.             Memang, sebenarnya Dean itu gak bodoh. Coba tanyain soal anime sama dia, semua dia bisa jelasin dengan mendetail. Jadi singkatnya, dia bisa menangkap dan mengerti sesuatu dengan mudah. Lagian, gen papa dan mamanya juga bagus. Papanya adalah sum c*m laude dari Universitas ternama dan ibunya lulusan c*m laude. Jadi, pastilah dia mewarisi gen kecerdasan orang tuanya.   *** “Oke Dean! Pelajaran hari ini cukup sampai di sini. Kemajuan kamu semakin pesat saja! Jangan lupa kerjakan PR sekolah kamu juga ya,” pamit sang guru les. “Makasih ya, bu!” Dean berterima kasih kepada guru lesnya yang sudah memicunya supaya bisa menunjukkan kemampuannya. Dean langsung membersekan bukunya dan masuk ke kamarnya. Dia memilih beristirahat sebentar sebelum makan malam.             Tak lama waktu berselang, mamanya Dean masuk ke kamar putranya. Dia tersenyum melihat putra semata wayangnya yang sedang tidur seusai belajar. Dia sangat senang karena putranya ini punya tekad untuk maju dan menjadi lebih baik. Karena sudah jam makan malam, dia mengguncang pelan tubuh putranya yang bahkan sudah lebih tinggi darinya itu. “Astaga! Anak- anak tumbuhnya cepat sekali. Padahal, dulu dia masih di gendonganku,” gumam Elly gemas sendiri mengingat Dean yang kini sudah tumbuh menjadi seorang remaja. Dia merasa baru kemarin dia menggendong Dean dalam pelukannya. “Dean! Ayo makan malam!” Dia mencoba membangunkan anaknya. “Eummhh! Mama? Udah jam makan malam ya?” Dean terbangun sambil mengucek- ucek matanya seperti anak kecil. “Iya! Papa kamu sudah nunggu di bawah tuh!” jawab mamanya dan diangguki cepat oleh Dean. “Oke, Ma! Dean cuci muka dulu baru nyusul ya!” kata Dean diangguki oleh mamanya. Sekeluarnya Elly dari kamar putranya, anak itu langsung mencuci mukanya. Setelah mencuci muka, dia memerhatikan layar Hp-nya hidup dan memunculkan sebuah notifikasi. “Siapa nih?” tanya Dean melihat ada notifikasi chat buatnya. Tak lama, dia tersenyum karena terkejut dan senang. “MAMA! PAPA!” teriak Dean dari kamarnya dan dia kini berlari ke meja makan bersama kedua orang tuanya. Eddy dan Elly menatap heran dengan putra mereka yang teriak dari kamarnya dan berlari seperti anak kecil ke ruang makan. “Apaan sih kamu ini? Kamu bukan anak- anak lagi, Dean!” tegur Eddy atas sikap anaknya itu. “Hehehe! Dean minta maaf, Pa! Soalnya, barusan Irene kirim pesan. Isinya gini, ‘Dean! Jangan lupa belajar ya! Kamu harus semangat dan aku selalu dukung kamu’. Astaga hatiku! Aku berdebar sekalih, Ya Lord!” Dean menceritakan soal pesan yang baru dia terima dari Irene dengan menggebu- gebu kepada kedua orang tuanya. “Karena itu kamu heboh sampai seperti ini?” tanya Elly merasa anaknya agak lebay. “Ma! Ini namanya kemajuan!” jawab Dean dengan wajah sumringahnya. “Oke! Ada kemajuan! Ayo makan dulu!” suruh Eddy dan akhirnya Dean duduk bersama untuk makan malam bersama orang tuanya. Mereka bertiga makan malam dengan khidmat. Eddy dan Elly bisa memerhatikan wajah Dean yang geregetan mendapat pesan singkat dari Irene. Mereka merasa lucu melihat anak mereka yang ternyata sudah puber. “Mama… enaknya bales apa ya?” Dean meminta saran mamanya untuk membalas pesannya Irene. “Bilang saja, makasih untuk dukungan kamu,” jawab Elly diangguki oleh Dean. Seusai makan, Dean langsung membalas pesan Irene sesuai yang disarankan mamnya. Tak lama, anak itu senyam- senyum lagi dan membuat papa dan mamanya saling melirik. “Cengar- cengir terus! Awas kehilangan kewarasanmu ya, Nak!” tegur Eddy melihat putranya yang cengar- cengir melihat Hp-nya. “Hehehehe… maaf, Pa!” Dean minta maaf sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Setelah itu, mereka bubar dengan Dean yang langsung lari ke kamarnya. Eddy dan Elly sudah menebak, pasti anak mereka akan membalas pesan singkat dari gadis yang dia sukai itu. “Memangnya, Irene suka sama Dean ya?” tanya Eddy pada istrinya. “Aku gak tau sih. Tapi, kalau mereka bertemu, keduanya kayak akrab banget gitu,” jawab Elly berdasarkan penilaiannya dari sudut pandang seorang ibu. Dia memang selalu memerhatikan keduanya selama ini. Tapi, yang jelas- jelas menyukai Irene adalah Dean. Kelihatan banget malahan. Eddy yang mendengar jawaban istrinya hanya bisa mengangguk- angguk. Mereka berharap yang terbaik saja untuk putranya.   ***             Genie memerhatikan kakak perempuannya yang senyum- senyum sambil memerhatikan Hp-nya. Anak SMP itu tentu saja heran dengan apa yang terjadi pada Irene hari ini. Pasalnya, tak biasanya seorang Irene memegang Hp lebih dari lima belas menit, kecuali ketika mencari materi pelajaran di internet. ‘Dia lagi chattingan sama siapa?’ Genie bertanya- tanya dalam hatinya. Dia yakin kakaknya saat ini sedang membalas pesan seseorang. “Kakak pacaran ya?” tanya Genie to the point. Irene yang mendengar itu langsung berhenti mengetik dan menatap tajam pada adiknya. “Memangnya, aku kelihatan seperti orang yang pacaran?” tanya Irene balik dan dibalas anggukan mantap oleh Genie. Langsung saja, Irene meletakkan Hp-nya ke dalam laci dan menatap Genie dengan serius. “Tadi itu aku cuma lagi lihat dan komentari postingan yang lucu di sosmed,” jawab Irene berbohong. Dia malu kalau bilang sedang chattingan sama temannya. Cowok pula lagi! Irene gak bisa membayangkan kalau orang tuanya tahu. “Ya udah! Bobo sana!” suruh Genie lalu beranjak dari ruang belajar dan pergi ke kamarnya. Irene kemudian memilih mengambil Hp-nya dan masuk ke kamarnya. Layar Hp-nya sudah mati, dan dia lupa kalau sedang mengetik sebuah pesan yang belum selesai ke Dean.   Di sisi lain… “Ini udah setengah jam, kok gak siap- siap ngetiknya?” keluh Dean yang sedri tadi menunggu balasan dari Irene. Dia guling- guling menunggu, tapi tak juga ada balasan dari Irene. “Hahh! Dasar Irene! Hobi banget bikin orang kepo!” gumam Dean dan memilih mengecas Hp-nya dan tidur. Dia memilih untuk tidur dan menanyakannya langsung pada Irene keesokan harinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD