SMA NUSA BANGSA
Kelas X- A
“Oh, jadi loe cuma mau ngetik selamat malam doang tapi ketiduran?” tanya Dean tak percaya dengan jawaban Irene. Saat ini, keduanya tengah berbicara di depan pintu kelas. Ini sudah jam istirahat, makanya Dean menghampiri Irene ke kelasnya untuk menuntaskan rasa penasarannya akan chat Irene yang masih menggantung semalam.
“Iya… gue ketiduran. Gitu aja kok kepo amat sih? Gara- gara loe, gue jadi tidur kemalaman! Dasar Dean! Lain kali, gue gak chattingan sama loe lagi,” ucap Irene membuat Dean memasang wajah sedih yang dibuat- buat.
“Kok gitu sih, Rene? Kamu lupa apa yang sudah kita lakukan selama ini?” tanya Dean dengan nada agak hiperbola membuat Irene mengernyit bingung.
“Paan sih? Gue mau ngantin dulu! Pelajaran hari ini gimana?” Irene melanjutkan langkah ke kantin sambil jalan berdampingan dengan Dean.
“Lumayan! Rasanya, otak gue udah lebih jalan gitu,” jawab Dean.
“Gitu dong! Kalau loe pintar, gue kan jadi senang!” balas Irene sambil tersenyum sama Dean.
“Loe senang? Okelah! Gue akan lakuin apapun yang bisa bikin hati loe senang!” tekad Dean membuat Irene menatapnya heran lagi.
“Jangan berlebihan, Dean! Emang apa gunanya loe nyenengin gue? Ya, gue bangga sih, punya temen yang pintar kayak loe. Tapi, loe harus utamakan untuk nyenengin orang tua loe!” saran Irene lalu diangguki oleh Dean.
Kalau mendengar saran Irene, pastilah cowok itu akan langsung mengangguk dengan mudahnya. Lagian, gak ada salahnya juga mendengarkan saran yang bagus dari Irene. Dan sekarang, keduanya sedang berada di kantin dan duduk berhadapan di meja yang sama. Para murid yang melihat Dean dan Irene saling berbisik soal hubungan mereka yang kelihatannya sangat akrab.
Wajar dong mereka berpikir begitu. Semenjak mereka duet di acara hari guru kemarin, mereka digosipkan pacaran di sekolah ini. Memang sih, mereka bukan anak famous yang jadi pembahasan utama. Tapi, ada sebuah gossip yang disebarkan orang tak bertanggung jawab untuk merusak nama baik keduanya.
“Katanya… si Irene nembak kak Kevin ya? Karena ditolak, dia jadi dekatin si Dean. Ish! Katanya anak pintar, tapi kelakuan fucek girl ya?” bisik- bisik beberapa siswi di kantin sambil melihat sinis ke arah Irene dan Dean.
“Dari mana loe tahu?” tanya siswi lainnya soal gossip itu.
“Dari Lani!” jawab salah satu di antara mereka.
“Bukan itu aja! Kemarin, aku lihat Irene dan Lani bertengkar. Mereka kan sohib banget! Jangan- jangan, si Irene sengaja merebut cowok yang disukai Lani. Ternyata, sifat Irene parah banget ya?” tambah yang lainnya.
Beberapa dari siswi- siswi yang menggosipi Irene adalah teman sekelasnya. Seperti yang diketahui, tak semua siswi menyukai Irene dan rentan iri padanya. Di tambah lagi, Lani yang kini menjaga jarak dengan Irene karena cemburu melihat Dean yang dekat dengan Irene. Lani sengaja menyebarkan gossip untuk merusak nama baik Irene sebagai peringkat utama juara umum di sekolah ini. Dia ingin melihat Irene hancur karena menurutnya, Irene sudah merebut Dean darinya.
“Apaan kalian bicara soal Irene?” Marsha menegur beberapa siswi yang menjuliti Irene. Suaranya agak besar, sampai bisa mengalihkan perhatian Irene dan Dean yang sedang menikmati makanan mereka.
“Sha! Loe gak usah munafik lah! Loe juga dulu sempat tegang leher sama Irene!” Salah satu siswi tidak terima ditegur oleh Marsha.
“Mentang- mentang udah baikan, loe sekarang jadi pelindungnya? Sok baik! Emang, dia mau kasih cotekan ulangan buat loe?” tambah siswi lainnya membuat Marsha geram.
Memang, dia sempat bersitegang dengan Irene. Meski begitu, persaingan mereka hanyalah seputar soal Kevin. Mereka tak melibatkan orang lain supaya saling menggosipi satu sama lain. Marsha bukan orang yang suka membuat kehebohan dengan urusan pribadinya. Dulu, memang sempat ada dua kubu di kelas karena permasalahannya dengan Irene. Tapi, dia tak pernah menggosipi Irene sejahat ini. Dia tak mau menghancurkan Irene. Niatnya dulu hanya mengalahkan Irene soal asmara, bukan yang lain.
“Loe jaga mulut ya? Urus hidup masing- masing aja deh! Gak usah fitnah gue maupun Irene!” balas Marsha berusaha membuat para siswi penggosip itu menghentikan kekurang kerjaan mereka.
“Fitnah kata loe? Udah hebat sekarang loe, Marsha? Mentang- mentang loe selebgram, loe bisa suka- suka sama kita?” Salah seorang siswi berusaha mendorong Marsha dan membuat Marsha hampir terjatuh. Untung saja, Dana ada di situ dan menahan Marsha supaya tidak terjatuh.
“Hampir aja,” gumam Dana sambil menahan Marsha yang hampir terjatuh. Saat itu, tatapan keduanya bertemu. Tanpa sadar, Marsha merasakan jantungnya berdegup kencang melihat Dana. Dia merasa, tatapan Dana sangat hangat, lebih dari biasanya.
“Ada kehebohan apa ini?” Suara Dean mengalihkan perhatian semuanya. Dia kini menerobos kerumunan siswa/i yang menonton pertengkaran di kantin. Irene berada di samping Dean untuk memastikan apa yang sedang terjadi.
Para siswi yang menggosipi Irene dari belakang hanya terdiam karena melihat Dean. Beberapa di antara mereka, ada yang menyukai Dean. Apalagi, sejak melihat ketampanan Dean saat acara Prom Night kemarin. Ada juga yang adalah teman sekelas Dean yang tertarik padanya. Makanya, mereka menggosipi Irene dan sengaja menjelekkan gadis itu. Tentu saja, alasannya adalah iri pada gadis itu.
“Dean… kita…,” gugup salah seorang siswi sekelas Dean
“Kita gak suka sama cewek sombong yang menempel kayak benalu itu! Dia itu gak tahu malu dan menutupi segala keburukannya dengan kepintarannya. Setahu gue sih, orang yang pintar itu gak hobi mainin perasaan orang! Loe kenapa bisa b**o amat ya, Dean? Sadar dong! Loe itu cuma dimanfaatkan sama dia!” jawab siswi sekelas Irene yang terang- terangan gak suka sama Irene. Dia adalah Rissa!
“Ini nih, orang yang gak ada kerjaan! Loe gak punya kerjaan sampai ngurusin hidup orang? Butuh kerjaan? Gue bisa hubungi bokap gue untuk kasih loe kerjaan!” balas Dean menyindir Rissa dengan tatapan dan perkataan tajam.
Dia langsung terdiam menerima sindiran dari Dean. Gadis itu menunduk karena merasa malu dipermalukan Dean di depan banyak siswa/i . Dia bisa melihat banyak siswa/i yang membisikinya saat ini. Dia juga tak bisa membalas perkataan Dean yang seakan menusuk tepat pada sasarannya.
“Bubar semuanya! Ini jam makan siang, bukan tawuran!” Dana memilih untuk mengendalikan situasi supaya lebih tentram. Ya, mereka akhirnya bubar dan Rissa memilih cabut dari kantin. Beberapa siswi yang hobi nge- julid akhirnya bubaran semua.
Irene masih terdiam dengan kejadian ini. Dia tak pernah mengira akan kejadian yang seheboh ini. Dia sama sekali tak menyangka ada yang tega menggosipinya dan ada yang membencinya selama ini. Irene mengira, semuanya akan berjalan biasa- biasa saja. Ternyata benar pepatah mengatakan, semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpanya.
“Rene, kita lanjut makan lagi yuk?” ajak Dean padanya. Irene hanya mengangguk sambil kembali ke tempat duduknya. Sebelum duduk, Dean berbalik melihat ke arah Dana dan Marsha.
“Kalian gak sekalian? Kita makan bareng aja! Gak perlu mikirin orang kayak mereka,” ajak Dean pada Marsha dan Dana untuk makan bareng mereka. Marsha dan Dana saling menatap satu sama lain dan akhinya mereka mengiyakan ajakan Dean.
Dean memilih untuk menraktir semuanya. Jangan ditanya, Dean memang orangnya royal gitu. Walau begitu, mereka bertiga dapat memerhatikan kalau Irene terdiam sedari tadi. Mereka tahu, Irene pasti sangat terkejut dengan apa yang dia dengar dan lihat tadi. Marsha yang peka, langsung saja merangkul bahu Irene.
“Cuekin ajalah, Rene! Gue dah biasa kok menghadapi yang beginian! Apapun yang mereka bilang, buktikan kalau loe gak seperti itu,” hibur Marsha.
Diam- diam, Dana tersenyum melihat cara Marsha menghibur Irene. Masih segar diingatannya kalau keduanya pernah bersitegang. Tapi saat ini, Marsha- lah yang memilih berdamain lebih dulu dan berusaha menjadi teman yang baik untuk Irene. Ini yang membuat Dana sedari awal menyukai Marsha. Hatinya sangat baik, walau agak sensitive. Dia tahu, kalau Marsha menyukai ketua OSIS mereka. Walau begitu, tak salah kan, kalau dia menyimpan perasaan kepada gadis itu?
“Makasih ya, Sha!” Irene berterima kasih karena Marsha berusaha menghiburnya.
Entahlah, tapi perasaan Irene tak bisa benar- benar tenang saat ini. Dia masih memikirkan bagaimana caranya supaya dia tak dijadikan bahan gossip di sekolah ini. Irene ingin mengukir nama baik, bukannya membuat sensasi. Hal yang begitu sama sekali bukan dirinya.
Seusai dari kantin, mereka berempat berjalan ke kelas masing- masing. Sebenarnya, hanya Dean yang anak kelas sebelah sih. Setelah pisah dengan Dean, ketiganya berjalan menuju kelas X- A. Saat tiba di sana, Irene dikejutkan dengan Kevin yang berdiri di depan pintu kelas mereka. Marsha dan Irene saling memandang satu sama lain ketika melihat Kevin.
“Ada apa kak?” tanya Marsha merasa mungkin Kevin mencarinya untuk urusan OSIS.
“Hai, Marsha! Kakak sengaja ke sini karena cari Irene. Ada hal yang pingin kakak sampaikan sama dia,” jawab Kevin dengan ramah dan senyuman khas-nya. Irene terdiam karena ini kali pertamanya Kevin yang mencari dirinya.
“Irene, boleh kita bicara sebentar?” ajak Kevin dengan nada lembut. Irene tak bersuara, tapi dia mengangguk sebagai jawaban. Masih ada sekitar sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Kevin mengajak Irene ke taman untuk bicara.
“Pertama- tama, kakak mau ucapin selamat atas keberhasilan kamu menjadi juara satu umum di sekolah ini,” ucap Kevin sambil menatap Irene dengan senyumannya. Irene hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Perasaannya masih tak enak karena kejadian di kantin.
“Eumm… kemudian, kakak mau tahu soal… hubungan kamu dengan Dean Alvaro Wijaya. Kalian berdua beneran pacaran?” tanya Kevin sehati- hati mungkin. Irene langsung menatap Kevin dengan tatapan heran.
“Kenapa kakak menyimpulkan seperti itu?” tanya Irene dengan nada datar.
“Maaf sebelumnya, tapi beberapa anak kelas X membicarakannya. Kakak hanya ingin berusaha melindungi nama baik kamu sebisa kakak. Kakak gak mau sampai tersebar rumor jelek soal kamu.” Kevin menjelaskan maksudnya yang begitu tulus.
“Kakak udah tahu kalau Irene sukanya sama kakak. Kenapa kakak harus tanya, apa Irene pacaran dengan Dean? Kita hanya temenan! Irene tahu, kakak gak bakalan pernah membalas perasaan Irene! Tapi tolong kak, Irene bukan orang yang suka mainin hati orang lain. Kalau Irene gak suka, gak bakal Irene pacaran sama orang itu! Karena masih kakak yang ada di hatinya Irene,” ungkap Irene sebenar- benarnya.
Dia masih merasa kalau hanya Kevin yang ada di hatinya. Dia masih berpikir kalau cintanya adalah untuk Kevin seorang. Namun tanpa sadar, Dean mulai hadir di hatinya dan memberikan kehangatan dan kenyamanan. Irene sama sekali tak menyadarinya, walau orang lain sudah mengetahuinya. Sebenarnya, sikap Dean selama ini sangat terang- terangan! Irene pikir, Dean memang sudah pada dasarnya ramah kepada semua orang dan juga suka bercanda. Makanya, Irene gak terlalu anggap serius perkataan Dean.
“Irene… perasaan kamu akan berubah kedepannya! Pegang omongan kakak!” kata Kevin dibalas tatapan tak percaya oleh Irene.
“Engga, kak! Perasaan Irene gak akan berubah! Saat ini, Irene sedang berusaha untuk menunjukkan pada kakak kalau Irene bisa maju! Irene akan buktikan sama kakak, kalau Irene pantas bersama kakak!” tegas Irene dengan penuh keyakinan.
Kevin hanya menghela napasnya. Dia juga bukan Tuhan yang bisa tahu apa isi hati Irene saat ini. Dari yang dia lihat, sudah sangat jelas kalau Irene merasa nyaman dengan Dean. Memang, hal itu tak bisa menjadi dasarnya untuk menyimpulkan kalau Irene menyukai Dean. Dia bukannya cemburu. Dia hanya ingin Irene tak akan terluka kedepannya, kalau sampai dia nekad menjadikan Dean sebagai pelampiasannya.
Itu akan menjadi pilihan yang sangat salah untuk Irene! Kevin sangat menyayangi dan selalu memperhatikan Irene sebagai adiknya, setidaknya untuk saat ini. Meski dia tak membalas perasaan Irene, dia ingin supaya Irene tak terjerumus masalah karena pemikirannya yang masih kekanakan. Kevin memang sangat baik, hal itulah yang membuat Irene dan banyak cewek lainnya jatuh hati.
“Irene! Kamu tenang saja ya! Rumor jelek soal kamu akan segera kakak redam! Kamu fokus belajar ya. Kakak juga harus kembali ke kelas. Jangan biarkan rumor seperti ini mengalihkan fokusmu. Dan satu lagi, jangan hubungkan soal pelajaran dan asmara. Hal itu akan merusak fokus belajar kamu! Dah dulu!” Kevin memberikan sedikit nasihat sambil mengelus kepala Irene dengan penuh kasih sayang. Irene sedikit tersenyum menerima perlakuan Kevin yang sudah tak lama dia dapatkan.
‘Kak, percayalah pada perasaan Irene! Irene akan buktikan kalau Irene mampu jadi yang terbaik!’ tekad Irene. Dia takkan jatuh hanya karena rumor jelek itu. Yang dia pikirkan sekarang adalah cara untuk menghilangkan rumor itu.
“Aku harus jaga jarak sama Dean! Biarkan semua orang tahu, kalau aku suka sama kak Kevin. Dean gak perlu terlibat dalam rumor ini. Tapi… karena dekat dengannya, rumor ini malah tercipta. Kedepannya, akan lebih baik jika kami tak terlalu dekat,” guma Irene sambil melangkah menuju kelasnya. Pertemanan antara Irene dan Dean kini memasuki babak awal tantangannya.