Memakai celana pendek dan memakai sepatu boot berwarna hitam. Rambutnya di kucir agak tinggi memakai kaos lengan pendek dipadu dengan jaket hitam kesayangannya.
“Sempurna!” pekik Dera saat bercermin.
Suara ponsel membuyarkan segala kekagumannya pada dirinya sendiri.
“Apa?” begitulah jawaban Dera saat bicara dengan Rayen.
“Santai saja Nona, tidak perlu berteriak,” ucap Rayen.
“Lagian ngapain sih kamu telepon? Ganggu orang saja!” gerutu Dera.
“Aku sudah ada di bawah. Cepat turun.”
“Di bawah? Ngapain?” tanya Dera.
“Dosa tidak kalau aku jedotin kepalamu De? Ya mau berangkat lah,” ucap Rayen sedikit kesal.
Tanpa menjawab ucapan Rayen, Dera segera turun setelah mengambil tas ransel miliknya.
“Maaf ya, aku telat,” ucap Dera setelah sampai di hadapan Rayen.
Rayen tak langsung menjawab ucapan Dera. Ia melihat penampilan Dera yang terlihat memukau. Berpenampilan tomboy tapi tetap elegan. Begitulah penilaian Rayen.
“Ngapain bengong? Naksir ya sama aku?” tanya Dera.
“Ya aku memang naksir sama kamu. Kenapa tidak boleh?”
“Buruan deh berangkat. Jangan ngomong sembarangan terus. Bisa-bisa aku mati muda mendengar ucapan dari mulutmu itu,” ucap Dera seraya membuka pintu mobil milik Rayen.
“Tidak ada yang tertinggal?” tanya Rayen.
Seketika itu juga Dera memeriksa isi ranselnya dan mencoba mengingat-ingat sesuatu.
“Sepertinya tidak ada. Ayo jalan,” ucap Dera.
“Siap, Tuan Putri Dera,” ucap Rayen.
“Jijik, aku Rayen!”
“Ya kan emang seharusnya seperti itu. Kau tahu. Saat Rayan tahu aku memanggilmu dengan nama, dia sudah mencak-mencak tidak jelas,” ucap Rayen.
“Bodo amat! Itu urusan dia, bukan urusanku. Lagian kenapa juga sih manggil ‘Nona lah. Tuan Puteri lah’ unfaedah banget,” ucap Dera.
“Ini tuh sudah jadi tradisi. Seorang yang kastanya lebih tinggi harus di panggil seperti itu,” terang Rayen.
“Heleh! Kalau mati ya sama aja. Ilang tuh nyawa. Meskipun Ratu atau Raja sekalipun, gak akan bisa apa-apa kalau sudah bertemu dengan malaikat maut.”
“Terserah kau saja,” ucap Rayen mengalah.
“Ini kita langsung berangkat apa gimana?” tanya Dera.
“Tidak. Ke rumah dulu. Nanti berangkat agak sorean,” jawab Rayen.
“Ngapain sih lama-lama? Aku ada di rumahmu itu, bosan. Mana gak ada kerjaan,” gerutu Dera.
“Sebelum kamu bertemu dengan Nona Sera. Kamu harus mengetahui beberapa hal dulu,” ucap Rayen.
Dera tak menjawab ucapan Rayen. Ia masih belum sepenuhnya percaya akan semua hal yang dia ketahui. Manusia burung, Tuan Putri atau apalah itu. Namun jika dipikir-pikir lagi, semua jadi masuk akal. Tapi tetap saja membingungkan bagi Dera.
Kini keduanya sudah sampai di rumah megah Rayen. Dera yang sudah turun dari mobil berjalan memasuki rumah Rayen, dan disambut dengan ramah oleh para pelayan yang ada disana. Dera hanya tersenyum saja.
“Rayen?”
“Apa?”
“Seperti apa Ayah dan Ibuku?” tanya Dera saat keduanya sudah berada dalam ruangan khusus Rayen.
“Raja Darion dan Ratu Sarina, adalah pemimpin yang sangat arif dan bijaksana. Mereka berdua adalah pemimpin yang disegani sepanjang masa. Selain itu mereka berdua memiliki hati yang lembut dan juga tutur kata yang halus. Tidak pernah menyakiti orang-orang terdekatnya. Tapi takdir berkata lain. Mereka harus menghadapi kekacauan yang menyebabkan nyawa mereka melayang dan terpisah dari anak-anak,” terang Rayen.
“Apa Sera tahu?” tanya Dera.
“Kemungkinan besar Rayan juga sudah menceritakan hal itu pada Nona Sera.”
“Aku tidak tahu alasan pastinya kamu lebih menitipkan ku di panti daripada mengasuhku secara langsung seperti yang dilakukan oleh Rayan pada Sera. Tapi aku sempat menganggap jika kedua orang tuaku tidak menginginkan kehidupanku. Dan apa kamu tahu Rayen? Hal itu membuatku menyesal,” ucap Dera.
“Maafkan aku, telah melakukan hal itu. Aku juga menyesal karena menelantarkan dirimu selama ini. Dan aku juga meminta maaf karena hadir secara tiba-tiba dan membuatmu tidak nyaman seperti saat ini,” ucap Rayen.
“Ya, memang seperti itu yang terjadi. Terlepas dari apapun masalahmu. Aku tidak berhak marah. Masih bisa melihat dunia saja aku sudah bersyukur,” ucap Dera seraya menghela napasnya.
“Saat itu aku terluka, aku terluka sangat parah. Pedang salah satu prajurit Garinda, menghujam tepat di jantungku. Aku tidak bisa menitipkan mu pada Rayan, karena dia juga memiliki Sera yang harus dia jaga, dan jangan lupa keadaan Sera memprihatinkan saat itu. Dia kesulitan bernapas saat tiba di dunia manusia ini. Hingga bibi Ami harus ikut dengan Rayan. Sementara aku membawamu pergi menjauh. Awalnya kami ingin bersama-sama merawat kalian. Namun sayang kekuatan kalian bisa menjadi besar dan terdeteksi oleh orang-orang kerajaan Asrafan. Jadi kami memutuskan berpisah. Saat itu luka yang aku alami semakin parah, tanpa ada yang mengetahui termasuk Rayan dan bibi Amie. Aku membawamu ke negara ini dan menitipkanmu di panti selama aku memulihkan energiku dan juga lukaku. Tapi sayang saat aku sembuh dan ingin menjemputmu. Aku melihatmu di hampiri oleh bibi Amie dan mengatakan jika kamu punya saudara kembar. Saat itu aku tidak berani menampakkan diri sebagai penjagamu, dan memilih untuk mengusikmu seperti saat pertama kita bertemu dulu. Maaf aku Dera, karena aku tidak bisa mengemban amanah dari kedua orang tuamu. Aku tidak bisa menjagamu sebaik Rayan menjaga Nona Sera,” ucap Rayen.
“Ah, seperti itu! Tidak apa-apa. Aku bisa memahami kondisimu. Sekarang bagaimana keadaanmu?” tanya Dera.
“Baik, sangat baik.”
“Apa yang harus aku lakukan setelah ini Rayen?”
“Itu akan kita bahas nanti setelah kamu bertemu dengan Nona Sera,” jawab Rayen.
“Maafkan kedua orang tuaku, karena memaksamu menjadi penjaga kami,” ucap Dera.
“Bukan mereka yang meminta hal itu. Tapi kami yang memilih untuk menjadi penjaga kalian,” ucap Rayen.
“Benarkah? Bagaimana bisa?”
“Ya orang tuaku adalah orang kepercayaan Raja. Jadi kami harus mengemban kepercayaan mereka juga. Lagipula bukan hal buruk menjadi penjaga kalian, terutama penjaga dirimu,” ucap Rayen.
“Ya ya, terserah kamu saja. Ngomong-ngomong aku hanya ingin tahu saja seperti apa Sera dan juga Rayan, setelah itu mungkin aku akan kembali ke panti dan meneruskan kafe ku,” ucap Dera.
“Ada suatu hal yang lebih besar yang harus kau lakukan. Setelah semua hal itu usai, terserah padamu akan melakukan apa,” ucap Rayen.
“Ya, aku tahu. Tapi aku sudah terlalu nyaman berada di dunia ini. Aku hanya ingin menikmati kenyamananku saja. Kau tahu mengurus kafe saja sudah pusing. Apalagi harus mengurus kerajaan. Aku tak bisa membayangkan hal itu,” ucap Dera.
“Kamu belum mencobanya, jadi mana tahu hal itu,” ucap Rayen.
“Aneh. Bahkan aku mengatakan soal kerajaan, padahal belum tentu aku biasa mendapatkan hal itu,” ucap Dera.
“Lagi pula dari mana kamu tahu soal kerajaan? Padahal aku belum menceritakan secara detail padamu?”
“Insting saja, sudahlah. Aku lapar, bisakah kamu memberiku makanan seraya bercerita? Aku benar-benar lapar,” ucap Dera.
Rayen tertawa mendengar ucapan Dera, ia lupa jika Tuan putrinya ini sangatlah blak-blakan.