Bab. 10

1201 Words
Merajut sebuah impian indah agar bisa jadi kenyataan. Namun begitu impian menjadi nyata, bukan keindahan yang di dapatkan melainkan sebuah rasa hampa dan juga kesunyian. Hidup dengan sebuah kemewahan dan juga kekayaan tak menjadikan seseorang bisa menjadi bahagia. Justru hidup sederhana dan apa adanya bisa membuat seseorang bahagia. Sama halnya seperti Dera. Baginya hampir dua puluh tahun ia hidup sebagai anak panti asuhan, tapi tak membuat hidupnya menderita dan sengsara. Dengan kehidupan di panti membuatnya menjadi sosok yang mandiri dan juga kuat. Diusianya yang masih terbilang sangat muda, ia sudah memiliki sebuah kafe, meskipun tidak besar, tapi bisa membantu kebutuhan anak-anak panti dan juga memberikan lapangan pekerjaan bagi yang membutuhkan. Jika di tanya apa Dera bahagia? Dengan senang hati ia akan menjawab ‘IYA’. Bagi Dera sebuah kebahagiaan adalah melihat orang-orang terdekatnya tersenyum dan bahagia. Sangat sederhana tapi tak semua orang bisa menjalani hidup sebagai Dera. Setelah menganggap bahwa dirinya tidak diinginkan oleh orang tuanya selama ini. Dan pada akhirnya ia mengetahui sebuah kebenaran, bahwa ia bukanlah manusia sembarangan membuatnya menelan mentah-mentah kenyataan itu. Sebenarnya ada ratusan bahkan ribuan pertanyaan di otaknya akan semua kenyataan yang tidak masuk akal ini. Namun saat ia bertemu dengan Rayen, bukan pertanyaan yang ia lontarkan melainkan kekesalan pada pria yang selama ini mengganggu hidupnya. Seolah seperti mimpi, kehidupan yang selama ini dijalaninya seolah sebagai buangan, namun ternyata kehidupannya adalah sebuah persembunyian dan juga pertahanan. Menganggap seolah dirinya sendiri, dan sebatang kara, ternyata ia memiliki penjaga yang sangat hebat sehebat Rayen, dan ia juga memiliki saudara kembar yang entah seperti apa wajahnya dan juga sikapnya. Ingin mengelak dari semua kenyataan yang ada, tapi semua itu terlalu nyata untuk dielak. Harapannya selama ini ingin menemui saudara kembarnya akan terwujud esok hari. Dan saat ini Dera sudah berada di panti asuhan tempatnya tumbuh menjadi gadis seperti saat ini. “Kenapa kamu mendadak sekali ingin pergi?” tanya sang Ibu panti yang merasa keberatan saat Dera berpamitan pergi selama satu bulan. “Maafkan Dera, Bu. Tapi ini sangat mendadak dan ini juga demi kemajuan kafe Dera,” ucap Dera. “Dengan siapa kamu pergi?” “Aku pergi bersama Rayen Bu,” jawab Dera. “Rayen? Apa Rayen yang sering kesini mencarimu? Dan juga donatur disini” tanya Ibu panti seraya memicingkan matanya. “Iya Bu,” jawab Dera. “Apa kamu yakin Rayen itu pemuda baik-baik? Bagaimana jika dia melakukan hal buruk padamu, Nak?” tanya ibu panti khawatir. “Ibu tenang saja, aku akan pastikan jika dia adalah pemuda baik-baik, ya meskipun sedikit menjengkelkan bagiku. Namun dia itu pengusaha yang sukses, Bu. Lagipula aku sendiri yang memintanya untuk bekerja sama denganku,” tutur Dera. “Dimana kalian akan membangun restoran? Dan kenapa tidak disini saja?” “Di pulau seberang Bu, di sana lebih menjanjikan, dan juga sangat banyak tempat pariwisata, hingga kemungkinan besar restoran kami akan berjalan,” ucap Dera meyakinkan Ibu panti. Wanita paruh baya itu menghela napasnya mendengar keinginan Dera untuk pergi. Seperti halnya seorang ibu yang mengkhawatirkan anak gadisnya, sang Ibu panti juga sangat mengkhawatirkan Dera. Baginya hanya Dera saja anak asuhnya yang sudah sukses dan juga bisa meringankan beban anak-anak lainnya. Bukannya memuji atau apa, memang itu kenyataannya. “Baiklah kalau itu keputusanmu. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu, semoga apa yang kamu inginkan bisa segera terwujudkan.” “Amiin. Terima kasih, Bu. Ya sudah kalau begitu aku pamit ya, Bu. Aku masih mau ke kafe untuk menyiapkan diri dan berpamitan pada yang lainnya,” ucap Dera dan diangguki oleh ibu panti. Kini Dera sudah berada didepan kafe miliknya, ia menaiki taksi dari panti menuju kafe. Ya mau bagaimana lagi, motor kesayangannya entah dimana rongsokannya. “Kak Dera? Kemarin kenapa tidak datang?” tanya salah satu pegawainya. “Aku tidak enak badan,” jawab Dera asal. “Hah? Terus sekarang bagaimana keadaan Kakak?” “Sudah baikan. Dimana Risa?” “Ada di dapur Kak.” “Baiklah aku akan ke sana, lanjutkan pekerjaanmu,” ucap Dera. “Dera? Kemana saja kamu kemarin? Kenapa tidak kesini dan tidak memberi kabar padaku, dan ponselmu juga mati,” tanya Risa yang terlihat khawatir. “Satu-satu Ris, kalau bertanya. Aku kemari tidak enak badan tapi sekarang sudah baikan dan aku lupa mengisi daya baterai ponselku,” jawab Dera. “Syukurlah kalau begitu.” “Keruanganku sekarang ada yang ingin aku sampaikan,” ucap Dera. Risa mengikuti Dera keruangannya. Dera pun mengatakan pada Risa orang kepercayaan dalam mengelola kafenya, jika ia akan pergi untuk memantau tempat yang akan ia jadikan restoran. Risa pun senang saat mendengar hal itu. Bagi Risa Dera adalah keluarga sahabat dan seorang kakak yang baik. Dan apapun yang Dera lakukan maka Risa akan mendukung. “Baiklah De, aku akan urus kafe ini, tidak perlu khawatir,” ucap Risa. “Terima kasih Ris, kamu memang yang terbaik,” ucap Dera. “Berapa lama kamu di sana?” tanya Risa. “Entahlah, mungkin bisa satu bulan atau lebih,” jawab Dera. “Terserah kamu saja, yang penting selaku kabari aku, soal anak-anak kamu jangan khawatir, bulan depan akan aku kirim ke panti,” ucap Risa. “Ya, asalkan setelah menggaji karyawan dan membeli bahan-bahan, sisanya terserah mau kau kasih separuh apa semua ke panti,” ucap Dera. “Ya, mungkin aku akan menghabiskan semua uangmu,” ucap Risa becanda. “bisa saja kamu ini. Ya sudah kalau begitu aku akan pulang untuk siap-siap. Dan maaf jika aku merepotkan dirimu,” ucap Dera. “Ck! Kamu ini seperti baru kemarin saja mengenalku. Jangan bicara seperti itu, sudah sana pergi sana.” “Kamu mengusirku?” “Iya! Sudah sana pergi, disini sekarang aku yang jadi bosnya,” ucap Risa. Dengan cemberut, Dera pun pergi meninggalkan Risa yang tengah tersenyum memandangnya. Bagi Risa Dera adalah penolongnya, pertemuan pertamanya dengan Dera saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas, itupun saat dera masih berusia tiga belas tahun. Semua tahu jika Dera anak yang Jenius, hingga sekolah tidak perlu berlama-lama. Saat itu Risa juga salah satu anak panti, tapi beda panti dengan Dera. Impiannya yang ingin punya pekerjaan dan bisa merubah hidupnya pun bisa Dera kabulkan dengan bekerja di kafe sebagai manajer sekaligus orang kepercayaan Dera. “Semoga kamu bahagia, Dera,” ucap Risa yang masih setia melihat kepergian Dera. Sementara itu kini Dera tengah melotot kearah seseorang yang tengah menaiki motor sport miliknya, siapa lagi kalau bukan Rayen. “Bukankah ini motorku? Kenapa masih utuh dan tidak lecet?” tanya Dera seraya berkacak pinggang. “Aku beli baru,” jawab Rayen enteng seraya memberikan helm pada Dera. “Ini tuh motorku, bukan motor baru. Kamu pikir aku sudah pikun apa? Pasti kamu menggunakan sihirmu ya?” “Tidak. Tapi aku memungutnya dari jalanan, dan beruntungnya orang-orangku menemukan motor ini dengan selamat hanya lecet sedikit, tapi sudah diperbaiki,” terang Rayen. “Aku tidak percaya,” gumam Dera. “Mau aku cium biar kamu percaya– aduh! Dera, sakit tau!” teriak Rayen. “Lama-lama aku akan mengelem mulut mesummu itu ya, jangan kurang ajar sama majikan, buruan jalankan motor ini sebelum helm ini melayang kepalamu itu!” perintah Dera. “Ya ampun, ngidam apa dulu Ratu Sarina sampai punya anak sepertimu,” gerutu Rayen. “Ngidam ingin makan kepala salah satu penjaga putrinya,” jawab Dera.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD