Bab. 9

1162 Words
Bibir Rayen mencebik saat sadar jika suara yang ia dengar bukanlah suara Dera, melainkan suara m***m yang ada di otaknya. Awalnya ia menoleh pada Dera ternyata gadis yang ada disampingnya itu tengah memejamkan mata. Dan Rayen sadar itu adalah halusinasinya yang terlalu m***m. Ah bisa dibayangkan bagaimana jika Dera mengetahui hal itu? Bisa-bisa hancur wajah tampannya ini. “Dera, bangun sudah sampai,” ucap Rayen membangunkan Dera. “Ah, maaf aku ketiduran. Ya sudah aku turun dulu terima kasih,” ucap Dera tanpa jeda, dan ia pun turun dari mobil Rayen. Sementara Rayen hanya melongo melihat tingkah laku dera yang menurutnya aneh. “Kamu tidak menyuruhku untuk mampir?” teriak Rayen. Namun sia-sia, Dera sudah mulai memasuki area apartemennya. Rayen menghela napasnya, sebenarnya ia ingin memberi tahu jika motornya akan tiba disini nanti, tapi ya sudahlah apa mau dikata, Dera sudah meninggalkannya. Sementara itu, kini Dera membersihkan dirinya. Ia masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Juka saja satu detik lagi Rayen tidak menolongnya, maka sudah dipastikan ada nama Dera di batu nisan saat ini. Semua kejadian belakang ini membuat Dera setres. Apalagi pertemuan pertama dengan Rayen. Ya meskipun saat ini semua pertanyaan dan juga rasa penasarannya sudah terjawab, tapi tetap saja akal sehatnya seolah belum percaya, siapa dirinya dan juga seperti apa kehidupan kedua orang tuanya. Saat ini yang ia butuhkan hanya istirahat mencoba menenangkan diri. *** “Rayan? Darimana saja kamu?” “Maafkan saya Nona. Saya ada sedikit urusan tadi,” ucap Rayan. Ya Rayan yang baru saja kembali dari menemui Rayen sang kakak, sudah disuguhkan dengan pertanyaan dari Sera. Memang tadi Rayan tidak sempat berpamitan pada Sera jika ia akan pergi menemui Rayen. Jadi wajar saja jika saat ini Sera khawatir. “Ayolah, jangan bicara formal padaku. Kau tahu kan aku tidak nyaman dengan hal itu,” ucap Sera. “Baiklah Nonaku yang cantik. Apa kamu sudah makan?” “Belum, aku menunggumu,” ucap Sera. “Hei. Kenapa kamu menungguku? Kamu ingin sakit atau ingin jadi burung piyik?” “Ya, aku ini kan memang burung piyik yang harus kamu jaga,” ucap Sera. Rayan hanya menggeleng kepalanya seraya mengajak Sera untuk makan malam. Terlalu malam untuk makan, karena ini sudah pukul satu dini hari. Dengan riang Sera memeluk lengan Rayan dan membawanya kemeja makan. Sepintas Rayan mengamati tingkah Sera, benar-benar jauh berbeda dari Dera. Meskipun wajah mereka sama, tapi sikap dan juga kelakuan berbeda jauh. Penampilan Sera yang sangat anggun dan selalu memakai gaun membuatnya terlihat sangat elegan. Berbeda dengan Dera yang selalu memakai celana dan kaos, serta jaket. Rambutnya juga selalu di kucir, dan jangan lupakan cara bicara Dera sama sekali tidak ada anggun-anggunnya. Tapi Dera lebih terlihat dewasa dan juga mandiri. Terkadang Rayan heran kepada kakaknya itu, bagaimana bisa menitipkan Dera di panti asuhan sementara dirinya hidup dengan kemewahan dan bergelimang harta? Tapi Rayan tahu pasti ada alasan dibalik semua yang dilakukan oleh Rayen. “Kenapa melamun?” tanya Sera saat melihat Rayan melamun. “Tidak apa-apa. Hanya memikirkan sesuatu saja,” ucap Rayan. “Ya sudah, ayo makan,” ucap Sera seraya mengambilkan makanan untuk Rayan. “Bibi Amie mana?” tanya Rayan. “Sudah tidur, lagi pula ini sudah pagi,” jawab Sera. Rayan hanya mengangguk. “Bagaimana?” tanya Sera. “Apanya yang bagaimana?” “Ck. Kau ini. Maksudku, apa kamu sudah bertemu dengan Kak Dera?” “Oh itu. Ya aku sudah bertemu dengannya,” ucap Rayan. “Benarkah? Bagaimana dia? Apa dia cantik? Apa dia pintar? Apa dia putih dan tinggi?” tanya Sera antusias. “Aku masih makan, Sera. Bisakah kita bicara setelah makan?” tanya Rayan. “Kau itu sangat menyebalkan, Tuan Rayan,” gerutu Sera. Rayan hanya mengedikkan bahunya mendengar gerutuan Sera. Terlihat sangat manis dan cantik bagi Rayan. Jika ia ditanya lebih cantik mana antara Sera dan Dera, maka dengan tegas ia akan menjawab, lebih cantik Sera. Namun jika ia mengatakan itu didepan Rayen sang kakak, maka hal itu tidak benar. “Jadi?” tanya Sera setelah mereka selesai makan. “Apanya?” tanya Rayan. “Soal Kak Dera,” ucap Sera. “Jika kamu penasaran dengan Nona Dera. Maka berpakaianlah seperti pria lalu warnai rambutmu menjadi sedikit abu-abu, lalu berdirilah didepan cermin seraya menampakkan wajah jutek. Maka kamu akan tahu seperti apa Dera itu,” ucap Rayan. “Hah? Jadi Kak Dera itu, orangnya sangat tomboy begitu?” tanya Sera. “Ya, dia itu terlihat sangat tomboy dan juga jutek. Bahkan Kakak ku yang sangat kaku saja kalah dengan keras kepala dari Nona Dera,” ucap Rayan. “Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya lusa,” ucap Sera senang. “Apa kamu sudah menyiapkan sesuatu buat dia?” tanya Rayan. “Sudah dong. Tapi apa Kak Dera juga seantusias diriku?” tanya Sera. Rayan hanya mengedikkan bahunya. Hal itu membuat Sera mengerucutkan bibirnya. Dalam impiannya ia sangat ingin bertemu dengan saudara kembarnya. Ia juga membayangkan wajah Dera, yang anggun dan manis seperti dirinya, dengan gaun yang cantik yang melekat ditubuh mereka. Namun ucapan Rayan tadi membuat bayangannya tentang Dera seolah sirna, ternyata saudara kembarnya itu tomboy tidak seperti dirinya. Sera menghela napasnya mendengar kasar, hingga membuat Rayan menatapnya dengan tatapan heran. “Kenapa?” tanya Rayan. “Aku takut jika nanti Kak Dera kecewa padaku,” ucap Sera lirih. “Kenapa kamu berpikiran seperti itu?” tanya Rayan. “Mendengar ceritamu tentang Kak Dera, sepertinya dia orang yang cuek.” “Ya, dia adalah gadis yang cuek. Seumur hidupnya hidup di panti asuhan membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang seperti itu. Tapi sepertinya dia sama sepertimu, mempunyai rasa kepedulian yang tinggi, mungkin dia sedikit bar-bar, tapi aku lihat dia sangat baik,” ucap Rayan. “Benarkah? Apa kalian sudah bertemu dan berbicara?” “Tidak, aku tidak pernah menampakkan diri didepannya. Hanya saja beberapa kali saat aku ingin menemui kakak, aku melihat mereka tengah berdebat, dan itu membuatku tertawa. Mereka sangat cocok,” ucap Rayan. “Mungkin itu sebabnya Ayah dan Ibu, mempercayakan Kak Dera pada kakakmu, karena kakakmu lebih dewasa,” ucap Sera. “Jadi menurutmu aku tidak dewasa begitu?” “Bisa jadi! Coba kalau kamu yang menjadi penjaga Kak Dera, pasti kamu tidak akan betah,” ucap Sera. “Sayangnya aku memilihmu dulu. Tugas kita menjadi penjaga kalian, tidak ditentukan oleh raja dan ratu. Tapi kami sendiri yang memilih siapa yang akan kami jaga,” ucap Rayan. “Ya ya ya, terserah padamu saja. Oh iya menurutmu nanti saat aku bertemu Kak Dera, aku harus menggunakan pakaian apa?” tanya Sera. “Apa pun yang kamu pakai, pasti akan cocok dan membuatmu cantik. Jadi jangan bingung mau pilih baju apa. Nanti bibi Amie akan membantumu, bahkan saat kamu tidak pakai baju pun kamu akan tetap- aw,, sakit Sera!” “Makanya bibir itu jangan m***m, kamu mau merasakan bagaimana kepakan sayapku?” ucap Sera. “Tidak-tidak. Terima kasih atas tawarannya. Jangan buang-buang tenaga,” ucap Rayan seraya tersenyum. Bisa hancur ketampanannya jika harus mendapatkan kepakan sayap dari Sera.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD