Bab. 8

1104 Words
Cantik. Satu kata yang cocok ditujukan untuk Dera oleh Rayen . Melihat Dera yang tengah berkacak pinggang seraya celingak-celinguk mencoba mencari keberadaannya. Rayen terkekeh geli melihat tingkah Dera yang sangat jauh dari kata anggun. Jika saja tidak ada peperangan di kerajaan Asrafan, mungkin saat ini Dera akan menjadi putri burung yang sangat cantik dan akan memiliki sayap yang indah dan juga mutih. Namun saat ini Rayen belum bisa melihat sayap Dera, karena dia belum membuka segel perlindungan didiri Dera. “Eh, turun kamu!” teriak Dera saat menyadari keberadaan Rayen. Rayen mendengus mendengar teriakan Dera, ia pun berjalan menuruni tangga sebelum sang Tuan Puterinya itu merusak gendang telinganya. “Ada apa teriak-teriak?” tanya Rayen. “Kamu bilang ada tamu? Mana tamumu? Jangan kamu hanya bohong untuk menghindariku ya?” tuduh Dera. “Aku memang ada tamu, tapi sudah pergi,” ucap Rayen. “Dimana motorku?” tanya Dera. “Motor?” beo Rayen. “Jangan pura-pura lupa ingatan, Tuan Rayen. Saat kecelakaan tadi siang, aku sedang berkendara. Nah aku baru ingat lagi sama motorku? Dimana motorku?” tanya Dera menuntut. “Oh itu? Mungkin sudah hancur motormu itu. Secara kan itu kecelakaan parah, bisa dibayangkan bagaimana kabar motormu itu,” ucap Rayen. “APA KAU BILANG? HANCUR? MOTORKU-“ Rayen segera menutup mulut Dera saat gadis itu berteriak menanyakan kembali keadaan motornya. “Kau ini apa-apaan sih, Rayen?” tanya Dera saat ia berhasil melepaskan bekapan Rayen. “Lagian itu mulut kalau ngomong di kecilkan suaranya. Kamu pikir aku ini tidak punya gendang telinga apa?” ucap Rayen. “Aku hanya menanyakan motorku saja. Maaf jika itu mengganggumu, tapi motor itu adalah satu-satunya kendaraan yang aku punya,” ucap Dera. “Maafkan aku Dera, aku tidak bisa menyelamatkan motormu. Karena bagiku keselamatanmu adalah yang utama. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana jadinya jika saat itu aku terlambat,” ucap Rayen. “Sudahlah. Nanti aku akan menabung untuk membeli motor lagi. Sekarang tolong antarkan aku pulang ke panti. Aku ingin berpamitan pada Ibu,” ucap Dera. Dan diangguki oleh Rayen. Kini keduanya tengah dalam perjalanan menuju panti asuhan tempat Dera dibesarkan. Tak ada yang bicara hanya suara musik yang terdengar. Mereka berselancar dipikiran masing-masing. Dera yang memikirkan seperti apa rupa saudara kembarnya itu akan sangat mirip dirinya? Atau saudara itu lebih cantik darinya. Segala pertanyaan tentang saudaranya membuat Dera bernapas lega. Pasalnya selama ini Dera mengira dirinya hanya sebatang kara dan tidak memiliki siapapun didunia ini kecuali semua penghuni panti yang ia tempati selama hidupnya ini. “Ah iya, saudara kembarku itu. Adikku atau kakakku?” tanya Dera pada Rayen. “Nona Sera itu adikmu. Jarak lahir kalian dua jam,” jawab Dera. “Hah? Dua jam? Bukankah biasanya jarak lahir manusia itu paling lama lima sampai sepuluh menit?” tanya Dera heran. “Itu manusia biasa, Nona. Kita ini manusia burung,” ucap Rayen. “Ah iya. Aku lupa. Apa itu artinya aku berasal dari telur yang menentas?” “Aduuhh! Sakit Rayen!” pekik Dera saat mendapat jitakan dari Rayen. “Kita memang manusia burung. Tapi cara berkembang biak kita sama dengan manusia, berproses dari pembuahan sel telur yang ada dalam rahim lalu jadi zigot dan bayi. Selam sepuluh bulan baru kaum kita melahirkan anak-anak,” ucap Rayen. “Oh, proses pembuatannya juga sama dengan manusia?” Secara spontan, Rayen menginjak pedal gas mobilnya saat mendengar pertanyaan Dera yang menurutnya sangat teramat vulgar. Yang benar saja, masa iya Dera menanyakan proses pembuatan bayi. “Kenapa kamu tiba-tiba mengerem mendadak? Kamu pikir aku tidak kaget apa!” ucap Dera. “Lagian tuh mulut kalau bertanya, gak disaring,” ucap Rayen. “Lah apa salahnya? Aku kan hanya bertanya?” “Kamu menanyakan proses pembuatan anak padaku? Kamu pikir aku pernah merasakannya apa?” ucap Rayen seraya kembali melajukan mobilnya. “Ya siapa tahu. Aku saja tahu cara membuat anak.” Rayen kembali mengerem mobilnya secara mendadak, bahkan Rayen menghentikan waktu agar tidak terjadi kecelakaan. “Kamu tahu cara membuat anak dari siapa?” tanya Rayen. “Waahh! Kamu bisa menghentikan waktu juga ternyata,” bukannya menjawab pertanyaan Rayen, Dera justru mengagumi apa yang Rayen lakukan. “Dera, jawab aku!” bentak Rayen. “Hei! Kenapa kamu membentakku?” tanya Dera seraya meninggikan suaranya. “Kamu sudah tidak perawan lagi–. Aduuhh!” Rayen menghentikan ucapannya dan memekik saat Dera menapuk bibirnya. “Kamu pikir aku wanita apaan? Enak saja! Aku itu tidak cantik. Tapi soal keperawanan aku masih menjaganya, lagian apa yang bisa aku banggakan pada suamiku nanti jika aku menikah dalam keadaan sudah tidak perawan. Aku kesal padamu, Rayen.” “Ya, kamu tadi bilang tahu cara buat anak, aku kan jadi berpikir yang tidak-tidak,” ucap Rayen. “Kamu kan kaya. Apa kamu tidak punya ponsel atau apa, untuk belajar membuat bayi? Dasar tidak pintar alias bodoh,” cibir Dera. Rayen membelalakkan matanya mendengar ucapan Dera. Ternyata gadisnya eh ralat, Nona Deranya, sering menonton video seperti itu. Ingin rasanya Rayen mengumpati Dera dan melarangnya untuk berhenti menonton video macam itu. Namun ia urungkan dan memilih mengembalikan keadaan lalu melajukan lagi mobilnya. Ia sadar berdebat dengan Dera tidak akan membuatnya menang, yang ada justru emosi yang akan keluar dari dirinya. Dan takutnya ia akan khilaf dan membuat Dera kehilangan keperawanan. Ya ampun pikiran Rayen mulai tidak waras. “Maafkan aku, Nona. Aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu. Jika itu terjadi maka aku akan merasa kecolongan, sekali lagi maafkan aku,” ucap Rayen. “Aku pergi ke apartemenku saja. Besok pagi saja aku pergi ke panti dan cafe, hari ini aku lelah dan ingin beristirahat,” ucap Dera. “Baik Nona. Permintaan Anda adalah perintah buat hamba,” ucap Rayen. “Aku geli mendengar ucapan itu keluar dari mulutmu,” ucap Dera. Rayen terkekeh mendengar ucapan Dera. Baginya Dera adalah segalanya, terkadang ia merasa bersalah, tidak seperti Rayan yang benar-benar menjaga Sera agar selalu berada disisinya. Sedangkan dirinya justru menitipkan Dera di panti asuhan saat mereka terpisah dari Rayan dan Sera. Bukan tanpa alasan Rayen melakukan hal itu, saat itu Rayen tengah akibat peperangan di kerajaan Asrafan ia mencoba menyembuhkan lukanya, jadi ia tidak bisa jika harus merawat Dera juga, sementara bibi Amie ikut dengan Sera dan Rayan. Saat ia sudah pulih dan ingin mengambil Dera dari panti asuhan, ternyata tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat, Dera saat itu sudah berusia sepuluh tahun, saat Rayen menemui Dera untuk pertama kali, gadis kecil itu justru mengusirnya dan mengatakan jika ia adalah penculik. Sejak saat itu ia memutuskan untuk memantau Dera dari jauh dan selalu melindunginya tanpa diketahui oleh Dera. “Astaga seperti bibirmu itu manis, Rayen!” ucap Dera tiba-tiba. "Apa kamu bilang?" "Boleh aku mencicipinya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD