Bab. 7

1232 Words
Mata Rayen kembali membelalak saat melihat cara makan Dera. Bagaimana tidak, dua piring nasi goreng dan segelas jus buah dihabiskan tanpa jeda. Jika Rayen bilang pada orang-orang jika Dera adalah seorang putri kerajaan, mungkin tidak akan ada yang percaya. Kelebihannya hanya wajah cantiknya saja, itupun ditutupi dengan sikap jutek dan ketusnya. “Apa lihat-lihat?” tanya Dera. “Kamu itu putri loh. Bukan kuli bangunan,” ucap Rayen. “Lah memang seorang putri harus bersikap seperti apa? Lemah lembut anggun, makannya harus pelang dan elegan, begitu? Itu bukan aku banget, aku dari kecil diajarkan kuat oleh keadaan dan dididik keras oleh kenyataan. Jadi jangan harap aku akan jadi lemah lembut layaknya seorang bangsawan. Tidak akan!” ucap Dera. “Setidaknya lembutlah sedikit.” “Jangan mengaturku, jika kamu benar-benar penjagaku, cukup lakukan tugasmu jangan mencampuri kepribadianku,” ucap Dera. “Baiklah-baiklah. Siapa juga yang mau berurusan denganmu?” “Bisakah kamu mengantarku ketempat saudara kembarku?” tanya Dera. “Kamu pikir segampang itu mempertemukan kalian berdua?” “Lah, memangnya susah? Bukannya kamu punya kekuatan dan juga keahlian khusus untuk pergi dan menghilang dengan cepat?” tanya Dera. “Nona Dera yang cantik dan cerewet! Kalian itu terpisah bukan dipisahkan–“ “Kamu tadi cerita kalau kami dipisahkan? Yang benar itu yang mana?” “Jangan memotong ucapanku, Dera!” perintah Rayen. Dera pun seketika menutup mulutnya melihat aura dingin dari muka Rayen. “Kalian memang dipisahkan. Tapi lebih tepatnya terpisah. Saat kami ingin bersama merawat kalian di tempat yang sama. Kalian harus terpisah demi keselamatan nyawa kalian berdua,” ucap Rayen. “Itu sama saja Rayen. Ish kau ini menyebalkan,” gerutu Dera saat sadar dirinya di kerjai oleh Rayen. “Ternyata sangat menyenangkan mengerjaimu,” ucap Rayen. “Jika masih mau wajahmu itu baik-baik saja, lebih baik katakan dimana saudara kembarku itu berada,” ucap Dera seraya mengepalkan tangannya. “Kalian akan bertemu lima hari lagi. Dan selama lima hari itu kamu harus menyiapkan secara baik untuk pergi menemui adik kembarmu itu,” ucap Rayen. “Apa yang harus aku persiapkan?” tanya Dera. “Apa kamu akan pergi sekarang juga?” tanya Rayen. “Kalau itu bisa, ya ayo!” “Tidak semudah itu Dera. Saat kamu pergi, kamu tidak akan cepat kembali, jadi pikirkan alasan tepat untuk berpamitan pada ibu panti dan juga karyawanmu, jangan buat mereka semua mengkhawatirkan keadaanmu,” ucap Rayen. Deran terdiam memikirkan ucapan Rayen. Benar juga apa yang dikatakan oleh pria dihadapannya itu. Jika ia pergi mendadak dan lama, hm lama dalam artian satu minggu bagi Dera. Maka orang-orang disekitarnya akan khawatir padanya. “Memangnya kita berapa lama disana?” tanya Dera. Seketika itu pula Rayen menepuk jidatnya, menyadari betapa bodohnya sang putri yang terlihat bar-bar itu. Dia yang menginginkan bertemu dengan saudaranya dia pula yang bertanya berapakah lama ia disana. “Kenapa kamu?” tanya Dera heran akan sikap Rayen. “Sekarang aku tanya. Kenapa kamu menanyakan padaku berapa lama kamu disana, padahal kamu sendiri yang meminta untuk menemuinya?” “Ya siapa tahu saja kalian, maksudku kamu dan adikmu itu membatasi kami untuk bertemu,” ucap Dera. “Tidak ada batasan saat kalian bertemu nanti. Tapi aku tidak yakin kalian hanya akan bertemu sebentar saja, secara teknis, kalian adalah dua jiwa yang dipisahkan dan saat kalian bertemu nanti akan ada hal besar yang terjadi diantara kalian, jadi aku tidak tahu berapa lama kita disana, bisa satu minggu, satu bulan atau satu tahun,” ucap Rayen. “SATU TAHUN? KAMU GILA YA!” Rayen hanya menutup telinganya mendengar teriakan Dera yang melengking bagaikan sebuah petir. “Kamu bisa gak sih, pelankan suaramu. Kamu bisa membangunkan para burung yang ada di kebun buahku,” ucap Rayen. “Hah.” “Hah heh, hah heh! Kenapa ‘Hah’?” tanya Rayen. “Kamu bilang apa? Burung? Ah iya, aku ingat sesuatu,” ucap Dera seraya berdiri. “Ingat apa?” “Mungkin itu sebabnya aku mengerti bahasa burung, pantas saja aku merasa aneh jika melewati pepohonan yang ada burungnya. Aku sering mendengar suara anak kecil menangis dan juga suara seorang ibu menenangkan anaknya,” ucap Dera. “Itu karena kau adalah putri mahkota dari kerajaan burung,” ucap Rayen. “Awalnya aku merasa aneh, dan aku mengira itu adalah suara hantu. Karena aku hanya mendengar suara itu jika didekat pepohonan. Lama-lama aku merasa jika aku mulai gila, karena suara-suara yang aku dengar. Namun semakin sering mendengar suara-suara itu aku jadi paham jika aku mengerti bahasa burung,” ucap Dera. Rayen hanya manggut-manggut saja mendengar ucapan Dera. “Kenapa kamu hanya manggut-manggut saja?” “Ya aku harus apa? Loncat-loncat seraya berguling-guling begitu?” tanya Rayen. “Dasar pelayan menyebalkan,” gerutu Dera. “Aku bukan pelayanmu!” “Bodo amat!” Tanpa mereka sadari perdebatan mereka sejak tadi diperhatikan oleh seseorang di balik tembok. Orang itu adalah Rayan yang datang ingin menyampaikan jika Dera dan Sera bisa bertemu lusa, di bukit yang telah mereka sepakati. Namun saat melihat Rayen dan Dera berdebat, Rayan memilih untuk mendengarkan mereka. Rayan sedikit heran dengan kedua orang itu. Dera yang keras kepala dan juga bar-bar, terlihat cocok dengan pribadi Rayen yang usil. Sungguh berbeda jauh dengan dirinya yang sedikit kalem. Tak berselang lama, Rayen menyadari kehadiran Rayan. “Kamu tunggu disini sebentar. Sepertinya ada tamu yang ingin menemuiku,” ucap Rayen. Dera tak menyahut ia sudah tahu seperti apa Rayen itu, pasti akan datang dan pergi sesuka dengkulnya. “Kenapa kau datang?” tanya Rayen. “Ternyata Kakak peka juga. Aku ingin mengatakan jika kedua Nona kita bisa bertemu lusa,” ucap Rayan. “Lah, bukannya lima hari lagi?” tanya Rayen. “Kau tahu kan, lima hari lagi adalah hari kematian Raja Darion dan Ratu Sarina. Kata bibi Amie hal itu tidak baik untuk mempertemukan kedua Nona kita,” ucap Rayan. “Ah iya, aku lupa. Ya sudah aku akan bilang pada Dera,” ucap Rayen. “Dera?” tanya Rayan heran. “Kenapa?” “Kau memanggil Nona Dera hanya dengan nama saja? Itu tidaklah sopan Kak,” ucap Rayan. “Kau tahu? Nona kita yang satu itu berbeda jauh dengan Nona Sera. Dia tidak ada lembut-lembutnya. Bahkan dia akan menendang kakiku saat aku memanggilnya Nona. Kau tahu kan maksudku?” “Tapi bagaimanapun hal itu sangatlah tidak sopan,” ucap Rayan. “Kau akan paham saat benar-benar mengenal Dera,” ucap Rayen. “Terserah padamu saja, ya sudah aku pergi dulu,” ucap Rayan. Rayen menghela napasnya dengan kasar. Sebenarnya ia belum siap dengan semua ini. Pertemuan antara Dera dan Sera adalah ketakutan terbesar bagi Rayen. Ia takut jika akan ada masalah yang lebih besar. Ia takut jika Dera kenapa-kenapa. Selama ini Rayen sudah menahan sesuatu yang ada di hatinya saat berjauhan dengan Dera, dan saat untuk pertama kalinya ia menampakkan wajahnya didepan Dera, Rayen sangat bahagia meskipun sikap Dera sangatlah tidak bersahabat dengannya. Namun dua hari lagi ia akan mempertemukan Dera dengan Sera. Rayen takut jika Dera kenapa-kenapa. Ia benar-benar ketakutan akan kehilangan Dera. Ia belum sanggup. Namun kembali lagi pada sebuah tanggung jawab, mau tak mau Rayen tidak boleh egois dan harus bisa kembali menempatkan sesuatu pada tempatnya seperti semula. Ia sudah kehilangan kedua orang tuanya dan juga pemimpinya. Kini yang ia punya hanya adiknya dan kedua Tuan putrinya. Apapun akan Rayen lakukan demi menjaga mereka, terutama Dera. “RAYEEEENN! BAGAIMANA DENGAN MOTORKU? KAU DIMANA RAYEN?” teriak Dera. “Ya ampun!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD