Sungguh menyebalkan bagi Dera, bagaimana tidak sejak setengah jam lalu ia menunggu Rayen bercerita tentang jati dirinya, justru kini pria itu pergi entah kemana. Melewati sebuah jendela dengan sekali lompat, bahkan hal itu membuat dera jantungan. Sebenarnya Dera sudah sejak lama merasakan hal-hal aneh pada dirinya. Seperti seseorang yang menemuinya dan memberitahu soal saudara kembarnya, serta ia bisa mendengar burung berbicara. Namun sat itu Dera hanya berpikir jika itu adalah kelebihan yang Tuhan berikan untuknya. Kalau soal saudara kembarnya Dera selalu mencari informasi tentang dirinya, tapi hingga kini tidak ada titik terang. Saat ia menemukan titik terang pada sosok Rayen, ternyata pria itu pergi begitu saja meninggalkan dirinya di dalam rumah yang sangat teramat besar.
“Dasar pria sialan!” umpat Dera.
Ia memilih bangkit dan keluar dari ruangan itu dan ingin melihat-lihat rumah Rayen yang megah itu.
“Halo Nona. Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang wanita dengan baju khas pelayan.
“Ah tidak usah, kau lanjutkan saja pekerjaanmu,” ucap Dera.
“Tapi barusan Tuan Rayen, meminta saya untuk menemani dan memberikan apa yang Anda butuhkan, selama Tuan Rayen belum kembali,” ucap wanita itu.
“Memang dia kemana?” tanya Dera.
“Maafkan saya, Nona. Saya tidak tahu kemana tuan Rayen pergi, Beliau hanya berpesan agar saya menemani Nona,” ucap wanita itu.
“Terserah kamu. Aku mau berkeliling rumah ini,” ucap Dera.
“Baiklah, mari saya temani.”
“Siapa namamu?” tanya Dera.
“Nama saya, Moi.”
Dera pun berjalan mendahului wanita bernama Moi tersebut. Langkah Dera terhenti saat sampai dibelakang rumah Rayen. Terlihat kebun buah yang sangat luas, dengan berbagai jenis buah-buahan yang sudah masak.
“Apa Rayen yang menanam semua ini?” tanya Dera.
“Tentu saja Nona. Belia menanam sendiri setiap pohon disini, tugas kami hanya merawat tanaman saja,” ucap Moi.
“Apakah aku boleh memetik buahnya?” tanya Dera.
“Tentu saja! Kamu boleh memetik buah itu sebanyak yang kamu mau.”
Dera menoleh kearah suara itu, ternyata pria yang tadi menghilang kini sudah ada didepannya dengan bersedekap tangan.
“Hei! Apa kamu itu hantu? Datang dan pergi secepat kilat,” ucap Dera.
Rayen memberi tanda pada Moi untuk pergi meninggalkannya dan Dera. Setelah Moi pergi kini Rayen berjalan mendekati Dera.
“Kamu mau buah apa, Nona?” tanya Rayen.
“Karena kamu sudah ada disini, aku tidak lagi menginginkan buah, tapi aku menagih penjelasan darimu,” ucap Dera.
“Baiklah kalau begitu. Ayo kita duduk di bawah pohon itu,” ucap Rayen seraya berjalan menuju kursi di bawah pohon.
“Cepat ceritakan, Tuan Rayen,” ucap Dera.
Rayen memetik beberapa buah segar untuk Dera. Bukannya terkesan, Dera tampak semakin kesal karena merasa jika Rayen, mengulur waktu untuk bercerita.
“Aku adalah penjagamu, sejak kamu lahir Raja Darion dan Ratu Sarina memintaku menjagamu, dan saudaramu di jaga oleh adikku yang bernama Rayan,” Rayen menyandarkan punggungnya di kursi yang ia duduki.
“Awalnya semua berjalan seperti biasa, rakyat yang makmur damai dan bahagia. Hingga suatu kejadian naas memporak-porandakan seluruh kerajaan Asrafan dan juga membuat kalian harus terpaksa berpisah satu sama lain. Saat itu aku hanya seorang siluman yang baru berusia dua ratus tahun, yang tanpa pikir panjang harus membawamu pergi demi keselamatan nyawamu,” ucap Rayen.
“Apa yang terjadi dengan kerajaan Asrafan saat itu?” tanya Dera dengan nada khawatir.
“Tuan Garinda, adalah adik tiri dari Raja Darion ayahmu. Dia diam-diam merencanakan sebuah pemberontakan untuk merebut takhta ayahmu. Tidak ada yang menyangka akan hal itu. Sedangkan kami tidak punya persiapan apa-apa. Hingga suatu hari saat acara ulang tahun putra mahkota berlangsung. Pasukan Tuan Garinda tiba-tiba menyerang dengan membabi buta. Dan sayangnya lagi, hampir delapan puluh persen prajurit Asrafan memihak Tuan Garinda. Hingga dengan mudahnya kami kalah dan nyawa kedua orang tuamu dan kakakmu tidak bisa kami selamatkan. Kami sangat menyesal akan hal itu, hanya satu pinta Ratu Sarina. Yaitu menyelamatkan kalian berdua dari keganasan amukan Tuan Garinda. Saat kami berdua sudah pergi jauh dari kerajaan Asrafan, dan berharap bisa selamat dari kejaran pasukan Tuan Garinda, ternyata kami salah, dengan kekuatan para prajurit Asrafan, kami berhasil tertangkap. Namun dewi fortuna berpihak pada kami, batu jingga yang kalian miliki tiba-tiba bersinar dan membuka sebuah portal dan kami masuk kedalam portal itu dan lolos dari kejaran pasukan Tuan Garinda,” terang Rayen.
“Dan berakhir di bumi ini?” tanya Dera.
“Entahlah. Kita di bumi yang sama atau kita dari planet lain, aku juga tidak tahu. Yang pasti kami harus memisahkan kalian berdua sejauh mungkin agar jika salah satu dari kalian tertangkap maka masih ada satu lagi diantara kalian,” ucap Rayen.
“Kamu bilang aku punya kakak laki-laki?” tanya Dera dan diangguki oleh Rayen.
“Seperti apa dia? Apa dia tampan? Apa dia menyebalkan? Atau dia masih anak-anak seperti kami saat itu?” tanya Dera seraya menahan air matanya agar tidak mengalir.
“Ya, dia sangat tampan, baik hati dan juga rendah diri. Mirip dengan Ratu Sarina. Namanya putra Rasendra. Jika dia masih hidup saat ini dia berusia tiga ratus tahun,” ucap Rayen.
Dera meneteskan air matanya mendengar cerita Rayen. Ia tak menyangka jika ia adalah seorang putri dari seorang Raja. Bahkan saat ini ia mempercayai ucapan Rayen. Ucapan yang awalnya hanya dianggapnya sebagai bualan dan juga gombalan Rayen untuk menggodanya. Namun setelah ia membaca buku dan juga mendengar cerita Rayen. Ia percaya dengan apa yang didengarnya. Bahkan dulu saat ada seorang wanita mendatanginya dan mengatakan bahwa ia mempunyai saudara kembar, Dera tidak mempercayai hal itu ia bahkan menganggap jika wanita itu adalah orang gila yang mengatakan hal bualan padanya. Namun seiring berjalannya waktu, Dera selalu mencari tahu tentang dirinya dan mencoba percaya bahwa ia memiliki saudara kembar. Namun pencariannya itu berakhir nihil tanpa ada petunjuk Satu pun, hingga ia bertemu dengan sosok Rayen pria yang awalnya ia anggap sebagai pengganggu dan juga menyebalkan. Ternyata adalah seorang pria yang mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Dera menghela napasnya menghapus air matanya yang mengalir tanpa permisi itu. Jika kalian mengira, Dera menangis tersedu-sedu, kalian salah. Dera adalah pribadi yang tangguh dan tak mudah menangis jika tidak benar-benar dalam keadaan tersentuh seperti saat ini.
“Apa kamu tidak apa-apa, Nona?” tanya Rayen yang sedari tadi hanya diam melihat Dera menangis.
“Kamu pikir aku ini apa? Aku tidak akan mati hanya dengan meneteskan beberapa bulir air mataku,” jawab Dera ketus.
“Ngidam apa dulu Ratu Sarina, hingga melahirkan anak sepertimu saat ini,” ucap Rayen.
“Kamu pikir aku ini apa, hah? Dasar pelayan tidak tahu diri!” ucap Dera.
Rayen melotot mendengar ucapan Dera yang menyebutkannya sebagai pelayan.
“Aku bukan pelayananmu, Nona. Tapi aku ini penjagamu,” ucap Rayen tak terima
“Sama saja, Tuan Rayen yang terhormat. Sama melayaniku kan?” ucap Dera tak mau kalah.
“Dasar bocah!”
“Jangan mengumpatiku! Ada banyak pertanyaan yang ada diotak cantikku ini. Tapi sayangnya perutku lapar. Jadi Tuan Rayen yang terhormat, beri aku makan sekarang juga.”