Bab 5

1200 Words
Masih mencoba mencerna apa yang tengah terjadi pada dirinya. Mencoba percaya akan apa telah dialaminya, benarkah ini nyata? Atau ini adalah mimpi? Atau ini hanya ilusi belaka? Berbagai macam pikiran tak masuk akal mulai memenuhi otak Dera. Baru saja ia melihat sebuah truk besar hampir menewaskan dirinya, tapi nyatanya saat ini ia masih selamat dan berada dalam pelukan seorang pria tampan dengan rambut gondrongnya yang di kucir. “Tunggu dulu! Rayen? Apa kamu Tuan Rayen?” tanya Dera setelah sadar dari berbagai pikirannya. “Ya, aku Rayen. Apa Anda tidak apa-apa Tuan Puteri Dera?” tanya Rayen. Dera mengerjapkan matanya berkali-kali mencoba mencerna kejadian yang menimpanya beberapa menit lalu. Pandangannya menelisik ke sekitarnya, terlihat ada sebuah kecelakaan besar disebuah jalan yang tak begitu jauh dari tempatnya saat ini. “I-itu? A-apa yang terjadi? Kenapa aku bisa selamat dari kecelakaan itu?” tanya Dera. “Bisakah Anda melepaskan pelukan Anda. Aku harus mengambil air untukmu,” ucap Rayen. Seketika itu mata Dera melotot kearah Rayen. Benar saja kirinya mencengkeram erat baju Rayen, dan secepat kilat Dera melepas tangannya dan mencoba berdiri karena posisinya tengah di pangku oleh Rayen. Namun seketika itu pula tubuhnya terhuyung, dengan sigap Rayen menangkap tubuh Dera. “Ck! Jangan berdiri sembarangan dulu, ini minum,” ucap Rayen. Dera pun mengambil botol minum itu dan segera meneguknya hingga tandas. “Bisa kau jelaskan apa yang terjadi, dan siapa kau sebenarnya Tuan Rayen?” ucap Dera. “Jangan panggil aku dengan sebutan ‘Tuan’. Anda bisa memanggil namaku saja,” ucap Rayen. “Hei! Kau begitu formal padaku, kenapa aku tidak boleh? Kau ini manusia atau makhluk astral sih?” gerutu Dera. Rayen terkekeh mendengar gerutuan Dera. “Baiklah kalau itu maumu. Kita tidak usah terlalu formal. Begini, sekarang ikutlah denganku dan aku akan memberitahumu tentang semuanya nanti,” ucap Rayen. “Apa kau yakin? Kau tak akan berbuat macam-macam kan?” tanya Dera. “Tidak! Mungkin hanya satu macam saja,” goda Rayen. Dan seketika itu pula Dera hendak melayangkan tinjuanya. “Nah ini! Bagaimana aku akan macam-macam padamu? Kau itu sangat galak Tuan Puteri Dera!” ucap Rayen. “Kau–“ “Simpan omelanmu itu, Dera sekarang ayo ikut denganku,” ucap Rayen seraya menarik tangan Dera menuju mobilnya. “Tapi it–.” “Tidak usah memikirkan kecelakaan itu, biarkan para polisi yang akan mengurusnya,” ucap Rayen. Akhirnya Dera menurut saja pada Rayen, dan merelakan motor kesayangannya hancur. Hancur? Motornya hancur? “Tunggu dulu? Bagaimana keadaan motorku?” tanya Dera khawatir. Namun Rayen tak menjawab pertanyaan Dera, ia terus saja menyeret tangan Dera menuju mobilnya dan segera pergi dari tempat itu. Dera mendengus kesal dengan kelakuan seenaknya yang dilakukan Rayen padanya. Kini mobil Rayen sudah memasuki gerbang yang besar menuju sebuah rumah yang mewah. Pemandangan pertama yang Dera lihat adalah sebuah pohon besar dan dibawahnya banyak sekali bunga-bunga yang terlihat indah dengan berbagai warna. Sepintas Dera sangat terpesona dengan bangunan yang ada di depannya sebelum sebuah suara memintanya untuk segera turun dari mobil. Siapa lagi pemilik suara itu kalau bukan Rayen yang menyebalkan bagi Dera. Dengan langkah lebar Rayen berjalan didepan Dera, tak sulit mengimbangi langkah Rayen, karwna Dera juga memiliki kaki jenjang. “Ini rumahmu?” tanya Dera. “Hm.” “Menyebalkan,” gerutu Dera. “Selamat datang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” tanya salah satu pelayan Rayen. “Tidak usah. Istirahat saja jika pekerjaan kalian telah usai,” ucap Rayen dan pelayan tersebut pun pergi meninggalkan Rayen dan Dera. “Ayo ikut aku,” ucap Rayen seraya kembali menarik tangan Dera. “Sekaya inikah dia? Sebenarnya siapa sih, orang ini?” batin Dera. Lagi-lagi Dera terpesona saat memasuki sebuah ruangan yang sangat luas dengan berbagai macam buku yang berjejer rapi di sebuah rak besar yang menjulang tinggi hingga keatap ruangan itu. “Waaahhh! Banyak sekali bukumu. Apakah aku boleh meminjam satu saja?” tanya Dera antusias. “Tentu,” ucap Rayen seraya mengambil sebuah buku. Namun bukan mengambil dengan tangga atau tangannya melainkan buku itu yang melayang mendatangi Rayen. “Astaga! Apa itu? Kau bisa sihir? Apa kau ini dukun? Atau kau ini benar-benar makhluk astral? Atau kau ini hantu? Ya ampun!” “Kenapa kau begitu sangat cerewet sih? Nih baca!” ucap Rayen seraya menyerahkan sebuah buku berwarna jingga tua pada Dera. “Kerajaan Asrafan? Ini buku tentang apa? Apa buku ini yang membuatmu bisa sihir seperti barusan?” Lagi-lagi Dera melontarkan pertanyaan. “Baiklah Dera, dengarkan aku. Aku adalah Rayen, dan seperti yang kamu bilang tadi, aku bukan manusia biasa. Tepatnya aku bukan dari bumi ini, aku berasal dari dunia lain dan kerajaan Asrafan adalah asalku,” ucap Rayen. Sementara Dera mencoba mempercayai apa yang Rayen katakan. “Dan kau juga berasal dari sana, Nona Dera,” ucap Rayen lagi. “Apa aku bermimpi?” gumam Dera. Rayen terkekeh mendengar gumaman Dera. Awalnya Rayen mengira jika Dera akan syok atau berteriak saat tahu siapa dirinya. Ternyata Tuan Puterinya itu terlihat biasa saja. “Kamu tidak sedang bermimpi, Dera. Semua itu kenyataan. Dan satu lagi. Kamu memiliki saudara kembar, ta–“ “Benarkah? Ternyata benar apa yang aku dengar selama ini,” ucap Dera. “Maksudmu?” “Dulu ada seorang wanita yang sangat cantik, dan ia mengatakan jika aku memiliki saudara kembar, tapi kami di pisahkan karena suatu alasan. Dan aku tak tahu apa alasan yang membuatku terpisah dari saudaraku,” ucap Dera. “Siapa wanita yang kamu maksud? Ke apa aku tak pernah melihatnya menemuimu selama ini?” tanya Rayen heran “Heii! Apa selama ini kau selalu mengawasiku?” tanya Dera tak terima. “Tentu saja, karena kamu adalah tanggung jawabku, lalu apa kamu tidak kaget atau apa saat mendengar kau memiliki seorang saudari?” “Awalnya aku tak percaya, tapi wanita itu mendatangiku untuk yang kedua kalinya, dan dia juga mengatakan jika keberadaanku di panti itu karena sebuah alasan dan persembunyian, tapi jika semua ini adalah tempat persembunyian kenapa sampai sekarang aku masih bebas berkeliaran diluar panti dan tak pernah bertemu dengan orang-orang yang membahayakanku? Dan akhirnya aku bertemu denganmu! Atau jangan-jangan kau adalah orang jahat yang mengincarku dan saudara kembarku?” “Hei! Enak saja! Justru aku adalah pelindungku Sayang,” ucap Rayen tak terima. “Berhenti memanggilku Sayang. Aku jijik mendengarnya,” ucap Dera seraya bergidik ngeri. “Lalu setelah itu apa yang kau inginkan?” “Aku berusaha mencari tahu siapa aku dan keluargaku, serta aku ingin mencari tahu dimana saudara kembarku. Namun semua itu nihil, tak ada satupun petunjuk selain gelang ini dan namaku yang ada didalam batu ini,” ucap Dera seraya melihat gelangnya. “Sebentar lagi kalian akan bertemu.” “Benarkah? Selama ini kau tahu di mana dia? Dan kau tak memberitahuku?” cecar Dera. “Kau tidak pernah bertanya padaku,” ucap Rayen enteng. “Terserah kau saja, Tuan Rayen. Sekarang tolong ceritakan siapa aku sebenarnya dan alasan apa yang membuatku berada di sini dan terpisah dari saudaraku?” “Apa kau akan percaya saat aku mengatakan yang sebenarnya?” “Cerewet sekali kau ini, apa perlu tanganku ini yang memaksamu untuk bercerita?” ucap Dera seraya mengepalkan tangannya di depan wajah Rayen. “Baiklah, Tuan Puteri Dera. Aku akan bercerita asal-usul kita."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD