Bab. 4. Ketampanan Rayen

1739 Words
Rayen terjerembap ke tanah saat seseorang memukul wajahnya dari arah belakang. “Oh ayolah, apa sekarang kekuatanmu sudah hilang? Baru jentikan jari kamu sudah jatuh, apa lagi jika aku mengeluarkan seluruh kekuatanku?” ucap orang itu. “Sial!” umpat Rayen. Ketika dia bangun dan ingin membalas pukulan orang tersebut, dia di buat terperanjat kaget dengan apa yang dia lihat. “Rayan? Apa benar kamu Rayan?” tanya Rayen. “Hah, aku kecewa! Kenapa kau sudah melupakan wajah gantengku ini, Kak?” ucap orang yang bernama Rayan. Rayan adalah adik kandung Rayen dia juga salah satu penjaga para keturunan Raja Asrafan, dua puluh tahun lalu Rayen dan Rayan sama-sama melarikan diri dari peperangan mereka membawa kedua Puteri sang Raja agar selamat, Rayen membawa Dera sementara Rayan membawa saudari kembar Dera yaitu Sera. Ya, Dera mempunyai saudari kembar bernama Sera, namun Dera tidak mengetahui hal itu, lebih tepatnya belum mengetahuinya. “Bukan begitu, Yan. Kenapa kamu muncul sekarang, heh?” tanya Rayen. “Apa kamu tidak suka bertemu denganku? Saudara macam apa kau ini?” ucap Rayan. “ck,, bukannya kita akan bertemu dalam waktu delapan hari lagi?” ucap Rayen lagi. “Iya, seharusnya begitu, tapi selama ini Sera sangat ingin bertemu dengan Putri Dera, dia sering bermimpi tentang masa lalu dan juga mulai merasakan sesuatu yang membuatnya tidak tenang,” ucap Rayan. “Itu efek dari kekuatan dia, setelah usia mereka menginjak dua puluh tahun, kekuatan besar itu akan muncul dan jika tidak bisa mengendalikan diri maka semua usaha kita akan sia-sia.” “Apa kamu sudah mengatakan pada, Putri Dera?” tanya Rayan. “Belum! Sebaiknya kita masuk dulu jangan bicara di sini,” ajak Rayen pada Rayan. Mereka pun masuk dan Rayen mengajak adiknya masuk ke dalam ruang kerja miliknya. “Bagaimana kau bisa memiliki rumah sebesar ini, Kak?” tanya Rayan saat mereka sudah ada di dalam ruang kerja Rayen. “karena aku bekerja, dunia manusia tidaklah sesulit dunia kita,” ucap Rayen. “Ya, ya, kau benar, tapi mereka sangat menyebalkan,” ucap Rayan. “Di mana Putri Dera? Aku tidak melihatnya dari tadi?” tanya Rayan. “Dia tidak tinggal di sini,” jawab Rayen. “Maksudnya?” “Sewaktu kita berpisah dulu, aku menitipkan Dera di panti asuhan, ak–.” Bugh!! Ucapan Rayen terhenti saat Rayan tiba-tiba memukul wajahnya. “Apa yang kau pikirkan kenapa kau tega menitipkan dia di panti asuhan? Bukankah tugas kita menjaga para Tuan Puteri, aku tahu kehidupan di panti seperti apa, pasti dia menderita dan sedangkan kau! Enak-enakan di rumah mewah ini,” ucap Rayan seraya memegang kerah baju Rayen. “Dengarkan aku dulu,” ucap Rayen seraya menghempaskan tangan Rayan dari kerah bajunya. “Aku menitipkan dia di sana karena aku ingin dia menjadi tangguh dan kuat, agar dia tidak manja, selain itu apa kau tahu jika kekuatan yang dia miliki dapat menjadi bumerang baginya apalagi jika berdekatan dengan perkamen itu sebelum ia bisa mengendalikan kekuatan miliknya, aku harus menjauhkannya dari Dera, dan aku tidak bisa meletakkan perkamen itu sembarangan, jadi aku lebih memilih menitipkan Dera di panti asuhan namun aku tetap mengawasinya,” jelas Rayen panjang lebar. “Oh, begitu?” ucap Rayan enteng. “Kamu hanya bilang ‘Oh’? Setelah tadi memukul wajahku?” ucap Rayen sebal. “Ya, maaf! Tadi aku terbawa suasana saja. Jadi bagaimana apa dia sudah tahu siapa dia dan dari mana kita berasal?” tanya Rayan. “Belum, besok aku mau memberitahu dia,” jawab Rayen. “Lebih cepat lebih baik, baiklah aku akan kembali delapan hari lagi sekarang aku harus pergi,” ucap Rayan. “Hai, apa kau tidak ingin menginap?” tanya Rayen. “Oh tidak bisa, Tuan Putri ku menunggu kepulangan ku,” jawab Rayan. “Bagaimana keadaan putri Sera?” “Dia baik-baik saja, dia juga sudah mulai bisa mengendalikan kekuatan miliknya,” jawab Rayan. “Bibi, Amie?” “Dia juga baik, setiap hari selalu mengomeli, Sera jika telat makan,” jawab Rayan seraya terkekeh. “Baiklah kalau begitu, sampaikan salamku padanya,” ucap Rayen. “Oke, kalau begitu aku pergi dulu. Ingat ya tolong tepat waktu pas pertemuan nanti,” ucap Rayan. “Bawel saja,” gerutu Rayen. Wuussshhh!! Dengan sekali embusan angin, sosok Rayan sudah tidak ada. Begitulah cara kaum kerajaan Asrafan, Rayen menghela nafas pertemuan dengan Rayan membuatnya berpikir bagaimana ia harus menjelaskan semua ini pada Dera, akhirnya dia memutuskan untuk memberitahu semuanya besok pada Dera. Keesokan harinya, Dera keluar dari kamar karena mendengar beberapa kali ketukan. Saat membuka kamar terlihat gadis kecil yang tengah tersenyum lebar. “Ada apa Sayang?” tanya Dera pada gadis itu. “Aku ganggu ya, Kak?” Dera hanya menggeleng seraya tersenyum. “Itu, Kak Dera di suruh ke depan sama Ibu, katanya ada yang mencari Kakak,” ucap gadis itu. “Baiklah, Kakak akan ke depan dulu ya, sekarang kamu harus siap-siap buat ke sekolah,” ucap Dera dan diangguki oleh gadis kecil itu. Setelah Dera mengambil jaket miliknya, ia keluar dan ingin menemui sang ibu panti sebenarnya Dera kesal siapa juga yang mencarinya di waktu pagi seperti ini. Karena letak kamar Dera berada paling ujung lorong panti, ia harus berjalan lumayan jauh untuk menuju depan terkadang ia juga di sapa oleh adik-adiknya. “Selamat pagi, Bu,” ucap Dera, namun sebelum sang Ibu mengatakan siapa yang datang mencarinya, Dera sudah memutar bola matanya saat melihat pemuda berkaus abu dengan rambut gondrong sebahunya yang dikucir, sesaat Dera terpanah oleh pesona Rayen, namu dia segera menggelengkan kepalanya. “Buat apa kamu datang mencariku sepagi ini?” tanya Dera. “De, jangan begitu,” ucap Ibu panti. “Ibu tidak tau saja dia seperti apa, dia sangat menyebalkan.” “Dera!” “Sudah, Bu. Tidak apa-apa Dera memang begitu jika bertemu dengan saya,” ucap pemuda tersebut. “Tidak usah berlagak baik, Tuan! Katakan ada keperluan apa kamu mencariku?” tanya Dera. “Ya sudah Ibu tinggal ke belakang dulu, silakan kalian mengobrol. Dan kamu, De! Jaga sopan santun pada tamu,” ucap Ibu panti. “Iya.” Setelah Ibu panti pergi, tinggallah berdua, dengan Dera yang memasang wajah juteknya. “Nona ini masih pagi, kenapa mukamu sudah kelihatan jutek seperti itu?” “Heh, Rayen kenapa kamu kesini? Cepat katakan aku tidak ada waktu untuk menuruti semua omong kosong kamu itu,” ucap Dera. “Aku hanya mau mengembalikan ini,” jawab Rayen seraya menunjukkan ponsel milik Dera. Sementara Dera terkejut, kenapa ponsel miliknya ada pada Rayen dan dia tidak menyadari jika sejak kemarin ponselnya telah hilang. “Tidak usah terkejut begitu, selain jutek ternyata kamu juga pikun dan juga ceroboh,” ucap Rayen seraya terkekeh. “Sini ponselku!” ucap Dera seraya mengambil ponsel miliknya dari tangan Rayen. “Aku sudah mengisi daya ponselmu, tadi malam ada yang meneleponku, aku kira dirimu yang sedang merindukanku, ternyata seorang petugas SPBU yang mengatakan jika ada seseorang gadis ceroboh yang meninggalkan ponselnya,” ucap Rayen. “Jika tidak ikhlas kenapa kamu kembalikan, seharusnya biarkan saja di sana,” ucap Dera seraya melengos. “Karena selain ganteng aku juga baik hati, jadi aku kembalikan ponselmu.” “Jika sudah tidak ada yang kamu perlukan lagi sebaiknya kamu pergi dan terima kasih atas ponselku,” ucap Dera. “Aku masih ada keperluan denganmu, soal kafe.” Dera menyipitkan matanya mendengar ucapan Rayen, dia curiga apakah pemuda di hadapannya ini hanya ingin mengganggunya saja. “Tidak usah terkejut begitu, aku hanya ingin menanyakan apakah kafemu juga menerima pesanan makanan dalam jumlah besar, maksudku sekitar seratus begitu?” ucap Rayen. “Oh. Iya bisa, kenapa?” “Besok aku di rumah temanku ada pesta kecil, dan aku ingin memesan makanan dari kafemu,” ucap Rayen. “Bukannya kau seorang pemilik hotel bintang lima? Kenapa tidak kau pesankan saja dari hotelmu?” tanya Dera dengan nada ketus. “Terserah aku,” jawab Rayen. Setelah selesai dengan urusan memesan makanan Rayen mengajak Dera untuk pergi ke suatu tempat, namun bukan Dera namanya jika ia dengan mudahnya mengikuti keinginan orang asing yang mengajaknya pergi, dengan tegas dan ketus ia menolak ajakan Rayen, akhirnya Rayen pun mengalah, dia pergi dari panti asuhan itu dan Dera berangkat ke kafe miliknya. Tanpa sepengetahuan Dera, Rayen mengikuti motor Dera dari belakang, sementara Dera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, hal itu membuat Rayen ketar-ketir. “Ya, ampun gadis itu benar-benar pemberani seperti Ratu Sarina, apa dia pikir nyawanya ada sepuluh, bagaimana jika nanti dia jatuh? Ya ampun,” gerutu Rayen yang melihat motor Dera melaju seperti angin. Dera tidak langsung menuju kafenya ia memilih kembali ke apartemen miliknya, dia belum mandi dan juga harus ganti baju. Dengan setia Rayen mengikutinya dan menunggu ia keluar dari apartemennya. Tak berselang lama tampak Dera keluar dari pelataran parkir apartemen miliknya, dia segera menstarter motornya dan kembali melaju membelah jalanan kota yang terlihat mulai rame oleh beberapa kendaraan, kali ini ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Celana hitam di padu dengan sepatu boots coklat, serta jaket hitam kesayangannya melekat sempurna di tubuhnya. Rayen selalu di buat terpesona oleh kecantikan Puteri kerajaan Asrafan tersebut. Saat berhenti di sebuah taman berniat mengambil ponselnya, tiba-tiba dari arah depan ada sebuah truk yang lepas kendali, dan menuju arah Dera. Dengan sekejap mata Dera melihat truk itu semakin mendekat ke arahnya dan ia tidak bisa menghindarinya. “Ya, tuhan jika ini akhir dari hidupku, aku ingin bertemu dengan orang tuaku, jika aku masih bisa selamat maka aku ingin mengetahui siapa aku sebenarnya,” doa Dera seraya memejamkan mata, ia mendengar suara benturan dan ledakan yang sangat keras. Duarrrr!! Seketika itu pikiran Dera mulai melayang, apalagi saat ia merasakan tubuhnya seperti sedang terbang. “Ya tuhan ternyata kematian tidak sesakit yang aku bayangkan, jika aku tahu kematian tidak sakit aku memilih untuk mati sejak dulu” ucap Dera seraya tetap menutup matanya, namun air matanya sudah mengalir deras di pipi putihnya. “Tunggu sebentar! Kenapa aku masih bisa mendengar suara kendaraan? Ini tangan siapa? Apa malaikat maut belum mencabut nyawaku,” ucap Dera saat ia menyadari ada yang memegang pipinya. “Buka matamu, Putri Dera. Aku mohon jangan mengatakan hal-hal konyol,” ucap seseorang. Dera terbelalak seketika saat mendengar ucapan seseorang itu, ia sangat kaget saat seseorang yang sedang membelai pipinya. "Wah, malaikat maut ternyata setampan ini, ya ampun aku siap mati kalau begini," ucap Dera. "Sebegitu terpesonanya kah dirimu padaku Dera? Ya aku memang tampan," ucap Rayen. seketika itu Dera semakin terbelalak saat menyadari pria yang tengah menggendongnya adalah Rayen. “Ra–Rayen!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD