Bab. 3 kedatangan Rayan.

1833 Words
Waktu menunjukkan pukul tiga sore, Dera tampak mulai mengemasi barang-barang miliknya yang ada di dalam ruang kerjanya. Hari ini dia ingin pulang lebih cepat entah kenapa setelah mimpinya tadi dia merasa ada yang aneh, akhirnya dia memutuskan untuk pulang lebih awal. Dera melangkah menghampiri motor sport miliknya setelah berpamitan kepada para karyawannya. Kali ini dia tidak pulang ke apartemen miliknya, Dera ingin ke panti meski baru beberapa hari dia ke sana, namun dia ingin menemui Ibu panti yang menemukannya. Dera mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, sesampainya di panti Dera memarkirkan motornya di halaman panti, terlihat anak-anak sedang bermain berlarian ke sana kemari dengan penuh canda tawa seakan tak ada beban di pikiran mereka. Dengan langkah kaki jenjangnya dia berjalan menuju anak-anak yang tengah bermain, dengan wajah ceria mereka berlari menghampiri Dera dan hal itu di sambutnya dengan ceria. Setelah puas berbincang dengan anak-anak, Dera bergegas berjalan menuju ruang ibu panti. “Ibu, lah kok tak ada?” ucap Dera saat memasuki ruangan Ibu panti dan tak mendapati seorang pun di sana. “Eh, Mbak Mel! Ibu ke mana?” “Di ruang bayi, De. Ada anak baru kemarin.” “Hah, anaknya siapa Mbak?” “Anak seorang janda, di titipkan di sini sementara ibunya mencari pekerjaan. Eh kamu tolong aja deh tuh ibu-ibu siapa tahu di kafe Mu ada pekerjaan untuk dia.” “Iya aku coba lihat dulu nanti, Ya sudah Mbak Mel, aku mau ketemu Ibu dulu,” ucap Dera seraya pergi meninggalkan Mela. Dera berjalan menyusuri lorong rumah panti yang selama ini menjadi tempat ternyaman dan teraman baginya. “De? Kok kamu ada di sini?” ucap Ibu panti. “Loh, Ibu katanya ada di ruang bayi, kok ada di sini?” tanya Dera seraya menyalami Ibu asuhnya. “Iya tadi, kamu kok tumben ada apa?” tanya Ibu asuhnya. “Dera mau menanyakan sesuatu sama Ibu,” ucap Dera. “Ya sudah ke kamar Ibu saja ya.” Dera berjalan beriringan dengan Ibu asuhnya seraya memeluk pundaknya, tak ada yang tahu jika sebenarnya Dera sangat manja pada Ibu asuhnya. “Apa yang ingin kamu tanyakan De?” “Bu, apa dulu benar-benar tidak ada petunjuk sama sekali saat aku tiba di sini?” tanya Dera. “De, ibu sudah sering kali bilang tidak ada, Nak. Cuma gelang kamu dan nama Dera saja yang ada dan sebuah selimut yang sekarang sudah kamu bawa.” “Begitu, Ya Bu?” ucap Dera lirih. “Sebenarnya ada apa, Nak?” “Entahlah Bu, akhir-akhir ini aku selalu mimpi aneh, bertemu orang aneh serta mengalami kejadian-kejadian aneh pula,” ucap Dera seraya menghela nafasnya. “Mungkin itu hanya efek kelelahan, atau mungkin juga itu efek pikiran kamu karena ingin mencari tahu siapa orang tua kamu,” ucap ibu panti yang biasa di panggil Bu Asih. “Mungkin saja, Bu.” “Apa kamu mau menginap di sini, De?” tanya Bu Asih. “Iya, aku ingin tidur dengan, Ibu. Apakah boleh, Bu?” tanya Dera. “Boleh, Sayang,” jawab Bu Asih seraya mengusap kepala Dera. “Aku mau mandi dulu, Bu.” “Sana, kamu mandi bau kamu sudah kayak terasi,” ledek Bu Asih. “Ibu bisa saja. Oh iya Bu, tadi aku sudah telepon anak-anak kafe buat antar makanan, nanti kalau mereka datang tolong di urus ya?” ucap Dera dan Bu asih hanya mengangguk. . Di lain tempat tepatnya di sebuah gedung pencakar langit seorang pemuda tampan dengan wajah tegas dan juga rahang keras, rambut gondrong sebahu yang diikat cepol, sedang berkutat dengan tumpukan berkas dan juga buku-buku yang tak beraturan tempatnya. Rayen, pemuda dengan sejuta pesona dan digandrungi banyak wanita serta karisma yang dia miliki membuat siapa saja akan rela bertekuk lutut padanya meskipun hanya dengan senyumannya, namun hal itu tidak berlaku bagi Dera, ah seketika pikiran Rayen kacau saat tengah bekerja dia mengingat Dera, gadis yang dia jaga selama ini tidaklah mudah untuk di taklukkan. Bagaimana bisa Rayen menaklukkan Dera, karena sebenarnya Rayen lah yang sudah bertekuk lutut pada Dera, seorang gadis yang dia selamatkan dari dunia lain seorang putri yang harus dia jaga dan dia lindungi dengan seluruh jiwa dan raganya, namun akhir-akhir ini perasaan itu berubah menjadi rasa yang entah Rayen sendiri tidak bisa mendefinisikannya, orang yang notabenenya adalah seorang putri dan Rayen hanya lah seorang pengawal pribadi dan pelindung bagi Dera. Apakah pantas Rayen mencintai sang putri kerajaan? Ya, Dera adalah seorang putri dari sebuah kerajaan di negeri manusia burung, dia di bawa ke dunia manusia karena terjadi peperangan di kerajaannya dua puluh tahun lalu, dan sang Raja meminta Rayen untuk menyelamatkan Dera dari peperangan ini, dan akhirnya di sinilah mereka terdampar di dunia manusia dan Rayen menitipkan Dera di sebuah panti asuhan, bukannya Rayen tidak mau merawat Dera seorang diri, namun dia punya alasan tersendiri akan hal itu, hanya dia yang tahu soal itu. Di tengah ingatannya yang mengenang masa lalu, tiba-tiba Rayen kembali mengingat perasaannya terhadap Dera. “Ah, sial! Kenapa aku harus menyukai Nona Dera? Apa yang akan di katakan oleh Ratu Sarina dan Raja Darion, jika aku mencintai putri mereka? Tugasku kan hanya menjaganya bukan mencintai dia. Argghh! sial!” ucap Rayen. Tok! Tok! Tok! Terdengar seseorang tengah mengetuk pintu ruangan Rayen. “Masuk,” ucap Rayen. Setelah pintu terbuka dan menampilkan seorang pemuda dengan setumpuk map di tangannya tengah berjalan mendekati meja kebesaran Rayen. “Maaf Tuan, ini beberapa berkas yang harus anda tangani sebelum kami menyerahkan ke bagian divisi lain selanjutnya,” ucap pemuda tersebut yang bernama Adnan. “Ad? Apa kamu tidak bisa sebentar saja menggantikan posisi ku?” ucap Rayen. “Maaf Tuan!” ucap Adnan yang tidak tahu maksud dari Rayen. “Apa kamu tidak melihat ini?” tunjuk Rayen seraya menunjuk mejanya yang penuh dengan tumpukan kertas. Sebenarnya Rayen bisa saja memanipulasi semua ini agar lebih mudah mengingat dirinya mempunyai kekuatan lebih, namun hal itu tidak dia lakukan, karena dia sadar berada di dunia manusia harus mengikuti cara kerja manusia, ya meskipun kadang dia juga melakukan dengan kekuatannya, jika dia merasa benar-benar butuh dan perlu. “Ini saja belum aku kerjakan, dan sekarang kamu sudah memberi aku setumpuk kertas lagi?” ucap Rayen. “Maaf Tuan, bukankah ini sudah tugas tuan sebagai pemilik perusahaan ini,” ucap Adnan. “kerjakan itu, baca dengan teliti aku akan tanda tangan semua setelah kau membantu mengecek ulang semua ini,” perintah Rayen. “Tapi Tuan, pekerjaan saya juga masih belum selesai,” ucap Adnan. “Terus tugas kamu sebagai sekretaris ngapain, kalau tidak membantuku?” tanya Rayen. “Baik Tuan,” ucap Adnan pasrah toh dia bisa saja mengerjakan pekerjaannya nanti, dan pasti atasannya akan memberikan bonus tambahan untuknya. Mereka pun mulai berkutat dengan tumpukan kertas hingga tanpa terasa waktu sudah larut dan jam kerja juga sudah berakhir dua jam yang lalu, namun dua pria yang berada dalam satu ruangan masih sibuk dengan beberapa berkas yang hanya tinggal sedikit. “Akhirnya, selesai juga,” ucap Adnan. “Ya, sudah terima kasih atas bantuannya,” ucap Rayen. “Tidak masalah Tuan, kalau begitu saya akan membereskan ini dan akan segera pulang,” ucap Adnan. “Ya, nanti aku transfer bonus lembur Mu, jadi jangan minta di bagian HRD,” ucap Rayen. “Baik, Tuan.” Selesai dengan pekerjaannya Rayen memutuskan tidak langsung pulang, dia memilih untuk melihat Dera. Ya, dia tahu jika Dera saat ini sedang menginap di panti, jangan di tanya bagaimana Rayen bisa tahu hal itu, kalian jangan lupa jika mereka saling terhubung satu sama lain, tepatnya hanya Rayen yang terhubung karena Dera belum bisa berkomunikasi melalui batin dengan Rayen. Drttt! Handphone yang ada di mejanya. “Dera?” gumam Rayen saat tahu siapa yang tengah menghubunginya. “Hai, Nona! Apa anda merindukan aku?” Hening. “Dera? Apa kamu di sana?” tanya Rayen. “Maaf, pemilik handphone ini meninggalkannya di pos pengisian bahan bakar, dan saya rasa nama anda yang paling banyak berada di log panggilan jadi saya menghubungi Anda,” ucap seseorang di seberang sana. “Baik saya akan mengambilnya,” ucap Rayen dan menutup panggilan telepon tersebut. “Dasar Dera, selalu ceroboh,” gumam Rayen seraya menyambar kunci mobil di hadapannya dan segera bergegas keluar dari gedung perusahaannya dan langsung mengambil handphone milik Dera. Setelah Rayen mengambil handphone milik Dera dan kini dia sudah berada di depan gerbang panti asuhan tempat Dera menginap serta berniat akan mengembalikan pada sang empunya, namun hal itu dia urungkan karena saat melihat benda bulat yang melingkar di pergelangan tangannya tengah menunjukkan angka dua puluh dua lebih tiga puluh menit, dia merasa jam segini seperti bukan waktunya untuk bertamu bisa jadi seluruh penghuni panti sudah beristirahat, akhirnya Rayen memutuskan untuk pulang. Di tengah perjalanan pulang suasana tampak sangat sepi, Rayen merasa bahwa hal ini tidak seperti biasanya, entah hanya perasaannya atau mungkin memang sepi. Setelah Rayen sampai di rumah mewah miliknya, dia di sambut oleh beberapa pelayan yang ada di rumahnya, selain memiliki rumah dirinya juga mempunyai sebuah apartemen yang terletak satu gedung dengan Dera, bisa kalian tebak kenapa dia memilih apartemen biasa meskipun dia sanggup membeli seratus apartemen mewah sekalipun. Yups, Dera adalah alasan bagi Rayen memilih apartemen sederhana agar dia senantiasa bisa memantau sang tuan Puteri, tentu saja tanpa sepengetahuan dari Dera. Karena malam ini dia menginap di rumah mewah miliknya, Rayen memutuskan untuk memasuki sebuah ruangan yang hanya dia seorang saja yang bisa memasukinya, sebuah ruangan dengan sebuah mantra yang telah dia pasang. Ruangan tersebut tidaklah begitu besar hanya 5X6 meter persegi, namun di dalam sana terdapat beberapa benda milik Rayen yang berasal dari kerajaan duku, serta sebuah perkamen yang terbuat dari kulit ular dan di bungkus dalam sebuah kotak emas bertatahkan berlian berwarna jingga pucat. “tunggu beberapa hari lagi, Puteri Dera, anda akan mengetahui siap Anda sebenarnya, maafkan aku jika aku belum bisa menjelaskan tentang semua ini, aku harap anda tidak akan kaget mengetahui semua ini,” ucap Rayen seraya memegang kotak berisikan perkamen tersebut. Dia ingin segera mengakhiri semua penderita Dera dan keluarganya. “Maaf jika aku baru muncul di hadapanmu akhir-akhir ini, aku hanya ingin kau lebih tegar lagi Nona,” lanjutnya seraya meletakkan kembali kotak tersebut, dan keluar dari ruangan itu, namun saat dia baru keluar dari ruangan tersebut dan berniat untuk menutup jendela kamarnya, tiba-tiba, Wush! Angin berembus kencang, dan terlihat sebuah bayangan tengah berdiri di pelataran rumah Rayen, dengan gerakan secepat kilat Rayen segera melompat keluar dari jendela namun dia tidak menemukan siapa pun di sana. “Maaf, Tuan sejak kapan Anda berada di sini?” ucap salah satu satpam. “Ah, iya aku baru saja turun.” “Ada yang bisa saya bantu Tuan?” “Ti-,” ucapan Rayen terhenti saat melihat bayangan tadi berdiri tepat di luar gerbang rumahnya. “Tuan?” “Tidak, aku mau keluar, sebentar “ ucap Rayen. Dengan berlari Rayen menuju gerbang rumahnya dan segera keluar, namun sepertinya orang yang dia cari sudah menghilang. Rayen mengusap rambut gondrongnya seraya celingukan mencari sosok bayangan seseorang yang berani menerobos rumahnya. Bruuk! “Arggghh!” seru Rayen. “Siapa kamu? Keluarlah!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD