Menjelang malam, kediaman keluarga Danudirja mulai ramai. Keluarga sudah mulai berdatangan. Mereka tampak membawa berbagai macam buah tangan. Para sepupu Avan dan Naka tampak mulai mengambil tempat masing-masing di taman samping, sedangkan para orang tua tampak masih duduk-duduk di teras sambil menunggu keluarga yang lainnya datang.
Avan tampak berjalan dari dalam rumah menuju ke tempat para muda-mudi itu berkumpul. Dengan gaya khas seorang Iravan Kalingga, ia berjalan dengan tenang sambil memasukkan satu tangan ke saku celananya. Di sana ia melihat Dira sudah dikerumuni sepupu perempuan. Memang dia akui jika Dira selalu bisa menempatkan diri di mana pun perempuan itu berada. Ia bisa melihat pesona adik iparnya yang terlihat bersinar di antara para gadis yang ada di sana. Meskipun Dira sudah menikah, pesona perempuan dengan segala kesempurnaannya itu tidak kalah dengan yang lainnya.
“Naahh … ini yang diomongin muncul juga,” ucap perempuan yang bernama Nila.
Avan langsung mendudukkan dirinya tepat di samping Dira. Semua mata kini tertuju kepadanya karena ia merupakan tokoh utama di dalam perbincangan para muda-mudi yang tampak duduk bergerombol tersebut.
“Eh … pacarnya diajak dong, Bang. Masak diumpetin terus,” timpal Siska.
Avan hanya menyunggingkan senyum tipisnya. Ia tidak mau menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak memerlukan jawaban. Bagaimana ia harus menjawab jika dirinya memang tidak memiliki kekasih yang bisa dia kenalkan kepada keluarga.
Bukannya Avan tidak mau berpacaran, tapi di dalam hati pria itu sudah ada satu nama perempuan yang telah berhasil menggenggam hatinya. Untuk saat ini mungkin belum saatnya ia menunjukkannya, tapi ia yakin jika suatu saat dia pasti bisa membuat perempuan itu untuk menjadi istrinya. Ia hanya harus bersabar untuk menunggu saat itu tiba.
Tampak semua mata menatap ke arah Avan untuk menunggu jawaban. Bahkan, Dira juga tampak menatapnya dengan tatapan penuh harap. Avan dapat melihat rasa ingin tahu Dira dari dalam manik mata hazel perempuan itu.
“Kalian mau nungguin sampe lumutan juga nggak akan gue bilang,” jawab Avan dengan santainya.
Kemudian ia tampak tersenyum ke arah sepupunya satu per satu dan berakhir di adik iparnya sambil mengambil kacang kulit yang ada di hadapan Dira. Perempuan itu langsung mencebik setelah mendengar jawaban dari kakak iparnya.
Entah kenapa Avan sangat suka melihat ekspresi Dira yang seperti itu. Adik iparnya itu adalah tipe perempuan idealnya. Tubuh semampai, kulit seputih porcelain, dan selalu bertutur kata lemah lembut.
“Emang Bang Avan nggak mau ngenalin? Apa emang masih belum ada calonnya, sih?” tambah Wendi.
“Eits … jangan salah, semua cewek yang deketin dia aja ditolaknya. Emangnya spek seperti apa sih yang Abang cari?” tanya Rio dengan rasa penasarannya.
“Tentu spek bidadari lah, mana mau dia spek sembarangan,” ucap Naka dengan tiba-tiba setelah pria itu menyalami kedua mertuanya dan bergantian dengan keluarga yang lainnya.
Pria itu tampak baru saja bergabung karena harus membersihkan diri sepulang kerja. Ia terlambat datang karena jalanan sangat padat. Sebelum turun menemui kerabat, Dira sudah menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Ia terpaksa harus keluar terlebih dulu karena diminta oleh Naka. Tentu saja Naka merasa tidak enak hati karena kedua mertuanya telah datang dan tidak mungkin ia membiarkannya sendirian.
“Ish … ingat, Bang! Nggak ada manusia yang sempurna,” timpal Haris.
“Eh … kata siapa? Ada kok, dia jelmaan peri yang turun ke bumi,” jawab Avan tidak terima dengan ucapan Haris.
“Hhuuuu …,” serempak mereka langsung menyoraki Avan.
Mereka sangat senang menggoda Avan yang menurut mereka selalu bisa mengelak dari pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkannya. Akhirnya setelah keluarga berkumpul semua, mereka pun memulai acara bakar-bakarnya. Dira tampak sibuk sebagai tuan rumah dan tentu saja itu membuat Naka merasa tidak senang karena menurutnya sudah ada pelayan yang bertugas.
“Sayang, kamu diem di sini aja, Mas nggak mau kamu kelelahan,” pinta Naka sambil mengambil nampan yang berisi daging dan seafood dari tangan sang istri.
“Nggak apa, Mas. Dari tadi Dira diem aja,” jawab Dira mencoba memberi penngertian kepada suaminya.
“Mulai berani bantah suami nih ceritanya?” tanya Naka lagi.
“Eh … nggak, kok! Mana mungkin Dira berani,” kata Dira dengan wajah yang sudah berubah tidak enak.
Perempuan itu tidak pernah menduga jika respon suaminya akan seperti itu. Niat hati ingin membantu, tapi jika akan membuat suaminya salah paham, lebih baik ia tidak usah membantu.
“Gitu, dong! Ini namanya istri idaman suami,” ucap Naka dengan senang.
Interaksi sepasang suami istri itu tentu saja tidak lepas dari tatapan para orang tua. Maya dan Vani sangat senang jika pada akhirnya keduanya telah mau menerima satu sama lain dengan hati yang lapang.
Tiba-tiba saja terdengar suara seorang perempuan yang berbicara kepada Dira. Tentu saja perempuan itu langsung menolehkan kepalanya ke arah asal suara. Dira melihat ada seorang perempuan kira-kira berumur sama seperti mamanya. Namun, perempuan paruh baya itu berpenampilan glamor.
“Dira, gimana kabarnya? Lama ya kita nggak ketemu, sering-sering main lah ke rumah Tante,” ucap perempuan itu.
Dira sendiri sebenarnya sudah lupa siapa nama perempuan itu. Yang dia tahu jika perempuan itu merupakan salah satu kerabat jauh suaminya. Namun, ia masih ingat dengan wajah perempuan itu.
“Eh … Tante, kabar Dira baik. Nanti kalau Mas Naka senggang kami usahakan main ke rumah, Tante,” jawab Dira sambil mencoba mengingat-ingat.
“Udah hamil belum? Udah lama loh, masak belum isi juga, serangan Naka kayaknya kurang gencar nih,” ucap perempuan yang diketahui bernama Laras tersebut.
Mendengar perkataan dari kerabat jauhnya, tentu saja membuat Naka emosi. Pria itu tidak suka dengan pertanyaan yang sangat pribadi tersebut. Apalagi ia dapat melihat raut wajah Dira langsung berubah ketika ditanya mengenai kehamilan. Selama ini keluarganya saja tidak pernah menuntut anak dari dia dan Dira. Namun, Laras yang sebagai orang luar malah berani-beraninya menanyakan hal yang paling sensitif seperti ini.
“Anak memang penting, tapi bukan itu itu yang menjadi prioritas kami, Tan. Tujuan saya menikahi Dira karena saya membutuhkan pendamping hidup yang akan menemani saya untuk menghabiskan sisa usia saya,” jawab Naka dengan sarkas.
Bagi siapa pun yang mendengarkan ucapan Naka tentu akan langsung tahu jika saat ini Naka sudah mulai terpancing emosinya. Mereka semua tahu bagaimana karakter seorang Danapati Bayanaka. Pria angkuh dan sombong yang selalu bersikap dingin kepada siapa saja. Namun, setelah pria itu menikah dengan Dira membuat pria itu banyak berubah. Mereka dapat melihat jika Naka bisa hangat dan lembut ketika berada di dekat sang istri.
Berbeda dengan Laras, perempuan itu merasa tidak suka dengan jawaban Naka yang menurutnya sangat tidak menghargainya sebagai orang yang lebih tua. Ia tahu jika Naka memang selalu berkata-kata pedas, tapi tidak bisakah pria itu menghargainya di hadapan banyak orang seperti sekarang.
Dira tampak langsung memegang tangan Naka berniat untuk menenangkan sang suami. Ia tidak ingin terjadi perdebatan di tengah-tengah suasana hangat seperti sekarang. Apalagi sekarang hampir seluruh keluarga besar suaminya sedang berkumpul dan itu membuat Dira merasa sangat tidak enak.
Sebenarnya pertanyaan dari Laras tidak mengganggunya sama sekali. Menurutnya di negara ini, hal itu sudah menjadi hal biasa untuk ditanyakan. Namun, tentu berbeda dengan di luar negeri. Pertanyaan-pertanyaan pribadi selalu dihindari oleh mereka.
“Kalau menurut kamu anak memang nggak penting, jadi kamu akan lebih memilih istri kamu daripada anak, dong?” tanya Laras lagi dengan senyum yang terlihat mengejek.
“Tentu saja! Saya akan pilih istri saya karena anak kalau udah dewasa dia akan menjadi milik pasangannya, sedangkan istri akan terus menemani saya hingga habis usia saya,” jawab Naka sambil menatap ke arah istrinya dengan tatapan lembutnya.
Dira yang mendengar itu tampak terharu. Ia tidak pernah menduga jika rasa yang dimiliki Naka untuk dirinya begitu besar. Salahkah jika ia telah melabuhkan hatinya pada suaminya sendiri?
Terharu? Pasti.
Bahagia? Apalagi.
Bukan hanya Dira, semua yang mendengar jawaban Naka tampak termenung. Menurut mereka apa yang dikatakan oleh Naka memang benar. Jika ada yang tidak sependapat dengan Naka, pasti hidupnya ada di bawah bayang-bayang orang tua dan mertua.
Laras semakin kesal dengan jawaban menohok yang baru saja keluar dari mulut Naka. Ia harus bisa mematahkan pendapat Naka karena menurutnya semua pemikiran Naka itu keliru.
“Berarti kalau gitu kamu nggak ingin punya anak, dong? Apa jangan-jangan salah satu dari kalian ada yang bermasalah?” tanya Laras lagi.
Kali ini ia tersenyum sinis karena menurutnya pertanyaan yang baru saja ia ucapkan membuat Naka tidak bisa berkutik. Ia merasa senang ketika melihat Naka malah melihat ke arah istrinya karena menurutnya pria itu tidak bisa menjawab pertanyaannya.
Dira tampak menundukkan kepalanya. Rasanya perempuan itu ingin menangis karena merasa malu dan seperti sedang ditelanjangi di hadapan banyak orang. Apalagi melihat Naka tampak terdiam, tentu saja membuat Dira langsung merasa ketakutan. Pria itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Entah apa yang sedang dia pikirkan dan itu membuat hati Dira merasa cemas.
Naka tampak menatap sendu ke arah istrinya yang sedang tertunduk. Tiba-tiba saja ia merasa ucapan Laras ada benarnya. Sebenarnya bukan hanya Naka, semua orang yang berada di tempat itu menatap Dira dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
Melihat lawan bicaranya seakan tidak bisa berkutik, tentu saja membuat Laras langsung menyunggingkan senyumannya. Ia merasa menang. Menurutnya ucapan orang tua itu pasti banyak benarnya dan Naka saja yang selalu membantahnya.
“Kamu ini gimana, sebelum nikah kenapa nggak periksa dulu. Kalau calon istri kamu bermasalah kan kamu bisa mengurungkannya,” ucap Laras lagi.
Perempuan itu seakan semakin menjadi-jadi. Ucapannya semakin menyudutkan Dira. Ia senang karena Dira tampak semakin tertunduk karena tidak bisa menyangkal ucapannya.
Dira semakin sedih ketika melihat suaminya hanya diam saja sambil menatap dirinya. Di mana suami yang selalu melindunginya? Di mana suami yang selalu meratukan dirinya? Apakah ini akhir dari pernikahannya hanya karena masalah keturunan? Apakah suaminya telah berubah?