Hari demi hari Naka dan Dira lalui dengan menjaga jarak agar tidak terlalu dekat. Keduanya hanya bertemu pada malam hari ketika hendak tidur saja. Meskipun tidur di dalam satu kamar, pada kenyataannya mereka tidak tidur di satu ranjang. Dira menempati ranjang dengan ukuran besar itu sendirian, sedangkan Naka selalu tidur di sofa panjang.
Naka yang pembersih dan selalu rapi sangat jauh berbeda dengan Dira yang sering meletakkan barang-barang di sembarang tempat. Oleh karena itu, Naka menekankan pada perempuan itu untuk bisa mengikuti pola hidupnya yang selalu rapi dan teratur.
“Aku nggak suka kamar ku berantakan dan aku mau mulai sekarang kamu yang membersihkan kamar ini. Awas aja kalau kamu berani minta pelayan yang bersihinnya!” pinta Naka ketika Dira pertama kali masuk ke dalam keluarga Dahudirja.
Mendengar perkataan Naka, tentu membuat Dira pun mengerutkan kedua alisnya. Ia merasa jika musuh masa kecilnya yang sekaligus juga suaminya itu seakan ingin menindasnya. Apa Naka tidak tahu jika selama ini Dira tidak pernah mengerjakan hal itu?
Seakan mengerti dengan arti tatapan yang diberikan oleh istrinya, membuat Naka kembali membuka mulutnya. Ia harus membuat Dira mengerti dengan maksud dari ucapannya.
“Kamu pingin pelayan tau kalau kita nggak tidur satu ranjang dan terus lapor sama Mama, gitu? Kamu pingin buat orang tua kita khawatir?” tanya Naka bertubi-tubi.
Setelah mendengar penjelasan Naka secara tidak langsung, tentu membuat Dira langsung menunjukkan cengiran khasnya. Sekarang ia paham maksud dari ucapan sang suami.
“Mau bilang gitu aja kenapa harus muter-muter dulu?” gerutu Dira.
Meskipun menggerutu Naka masih bisa mendengar ucapan Dira dengan cukup jelas. Ia pun lantas tidak menghiraukannya dan bersiap untuk berangkat kerja. Sebagai seorang istri, tentu Dira harus mengantarkan suaminya berangkat hingga sampai ke depan teras karena ada mertuanya yang pasti akan selalu mengawasinya.
Jika mereka hidup di rumah mereka sendiri tentu Dira tidak akan mau repot-repot melakukan hal ini karena ia tidak perlu banyak bersandiwara. Memang jika di luar kamar Dira akan menunjukkan perannya sebagai seorang istri yang baik dan itu tentu saja membuat Naka merasa senang. Apalagi ketika Dira mencium punggung tangannya, membuat Naka merasa sebagai suami yang sesungguhnya.
“Nah … ini baru bener. Istri itu harus nurut dan berbakti pada suami,” ucap Naka setelah mengecup dahi istrinya.
Naka tahu jika mamanya masih mengawasinya dan maka dari itu ia pun bersikap layaknya seorang suami yang sangat mencintai istrinya. Tak lupa ia juga mengelus kepala Dira dengan lembut. Bahkan, ketika melakukan itu Naka juga menunjukkan senyum terbaiknya.
Mendengar ucapan Naka, membuat Dira langsung mencebik. Tentu saja ia meremehkan ucapan suaminya yang menurutnya sangat menakjubkan. Mana mungkin mereka akan bisa menjadi sepasang suami istri yang sebenarnya jika seperti ini terus.
Namun, ada satu hal yang tidak mereka ketahui, jika cinta akan datang tanpa permisi. Entah apa yang akan terjadi jika keduanya telah kedatangan sebuah rasa yang tidak bisa mereka tolak.
***
Hari-hari mereka lalui dengan lancar hingga peristiwa pada satu malam yang merubah segalanya. Di mana kala itu Dira sudah terlelap karena memang sudah larut. Biasanya Naka tidak pernah pulang hingga larut seperti ini. Namun, tadi sore pria itu memberi tahu Dira jika dirinya akan pulang terlambat karena harus menghadiri acara reuni bersama teman-teman kampusnya.
Naka memang sengaja memberi tahu Dira karena tidak ingin mendapat masalah dengan mamanya. Ia tahu jika mamanya terus memantau dirinya dan Dira meskipun dalam diam. Jika ada hal yang janggal di antara dia dan Dira tentu mamanya akan segera menasehatinya. Sebagai orang tua, Maya sudah menjalankan tugasnya dengan sangat baik, menurutnya. Hanya saja kehidupan pernikahannya bersama Dira memang luar biasa dan tentu saja tidak ada yang mengetahuinya.
Di tempat reuni, banyak teman-teman perempuan Naka yang berusaha mencari perhatian pada pria itu. Memang sudah dari sejak kuliah dulu pesona seorang Danapati Bayanaka selalu bisa membuat lawan jenisnya tertarik. Apalagi sikap dingin dan sombongnya membuat para perempuan itu semakin merasa penasaran.
“Ka, istrimu kenapa nggak diajak gabung? Kita-kita kan juga pingin kenalan, siapa sih perempuan yang udah berhasil memikat hati seorang Bayanaka?” tanya salah satu perempuan yang diketahui bernama Mita.
Tampak beberapa pasang mata langsung tertuju pada Naka karena penasaran ingin mendengar jawaban dari pria tersebut. Bukan hanya kaum hawa yang merasa penasaran, tapi para kaum berjakun juga ikut menanti jawabannya.
Naka hanya menyunggingkan sebelah sudut bibirnya sebelum membuka mulutnya untuk menjawab. Jika boleh jujur, ia tidak suka dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Mita.
“Yang jelas dia bukan perempuan sembarangan seperti kalian,” jawab Naka bernada sinis.
Bahkan, pria itu juga memberikan tatapan yang terkesan meremehkan. Memang seperti itulah Naka yang selalu berkata-kata pedas pada siapa pun. Jawaban yang baru saja diberikan oleh Naka mampu membungkam mulut semua orang yang menanti jawaban dari dirinya.
Danar yang duduk di dekat Naka tampak tersenyum. Sahabat Naka yang sekaligus juga asistennya itu tampak puas dengan jawaban yang diberikan oleh atasannya. Mana mungkin Dira bisa dibandingkan dengan perempuan seperti Mita. Yang dia tahu Dira adalah sosok perempuan cantik yang penuh dengan kelembutan, bahkan penampilan nyonya Danapati Bayanaka itu tampak sempurna di mata setiap orang.
Dira adalah perempuan elegan yang selalu bisa membawa dirinya di mana pun dia berada. Ia juga perempuan mahal yang bisa menjaga kehormatannya. Oleh karena itu, tak heran jika banyak orang yang menyukai perempuan itu karena keramahannya.
Beberapa menit kemudian, Naka merasa jika tubuhnya tiba-tiba terasa aneh. Ia tidak tahu jelasnya apa yang tengah dia rasakan saat ini. Tidak ingin membuat masalah dengan keadaan dirinya, ia pun memilih untuk segera pulang. Namun, kepergian Naka langsung dicegah oleh Mita.
“Ka … kamu mau ke mana? Kamu kenapa? Kamu sakit?” tanya Mita bertubi-tubi.
Perempuan itu bertanya sambil meraba dadaa bidang Naka. Bahkan, suaranya juga dibuat mendesah agar bisa mengundang birahi seorang Bayanaka. Sudah lama momen seperti ia nantikan dan ketika kesempatan sudah ada di depan mata mana mungkin ia mau melewatkannya.
Naka langsung menepis kasar tangan Mita yang sedang meraba dadanya. Meskipun mata Naka sudah terlihat sayu, ia masih mampu memberikan tatapan tajamnya yang bisa membuat lawannya merasa terintimidasi.
Danar sudah terlihat waspada jika ada hal-hal tidak diinginkan yang mugkin saja akan terjadi. Ia harus bisa menjaga atasannya di mana pun mereka berada. Sebagai seorang asisten, tentu dia tidak ingin Naka akan mendapatkan masalah dengan siapa pun yang nantinya bisa berimbas pada perusahaan.
Namun, Mita bukannya takut, perempuan itu malah semakin menjadi-jadi. Ia juga berani mengalungkan tangannya ke leher Naka. Bukan hanya itu saja, ia juga sengaja menempelkan tubuhnya ke tubuh pria yag sudah lama dia idam-idamkan.
Ketika Danar hendak menyingkirkan Mita dari hadapan Naka, tiba-tiba saja ia melihat Mita sudah terhempas ke lantai. Kejadiannya begitu cepat dan membuat mata yang melihat kejadian itu tampak terbelalak.
Bruukk …!
Detik kemudian Mita sudah terlihat tersungkur di lantai. Perempuan itu kemudian menatap Naka dengan marah. Ia tidak pernah menduga jika Naka akan mempermalukan dirinya seperti ini.
“Ka, bisa nggak sih kamu nggak kasar gini,” protes Mita dengan kesal.
Naka tidak menghiraukan ucapan Mita dan malah memilih melangkahkan kakinya melewati perempuan itu begitu saja. Pria itu langsung melenggang pergi meninggalkan klub tanpa menghiraukan teriakan Mita yang terus memanggil namanya.
“Naka … Naka, sialan kamu!” teriak Mita.
Semua mata melihat Mita dan Naka secara bergantian. Ada juga yang tampak berbisik-bisik mengomentari kejadian yang begitu cepat itu. Mereka banyak yang mendukung sikap Naka yang sejak dulu tidak pernah berubah, menurutnya. Sejak dari dulu Naka memang tidak suka jika ada yang menyentuhnya.
“Kamu udah bangunin singa yang tertidur, dan liat aja nanti. Siap-siap karir kamu hancur!” lirih Danar ketika sudah berjongkok di hadapan Mita.
Danar memang sengaja berkata lirih karena tidak ingin ucapannya didengarkan oleh orang lain. Ia sangat yakin jika Naka pasti tidak akan tinggal diam setelah kejadian ini.
Setelah mengatakan itu, Danar pun bergegas menyusul Naka keluar dari klub tersebut. Namun, setibanya ia di parkiran, matanya sudah tidak melihat lagi mobil atasannya tersebut. Kemudian ia pun mengendarai mobilnya sendiri untuk pulang ke apartemennya.
Banyak di antara mereka yang hadir terlihat kaget dengan keberanian Mita yang dengan terang-terangan menggoda Naka. Padahal perempuan itu juga tahu jika Naka tidak mudah untuk didekati. Namun, ia malah dengan sengaja mengusik CEO kejam itu. Entah setelah ini apa yang akan terjadi pada Mita.
Tampak Aldo datang menghampiri Mita dan membantu perempuan itu untuk berdiri ketika yang lainnya hanya diam sambil menonton. Tampak wajah Mita yang sudah diliputi emosi karena rencananya ternyata tidak berjalan sesuai dengan keinginannya.
“Sialan kamu, Naka! Liat aja nanti, aku pasti bisa mendapatkan kamu,” ucap Mita dalam hati.
Aldo tampak menatap ke arah Mita dengan tatapan sendu. Sebenarnya sudah lama ia merasa telah dimanfaatkan oleh perempuan itu. Namun, anehnya setiap perempuan itu meminta pertolongan padanya ia tidak bisa menolaknya. Hanya dengan sedikit rayuan yang dilakukan oleh perempuan itu langsung membuat Aldo merasa senang dan ia pun luluh dengan sendirinya.
Naka melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Kereta besi itu membelah jalanan sepi yang terasa dingin. Tampak mata elang Naka menatap ke depan dengan nyalang. Ia marah pada Mita, tapi ia lebih marah kepada dirinya sendiri yang bisa dengan mudahnya masuk ke dalam perangkap perempuan liar itu.
Sejak dari kuliah Mita memang sudah terkenal dengan pergaulan bebasnya. Entah itu karena profesinya yang sebagai model atau memang karakter perempuan itu yang menyukai kehidupan liar.
Dua hari yang lalu Aldo mengirimkan undangan acara reuni teman kampus melalui pesan singkat. Bukan hanya dia saja yang dikirimi undangan oleh Aldo, Danar yang tak lain adalah asistennya juga mendapatkan undangan yang sama. Selain keduanya bersahabat sejak dari SMA, Danar juga merupakan asisten CEO tampan yang terkenal sombong dan arogan tersebut.
Naka tampak mencengkeram kemudinya hingga membuat kukunya memutih. Ia ingin melampiaskan amarahnya karena merasa telah dipermainkan oleh Mita. Sekarang ia yakin jika Aldo pasti diminta oleh perempuan itu untuk mengirimkan undangan padanya.
Entah perempuan itu mendapatkan keberanian dari mana hingga mampu merencanakan ini semua. Ia yakin jika Mita tidak sendirian. Pasti ada yang membantu perempuan itu dan ingatkan Naka untuk menyelidikinya setelah ini.
“Sialan …! Liat aja nanti, aku pasti akan menghancurkan kalian. Aku pingin tau sebesar apa nyali kamu karena udah berani membuat masalah dengan ku? Siapa dalang dibalik ini semua?” tanya Naka pada dirinya sendiri sambil tersenyum smirk.