Peristiwa Itu

1721 Words
Siang hari, Abi dan Maya berangkat ke Malaysia karena sedang menghadiri undangan pernikahan dari salah satu rekan bisnis mereka, sedangkan Avan, kakak laki-laki Naka sedang melakukan perjalanan bisnis keluar kota. Di rumah hanya terlihat Dira dan beberapa orang pekerja yang masih menjalankan aktifitasnya. Tak terasa hari pun sudah gelap. Kini hanya ada cahaya bulan yang menemani aktifitas malam setiap makhluk yang ada di bumi ini. Jam delapan malam Dira sudah masuk ke dalam kamar karena perempuan itu sedang bertukar pesan dengan sahabat baiknya yang bernama Inka. Inka Mariska: Jadi sekarang lo sendirian? Adhira Buvi: Mending gini daripada ada laki gue, malah bawaannya bikin kesel aja. Inka Mariska: Emang Kakak ipar lo ke mana? Boleh dong dikenalin ke gue … 😍 Adhira Buvi: Idih … liat cowok bening dikit langsung gatel 😒 Kedua sahabat itu pun berbincang melalui pesan singkat. Inka selalu senang jika topik pembicaraan mereka sedang membahas Avan. Sekarang siapa yang tidak tahu seorang Iravan Kalingga, putra sulung keluarga Danudirja yang tampan. Pewaris keluarga Danudirja memang berparas rupawan. Tentu saja Naka juga tak lepas dari incaran para perempuan di luaran sana. Tak terasa mata Dira pun mulai terasa berat. Tak lama setelah itu ia pun terlelap karena sudah tidak tahan lagi menahan rasa kantuknya, sedangkan Inka sudah tahu jika pesannya sudah tidak mendapatkan respon, maka sahabatnya pasti sudah berada di alam mimpi. Tepat jam satu malam, Dira pun terbangun karena tenggorokannya terasa kering. Ia lantas bangun dan mengambil gelasnya yang terletak di atas nakas sampingnya. Namun, ternyata gelas itu sudah kosong dan membuat perempuan itu terpaksa harus mengisinya kembali. Setelah ia berjalan ke meja sofa untuk mengisi gelasnya, ternyata water jug yang terbuat dari kristal itu pun juga sudah kosong. Oleh karena itu, mau tidak mau ia pun harus pergi ke dapur untuk mengisi ulang. Sebenarnya bisa saja ia meminta pelayan yang berjaga untuk melakukannya, tapi ia tidak mau melakukannya karena tidak ingin mengganggu tidur pelayan tersebut. Mereka sudah bekerja seharian dan tentunya mereka pasti merasa kelelahan. Dira tidak melihat suaminya yang biasanya tidur di sofa panjang dan menurutnya pasti Naka belum pulang dari acara reuninya. Ia pun lantas mengambil water jug-nya sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kamar. “Mas Naka belum pulang?” ucap Dira pada dirinya sendiri sambil melihat ke arah jam yang ada di atas nakas. Dira merasa jika malam ini udara terasa sedikit gerah hingga membuat ia sering minum. Tadi sewaktu ia bertukar pesan dengan Inka, ia lupa untuk mengisi ulang tempat minumnya dan sekarang di tengah malam mau tidak mau ia harus pergi ke dapur sendirian. Rumah sebesar ini jika pada malam hari juga terasa menyeramkan karena lampu utama sudah dimatikan. Hanya tinggal lampu malam sebagai penerang di ruang-ruang tertentu. Tanpa disadari oleh Dira, Naka baru saja sampai dan langsung masuk ke dalam kamar. Pria itu kemudian melepaskan pakaiannya dan melemparkannya dengan asal dan pakaian kotor itu pun terlihat berserakan di lantai. Naka harus segera mendinginkan tubuhnya yang terasa panas. Sudah sejak di klub tadi, ia merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Tidak biasanya dia merasa kepanasan seperti ini. Rasa gerah yang biasa dia rasakan tidak pernah seperti sekarang, di mana ada sensasi tersendiri jika ada sesuatu yang menyentuh kulitnya. Kepalanya juga terasa berat dan pandangannya sedikit kabur. Entah apa yang terjadi pada dirinya, ia pun tidak mengetahuinya. “Huh … ada apa dengan diri ku?” tanya Naka pada dirinya sendiri. Cukup lama ia berada di bawah guyuran shower. Ia harus menenangkan dirinya. Ia pernah meminum alkohol meskipun tidak sampai mabuk dan itu tidak pernah membuat kepalanya terasa berat apalagi pusing. Naka sangat yakin jika ia tidak mabuk karena ia minum tidak sampai habis. Namun, kenapa tubuhnya sekarang terasa aneh. Ia yakin pasti ada yang mencampur sesuatu ke dalam minumannya. Dira masuk kembali ke dalam kamar sambil membawa minuman yang baru saja dia ambil. Mata indahnya melihat pakaian suaminya sudah berserakan di lantai. “Kapan Mas Naka pulang?” tanya Dira pada dirinya sendiri. Dira kemudian meletakkan minumannya di atas meja sofa dan bergegas memunguti pakaian Naka untuk dia masukan ke dalam keranjang khusus pakaian kotor. Perempuan itu juga mendengar ada suara gemericik air dari dalam kamar mandi yang menandakan jika suaminya sedang membersihkan diri. “Seperti bau alkohol?” tanya Dira sambil mencium pakaian kotor Naka untuk memastikan indra penciumannya sebelum dia memasukkannya ke dalam keranjang. Detik kemudian Dira berjalan mendekati nakas untuk mengambil gelas kosongnya untuk dia isi kembali. Beberapa saat kemudian perempuan itu mendengar pintu kamar mandi terbuka. Ia pun secara otomatis langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke arah belakangnya. Matanya seketika terbelalak ketika melihat pemandangan di hadapannya. Naka ternyata sudah berada tepat di belakangnya sebelum perempuan itu berbalik. Pria itu tampak terlihat segar, tapi kenapa pipi pria itu bersemu merah seperti sedang malu. Bahkan, tatapan mata Naka sudah terlihat sayu ketika melihat ke arah Dira. Bagaimana Dira tidak terbelalak jika Naka hanya mengenakan handuk putih yang dililitkan di perut sixpack-nya. Tubuh atletis Naka tentu menjadi idaman banyak perempuan. Untuk sesaat Dira pun tercengang dengan pemandangan yang saat ini sedang memanjakan matanya. Naka berjalan mendekat untuk memangkas jarak di antara mereka. Aroma musk yang maskulin dapat dicium oleh hidung Dira dengan sangat baik. Aroma ini yang sangat dia sukai. Selama menjadi istri Naka, Dira secara diam-diam suka menghirup dalam-dalam aroma ini. Naka menatapnya dengan tatapan yang sudah terlihat berbeda. Tentu saja itu membuat Dira merasa gugup. Selama ini ia belum pernah melihat Naka menatapnya yang seolah-olah ingin memangsanya hidup-hidup seperti ini. “Hhmm … Mas … Mas Naka baru pulang?” tanya Dira dengan terbata-bata. Terpaksa Dira bertanya karena ingin mencairkan suasana yang terasa berbeda. Apalagi tatapan Naka membuat ia salah tingkah dan membuat jantungnya berdetak kencang. Naka masih menatap Dira tanpa berkedip. Detik kemudian ia menarik tubuh semampai istrinya dan langsung mencium bibir ranum perempuan itu dengan kasar. Apa yang dilakukan oleh Naka tentu saja membuat Dira terkejut. Perempuan itu kemudian langsung menepuk dadaa bidang Naka agar pria itu melepaskan ciumannya. “Hhmmptt …,” Naka seakan tidak bisa berhenti dan terus melumat bibir Dira dengan kasar. Plak …! Dira menampar pipi Naka berharap pria itu mau melepasakannya. Mendapatkan tamparan dari istrinya, membuat Naka seketika melepaskan ciumannya. Dira langsung menghirup napas dalam-dalam. Ia merasa lega karena Naka sudah mau menghentikan ciumannya. Namun, detik kemudian pria itu malah menggendong Dira ala bridal style dan tentu saja membuat perempuan itu kaget dan langsung menjerit. “Aaa …,” teriak Dira sambil mengalungkan tangannya ke leher Naka sebagai pegangan. Karena takut jatuh, ia pun semakin mengeratkan pegangan tangannya yang sudah melingkar di leher pria yang berstatus sebagai suami sahnya tersebut. “Lepasin … lepasin aku!” teriak Dira kemudian. Alarm di kepala perempuan itu sudah menyala dan itu membuat Dira harus waspada. Ia pun berusaha dengan sekuat tenaga meminta agar Naka mau melepaskannya. Namun, pria yang sudah diliputi gairah itu tidak mendengarkan teriakan Dira. Kamar yang kedap suara di tambah keadaan rumah yang sepi membuat teriakan Dira seakan tertelan oleh dinding-dinding yang menjadi saksi bisu menyaksikan apa yang terjadi di dalam kamar tersebut. Dira bisa mencium bau alkohol yang sangat menyengat dari mulut Naka ketika pria itu menciumnya. Ia bingung dan tidak percaya jika seorang Danapati Bayanaka menjadi pemabuk dan bersikap kasar kepadanya. Tadi sewaktu Dira mencium bau alkohol di pakaian Naka, ia mengira mungkin itu bau dari tumpahan alkohol ketika di acara reuni tadi. Namun, pada kenyataannya mulut Naka juga berbau alkohol. Kemudian Naka pun membanting tubuh Dira ke atas ranjang. Apa yang dilakukan Naka tentu saja membuat Dira merasa ketakutan, bahkan tubuh perempuan itu sampai terlihat gemetaran. Apalagi saat ini ia melihat Naka menatapnya seperti sedang kelaparan. Dira segera beranjak dari ranjang ingin pergi keluar untuk menyelamatkan dirinya, tapi tenaga Naka tidak bisa ia lawan. Pria itu pun kembali menarik tubuh istrinya dan langsung memeluknya. Setelah itu dengan kasar Naka membuka pakaian Dira dan tentu saja membuat perempuan itu kembali berteriak. “Lepasin aku, brengseekk!” teriak Dira. Naka tidak menjawab. Pria itu tampak tidak menghiraukan teriakan perempuan yang berstatus sebagai istri sahnya tersebut. Bibir dinginnya kembali mencium Dira dengan kasar. Perempuan itu tampak tidak bisa lepas dari cengkeraman Naka. Hidupnya seakan berada di dalam genggaman tangan pria kejam itu. Kali ini raut wajah Dira sudah terlihat pucat. Perempuan itu merasa sangat ketakutan karena melihat sikap suaminya. Ia tidak pernah melihat pria itu seperti ini dan itu tentu saja membuat Dira melihat sisi lain seorang Danapati Bayanaka. Kemudian Naka menghempaskan tubuh setengah telanjang Dira ke atas ranjang. Pria itu kemudian membuka seluruh pakaian Dira dan itu membuat air mata istrinya menetes. Tubuh berotot Naka kini sudah mengunci tubuh Dira dan tentu saja perempuan itu tidak bisa berbuat apa-apa. Tenaganya tentu saja tidak sebanding dengan tenaga Naka yang bertubuh atletis dan jauh lebih besar dari tubuhnya. Tangis Dira pun akhirnya pecah dan ia terpaksa harus menyerahkan mahkotanya yang sudah berhasil ia jaga selama ini kepada laki-laki yang tidak mencintainya. Pria ini memang suami sahnya, tapi pernikahan mereka tidak seperti pernikahan pada umumnya. Pria itu tidak mencintainya, malah bisa dibilang pria yang merenggut kesuciannya itu adalah musuh bebuyutannya. Danapati Bayanaka telah melanggar kesepakatan di antara mereka. Pria itu telah menelan ludahnya sendiri dengan menyentuhnya dan mengambil paksa harta yang paling berharga bagi dirinya. Dira hanya bisa menjerit dan menangis karena saat ini ia benar-benar telah hancur. Apalagi yang bisa dia banggakan sebagai seorang wanita. Ia menatap wajah tampan yang saat ini masih terlelap di sampingnya. Dira kemudian mengelus rambut Naka sambil terisak. Kecewa? Tentu saja. Marah? Apalagi. Dira marah kepada dirinya sendiri yang harus terperangkap di dalam pernikahan sialan ini. Seiring berjalannya waktu hati Dira sering merasa begetar jika sedang berada di dekat suaminya sendiri. Terkadang ia juga tak sabar menunggu kepulangan suaminya dari kantor karena sudah ingin bertemu. Cintakah dia pada suaminya sendiri? Tentu saja Dira masih belum bisa mengartikan perasaannya sendiri. Ia masih takut dalam mengenali perasaannya dan takut salah dalam mengartikannya. Ia tidak mau salah dalam mencintai seseorang, di mana nanti malah membuat hatinya terluka. Namun, setelah kejadian ini Dira sudah bisa memastikan perasaannya. Perempuan itu telah jatuh cinta pada suaminya sendiri. Ia telah jatuh ke dalam perangkap pesona seorang Danapati Bayanaka. Dua bulan terakhir Naka tidak pernah lagi membuatnya kesal. Bahkan, pria itu mulai bersikap lembut untuk menyentuh dan mengambil hatinya. Namun, ia tidak tahu apakah Naka masih menganggap dirinya sebagai musuh seperti sebelumnya? Bagaimana masa depannya jika Naka masih tidak bisa membuka hatinya setelah peristiwa ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD