Hari ini Dira sudah terlihat berada di apartemen sahabatnya. Ia sudah tidak sabar menunggu hari berganti karena ia seakan tidak sanggup untuk memendam beban batinnya lebih lama lagi. Bahkan, semalam ia sampai tidak bisa tidur dengan nyenyak karena bayangan Avan yang mengungkungnya masih terpampang jelas di kelopak matanya. “Sekarang ada apa lagi? Bukannya masalah obat pencegah kehamilan udah beres dan suami kamu yang minta kamu untuk nunggu,” tanya Inka sambil berjalan mendekati Dira. Setibanya di sofa depan televisi, Inka langsung mendudukkan dirinya tepat di samping Dira. Perempuan itu berkata sambil memperhatikan wajah sang sahabat yang tampak tidak seperti biasanya. “Kamu kenapa, Ra?” tanya Inka lagi. Setelah mengamati keadaan Dira, Inka seakan ingin memukul mulutnya sendiri ka

