PART 2: Kekasih Seorang Mafia

991 Words
“Wow ternyata pria yang kau goda gak cuma satu ya? Hebat juga. Jalang memang jalang.” Demi Tuhan! Aku ingin sekali merobek mulutnya itu! “Tutup mulutmu jalang!” Aku tersentak. Suara Pak Kevin menggema di ruangan itu. Sedetik kemudian tubuhku melayang, Pak Kevin menggendongku bridal style dengan mudah. “Aku bilang dia kekasihku!” Tatapan nyalang Pak Kevin berikan pada perempuan itu. Dia terlihat sangat marah. “Harve. Pecat lelaki ini dan buat mereka tidak bisa bekerja dimanapun!” Pak Kevin mengencangkan gendongannya sebelum beranjak meninggalkan tempat pesta berlangsung. Sementara aku hanya bisa memeluk lehernya dalam diam. Menyembunyikan wajah di ceruk lehernya. Aku tidak tahu harus melakukan apa, isi kepalaku masih kosong, yang aku inginkan saat ini hanya segera pergi dari kerumunan ini. “Pak Kevin, maafkan saya. Maafkan saya Pak Kevin. Saya tidak bersalah, saya sudah tidak ada hubungan dengan perempuan itu. Saya—.” Sebelum ucapannya selesai Pak Kevin memasukkanku ke dalam mobilnya, kemudian Pak Kevin memutari mobil, mengambil bangku kemudi dengan Tomi yang masih terlihat memohon di belakangnya. Dia! Ternyata sama tidak tahu malunya dengan perempuan itu! Sekarang rasakan! Bukan cuma dipermalukan, tapi juga kehilangan pekerjaan! Bahkan sampai mobil yang kutumpangi ini maju, dia masih berusaha mengejar dan berteriak nyaring. Terserahlah, aku tidak peduli. Aku, cukup puas dengan langkah yang Pak Kevin lakukan. “Pak Kevin.” Aku menatapnya dengan tatapan penuh rasa takut. “Hm.” “Terima kasih. Saya tidak tahu kalau tidak ada anda, saya harus berbuat seperti apa. Saya sangat berterima kasih. Dan... tentang ucapan anda yang menyebut saya kekasih, saya....” “Diamlah.” “Huh?!” “Aku bilang diam.” Tubuhku terkesiap, bibirku seketika mengatup, takut, sekujur tubuhku merinding mendengar suaranya yang sangat tegas. Waktu berlalu, suasana hening dalam kendaraan itu membuat membuatku tegang. Terlebih saat kulihat wajah Pak Kevin yang mengeras, matanya yang menatap jalanan tajam, dan tangan yang mencengkram kemudi dengan erat. Nafasku tertahan, rasanya hampir tercekik. Kenapa Pak Kevin terlihat semarah ini? Apa yang membuatnya marah? Aku hanya bisa meneguk ludah kasar, menarik napas panjang sebelum kemudian memberanikan diri membuka suara. “Pak Kevin, arah rumah saya bukan ke sini.” Pak Kevin tidak menjawab, dia hanya melirik sesaat sebelum kembali fokus pada jalan raya. Tatapan macam apa itu? Aku akan dibawa kemana? *** Sebuah gerbang tinggi terbuka menyambut kedatangan kami. Kendaraan itu kembali melaju hingga satu menit kemudian sampailah di depan pintu sebuah rumah yang—ah bisakah aku menyebutnya ini mansion? Ini benar-benar besar dan sangat luas. Seberapa kaya Pak Kevin ini? Bersamaan dengan itu, enam orang bertubuh tinggi besar dengan berpakaian serba hitam mendekat, membungkuk memberi hormat pada Pak Kevin yang keluar dari mobil. Diam-diam aku menatap pria itu. Benarkah gosip-gosip di luar sana yang mengatakan Pak Kevin adalah anak seorang mafia? Lihatlah para pengawal itu. Mereka tampak mengerikan. Sekujur tubuhku merinding, kalau benar-benar mafia bagaimana dengan nasibku? Apa yang akan dia lakukan dengan membawaku ke rumahnya ini? Clik! Pintu di kiriku terbuka. Tanpa banyak bicara Pak Kevin kembali menggendongku bridal style, memasuki rumah melewati enam orang itu. Apa yang akan Pak Kevin lakukan padaku? Aku tidak berani menatapnya lagi. Aku takut. Bahkan tanpa menatapnya saja aku bisa merasakan aura kemarahan yang masih sangat kuat. Setelah keluar lift aku mendengar suara langkah kaki yang mengikuti kami, tidak tahu itu siapa, aku belum berani mengangkat kepalaku sama sekali. Aku takut jika aku bergerak, memberontak atau membantah aku akan dibunuh seperti yang difilm-film. Clek! Kali ini terdengar sebuah pintu dibuka, sebelum kemudian aku dibaringkan dengan lembut diatas tempat tidur. “Sonia. Urus dia.” “Baik Tuan.” “Pak Kev—.” Baru juga aku akan angkat suara, dia telah pergi meninggalkanku. Bahkan tanpa menatapku sama sekali. Sampai suara pria itu kembali terdengar, hingga membuat sekujur tubuhku bergidik ngeri. “Jaga di sini. Jangan biarkan dia pergi kemanapun.” Apa maksudnya? Kenapa aku tidak boleh pergi dari tempat ini? “Nona, mari saya bantu berganti pakaian?” Perempuan bernama Sonia itu bertanya. “Biar saya sendiri saja.” “Tapi kaki anda?” Kulihat kebawah, ke arah kaki kiri yang sudah membengkak. Bagaimanapun kakiku terkilir dengan posisi menggunakan heels setinggi 12 cm. Tentu saja keadaannya akan sangat buruk. Oh! Ini sangat menyebalkan! Jangankan berjalan, aku mungkin akan kesulitan untuk berdiri. “Tidak apa-apa, biar saya bantu.” Aku hanya bisa mengangguk kecil. Selain ibuku, tidak ada yang pernah menggantikan pakaian untukku seperti ini. Aku juga tidak pernah merasakan dilayani seseorang. Rasanya canggung, aneh sekali. Selesai menanggalkan gaun pestaku dan menyeka badanku sesaat, sebuah gaun tidur berwarna hitam Sonia pakaikan untukku. Rasanya nyaman, sangat lembut. Darimana Pak Kevin mendapatkan gaun ini? Apakah gaun ini sengaja disiapkan Pak Kevin untuk perempuan yang datang untuknya? Atau—. “Jangan berpikir macam-macam Nona. Tenang saja, gaun tidur ini milik Nyonya besar. Tuan tidak pernah membawa perempuan lain ke rumah ini, jadi anda tidak perlu cemburu.” Huh? Apa yang baru saja aku dengar ini? Cemburu? Sonia tersenyum tipis, setelah itu beralih menyemprotkan sesuatu pada kakiku dengan masih berbicara. “Meskipun Tuan terlihat dingin, tapi Tuan sangat setia. Jika Tuan memiliki kekasih, dia akan menyayangi kekasihnya dan melindungi kekasihnya dengan baik.” Sonia kembali tersenyum aneh. “Tuan akan memberikan segalanya pada anda.” “Tunggu-tunggu. Maksudnya saya—?” Maksudnya aku ini kekasih Pak Kevin gitu? Kening Sonia mengerut. “Kenapa Nona?” “Saya bukan—.” Ting! Ponsel Sonia berdering. Sepertinya sebuah pesan masuk. “Nona, Tuan bilang anda sebaiknya tidur. Tuan ada urusan jadi mungkin akan pulang terlambat.” Sonia menarik selimut untukku. “Sonia, tapi saya bukan—.” “Saya tidak bisa mengajak anda berbicara lagi atau nanti Tuan akan marah.” Sonia berdiri di sampingku, memberikan sebutir obat. “Ini painkiller pill, diminum untuk meredakan rasa sakit.” Sonia kemudian berdiri tegap, membungkuk sesaat. “Selamat malam.” Tidak. Tunggu. Seharusnya tidak seperti ini. Pikiranku mendadak kacau. Kenapa Sonia menganggapku kekasih Pak Kevin?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD