PART 3: Mendadak Utang

947 Words
Cahaya matahari menyambut pagiku, beberapa saat aku hanya diam, menggeliat kecil sebelum mengedarkan pandanganku sekilas ke setiap penjuru kamar. Sangat estetik dan tertata rapih, belum lagi kamar ini sangat luas. “Sudah bangun?” “Huh?!” Seketika aku menoleh ke kanan, aku baru sadar Pak Kevin duduk di sudut dengan sebuah tablet PC di tangan. Buru-buru aku bangun, duduk membenarkan kimono penutup gaun tidur yang ku kenakan. “Pak Kevin.” Pria itu hanya diam sambil menatapku. Bagai gerakan slowmotion, pria itu bangkit, berjalan mendekatiku. Seketika aku mundur, merapatkan posisi pada kepala tempat tidur. “Sebaiknya saya pulang sekarang.” Pak Kevin hanya menatapku datar, saat buru-buru bangkit, rasa sakit di kakiku kembali, membuatku jatuh terduduk di sisi tempat tidur. “Kenapa duduk lagi?” Pak Kevin membungkuk, membuatku memundurkan wajah. Demi apapun ini terlalu dekat. Aku bahkan bisa merasakan hembusan napasnya. “Masih betah?” “Siapa yang betah? Kalau kaki saya tidak sakit saya akan pulang sekarang juga.” Jawabku dengan suara kecil. “Makanya jangan banyak tingkah.” Tak! “Aw!” aku menatapnya kesal, bagaimana bisa dia menjitakku begitu? “Sakit.” Pak Kevin tersenyum tipis, senyuman mengejekku. Sedetik kemudian tanpa adanya aba-aba aku digendong bridal style. “Mau kemana?” “Mandi.” “Aku bisa mandi sendiri!” tanpa sadar aku berseru cukup kencang. Meskipun aku orang yang sulit menolak, tapi aku cukup waras untuk menolak tegas yang satu ini. Pak Kevin mendudukanku di dalam bathtub. Lalu berdiri, menatapku dingin. “Memangnya siapa yang mau memandikanmu?” tanyanya sebelum kemudian beranjak pergi meninggalkanku sendiri. Hah?! Wajahku seketika panas. April!!! Gila kamu. Gila!!! Darimana asalnya pikiran jorok itu? Mau ditaruh dimana mukamu nanti? Tok tok! Seketika napasku tertahan. Pak Kevin? “Nona, jika butuh sesuatu panggil saja. Saya di depan pintu.” Wajahku semakin memanas. Jika saja ada yang melihat, mungkin wajahku sudah seperti tomat masak. *** “Nona ingin dibawakan makan ke kamar atau ingin di ruang makan?” Selesai mandi dan berganti pakaian dengan sebuah gaun santai—mungkin milik ibu Pak Kevin juga, sekarang aku duduk santai di sudut yang tadi sempat ditempati Pak Kevin. “Bolehkah makan di kamar saja?” Jujur saja, aku tidak punya muka untuk bertemu dengan Pak Kevin. Sonia tersentum tipis. Beruntunglah ada perempuan ramah ini di sini. “Tentu saja, saya akan segera kembali membawakannya.” “Oh ya sebelum itu, Sonia apa kebetulan melihat ponsel saya? Sejak malam saya belum menemukan ponsel dan tas saya.” “Maaf Nona, tidak. Akan saya cari nanti. Sekarang saya ambilkan dulu makanan untuk anda.” Aku hanya mengangguk, tidak ingat terakhir kali aku menjatuhkan tasku itu dimana. Clek! Aku mematung saat melihat Pak Kevin yang masuk ke kamar. Pria itu memberikan tas dan meletakkan sebuah paper bag di atas meja. Tasku! “Terima kasih.” Buru-buru aku membuka tas, mencari ponsel. Aku harus menghubungi Mei segera, dia pasti mengkhawatirkanku. Tapi... ponselku hilang. “Ponsel saya.” “Dibuang. Ponselmu terlalu berisik.” “Apa? Dibuang? Apa anda sudah gila? Saya membutuhkan ponsel itu untuk berbagai urusan, kalau saya tidak punya ponsel bagaimana?” Apalagi sekarang, jika uangku dibelikan ponsel, maka akan habis. Aku menatapnya jengkel, pria itu hanya menghela napas kecil lalu menunjuk paper bag di depanku dengan dagu. Saat aku mengambilnya, ternyata ada sebuah ponsel di sana. Ponsel keluaran terbaru yang sempat aku idam-idamkan. Tapi tunggu, aku tidak boleh terlihat senang. “Kembalikan semua data dari ponsel lamaku, termasuk nomor telponnya. Harus sama persis.” Aku tidak tahu darimana keberanian itu berasal, hanya saja aku kesal dengan sikapnya itu. “Sebelum mengomel seharusnya kau cek lebih dulu.” Pak Kevin mengambil ponsel itu lalu memberikannya padaku. Buru-buru aku lihat. Ternyata semua yang kuinginkan ada. Aku mendongak, menatapnya curiga. “Apa?” Seketika aku menggeleng, takut dengan ekspresi itu. Pak Kevin tiba-tiba memberikan sebuah kertas. Aku menatap Pak Kevin sesaat. Begitu aku membaca isi kertas itu, mataku terbelalak. “Apa ini? Biaya ganti rugi apa?” Pak Kevin tidak memberikan jawaban. Aku kembali membaca isi surat itu dan lagi-lagi hanya bisa menganga saat melihat total dari biaya ganti rugi itu. “Tiga ratus juta?! Ini... tidak masuk akal, dan guci—.” Aku terdiam, ingat kejadian kemarin malam saat bunyi nyaring dari guci yang tersenggol hingga pecah. “Sudah ingat sekarang?” “Tapi saya tidak bersalah Pak Kevin. Perempuan itu yang menyerang saya. Seharusnya bukan saya yang mengganti rugi. Saya bahkan tidak melakukan apapun.” “Perempuan itu sudah membayar ganti ruginya, sementara ini... sisa ganti rugi yang harus kau bayarkan. Ah—atau apakah aku harus menagih pada temanmu?” “Tidak, jangan.” Aku tidak mau membawa Mei masuk ke dalam masalahku, Mei hanya membelaku saja. Dia tidak perlu bertanggung jawab untuk apapun. “So? Kau akan membayarnya?” Aku tidak mau berurusan dengan mafia ini. Dia sangat menyeramkan. Tapi bagaimana? Aku tidak bisa membayarnya secara langsung. Uangku tidak sebanyak itu. Pasrah, aku hanya mengangguk ragu. “Bagus.” “Tapi... apa saya bisa mencicilnya Pak Kevin?” “Bisa, tapi dengan bunga 10% setiap bulannya.” “A—apa? 10%? Bagaimana aku bisa membayarnya dengan bunga sebesar itu?” yang ada utangku makin bertambah, gajiku saja tidak cukup untuk menutupi bunganya. Pak Kevin mengedikkan bahu, “Pikirkan sendiri.” Hidupku sudah cukup rumit dengan harus mengurus keluargaku, kenapa aku harus memiliki utang pada pria ini? Apalagi dengan bunga yang juga sangat besar. “Daripada mafia, anda lebih terlihat seperti rentenir.” Sedetik kemudian sebuah tangan memegang daguku, Pak Kevin mendekat hingga hidung kami bersentuhan. Mataku kembali terbelalak. Aku bahkan bisa merasakan deru napasnya di wajahku. “Pak Kevin.” “Jaga ucapanmu, atau... aku akan menciummu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD