Rasanya jantungku tidak bisa berhenti berdebar kencang. Apalagi ketika bayangan hidung kami saling bersentuhan kembali datang di benakku. Ditambah kemanapun aku akan pergi, Pak Kevin akan menggendongku, tidak membiarkanku berjalan. Gila. Gila sekali. Tidak hanya jantungku yang berdebar semakin kencang. Tapi wajahku juga ikut memanas.
Siapa yang tidak akan menggila jika diperlakukan semanis itu?
Beruntung saat kami sampai di rumah sakit untuk memeriksakan kakiku, dia tidak memaksa menggendongku lagi, aku di bawanya dengan kursi roda.
“Tidak ada luka serius Tuan, kaki Nona hanya mengalami peradangan saja, akan sembuh dalam beberapa hari. Hanya saja saya berpesan agar anda tidak membiarkan Nona terlalu banyak berjalan dulu, dan jangan menggunakan sepatu ber-hak tinggi. Gunakan sneakers atau flat shoes saja.”
“Baik, saya tidak akan membiarkannya berjalan sedikitpun.”
Tubuhku bergidik, ucapannya terdengar seperti ancaman. Membuatku mengatupkan bibir, tidak bisa berkutik lagi. Apalagi setelah ancaman tadi pagi. Lebih baik aku patuh daripada dia menciumku.
“Ini saya resepkan beberapa obat.”
“Terima kasih Dok.”
“Sama-sama Tuan Kevin, hubungi saya saja jika membutuhkan sesuatu.”
Pak Kevin hanya mengangguk kecil, setelah itu berdiri lalu mendorong kursi roda yang aku gunakan, sementara yang mengambil kertas resep obat itu Harve—asisten pribadi Pak Kevin.
Aku tidak tahu seberapa lama lagi aku akan terjebak dengan Pak Kevin. Aku bingung, rasanya aku ingin melarikan diri tapi bagaimana caranya? Aku tidak diberikan celah untuk pergi. Meskipun dia ternyata tidak seburuk bayanganku, tapi tetap saja, aku tidak suka diintimidasi.
“Mari Nona, biar saya bantu.” Seorang perawat laki-laki mendekat.
“Tidak perlu.” Pak Kevin mengangkat tubuhku.
Selalu saja begitu, menggendongku tanpa permisi, hingga beberapa detik kemudian aku sudah berada di dalam mobil lalu Pak Kevin masuk dari pintu lainnya.
“Pak Kevin, biar saya duduk di depan saja dengan Harve.”
Tidak ada jawaban, Pak Kevin hanya memberiku lirikan tajam yang membuatku tutup mulut.
Ting!
Ponselku berdering. Mei akhirnya menjawab pesanku. Semalam dia mengirim banyak pesan, dan aku baru membalasnya sebelum berangkat ke rumah sakit.
Mei: Kamu sudah melihat grup kantor? Di sana ribut membahas kalian. Aku juga ditodong pertanyaan tentang hubungan kalian. Mereka terus bertanya sejak kapan kalian berkencan padahal kalian tidak pernah terlihat akrab. Tapi ada juga yang bilang gak kaget, karena Pak Kevin keliatan bucin. Katanya setiap kalian rapat Pak Kevin selalu memperhatikanmu secara berbeda. Aku bingung, aku harus jawab apa?
Saya: Kenapa kamu tidak bilang saja kalau itu cuma bohongan? Kamu tahu sendiri aku dan Pak Kevin tidak ada hubungan Mei.
Mei: Kamu pikir aku berani? Kalau aku melakukan itu sama saja dengan aku mempermalukan Pak Kevin. Aku tidak cukup berani melakukannya. Aku tidak mau bernasib seperti Tomi.
Benar Tomi. Bagaimana nasibnya dia sekarang? Aku penasaran, apakah ancaman Pak Kevin itu nyata atau hanya menggertak saja?
Mei: Lalu sekarang bagaimana keadaanmu? Kenapa belum pulang juga?
Saya: Aku gapapa. Aku tidak bisa Mei, Pak Kevin menahanku. Aku bahkan tidak bisa kabur, selalu ada yang mengawasiku. Aku rasa gosip saat sekolah dulu itu benar Mei, dia mafia. Bagaimana ini?
Mei: Hah?! Demi apa?
Saya: Iya Mei, rumahnya bukan rumah, tapi mansion, pagi ini aku baru menyadari ternyata rumahnya sangat amat luas, ditambah banyak sekali penjaganya, orang-orang selalu pakai jas hitam, atau jaket kulit hitam, ini saja ada satu mobil lain yang mengikuti kami. Itu semua pengawal Pak Kevin.
Mei: Pril, aku ikut ngeri. Aku tidak pernah berpikir kalau gosip itu nyata. Tidak ada jalan lain, kamu patuh saja pada Pak Kevin, jangan macam-macam kalau ingin selamat.
Saya: jangan menakut-nakutiku Mei! Aku sudah sangat takut! Saat berangkat aku bahkan melihat kolam buaya di dekat gerbang masuk menuju rumahnya.
Mei: astaga. Tapi Pak Kevin tidak melakukan yang macam-macamkan padamu?
Saya: Tidak, dia justru menjagaku dan merawatku dengan baik. Sekarang saja dia yang mengantarku ke rumah sakit.
Mei: Kamu serius Pril?
Saya: Serius.
Mei: Bukankah Pak Kevin harusnya sudah di Mandalika?
Saya: loh iya.
Mei: Jangan bilang dia benar-benar mencintaimu Pril? Dia menjebakmu supaya kamu bisa jatuh cinta padanya.
Saya: Tidak mungkin. Jangan ngaco.
Mei: Aku serius, coba kamu pikir. Kenapa dia mau repot-repot mengantarmu sementara geng-nya saja sudah ada di Mandalika? Ingat! Pak Kevin tidak pernah melewatkan pertandingan F1.
Benar juga kata Mei, diam-diam aku melirik Pak Kevin yang sedang membaca tablet PC-nya. Kenapa dia rela melewatkan pertandingan F1 hanya untuk berada di sini?
“Apa?”
“Hm?”
Pak Kevin mengangkat wajah, menatapku sesaat. “Ada apa?”
Dia sepertinya sedang bersahabat.
“Kenapa anda repot-repot merawat saya Pak Kevin? Padahal anda hanya perlu mengantarkan saya pulang, setelah itu selesai.”
“Benar juga, kenapa aku repot-repot merawatmu?”
“Benarkan? Jadi sekarang sebaiknya saya pulang saja, atau anda bisa menurunkan saya di sini, saya bisa pulang dengan taxi.”
“Seharusnya aku melemparkanmu ke kolam buaya.”
“Pak Kevin! Candaan anda tidak lucu.”
Pak Kevin menoleh padaku, “Kau lihat wajahku, apa aku terlihat sedang bercanda?”
Menyebalkan! Aku lirik Harve yang menahan tawa. Apanya yang lucu? Kenapa dia tertawa?
“Pak Kevin.”
“Sebaiknya kau diam sebelum aku benar-benar menjadikanmu pakan buaya.”
Aku mencebik sesaat.
“Pak Kevin kali ini saya serius.”
“Baru tinggal satu malam sudah ingin serius?”
“Pak Kevin! Jangan menyebalkan. Saya ingin berbicara serius.” Aku mencebik kesal. “Ini tentang utang saya. Jika bunganya sampai 10% saya rasa sampai kapanpun saya tidak akan bisa melunasi utangnya. Saya harap anda memberikan keringanan, kalau bisa jangan pakai bunga.”
“Oke.”
Hah? “Serius? Anda akan menghapus bunganya?”
Pak Kevin menyimpan tablet PC di tangannya, mengalihkan pandangannya padaku dengan tatapan datar, lalu mengangguk kecil.
“Terima—.”
“Dengan syarat.”
“Syarat?”
Pak Kevin mengangguk lagi. “Kau harus ikuti semua yang aku perintahkan.”
“Huh?”
“Dan....”
Dan? Masih ada lagi?
“Aku butuh jaminan.”
“Jaminan? Tapi saya tidak punya apapun untuk jaminan. Mobil masih nyicil, apartemen juga sewa.”
Pak Kevin menggeleng kecil. “Ada, kau punya.”
“Apa?”
“Tubuhmu.”