Engagement of Andanu and Greesha

1183 Words
Hari ini akan menjadi salah satu hari bersejarah bagi Gege dan Andanu, yaitu Engagement. Mereka sepakat melaksanakan lamaran sepakat setelah 2 minggu kelulusan Gege. Lamaran diadakan dikediaman Mbah Subarjo. Itu adalah salah satu perintah dari Mbah Subarjo dan tidak boleh dibantah. Ia menginginkan jika lamaran cucunya yang pertama kali diadakan di rumahnya. Rumah berkonsep Jawa itu sudah penuh hiasan dan pernak-pernik yang menghiasi sisi rumah, terutama ruang tamu yang digunakan untuk photo booth. Dua keluarga sudah mempunyai rencana bahwa saat lamaran dan hari H mereka akan membuat konstum seragam. Hari ini keluarga inti kompak memakai kebaya brokat modern berwarna hijau botol. Dan yang laki-laki memakai kemeja batik bermotif sama dengan bawahan kebaya brokat milik perempuan. Yang membedakan penampilan hanyalah Gege yang dikepalanya terpasang mahkota kecil berwarna emas bertahtakan batu zamrud hijau. Lamaran hari ini hanya dihadiri oleh keluarga besar dan teman-teman terdekat dari kedua belah pihak. Mobil Andanu sudah tiba, diikuti oleh 3 mobil dibelakangnya yang dipastikan itu adalah pengiring dari pihak laki-laki. Acara pertama diisi dengan sambutan dari keluarga kedua belah pihak, dilanjutkan dengan prakata dari Gege dan Andanu yang ditujukan kepada orang tua, adik kakak, dan keluarga inti. Disaat Gege mengutarakan apa yang ditulisnya, ia menangis lalu memeluk semua anggota keluarganya. Begitu juga dengan Andanu, meskipun ia laki-laki, ia tak menampik jika sudah berhubungan dengan keluarganya ia akan langsung menangis. Acara dilanjutkan dengan sesi tukar cincin. Andanu khusus memesan cincin emas putih bertahta batu zamrud hijau dengan aksen yang tak begitu rumit dan terkesan elegan. Ia sangat menyukai apapun yang berwarna hijau. Maka dari itu semua perhiasan yang ia persembahkan untuk Gege bertahtakan batu zamrud hijau. "Cantik." Ucap Andanu lirih sambil memandang cincin yang telah ia sematkan pada jari manis Gege. Tampak manis dan elegan di tangan lentik sang pemilik baru. Giliran Gege yang menyematkan cincin yang sama tapi tidak berhias batu zamrud hijau. Ia dengan hati-hati menyematkan benda itu. Antara gugup dan grogi, akhirnya ia berhasil melakukannya. Acara terakhir adalah sesi do'a dan foto. Do'a dipimpin oleh Papa dari Yusuf yang berprofesi sebagai kepala sekolah salah satu Madrasah Tsanawiyah Negeri. Dilanjutkan dengan sesi foto yang diisi oleh kehebohan Arjuna, Gandhi dan Yusuf yang berebutan untuk foto bersama Gege. Setelah acara selesai dan tamu-tamu sudah bubar, kedua keluarga merundingkan tanggal pernikahan yang digadang-gadang akan dipercepat karena permintaan Andanu. Dan sudah diputuskan bahwa pernikahan akan dilaksanakan pada tanggal 11 Agustus tahun 2018. *** "Bang." Panggil Gege saat melihat Gandhi sedang memainkan game di handphone di kamarnya. "Hm." Jawab Gandhi tanpa menoleh sedikitpun kearah adiknya. "Bang..." "Apa." "Bang!" "Apasih!" "Ish! Dipanggil tuh ya nengok kek, jangan nunduk aja. Nanti matanya ngglundong lho." "Mau apa? Ngomong aja. Tapi jangan suruh Gue login App dating lagi. Awas aja!" "Hehe, kali ini enggak kok. Aku tuh mau ngomong serius sama Abang." Ucap Gege sambil duduk disamping Abang-nya. Seketika Gandhi menoleh dan menatap tak percaya pada adiknya. "Mau ngomongin apa Lu? Asal jangan yang berat-berat ya. Masalah Gue udah berat jangan nambah-nambahin." "Astaghfirullah sama adek sendiri aja kayak gitu, pantes jomblo terus. Mana ada perempuan yang mau sama Abang yang ceplas-ceplos." "Halah! Cepetan elah, mau ngomong apa?" Tanya Gandhi sambil me-log out game-nya. "Abang nggak papa kan kalo Gege langkahin?" Ucap Gege sambil berbaring di atas kasur Gandhi yang bergambar Iron Man. "Langkahin? Langkahin apa?" Tanya balik Gandhi. "Ih! Langkahin nikah, Bang! Abang nggak ngenes kan ditinggal nikah duluan?" "Ya nggaklah! Orang Gue juga masih muda, target nikah Gue nggak umur segini, Ge. Lu nikah ya nikah aja. Gue belakangan. Gue pengen sukses dulu." Terang Gandhi sambil mengambil i-Pad yang ada di nakas samping tempat tidur. "Temenan iki? Nanti tak tinggal nikah nangis, pengen nikah juga." Canda Gege sembari memainkan handphone Gandhi yang menganggur. "Ngawur! Gue nggak segitunya juga kali, Ge." Mereka melanjutkan obrolan dengan canda tawa diselingi kejahilan Gandhi. Tawa mereka menggelegar sampai lantai satu, dimana ada Ayah Hadi dan Bunda Ery yang sedang menonton televisi sambil pijat-pijatan. "Bun." Panggil Ayah Hadi setelah mendengar tawa kedua anaknya dari lantai dua rumah mereka. "Apa." "Nggak ada niat tambah baby lagi gitu." Bunda Ery melotot dan seketika mencubit pinggang suaminya yang berada dibawahnya. "Aw! Sakit, Yang!" "Meresahkan!" *** Kantor Desa Saat ini Andanu sedang mengerjakan beberapa file diruang kerjanya sembari menunggu Gashul mengirimkan berkas mutasi penduduk. Ditemani dengan secangkir kopi hitam dan sepiring gorengan. "Permisi." "Masuk." "Des, ini berkasnya. Tapi ini masih beberapa dusun, yang lainnya tadi ada yang salah. Datanya ndak valid, masih tak coba perbaiki. Mungkin nanti agak siang udah selesai. Gimana? Keburu ndak?" Ucap Gashul sambil menyerahkan berkas yang diminta Andanu. "Oh ya nggak papa. Kalo bisa sih besok udah kelar semua, Pak." Jawab Andanu tenang sembari melihat data-data yang tertulis di file itu. "Okelah kalo gitu. Saya tinggal dulu ya, Des. Monggo." Ucap Gashul. "Iya, monggo. Matursuwun ya, Pak." "Iya, sami-sami, Des." Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, akhirnya waktu pulang sudah tiba. Andanu selalu bekerja mengendarai motor N-max, sangat jarang ia menggunakan mobilnya kecuali darurat. Menurutnya, mengendarai motor itu lebih simple, praktis dan tentu saja tidak memakan waktu untuk memakirkan kendaraan. Dalam susunan pejabat desa, ia adalah yang termuda kedua setelah ada salah satu anak tetua desa yang menjadi salah satu perangkat desa. Dan dia adalah perempuan. Tenang, dia bukan bibit pelakor di rumah tangga Andanu dan Gege nanti. Aing cuman ngasih tau aja! "Eh, Pak Kades. Badhe kondur, Pak?" (Mau pulang?) Tanya Bu Siti yang merupakan salah satu perangkat desa yang umurnya bisa dibilang tua dan akan pensiun segera. "Iya, Bu. Sampun siang, ajenge dhahar." (Sudah siang, mau makan) Jawab Andanu dengan sopan sambil menyalami tangan Bu Siti. "Oh ngoten, monggo pinarak dhahar nggene griyo kulo. Teng mriko wonten yoga kulo, nembe kondur saking Suroboyo." (Oh gitu, ayo silahkan makan di rumah saya. Disana ada anak saya, dia baru pulang dari Surabaya.) Ucap Bu Siti menawarkan ajakannya kepada Andanu. Lah? Ini kenapa malah bahas anaknya? Jaga hati Andanu! Gege padamu. Peringat Andanu kepada dirinya sendiri. "Mboten usah, Bu. Kulo ajenge dhahar nggene griyone calon kulo." (Nggak usah, Bu. Saya mau makan dirumahnya calon saya.) Ucap Andanu to the poin. "Oh gitu. Yaudah nggak papa." Ucap Bu Siti sambil tersenyum paksa. Setelah obrolan dengan Bu siti selesai, Andanu bergegas pulang karena ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan pujaan hatinya. Ia tidak bisa bebas berkomunikasi jika ia masih berada di kantor desa. Jika dirumah, ia bisa video call sampai ia ketiduran, bisa bertelepon sampai kuota habis dan masih banyak yang lainnya. Malam ini ia berencana untuk mengajak Gege berkencan dengan vespa antiknya yang berwarna hitam metalik. Ia ingin merasakan sensasi perjalanan sambil dipeluk oleh gadisnya. Hah! Membayangkannya saja sudah membuat hati bahagia tidak karuan. Calling calon istri tercinta❤.... Halo assalamu'alaikum, Mas.️ Wa'alaikumsalam. Yang, malam ini kamu ada acara ndak? Em, nggak sih. Aku free, wonten nopo? Keluar yuk! Jalan-jalan pake vespanya Mas. Mau nggak? Jam berapa nih, Mas? Ba'da magriban Oke deh. Gege tunggu. Eh, tapi Mas udah ngomong kan sama Ayah Bunda? Udah, Mas udah minta izin langsung. Alhamdulillah kalo gitu. Em, Mas. Gege mau nanya boleh? Iya, monggo. Mau nanya apa? Nanti kalo udah nikah, Gege mau kuliah di luar kota boleh? Kalo seumpama Mas nggak ngebolehin gimana? Kamu mau apa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD