Terpaksa

1673 Words
Tok tok tok Suara ketukan pintu Keluarlah Bu Sara dan Pak Erlangga dari dalam rumah. "Karina, apa kau baru sampai?." Tanya Pak Erlangga. "Ya Papa , aku baru saja sampai." Jawab Karina. "Maaf ya Karina , papa tidak bisa membantu kalian mencari karena papa ada meeting penting dan jika ada apa-apa tolong langsung kabari papa saja." Pinta Pak Erlangga. "Baiklah Pa , tidak apa-apa kok, papa hati-hati ya dan aku pasti akan mengabari papa tentang apapun yang telah terjadi nanti." Jawab Karina. "Kamu memang anak yang baik dan pintar , kalau begitu papa pergi dulu , sampai jumpa." Pak Erlangga mencium kening Bu Sara dan Karina serta Bu Sara menyalami tangan pak Erlangga. Pak Erlangga pun pergi ke kantor nya dan meninggalkan Karina dan Bu Sara untuk mencari keberadaan Anindya dan Darren. "Apa kamu baik-baik saja?." Tanya Bu Sara yang melihat Karina seperti bersedih. "Aku baik-baik saja kok." Jawab Karina dengan nada yang lemah lembut. "Kamu jangan bersedih ya , mama yakin mereka berdua dalam keadaan baik-baik saja ,kita pasti akan menemukan mereka berdua , dan sekarang sebaiknya kita langsung cari mereka ." Pinta Bu Sara. "Terima kasih ya ma , owh iya ma aku mau memberitahu mama jika aku juga sudah meminta tolong beberapa orang untuk membantu kita mencari mereka dan mereka akan mengikuti kita dengan mobil yang berbeda." Karina seperti merencanakan sesuatu. "Kamu memang pintar , ayo kita segera berangkat saja." Pinta Bu Sara. Mereka semua pun berangkat masuk ke dalam mobil , di dalam mobil . "Ma." Panggil Karina. "Iya." Jawab Bu Sara. "Aku rasa sebaiknya kita pergi ke villa di desa terlebih dulu." Pinta Karina. "Kenapa harus ke sana? Villa yang mana ?." Tanya Bu Sara. "Karena aku rasa Mas Darren ada di sana, lagi pula villa itu dulunya adalah villa yang sering mas Darren kunjungi, meskipun villa itu sudah lama sekali tidak ada yang tempati dan sudah tidak dikunjungi mas Darren, tapi tidak ada salahnya juga kan jika kita mencari mereka disana." Pinta Karina. "Tapi bagaimana dengan Anindya?." Tanya Bu Sara. "Kita ikuti saja apa yang nona Karina bilang Buk , nanti setelah dari villa itu , baru kita akan mencari nona Anindya ditempat lain ." Pinta salah satu orang yang membantu mereka mencari Darren dan Anindya, orang tersebut duduk disebelah supir mereka. "Saya rasa kamu benar dan tidak ada salahnya kita mencoba, baiklah saya akan ikuti permintaan kalian." Jawab Bu Sara. Karina yang mendengar jika Bu Sara setuju dengan permintaan nya , Karina pun tersenyum licik karena Bu Sara dan orang-orang yang membantu nya mencari Darren dan Anindya di tempat jebakan yang dia buat . Tak lama berselang mereka semua pun telah sampai di villa mewah milik Darren yang ternyata terletak di daerah pedesaan. Singkatnya mereka meminta bantuan para penduduk desa dan para penduduk desa setuju untuk membantu mereka mencari Darren dan Anindya di villa itu. Saat masuk ke dalam villa , Karina seperti mengarahkan mereka semua untuk masuk ke dalam kamar yang sebenarnya adalah jebakan yang sudah dia persiapkan. Saat masuk ke dalam kamar itu , mereka terkejut mendapati Anindya dan Darren berada di dalam kamar itu tanpa busana dan keduanya masih dalam keadaan tertidur berdua diatas ranjang. "Aaaaaaaaa." Teriak Karina. "Apa-apaan ini? Apa yang kalian lakukan?." Bu Sara yang melihat merasa sangat emosi. Karena teriakan itu , membuat Anindya dan Darren terbangun dengan terkejut , tapi saat mereka terbangun ,Bu Sara justru langsung menampar Anindya. Plakkk Suara tamparan "Anak seperti apa kau ? Anak tidak ada guna , Apa kau tak punya malu ?." Bentak Bu Sara kepada Anindya . Anindya hanya terdiam dengan tamparan yang Bu Sara berikan karena selama ini Bu Sara tidak pernah sedikitpun memukul nya. "Mama benar-benar tidak mengerti kenapa kau melakukan hal yang sangat memalukan , kau bahkan merebut suami kakak mu sendiri , sudahlah mama sudah tidak sanggup disini , mama lebih baik pergi saja dan ingat jangan pernah sekalipun menginjak kan kaki mu ke rumah ." Bu Sara pun pergi meninggalkan villa itu dengan hati yang sangat hancur. Saat Bu Sara pergi dari villa itu , Anindya hanya menangis dan meratapi nasibnya sedangkan Karina pun mulai beraksi dengan berakting menangis. "Hiks hiks." Karina menangis dan terjatuh lemas ke lantai. Anindya merasa kebingungan dan tak bisa berkata apa-apa , begitu juga dengan Darren sambil masih menutupi tubuh mereka dengan selimut , karena mereka tidak bisa membela diri mereka. Para penduduk desa yang melihat apa yang telah terjadi memutuskan untuk menikahkan Anindya dan Darren karena sesuai dengan hukum yang berlaku. "Kalian berdua harus dinikahkan ." Pinta pak kepala desa. "Ta.....pi." Anindya ingin sekali mengelak karena dia merasa ini semua bukan salahnya. "Tidak ada tapi-tapi, sekarang segera kalian pakai pakaian kalian ." Pinta Kepala desa. Singkatnya Anindya dan Darren terpaksa menikah , mereka berdua telah pun menikah dan sekarang telah kembali ke villa dan memutuskan untuk mereka bertiga tinggal di villa dan tidak pulang kerumah terlebih dahulu . Saat mereka sampai di villa , Anindya dan Karina masuk ke dalam villa itu , sedangkan Darren pergi menyendiri atas apa yang telah terjadi. Darren pergi ke sebuah bukit yang kosong dan memikirkan apa yang telah terjadi , dia binggung karena sebenarnya dia memang mencintai Anindya , tapi dia juga sudah berjanji untuk menjadi suami yang baik dan tidak akan menyakiti hati Karina . "Apa? Kenapa ? Kenapa ini semua harus terjadi." Darren berkata dengan berteriak. "Ya tuhan , aku memang mencintai Anindya dan aku menginginkan dia agar menjadi istri ku, tapi aku sudah melupakannya dan aku adalah suami Karina ." Darren berteriak dan terlihat sedih. Di dalam villa ,Anindya berinisiatif menghampiri kakak nya dan ingin menjelaskan kepada kakaknya. "Kak." Panggil Anindya dengan ketakutan. "Apa?."jawab Karina. "Ak...u." Anindya terbata-bata ingin menjelaskan kepada kakaknya karena Karina terus saja menangis. Plakkkkkk Karina tiba-tiba menampar Anindya dengan keras "Aku benar-benar tidak menyangka kau melakukan ini padaku ." Karina mengguncang-guncangan tubuh Anindya. Anindya hanya terdiam melihat kelakuan kakaknya karena Karina tidak pernah berkelakuan seperti ini. "Aku benci , aku benci kau Anindya." Karina berjalan pergi dari Anindya. Tiba-tiba , Anindya memegang kaki kakaknya itu yang membuat Karina tertahan. "Aku mohon kak , maafkan aku ." Karina memohon kepada kakaknya. "Minta maaf? Kau pikir aku ini apa? Apa kau tak tau bagaimana perasaan ku ? Adikku sendiri sekarang telah menjadi istri muda suami ku dan juga madu ku." Karina berbalik ke arah Anindya dengan air mata yang masih berlinang dan juga menyuruh Anindya berdiri. "Tapi aku tak pernah berniat melakukan itu dan aku tidak pernah melakukannya kak , aku sayang sama kamu kak dan aku ingin kau bahagia." Jawab Anindya dengan menangis. "Diam....." Bentak Karina. "Jika kau menyukai suami ku kau ambil saja dan kau bunuh aku." Karina memberikan pisau kepada Anindya. "Tidak kak." Anindya menolak karena dia sama sekali tidak ingin membuat kakak nya menderita. "Jika kau ingin aku bahagia , ambil pisau ini dan bunuh aku ." Karina menyodorkan pisaunya ke Anindya. "Ak....ku tidak mau." Jawab Anindya yang menangis. "Ambil dan bunuh aku." Pinta Karina dengan memaksa Anindya mengambil pisau itu. Anindya pun terpaksa mengambil pisau itu dan dia mulai mengarahkan pisau kepada perut Karina ,saat pisau hendak mendekat . "Hiks...Hiks." Karina menjatuhkan dirinya dan menangis yang membuat Anindya terkejut . "Karina." Teriak Darren yang ternyata sudah pulang ke villa itu. Anindya terkejut dan langsung melepaskan pisau itu , sedangkan Darren langsung menghampiri mereka , Darren lantas marah terhadap apa yang telah dia lihat. "Apa-apaan ini?." Tanya Darren dengan emosi . "Ak..ku ." Anindya terbata-bata untuk berbicara dengan Darren karena dia tidak mengetahui keberadaan Darren dan juga Karina yang menangis. "Perempuan seperti apa kau? Sekarang aku menjadi lebih mengerti jika kau adalah orang yang menjebak ku." Darren berkata sambil memelototi Anindya. "Aku tidak pernah menjebak mu dan aku juga tidak tahu apa-apa." Jawab Anindya yang berkata dengan jujur. "Sudahlah hentikan , ayo mas kita pergi." Karina pun menarik tangan Darren untuk pergi ke kamar dan mereka pun meninggalkan Anindya yang sendirian. Saat Darren dan Karina masuk ke dalam kamar , Darren berkata dengan suara serius dan meminta maaf kepada Karina. "Karina , aku benar-benar minta maaf , aku tak sadar telah melakukan hal yang bodoh ." Darren berpikir jika dia telah melakukan hubungan percintaan dengan Anindya , padahal sebenarnya Darren dan Anindya tidak melakukan apa-apa karena mereka langsung tertidur pada saat itu. "Aku tak apa-apa kok , aku baik-baik saja, tapi berjanji lah kalau kau tak akan menceraikan aku." Jawab Karina dengan nada yang lemah lembut dengan ada air mata yang jatuh. "Terima kasih ya Karina , kau tenang saja aku tidak akan pernah menceraikan mu dan secepatnya aku pasti akan menceraikan Anindya." Jawab Darren dengan memeluk erat tubuh Karina. Sedangkan Anindya yang masih terdiam terpaku di tempat itu , dia pun pergi masuk ke kamar kosong yang ada di villa itu , setelah masuk ke dalam villa , Anindya pun menangis meratapi nasibnya yang telah menjadi istri muda. "Hiks....hiks...." Anindya menangis dengan deras atas apa yang telah terjadi. "Kenapa ini semua terjadi ya tuhan , padahal aku sama sekali tidak berpikir akan melakukan sesuatu yang membuat kakak ku sakit ." Karina berkata sambil bersedih. "Aku selalu berharap dan berdoa agar kakak ku selalu bahagia , tapi hari ini aku telah membuat kakak ku menderita dan sakit hati ." Tiba-tiba Anindya teringat dengan Ryan . "Ryan? Bagaimana ini ? ." Anindya kebingungan karena Ryan akan kembali dalam beberapa hari lagi dan mereka akan menikah , tapi sekarang dia telah menjadi istri orang lain. "Aku tidak mungkin bisa bersama Ryan lagi , tapi aku yakin jika Ryan pasti kecewa dan berpikir jika aku adalah wanita yang buruk." Anindya menangis dengan deras. Ternyata Karina telah berjalan di depan kamar Anindya dan Karina pun tersenyum licik melihat adiknya menangis dan merasa rencana nya telah berhasil dengan baik. Karina kemudian masuk ke kamar mandi dan melihat pantulan dirinya dari cermin yang ada di toilet. "Hahahaha." Karina tertawa seperti orang gila karena merasa puas dengan apa yang telah terjadi. "Anindya adikku sayang , selamat menikmati penderitaan menjadi istri muda suami ku dan akan ku pastikan kau merasa lebih sakit lagi." Karina melihat dirinya dari pantulan cermin dan kemudian tersenyum licik. Bersambung........
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD