Sedangkan dirumah keluarga Wijaya , Bu Sara terus saja bersedih karena tak menyangka jika anaknya memiliki kelakuan yang buruk.
"Hiks.. Hiks...." Tangis Bu Sara.
"Kenapa kau seperti ini?, Kau wanita yang baik kau anak ku yang paling aku sayang ,tapi aku tak menyangka kalau kau akan bersikap seburuk ini." Bu Sara berkata dengan wajah yang sedih dan kecewa.
"Anindya , mama selalu berusaha agar kau selalu bahagia tapi dengan begini kau justru membuat dirimu dipermalukan, hancur hati mama dengan apa yang telah terjadi." Bu Sara terus saja menangis.
Tiba-tiba , suara telepon berbunyi.
"Halo." Sapa Bu Sara.
"Halo ma, hiks..." Suara Karina menangis dari telepon.
"Karina , kenapa kau menangis? Apa ini semua karena kelakuan Anindya?" Tanya Bu Sara.
"Iya ma dan mama harus tahu kalau Anindya telah menikah dengan suamiku,hancur hatiku ma ,hiks...hiks.." Karina menangis tersedu-sedu.
"Apa? Jadi Anindya sekarang adalah istri muda suami mu?." Bu Sara merasa terkejut atas apa yang Karina beritahu kan.
"Iya mama." Karina hanya menangis, meskipun dia sebenarnya hanya berpura-pura dan berakting.
"Tapi bagaimana bisa ? Apa kau tak mencegahnya agar tidak menjadi istri muda suami mu?." Tanya Bu Sara.
"Mencegah bagaimana? Penduduk desa yang memaksa menikah kan mereka , hati ku sakit ma , adik ku sendiri yang menjadi istri muda suami ku dan menjadi madu ku, hiks...hiks.." Karina berpura-pura sedih , padahal sebenarnya dia sangat senang karena rencananya berhasil dengan baik.
"Dia memang keterlaluan ,mama benar-benar tidak menyangka dia bisa bersikap seperti ini." Bu Sara bernada serius dengan Karina.
"Aku benar-benar tak menyangka dia seperti ini, tapi meskipun begitu aku tetap lah kakaknya dan dia adalah adikku dan aku akan selalu menyayangi nya ma." Karina berpura-pura menangis.
"Kamu memang kakak yang baik dan pengertian , mama sangat sedih melihat kelakuan Anindya seperti itu kepada mu." Jawab Bu Sara dengan nada yang sedih .
"Sudahlah ma , sekarang yang harus mama pikiran adalah bagaimana dengan papa." Pinta Karina.
"Mama juga binggung , mama takut memberitahukannya kepada papa mu." Jawab Bu Sara.
"Mama harus memberitahukan nya karena pada dasarnya sepandai-pandainya kita menyimpan bangkai pasti akan tercium juga baunya." Pinta Karina.
"Mama tahu nak , tapi papa mu kan punya penyakit jantung dan mama takut kalau papa terkena serangan jantung. Mama benar-benar benci dengan Anindya , mama tak menyangka jika Anindya benar-benar mengecewakan mama ." Bu Sara menangis.
"Aku sudah berusaha memaafkan Anindya dan sekarang mama tetap juga harus bisa memaafkan nya ma dan kita harus memberitahu papa , karena nanti jika papa tahu dengan sendirinya itu pasti akan membuat papa terkena serangan jantung yang lebih dahsyat." Pinta Karina.
"Mama tahu , baiklah mama akan memberi tahukan kepada papa mu nanti meskipun mama sebenarnya ragu dan tidak yakin, hiks...hiks...." Jawab Bu Sara.
"Baiklah ma , aku percaya mama pasti bisa melakukannya." Jawab Karina.
"Karina , kalau begitu mama tutup teleponnya , mama akan berdoa semoga kau selalu diberikan kebahagiaan, assalamualaikum." Bu Sara menutup teleponnya.
"Walaikum salam." Karina menutup teleponnya.
Setelah Karina menutup teleponnya , dia melihat pantulan dirinya dari arah cermin dan tersenyum licik.
"Dasar wanita tua bodoh, hahahaha." Karina tertawa seperti orang gila.
"Anak sama ibu sama-sama bodoh dan hanya menang harta dan kekayaan, hahahaha." Karina kembali tertawa seperti orang gila.
"Memalukan sekali , tapi ya bagus juga mempermainkan orang bodoh dan memiliki otak udang seperti mereka , hahahaha." Karina sangat senang dan tertawa seperti orang gila yang kesurupan.
"Baiklah adikku Anindya Shafira Wijaya yang paling aku sayang akan ku buat kau merasakan pahitnya kehidupan pernikahan yang sesungguhnya." Karina pun tersenyum licik.
Sedangkan dirumah keluarga Wijaya , Bu Sara hanya terus melamun dan bersedih.
"Anindya , mama benci sama kamu mama benar-benar tidak menyangka jika kelakuan mu seperti ini , tapi mama juga tidak bisa membenci mu karena kamu adalah anak kandung mama , mama yang melahirkan dan merawat mu sampai sekarang ." Bu Sara hanya terus menangis.
Tak lama kemudian , pak Erlangga pulang ke rumah dan langsung menghampiri Bu Sara di kamar , saat pak Erlangga mulai menghampiri ,Bu Sara pun langsung menghapus air matanya.
"Ma." Panggil pak Erlangga.
"Iya pa." Jawab Bu Sara.
"Bagaimana ? Apa ada kabar Anindya?." Tanya pak Erlangga.
"Hmmmm." Bu Sara kaku menjawab pertanyaan pak Erlangga.
"Mama , apa Anindya baik-baik saja?." Tanya Pak Erlangga.
"Dia baik-baik saja kok pa." Jawab Bu Sara .
"Syukurlah kalau begitu, dimana dia sekarang berada ma ? Kenapa dia tidak pulang ke rumah ?." Tanya Pak Erlangga dengan sedikit merasa senang karena Anindya baik-baik saja.
"Papa, hiks..hiks..." Bu Sara menangis di pangkuan suaminya.
"Mama kenapa menangis." Tanya Pak Erlangga dengan mencoba menenangkan istri nya yang menangis.
"Apa jangan-jangan terjadi sesuatu kepada Anindya?." Tanya pak Erlangga dengan raut wajah kebingungan.
Bu Sara hanya terus terdiam dan menangis.
"Ma , katakan padaku." Pak Erlangga mulai kehabisan kesabaran.
"Anindya selingkuh." Jawab Bu Sara yang langsung terjatuh lemas ke lantai sembari mengeluarkan air mata.
"Apa?." Tanya Pak Erlangga yang terkejut.
"Bagaimana mungkin? Mama jangan berbohong , tapi selingkuh dengan siapa dia ?." Tanya pak Erlangga yang emosi.
"Dia selingkuh dengan Darren." Jawab Bu Sara.
"Darren suami Karina?." Tanya Pak Erlangga.
"Iya pa bahkan sekarang mereka telah pun menikah dan Anindya sekarang telah menjadi istri muda Darren." Jawab Bu Sara dengan tangisan.
Tiba-tiba Pak Erlangga yang mendengar ucapan Bu Sara langsung terkena serangan jantung dan pingsan.
Bu Sara pun membawa Pak Erlangga ke rumah sakit , selama perjalanan menuju rumah sakit Bu Sara hanya terus menangis dengan raut wajah yang ketakutan.
"Hiks.....hiks...." Bu Sara menangis sambil memeluk suaminya dengan erat .
"Papa , aku mohon yang tuhan tolong sembuh kan dia." Bu Sara berdoa dalam hatinya sepanjang perjalanan.
Tak lama di perjalanan , mereka pun sampai dirumah sakit dan dokter pun mulai memeriksa keadaan Pak Erlangga , dokter memutuskan jika Pak Erlangga dalam keadaan kritis dan harus dirawat intensif di rumah sakit.
Bu Sara menyetujui usulan dan saran dokter , kemudian Bu Sara pun menangis tersedu-sedu atas apa yang telah terjadi.
"Hiks ....hiks.....hiks...." Bu Sara menangis atas apa yang telah terjadi.
"Kenapa? kenapa ini semua terjadi ? apa ini karma untuk aku , hiks....hiks......" Bu Sara menangis dengan terisak-isak.
"Aku sebaiknya memberi tahukan kepada Karina bagaimana keadaan papa nya." Bu Sara pun mengambil hp nya dan menelpon Karina.
"Halo." Sapa Karina dari telepon.
"Halo Karina, hiks....hiks...." Bu Sara menangis dari telepon.
"Kenapa ma? Apa yang telah terjadi?." Tanya Karina.
"Papa mu masuk rumah sakit , hiks....hiks...." Bu Sara memberi tahukan kepada Karina dan menangis.
"Apa? Bagaimana bisa?." Karina terkejut.
"Mama kan sudah memberi tahu kamu jika papa kamu pasti akan kena serangan jantung jika kita memberi tahunya kenyataan yang terjadi dan pasti hancur hati papa ." Jawab Bu Sara dengan sedih.
"Aku benar-benar tak menyangka jika papa terkena serangan jantung , seandainya saja jika Anindya tidak melakukan hal memalukan itu pasti ini semua tidak akan terjadi." Karina bersedih.
"Mama juga kecewa dengan Anindya karena dia telah melakukan hal yang sangat memalukan ." Jawab Bu Sara yang bersedih.
"Aku hanya bisa berdoa dan berharap Papa akan baik-baik saja." Jawab Karina.
"Amin.... Kalau begitu kamu segeralah jenguk Papa mu di rumah sakit yang biasa ." Pinta Bu Sara.
"Baik ma , kalau begitu aku tutup teleponnya , assalamualaikum." Karina pun menutup teleponnya.
Setelah itu , Karina pun menangis dan dia pun dihampiri oleh Darren.
"Kenapa kau menangis?." Tanya Darren yang berusaha menenangkan Karina.
"Darren ,Hiks.....hiks..." Karina menangis dan memeluk erat Darren.
"Tenanglah , apa yang telah terjadi?." Tanya Darren yang menenangkan Karina dan memeluknya.
"Papa masuk rumah sakit dan ini semua karena Anindya ." Jawab Karina yang berakting pura-pura menangis.
"Apa????" Darren terkejut mendengar perkataan Karina dan dia pun berpikir jika dia telah salah besar karena pernah mencintai Anindya meskipun itu secara diam-diam.
"Aku benar-benar tak menyangka jika semua ini akan terjadi dan aku tak menyangka jika Anindya adalah wanita yang licik." Darren emosi.
"Sudahlah , jangan kau salah kan dia biar bagaimanapun aku sangat menyayangi Anindya karena dia adalah adikku." Jawab Karina.
"Karina memang wanita yang baik , aku menyesal selama ini telah menyia-nyiakannya dan aku sangat menyesal karena menyukai wanita yang salah." Gumam Darren dalam hatinya sambil memandangi wajah Karina .
"Sudahlah Karina kau tenang saja , aku yakin jika Papa pasti akan baik-baik saja." Pinta Darren dengan menghapus air mata Karina.
Ternyata semua kejadian itu dilihat oleh Anindya.
"Apa? Papa kena serangan jantung dan masuk rumah sakit." Anindya berkata dalam hatinya dengan raut wajah terkejut dan sedih.
"Aku harus menjenguk papa dan lagi pula aku tidak pernah berniat menyukai mas Darren dan ingin merebut nya dari kak Karina ." Gumam Karina dalam hatinya.
"Sudahlah Karina , ayo sekarang kita bersiap-siap untuk ke rumah sakit." Pinta Darren kepada Karina.
"Kau benar , ayo kita segera pergi saja." Karina pun menghapus air matanya.
Tiba-tiba Anindya datang menghampiri mereka.
"Kak , apa benar papa masuk rumah sakit?." Tanya Anindya.
"Iya papa masuk rumah sakit." Jawab Karina dengan nada lemah lembut.
"Kakak bisakah aku ikut ? Aku juga ingin menjenguk papa." Pinta Anindya.
"Tidakkkk." Bentak Darren kepada Anindya.
"Dengar ya , papa sakit karena kamu dan bisa-bisanya kamu ingin menunjukkan wajah mu di depan papa , kau tinggal saja di rumah ini." Darren memelototi Anindya dengan suara yang tinggi.
Anindya terkejut mendengar perkataan Darren yang membentaknya karena Darren yang dia kenal selalu bersikap baik kepadanya.
Sedangkan Karina yang mendengar ucapan Darren merasa terkejut namun juga bahagia atas sikap Darren.
"Hahahah." Karina tertawa dalam hatinya.
"Aku benar-benar tak menyangka jika Darren bisa bersikap seperti ini kepada Anindya." Karina merasa senang atas apa yang telah terjadi.
"Sudahlah Karina ayo kita pergi." Darren pun menggendong Karina dan membawanya ke kamar.
Sedangan Anindya setelah ditinggal Darren , dia pun mulai berpikir.
"Aku benar-benar tak menyangka Mas Darren bisa membentak ku seperti ini ." Anindya bergumam dalam hatinya dan bersedih.
"Baiklah Anindya kau jangan lemah , ayo kita ikuti mereka ke rumah sakit." Anindya pun memutuskan untuk pergi diam-diam ke rumah sakit .
Darren dan Karina tidak mengetahui jika Anindya diam-diam mengikuti mereka untuk pergi ke rumah sakit .
Di rumah sakit, Anindya menyamar berpakaian suster dan dia melihat dari jauh papanya yang terbaring lemah di atas ranjang tempat tidur rumah sakit.
Bersambung.....