Lanjutkan langkah menuju rumah dengan perasaanku gundah. Meski beberapa bulan telah berlalu tapi lubang menganga lebar di dalam hatiku masih bisa kurasakan. Seperti paku yang kamu tancapkan dulu sungguh meninggalkan bekas yang tidak mungkin bisa kembali utuh walaupun sudah tercabut pakunya. Ya sudahlah mungkin yang terjadi padaku sudah bagian dari rencana Tuhan untuk mendewasakan aku.
Sesudah beberapa menit berjalan, syukurlah aku sudah sampai rumah, pemandangan kedua orang tuaku dan satu adik kecilku yang bermain masak-masak mengobati sedikit kekecewaan hari ini. Aku menghampiri ibu dan bapakku menyalami keduanya serta adikku juga ikutan menghampiriku dan mencium tanganku. Sesaat kemudian aku masuk kamar dan berganti pakaian, dari luar terdengar suara adikku menawarkan sesuatu. Dan segera aku menghampiri mereka.
“Kak! Ini Adik punya es krim, mau gak?” Tanya adikku.
“Engga usah! Cuma satu biji doang nawarin, ntar kurang, nangis!” Ledekku dengan bercanda.
“Iya kalo Adik kurang kan tinggal minta belikan sama Kakak,” sahutnya.
“Wow, gitu ya!” jawabku.
Kulihat adikku melahap es krim dengan lahap, dia sudah terlihat terampil sehingga tak ada crime yang terluber di bajunya. Sepertinya adikku sudah paham kalau kakaknya tidak menyukai bajunya terkena noda.
“Bu, akhir-akhir ini Putri Hiranya di musuhi teman. Padahal aku tidak merasa membuat masalah dengannya, tapi kenapa aku di benci?” Tanya ku pada ibuku Lestari.
Aku berjalan ke arah ibuku yang sedang di duduk di teras menemani bapak yang tengah bekerja di halaman. Kemudian aku duduk di bangku bersamanya. Ku sandarkan kepalaku ke samping pundaknya. Ia membalas dengan menatap wajahku yang memelas ini lalu tersenyum sambil mengelus-elus pipiku dengan sangat lembut.
“Siapa pun pasti tidak mau jadi orang yang dimusuhi atau dibenci. Jika saat ini kamu berada dalam posisi itu, jelas ada penyebabnya,” terang ibu Lestari.
“Tapi, Bu! Bukankah Hiranya ini seseorang yang biasa-biasa,” seruku lagi.
Ku pandangi wajah ibuku dengan mengharap balasan jawaban yang bisa melegakan rasa penasaranku. Ibuku nampak tersenyum dan menyentil hidungku dengan manja.
“Terkadang, yang di tampilkan biasa, justru memiliki apa yang tidak temanmu miliki, ini jelas bukan soal materi tetapi tentang kualitas jiwamu yang lebih memancar dan inilah yang menjadi alasan rasa ke cemburuan atau iri hati bisa tumbuh dalam diri seseorang,” jawabnya pelan.
Dengan penuh kelembutan dalam bertutur kata ibuku memberikan aku pengertian. Pandangan dari seorang wanita sederhana itu membuat relung hatiku sejuk seperti tersiram tetesan embun.
“Iya jelas, Bu! Jika irinya Sinti sama Putri Hiranya bukan tentang harta, sungguh beda jauh dengan kondisi kita yang sederhana dalam menjalani kehidupan.”
“Ya jelas Nduk! Ibumu sama bapakmu itu, ibarat kata ‘gak kerja ya gak makan’ itulah keluarga kita, tetapi kerja kita di sini iyalah melakukan sesuatu yang dapat menghasilkan uang melalui proses yang baik (putih) agar mendapatkan anugerah Tuhan kebahagiaan negeri akhirat. Dengan begitu apa yang kita dapatkan dari jalan yang halal meskipun sederhana, namun bisa bikin ayem tenteram dan tenang kasih makan keluarga atau untuk kebutuhan selama hidup di dunia,” jelasnya.
“Bu, apakah yang di makan dari hasil yang baik itu bisa menjadi daging dan menjaga bersihnya jiwa, itu penjabaran bagaimana, Bu?” tanyaku.
“Ya, lebih jelasnya itu artinya makanan yang diperoleh dengan jalan yang baik atau halal bagi orang muslim, itu merupakan makanan yang baik, sehat dan sudah dipertimbangkan dengan akal serta ukuran kesehatan yang dapat memberikan nutrisi baik serta berguna bagi tubuh dan tidak bersifat merusak atau memberikan risiko gangguan kesehatan, tentu saja harus dengan takaran yang tidak berlebih-lebihan,” terang ibuku.
“Bapak tau kondo opo? Belajar soko opo wae seng muk petuk’i, tros di oncek’i lan jupuk hikmah e."
Bapak ku pernah bilang jika kita bisa belajar dari apa saja yang di jumpai. Terus di kupas dan di ambil hikmahnya. Bapak selalu mengingatkan agar anaknya mengingat terus apa yang orang tuanya nasihatkan. Karena kita hidup juga ada batasnya, tidak mungkin kita hidup terus. Jadi jangan sampai di perbudak keserakahan, harus tetap menyertakan hati. Seperti itulah nasehat dari bapak Wiryo Kusumo dengan bahasanya yang campur aduk.
“Pak! Berarti, semodern apapun perubahan kehidupan nanti, kita sebagai manusia tetap tidak boleh di perbudak rasio dan mengabaikan hati?” Tanya ku.
“Ya itu kembali pada manusia itu sendiri, mau menjalani dengan memakai salah satu atau menggunakan keduanya. Kalau ajaran Bapakmu untuk keluarga kita, jangan biarkan rasio itu mengalahkan hati. Jangan pula menjerumuskan pada tindakan yang mengawur, menyakiti dan merugikan orang lain. Itu dapat merusak hati, jiwa dan raga, karena sudah menumbalkan sesamamu. Dan semua yang di lakukan manusia itu ada perhitungan yang akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Tuhan. Jangankan kelak, wong sekarang saja yang masih hidup di dunia sudah bisa langsung mengunduh hasil perbuatannya,” jawab bapak.
“Iya Pak! Aku kan bisa melihat bagaimana keluarga kita menjalani kehidupan dan tentu saja di luaran sana itu ada yang tidak sama. Mereka memiliki prinsip sendiri, seperti mencari harta dengan cara merampok, mencuri, atau menyerobot hak orang lain, itu biasa bagi mereka. Ya hidup itu kan pilihan, mau menjadi apa dan melakukan apapun pilihan ada di tangan masing-masing orang. Segala sesuatu yang di pilih, baik atau tidak tetap semua itu ada risiko yang menyertai,” sambung ku lagi.
Suasananya memang betul-betul indah dan semakin seru. Matahari terbenam menghiasi Langit sore di iring sentuhan lembut angin sepoi-sepoi. Sungguh ini yang menambah nyaman suasana senja di pedesaan. Obrolan sore ini benar-benar seru dan menambah wawasan untuk aku. Ini menjadi bekal untuk sehari-hari ku dalam mengarungi samudera kehidupan dunia. Semoga terlahir dari keluarga yang sederhana ini, suatu saat aku bisa mewujudkan apa yang menjadi cita-citaku. Semoga juga bisa menjadi manusia yang bermanfaat. Kita sekeluarga mengobrol dengan antusias, sambung menyambung obrolan dengan bijak.
“Iya, Nduk! Biarlah orang lain mengambil jalan sesuai keinginannya, mau lurus, belok, naik, turun, halus, licin atau terjalnya jalan pintas, itu urusan mereka. Yang penting kamu menjadi diri sendiri, dengan bekal kewaspadaan, kehati-hatian, selalu ingat nasehat orang tuamu,” jelas ibuku lagi.
“Iya Bu, apa lagi di dalam dunia ini manusia akan selalu di uji keimanannya dalam setiap perbuatannya, kalau tidak berhati hati sudah pasti akan mudah tersesat. Dan dengan menjadi diri sendiri berarti kita memiliki identitas diri, ketika kita menghadapi situasi merasa diri tersesat atau terpengaruhi, maka kita akan dapat menemukan kembali jalan yang benar. Iyakan Pak, Buk?”
“Yo iyo, wong seng eleng lan waspada kui bakale tetep selamet. Narimo peparing seng kuoso, ojo kakean ngeluh."
Orang yang ingat dan waspada itu pada akhirnya akan selamat. Menerima pemberian Tuhan yang maha kuasa dan jangan banyak mengeluh. Itulah nasehat yang di tuturkan bapakku.
Di teras rumah minimalis ini, aku dan keluargaku terlihat seru mengobrol menunggu matahari terbenam. Di pelataran rumah ku lihat bapakku nampak sibuk sendiri melakukan pekerjaan laki-laki. Berkali-kali bapak mondar-mandir keluar masuk rumah untuk mengangkat karung yang berisi padi kering yang telah di jemur siang ini.
“Bapak ini juga gak mau kalah, ikut nimbrung ya kan Buk?” cetus ku.
Kemudian aku tertawa dan menyambung obrolan lagi “Hahahaha, Bapak bisa aja.”
Bapakku dan ibuku memang bukan dari satu daerah yang sama, makanya keduanya memiliki bahasa yang berbeda. Bapak ini berasal dari salah satu desa di wilayah Yogyakarta atau disebut juga dengan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Daerah ini merupakan provinsi tertua nomor dua di Indonesia, setelah Jawa Timur. Provinsi ini memiliki status istimewa atau otonomi khusus, karena merupakan sebuah warisan dari zaman sebelum kemerdekaan.
“Wong Jowo iki yo ngeneki! Masio wira wiri ya ijik gelem naroh, kudu ramah."
Orang Jawa itu ya seperti ini. Mondar-mandir ya masih mau menegur, harus ramah.
Bapak terlihat begitu gagah dengan beban di pundaknya, berkali kali Beliau harus mengangkat dan menurunkan yang dipanggulnya. Tampak di wajahnya yang khas orang Jawa, ramah dan santun dan juga pekerja keras. Inilah yang menjadi ciri khas ketika mereka berbaur dengan suku lain dan menjadi sifat-sifat dasar yang diturunkan oleh nenek moyang mereka.
“Udah dlewer keringat (bermandikan keringat) Bapak rehat dulu! Kalo ngobrol itu sambil duduk! Ini kok wira – wiri,” tegur ku canda.
Kutarik lengan bapakku, namun dirinya malah mengusapkan keringat dari ketiaknya dan di oleskan ke lubang hidungku.
“Aahhh, Bapak! Ih jorok,” tukas ku.
Lalu kubawa diriku berlari menuju kamar mandi. Sabun cair di atas bak mandi secepatnya aku pencet kemudian mulai menggosok-gosok bagian hidungku. Gayung ku jeburkan untuk ambil air. Aku membasuh mukaku yang berbau sambal terasi. Seusai membersihkan paras ku, aku pun kembali ke depan dan berpindah tempat duduk. Dengan wajah yang sedikit kesal ku menutup mulut dan hidungku dengan ke dua tanganku ini.
“Dasar Bapakmu ini mengerjai anak saja.” Seru ibuku dengan menahan tawa.
Kak, kenapa Kak?” Tanya adikku.
Dia tampak melonga-melongo di depan kamar mandi, terlihat wajahnya yang mengantuk dan kebingungan tapi juga penasaran melihat kakaknya berlari ke kamar mandi. Kulihat adikku berlari keluar karena tak mendapatkan jawaban dari penasarannya. Kemudian dia bertanya kepada bapakku.
“Bapak, kakak itu kenapa?” Adik ku bertanya. Ia nampak bingung melihat ku berlari ke belakang.
“Di kasih parfum ketek sama Bapak,” sahutku.
“Hahahaha, dih jorok baukk,” sahutnya.
Dengan tawanya sambil menutup hidung dan masuk ke dalam rumah. Ku perhatikan adikku tengah duduk asyik menonton acara anak-anak.
“Geser Bu, aku tukar tempat duduknya. Udah gak mau sebelah situ lagi,” jawabku dengan merajuk.
Aku geser-geserkan pinggulku ke posisinya ibuku duduk. Lebih aman rasanya jika aku tidak berada di posisi dekat ayah yang mondar-mandir, berlalu lalang seperti kendaraan.
“Kapok gak! Jangan salah, Nduk! Aroma ketek Bapakmu ini bisa ngangenin, tuh tanya Ibumu?”
Kata bapakku dengan bercanda.
“Haaaaaa ....” betapa terkejutnya aku, terdiam sejenak kemudian terbahak-bahak “wkwkwkw."
Dari Beliau aku belajar keikhlasan, kesabaran, ketulusan, kejujuran serta bagaimana menghadapi kerasnya hidup. Terlihat bapakku sudah berkeringat lelah, kemudian berselonjor bersandar di tembok, lanjut di raihnya kendi berwarna hitam lalu meminumnya.
“Awet cilik, Bapakmu iki yatim piatu. Golek pangan dewe, mulane tirunen semangat’e Bapak iki."
Sedari kecil memang bapak ku ini yatim piatu. Mencari makan sendiri dan aku akan meniru semangatnya yang luar biasa.
“Njih, Pak.”
“Awakmu kudu kuat, ojo ngasi ciut atine peh lahir soko keluargane wong biasa."
Aku harus kuat, jangan sampai berkecil hati karena terlahir dari keluarga yang tidak punya.
“Dalem niki bangga gadah tiyang sepah kados panjenengan."
Jujur saya ini bangga memiliki sosok orang tua seperti mereka.
“Nduk, sekolah seng temen, ojo kakean polah!"
Bapak menyuruhku untuk sekolah yang sungguh-sungguh, jangan banyak tingkah. Aku akan selalu mengingat nasehat bapak Wiryo Kusumo.
“Njihh, Pak. Nyuwun padongane Bapak lan ibu."
Sebagai anak aku memohon doanya bapak dan ibuku.
“Lulus sekolah, mikir kuliah terus kerjo."
Bapak menyuruh setelah lulus sekolah boleh kuliah terus kerja. Beliau berbicara dengan tegas.
“Heemmmm ....”
“Bapakmu ini juga gak mau kalah, ikut nimbrung juga. Sudah sore ini, mandi dulu Pak,” sahut ibuku.
Ibuku seolah sudah paham jika bapak mulai berubah nada suaranya. Seolah-olah ibuku tidak ingin melihat obrolan berubah jadi tegang, akan lebih baik mengalihkan pembicaraan. Ekspresi wajahku yang nampak sedikit takut, mengiyakan permintaan bapakku. Mungkin nalurinya sebagai seorang ibu bisa merasakan apa yang terjadi pada anaknya yang beranjak dewasa ini. Beberapa saat kemudian, bapak pun beranjak dari tempat selonjornya, bangkit menuju kamar mandi.
“Nasehat Bapakmu itu baik, bapak pingin kamu sukses. Yang penting kamu bisa ingat nasehat orang tua, selalu waspada, berhati-hati dan Ibu tidak ingin terlalu keras menekan mu dalam mewujudkan impian-impian kamu,” tutur ibuku.
“Iya, Bu.” Sahutku.
Mempunyai keluarga dengan latar belakang yang berbeda serta dari daerah yang juga berbeda pula, sungguh membuat aku semakin bertambah wawasan. Ibuku ini berasal dari Senapelan. Itu merupakan suatu daerah yang dulunya adalah ladang. Seiring berjalannya waktu, lambat laun berubah menjadi perkampungan. Kemudian perkampungan Senapelan ini berpindah ke tempat pemukiman baru disebut dusun Payung Sekaki, yang terletak di tepi muara sungai Siak. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan jaman, Senapelan diganti namanya menjadi Pekan Baharu. Jadi mulai saat itu sebutan Senapelan sudah ditinggalkan dan mulai populer dengan sebutan Pekan Baharu yang dalam bahasa sehari-hari disebut Pekan Baru. Dari Kota Pekan baru yang paling aku ingat adalah slogannya yang berbunyi “KOTAKU, KOTAMU DAN KOTA KITA BERTUAH” di sinilah tempat lahir ibuku. Aku yakin, jikalau ibuku ini bukan orang yang memiliki otak biasa, ia itu sosok yang cerdas. Ia mengecap pendidikan yang lumayan bagus lulusan D3 sarjana ekonomi. Pendidikan ini cukup bagus untuk ibuku lahir di tahun yang lumayan tua. Kan, sebenarnya ibuku dari keluarga yang berada dan ini jarang orang sekitar ku tahu, karena dalam keseharian Ibuku lebih menunjukkan kesederhanaannya sebagai ibu rumah tangga.
Dari ibuku ini aku belajar tentang manusia yang sederhana namun berkualitas. Ibuku mengajariku untuk selalu bisa menghargai setiap pencapaian yang sudah di raih dengan cara mensyukurinya. Menghempaskan segala pikiran negatif tentang ke tidak percayaan diri serta meremehkan diri sendiri dan ganti dengan self-love. Buang jauh racun-racun yang biasa memenuhi pikiran, kebiasaan buruk yang menguras energi, sikap iri hati, gemar menghakimi, dan hal negatif lainnya ,itu yang mesti dihilangkan. Sedikit bicara banyak kerja, dari pada sekedar berkata-kata yang bisa membuang energi, akan lebih baik jika berani berbuat untuk merealisasikan sikap “ talk less do more” akan mendatangkan banyak manfaat. Dan yang paling penting di antara semuanya adalah, sikap welas asih sebagai manusia kita harus memiliki simpati dan empati untuk menolong orang lain dengan penuh ketulusan.
Jika kamu bertanya padaku.
Kasih sayang siapa yang tiada batas?
Aku akan menjawab ibu.
Siapa yang paling terluka jika kamu salah arah?
Aku juga tetap menjawab ibu.
Ibu itu bidadari bagi putra-putrinya.
Yang tersenyum ramah dan tulus mencintai.
Ia ibu terus menemani.
Walau tak lagi di sisi namun menyaksikan dari langit Nya.
Dari surga Nya senyum itu terlihat menawan menatapmu yang sedang bahagia.
Tapi jika kamu terluka ia akan muram seperti langit malam yang menunggu sang bulan.
Semoga cinta ibu bisa di temukan dalam diri wanita yang di cintai.
Semoga kasih ibu menuntun mu menemukan jodoh sejati.
Langit sampaikan salam buat ibu yang sudah di surga Mu.
Kami anak-anak yang merindukan belaian dan cinta kasihnya.
Buat ibu yang masih setia disisi terima kasih atas apa yang sudah engkau korbankan untuk anakmu.
“Nduk! Ibu lama banget gak lihat Nak Elang main ke sini?” tanya ibuku.
“Wahh! Ibu ini sudah membahas di luar topik, ini melenceng,” sahutku.
“Iyakan Ibu, sekedar nanya. Kasihan kalau ingat, masih muda sudah kehilangan kasih sayang seorang ibu untuk selamanya. Tapi sudah kehendak Tuhan harus terjadi seperti itu, ” kata ibuku.
“Iya kok tiba-tiba jadi bahas dia."
Namun untuk beberapa saat ibuku nampak terdiam seperti ada sesuatu yang di pikirkan. Aku tahu pasti ibu sedih, jadi aku biarkan ia untuk hening beberapa saat, dan aku juga ikut terdiam, sabar menunggunya untuk melanjutkan cerita. Ibu adalah sosok wanita yang paling mulia, karena pengorbanannya untuk melahirkan anak-anaknya iyalah dengan mempertaruhkan nyawanya. Sembilan bulan mengandung, hingga melahirkan, merawat sang buah hati dengan penuh kasih sayang.
Berusaha sabar menahan keluh kesah yang muncul dari bibirnya, ia begitu ikhlas tanpa pamrih menjalankan perannya. Menjadi ibu adalah kebahagiaan bagi seorang wanita. Sungai kasih sayang ibu mengalir menuju lautan lepas menampung cinta anak-anaknya. Tapi bagaimana jika sosok ibu harus pergi meninggalkan anaknya untuk selama-lamanya.
“Ibu itu menyesal banget dulu gak bisa lihat terakhir kali oma mu. Ya waktu itu Ibu baru menikah sama bapakmu, jadi Ibu memutuskan untuk pindah ke kampung kelahiran kamu ini. Itu pun juga atas izin oma, iya gak menyangka pas dalam perjalanan dapat kabar kalau oma meninggal. Di siti Ibu kaget dan syok banget. Gak tahu mesti gimana lagi, putar balik juga gak mungkin karena Ibu sama bapak sudah di tengah perjalanan air. Bersyukur ada bapak yang menguatkan Ibumu ini, membimbing Ibu dan mengajari banyak hal. Ibu dulunya terbiasa apa-apa enak keturutan. Semenjak kenal ayah hidup Ibu lebih mandiri dan tertata, Ibu senang tinggal di sini,” cerita ibuku.
“Jadi Ibu dulu dimanja sama oma ya?” tanyaku.
“Iya karena Ibu kan anak satu-satunya. Tapi meski keturutan tapi Ibu gak begitu manja. Kan opa mu itu keras jadi Ibu juga sedari kecil di ajari disiplin,” jawab ibuku.
“Pantes saja Ibu terlihat tegar meski telah kehilangan opa.”
“Kan harus berusaha untuk ikhlas, waktu pasti akan menyembuhkan luka dari kehilangan. Sedih nangis kehilangan seseorang yang meninggalkan kita untuk selama-lamanya, itu pasti. Tapi Ibu sadar, menangisi kepergian oma tidak akan mengubah takdir kematian, justru hanya akan memberatkan langkahnya menuju jalan pulang ke Tuhan yang Maha Kuasa. Tapi entah kenapa Ibu merasa oma tetap hidup di hati Ibumu ini. Setiap hari doa Ibu tak pernah putus untuk oma. Mungkin karena doa yang tersambung yang membuat Ibu merasa oma seolah masih hidup ada dan baik-baik saja di Pekan Baru sana,” lanjut kisah ibuku.
“Kalau Jagat Elang sepertinya masih susah untuk bisa sepenuhnya ikhlas, apa lagi di balik ceritanya seperti itu, Entahlah Bu!,” ungkap ku.
“Iya biasanya kan kalau anak laki-laki itu dekatnya sama ibunya, apa lagi Elang itu anak terakhir. Jelas pasti bakal syok hebat pas ditinggalkan ibunya. Kelihatan dari sorot matanya dia ada duka yang tersembunyi kan di balik sikap gagahnya.”
Ibuku memberikan pengertian untukku.
“Iya betul sekali, semenjak ibunya meninggal ada banyak perubahan dari Jagat Elang. Sama Hiranya yuh, jahilnya minta ampun! ” imbuh ku.
“Buk! Kok tiba-tiba jadi bahas dia ya,” tanyaku.
“Justru itu karena sudah lama gak membahas makanya sekali-sekali bercanda bahas calon mantu,” canda ibuku.
“Eh! Ibu ....”
Sekdakab ku dengan mimik wajah yang berubah jadi kesal, karena masih terbawa suasana di sekolah tadi. Betapa kagetnya tiba-tiba berubah haluan dari pembahasan epik kehidupan jadi pembahasan Jagat Elang. Entahlah akankah aku ceritakan atau aku pendam. Aku masih diam berpikir dalam batin.
“Ya sudah, yuk kita balik lagi ke laptop! Eh, maksudnya ke Sinti Hatala,” canda ibuku sambil menirukan dialog presenter komedi Tukul Arwana.
Kedua tangan meraih wajahku dan menggeleng-gelengkan kepalaku dengan pelan. Ia berusaha membuat lelucon untuk merayu dan mengembalikan keceriaan ku.
“Gak lucu ....”
“Masa iya gak lucu? Lucu, itu buktinya kamu menahan tawa, hahahahaa," ucapnya sambil tertawa seru.
“Hiranya, harus bisa sabar, hadapilah kemarahan Sinti dengan elegan, kekerasan jangan sampai kamu lawan dengan kekerasan. Api itu harus kamu siram dengan air,” lanjut ibuku meneruskan obrolan yang sempat terpotong.
“Iya, Bu.”