“Jagat Elang! Sadar, jangan sampai kelewatan,” kataku untuk mengingatkannya.
"Dikit," jawabnya singkat.
"Tapi nyaris! Nyaris ku tendang maksudnya," lanjutku.
Kita saling melempar senyum.
“Heemmmm,” jawabnya sambil melepaskan tangannya yang memelukku.
Jagat Elang mengelus rambut hitamnya berkali-kali nampak Jagat Elang terlihat salah tingkah dengan apa yang sudah di lakukan. Mungkin dia sangat malu karena harga diri sebagai lelaki jantan dalam beberapa saat sirna di hadapanku. Jagat Elang yang terkenal dengan sosok yang gagah, cuek, keras dan kasar tiba-tiba lembut seperti kucing Persia yang sangat jinak kepadaku.
“Jagat!” Panggilku.
“Iya Hiranya,” jawabnya.
"Sebentar lagi aku akan pergi!" kataku sambil menunduk.
"Jangan!" Ucapnya sedih.
"Gak bisa gitu, ya harus pergi kok!" Ketus ku.
"Kemana?" Tanya Jagat Elang.
"Aku akan melanjutkan kuliah di Universitas AMIKOM Yogyakarta.
"Kenapa memilih kuliah di situ?" Tanya Jagat Elang.
"Iya alasanku menempuh pendidikan di sini karena Fakultas ini merupakan salah satu perguruan tinggi yang berkonsentrasi pada bidang industri teknologi kreatif yang menghasilkan lulusan dengan daya saing pasar internasional," kataku seraya menjelaskan kepada Jagat Elang.
"Kita akan berpisah dalam waktu yang lama Hiranya," sahutnya.
"Kan aku juga bisa pulang kalau ada libur. Lagian aku pulang atau engga itu udah gak ada urusannya sama kamu. Ingat Jagat Elang status yang kita cuma apa? Teman!"
Aku berusaha untuk terlihat baik-baik saja meskipun pada kenyataannya aku sebenarnya juga sedih. Aku gak pingin pisah sama kamu tapi Sinti Hatala sudah jahat banget karena merebut kamu dari aku.
"Tega ngomong kayak gitu!" Cetusnya.
"Ahhhhh sudah lepaskan!" Pintaku kepada Jagat Elang.
“Aku mau pulang.”
Sejenak terdiam dan saling beradu pandang.
“Dan aku juga harus pulang, aku gak ingin melihat ayahku khawatir," ungkap Jagat Elang.
Mengalihkan pandangannya ke tempat parkirnya.
“Iya udah pulang gih,” sahutku.
Mendorong bahunya dengan pelan namun dia tidak bergeser sedikitpun.
"Hiranya, maafkan aku ya. Kemarin aku tidak bisa jadi yang terbaik tapi jika aku berusaha memperbaiki diri apakah aku masih akan kamu berikan kesempatan?" Jagat Elang terlihat serius.
"Jagat, seharusnya aku yang minta maaf! Dan maafkan aku ya. Aku sudah sadar siapa aku dan siapa kamu. Mungkin benar kata Sinti Hatala jika kamu lebih pantas sama dia yang kaya harta dari pada aku apa, cuma kaya hati!! Hahahaha," ungkap ku dengan rasa sedih tapi aku tampakkan di luar seolah baik-baik saja.
Tanpa bisa di ajak kompromi bulir-bulir air mataku jatuh tanpa izinku.
"Jangan ngomong seperti itu, aku maunya sama kamu Hiranya!"
Jagat Elang kembali memelukku dengan sangat erat. Aku pun mampu merasakan jika ini adalah pelukan perpisahan.
"Kita lanjutkan hidup masing-masing ya. Kamu jangan bandel. Kamu jaga kesehatan, jangan begadang aja. Aku tahu selama kita putus disitu kamu mengabaikan dirimu, tidur malamnya hancur. Kamu begadang, menghabiskan waktu di handphone sampai larut malam. Bahkan kamu sering gak tidur, iyakan? Itu yang aku gak suka dari kamu, maaf ya! Kamu beda jauh dari Jagat Elang yang aku kenal dulu," ungkap ku dengan suara serak menahan tangis.
"Maafkan aku Hiranya! Maafkan aku. Kasih kesempatan untuk aku, ya!" Pinta Jagat Elang.
"Gak perlu minta maaf padaku. Kamu tahu meskipun aku diam dan cuek bukan berarti aku tidak peduli denganmu. Aku tetap mendoakan yang terbaik buatmu kok. Gak usah khawatir, kita gak perlu bermusuhan walaupun hubungan kita sudah berakhir," ungkap ku kepadanya.
"Aku gak bisa gitu aja melupakan kamu, Hiranya. Kamu sudah mengambil alih hatiku. Kamu sudah menguasainya, kamu telah mengusirku dari hatiku sendiri dan membuat setengah jiwaku bersemayam di hatimu."
Ungkapnya dengan jujur tanpa Jagat Elang sadari matanya berembun dan bulir matanya terjatuh.
"Sama aku juga, aku akan memberikan tempat terbaik di hatiku. Tapi lanjutkan hidupmu tanpa aku. Kamu berhak bahagia dengan orang yang lebih cantik, pintar, kaya dan pokoknya lebih baik segala-galanya dari seorang Hiranya yang biasa ini," tegas ku kepada Jagat Elang.
Jujur berucap seperti itu juga menyakitkan hatiku sendiri. Melepaskan orang sebenarnya masih kita cintai. Namun entah kenapa aku lebih mengutamakan logika dari pada hatiku. Aku mungkin terlihat baik-baik saja dari luar tetapi jauh di dalam lubuk hatiku aku merasakan insecure. Aku sebenarnya tidak pernah ingin bersaing dengan siapapun. Aku hanya ingin menjalankan Kehidupanku dengan tenang tanpa pertikaian dan persaingan. Aku ya aku dengan keunikan dan keistimewaan ku tersendiri. Kamu ya kamu, dia ya dia dan mereka ya mereka dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
"Aku gak tahu mesti ngmo apa lagi," jawab Jagat Elang.
"Baik-baik ya Jagat Elang," sambung ku.
"Entahlah," jawabnya singkat.
"Aku percaya yang suka kamu banyak. Itu yang ngantri berjejer. Beda sama aku gadis kampung yang sederhana. Gak pantas buat kamu yang aslinya keren begitu," lanjut ku.
"Sudah Hiranya jangan merendah terus. Aku percaya kok kamu itu berbeda. Kamu tidak seperti cewek pada umumnya. Kamu itu seperti Mutiara di dasar Samudera. Dan tidak mudah mendapatkan cintamu karena harus menyelam ke dasar laut untuk mengambil hatimu. Aku juga tahu kamu tidak mudah jatuh cinta, kamu tidak materialistis. Kamu tidak mudah ditundukkan dengan harta," jelas Jagat Elang.
"Ahhhhh, ternyata Jagat Elang Hartono juga bisa berbicara lebay," sahutku.
"Aku bicara sesuai realita kok," kata Jagat Elang.
"Tapi kata Sinti Hatala, aku hanya segelintir pasir yang tidak berguna," kataku kepada Jagat Elang.
"Dia kan iri dengan jiwa ragamu, makanya terus saja menjudge kamu. Sedangkan aku pernah menjalin cinta denganmu dan akhirnya putus karena ego kita yang waktu itu masih setinggi Mendung. Tapi setelah kamu tidak ada dalam kehidupanku, disitulah aku mulai merasakan kehilanganmu, aku baru tahu kamu itu unik, berbeda, spesial dan dewasa," ungkapnya.
"Oh, berarti dari putusnya hubungan ini kamu dan aku bisa saling introspeksi," sahutku.
"Betul Hiranya. Semoga kamu bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dari aku ya," lanjut Jagat Elang.
"Ehmmm, kemanapun kaki kita berpijak dan sejauh apapun mengarungi Samudera kehidupan. Yakinlah suatu saat aku dan kamu akan kembali, jika Tuhan menghendakinya. Jiwamu akan dituntun oleh kekasih sejati menuju rumahnya. Semoga kamu menemukan jodoh sejati Jagat Elang."
"Kalau kamu pergi aku juga akan pergi."
Dia berjalan perlahan menuju bangku di dekatnya.
"Loh, kenapa? Kok ikut-ikutan sih," tanyaku.
Aku mengikuti langkahnya dan duduk didekatnya.
"Aku akan pergi ke Jakarta dan melanjutkan kuliah di sana.
"Iya bagus dongg. Semoga kamu jadi orang yang sukses dan bisa memenuhi janjimu," kataku menyemangatinya.
“Kamu mau aku anterin?" Tanya Jagat Elang.
“Aduhhhh, bisa berabe!" Sahut ku.
Aku menepuk jidatku dengan pelan.
“Kenapa?” Tanya Jagat Elang.
Wajahnya kembali mengarah ke wajahku dan menatapku dalam-dalam.
“Iya gak ada, gak ada apa-apa kok,”
Menghempaskan telapak tanganku dengan maksud memberitahu bahwa tidak ada apa-apa.
“Halah, pasti kamu menyembunyikan sesuatu,” goda Jagat Elang.
Jagat Elang nampak mendekatkan wajahnya ke parasku, matanya tampak teduh dengan senyum sedikit terlihat lebih tampan.
“Lahhhh apa sih! Kan rumahku itu dekat,” jawabku pada Jagat Elang sambil menunjuk ke arah rumahku.
Menghempaskan tanganku ke wajah Jagat Elang dengan pelan.
“Aku tahu, jangan-jangan kamu takut sama bapak kamu, hahahahaa,'’ ledek Jagat Elang sambil tertawa terbahak-bahak.
“Takut kenapa? Bapakku baik dan gak menakutkan! Sudah ah, aku mau pulang, terserah kalau kamu masih mau di sini! Ketus ku lagi.
“Gak usah mengelak,” ucap Jagat Elang.
“Enggak,” sahutku.
"Engga apa? Ha!" Balas Jagat Elang.
Kulangkahkan kakiku berlalu dari hadapan Jagat Elang. Namun baru dua langkah tanganku di tarik kencang sama Jagat Elang.
"Jagat!'' Seruku.
Karena diriku terkejut dan tak ada persiapan khusus untuk menghindar maka jatuhlah badanku ke dalam pelukannya Jagat Elang.
"Apa?'' Dia bertanya sambil tersenyum mengamati diriku yang salah tingkah.
"Kamu kok—
"Iya kenapa?" Ia terus menatap mataku.
Tak bisa aku mendeskripsikan tentang bagaimana reaksi kimia antara dua anak manusia laki-laki dan perempuan yang sedang berduaan.
"Aahh ntar itu," jawabku.
"Bodo amat aku tidak ingin membuang-buang kesempatan yang ada," sosornya.
Ya, begitulah aku rasa masih dalam tahap yang wajar dan tidak menyalahi aturan. Toh sekedar pelukan hangat dari seorang mantan, bukan dari sang kekasih sejati. Anggap saja ini reuni kecil-kecil yang tanpa rencana tanpa janjian jadi suatu kebetulan dan sah-sah saja jika keduanya sama-sama tidak memiliki pasangan. Dan tentu saja aman tanpa ada yang memarahi dan melarang. Tetapi beda halnya jika mantanku ini sudah di incar kekasih baru, jelas saja aku di jambak dan di dorongnya. Seperti tadi yang sudah di lakukan Sinti Hatala. Seseorang yang dekatnya hanya sebagai teman biasa, namun berani lancang dengan mengatur Jagat Elang untuk tidak boleh dekat dengan perempuan lain selain dirinya, itu jelas salah besar. Bagaimana pun Jagat Elang bebas dalam menentukan pilihan, hatinya mau di jatuhkan untuk siapa itu hak Jagat Elang sepenuhnya.
"Uhhh, dasar Jagat Elang!" Gerutu ku.
"Gak ada yang masalahin, iyakan?" Protes Jagat Elang.
"Gak tau kan! Ehmmm, entahlah," sambung ku.
"Kita gak ada yang larang!" Ucapnya lirih di dekat telingaku.
"Gak tau!" kataku.
Seandainya Jagat Elang masih menyukai kekasihnya di masa lalu dan kekasihnya juga memiliki perasaan yang sama itu boleh-boleh saja. Bukankah cinta yang dipaksa itu tidak akan pernah bisa menghadirkan kenyamanan dalam hati. Siapapun termasuk Sinti Hatala juga tidak boleh memaksa Jagat Elang yang tidak mencintai untuk bisa membalas cintanya Sinti Hatala.
"Tahu, tapi ... sengaja pura-pura gak tahu. Dasar, jinak-jinak burung emprit," ledekannya.
"Apa! Masak burung emprit, duhhh!" Gerutu ku.
"Hahahaa," tawa Jagat Elang.
Dan menurut pandangan seorang Putri Hiranya, tindakan Sinti Hatala itu tidak salah jika dia mencintai seseorang tetapi yang keliru itu dalam menempatkan posesif dan cemburunya, kan Jagat Elang bukan kekasihnya.
“Aku tahu sebenarnya hatimu gak bisa begitu saja mengusirku,” ucap Jagat Elang.
“Apa sih, jangan mengigau deh,” sahutku.
“Ini masih sadar aku,” balasnya sambil terus menatap wajahku.
“Aku mau pulang Jagat Elang,” pintaku dan kelepasan pelukannya.
“Aku antar ya?” ucapnya dengan menatap mataku.
“Tapi ....”
“Udah santai saja, gak apa-apa,” bujuk Jagat Elang padaku.
“Maaf Elang lain waktu saja!” Jawabku sambil berlari meninggalkan Jagat Elang.
“Hiranya tunggu! Biar aku antar,” sahutnya.
Tak ku hirau kan peringatan Jagat Elang, aku terus berlalu dari hadapannya.
Tampaknya Jagat Elang berusaha mengikuti ku dari belakang. Dengan segera aku berbelok melewati jalan pintas adalah jalan alternatif di mana kendaraan Jagat Elang tidak bisa melewatinya. Kemudian aku pun berhenti sesaat dan melihat ke ujung jalan. Di sana Jagat Elang terlihat menghentikan motornya. Dia diam dan hanya memperhatikan aku dari kejauhan, terlihat senyumnya yang di paksakan karena ada kekecewaan yang dia sembunyikan. Di sana di wajahnya terpampang penuh kekecewaan dan rasa bersalah. Penolakan hari ini mungkin telah melukai perasaan Jagat Elang. Memang aku sengaja melakukan ini untuk menghindari adanya masalah baru.
Bagaimana pun yang ku lewati beberapa bulan kemarin itu tidak mudah, hinaan, makian dan perlakuan kasar Sinti Hatala membuatku bisa berpikir bagaimana sudah seharusnya aku menjauhi Jagat Elang. Tindakan kasar yang kamu bilang hanyalah sandiwara untuk menyelamatkan aku dari Sinti Hatala, justru malah mengoyak jiwaku. Tanpa ada sepatah kata perpisahan kamu begitu saja berlalu, pergi meninggalkanku. Dari hari ke hari, berganti Minggu ke Minggu dan berganti bulan. Itu aku lalui dengan sangat berat, tangisan, kesedihan, kemarahan, kekecewaan dan sakit hati yang teramat dalam. Masih aku ingat hancurnya perasaanku, bagaimana aku di lihat kan pada kenyataan bahwa kamu ternyata dekat dengan yang lainnya. Dan ternyata sakitnya masih belum seberapa, malah lebih terkoyak-koyak ketika aku tahu yang dekat dengan kamu adalah Sinti Hatala, temanku sendiri.
Saat itu aku sama sekali tidak mampu berpikir dengan baik, apa yang aku lihat adalah suatu pembenaran. Aku genggam segala luka itu dan tersimpan rapat dalam relung hati, semakin lama semakin aku mempercayai bahwa kamu lebih menggunakan rasio mu untuk membandingkan kondisiku yang sederhana dengan kondisi Sinti Hatala yang lebih bergelimang harta. Aku tahu kamu lebih menggunakan logika untuk suatu alasan jelas. Kamu menghempaskan perasaan demi kepentingan pribadi yang lebih terlihat masuk akal untuk kepentingan mu saat itu. Atas apa yang sudah kamu dan Sinti Hatala lakukan, bukan sekedar menyakitkan tapi lebih dari itu. Penghinaan, makian perempuan seperti Sinti Hatala dan perlakuan mu juga telah mengubah diriku menjadi sosok yang lebih baik dan kuat dari sebelumnya.
Kalian mungkin lupa bahwa roda kehidupan itu berputar, aku punya keyakinan suatu saat dengan doa orang tuaku dan kerja kerasku akan membawaku pada nasib baik. Aku akan merasakan bagaimana memiliki finansial yang seperti kalian. Saat ini memang bukan waktu untuk aku jadi ini adalah waktu untuk kalian terutama Sinti Hatala. Jadi aku tak perlu merasa iri atas pencapaian keluargamu, aku sudah merasakan bahagia walau harta orang tuaku tak seberapa di bandingkan dengan orang tuamu. Tapi aku dan ibu bapakku menikmati kehidupan yang damai dan tenteram dengan kesederhanaan kami.
“Pulanglah, ayahmu sudah menunggumu!” Teguran ku dari kejauhan.
Seraya mencoba menenangkan dengan menyuguhkan senyumanku untuk Jagat Elang. Ku lambaikan tanganku dengan arti menyuruhnya untuk segera berlalu. Dia membalasnya dengan senyuman dan anggukkan. Setelah beberapa saat Jagat Elang sudah berlalu dari pandanganku.
Selamat jalan cinta
Doaku yang terbaik buatmu
Teruskan hidupmu tanpa aku
Temukan bahagia bersamanya
Jika aku berumur panjang
Kita pasti berjumpa kembali
Jika aku berumur pendek
Aku akan tersenyum dari atas sana
Menyaksikan kamu bahagia