Dahaga Rindu

2529 Words
“Jagat Elang tunggu,” teriakku. Aku berlari ke arah di mana Jagat Elang berdiri. Dia terlihat mendengarkan panggilanku dan kemudian menengok. “Apa!" jawab dia ketus. “Jangan pulang dulu Jagat! Aku mau bicara sebentar.” “Tapi aku ada urusan penting,” jawabnya lagi. “Aku serius Jagat Elang, kasihlah sedikit waktu buat aku ngmo, habis itu terserah kamu masih mau tegur sapa lagi atau gak, aku gak berharap.” “Sepenting apakah yang mau kamu katakan itu?” sahutnya Jagat Elang. "Apa maksudnya tadi yang barusan kamu katakan tadi?" tanyaku. "Iya makanan itu dimakan. Jangan mengabaikan kesehatan. Aku hanya kasihan sama ibumu yang sudah menyiapkan itu untukmu. Kemarin kamu gak sempet makan, jadi basi terus kamu buang kan? Iya sudah jangan salahkan aku kalau makananmu aku makan," jelas Jagat Elang padaku. "Oh kamu ternyata pe– "Perhatian! Dih bocah, jangan ge er dulu, itu tadi aku iseng aja," serobot jalur bicaraku. "Iya juga ya, cowok secuek kamu gak mungkin juga perhatian sama aku," celetukku. “Jangan di sini ngobrolnya,” kata Jagat Elang. “Lantas dimana kita ngobrol?” tanyaku. Pipiku berubah menjadi merah muda menahan malu berada didekatnya. “Di rumahku! Ntar sekalian aku antar kan kamu pulang,” jawabnya Jagat Elang. “Enggaklah, bisa berabe urusannya kalau Sinti Hatala tahu kamu pulang sama aku. Bakal meletus gunung berapi itu. Apa kamu gak lihat apa yang sudah dia lakukan padaku, malah kamu mendukungnya,” terang ku ketus. “Gak usah bawa-bawa nama Sinti Hatala!” pekik Jagat Elang. Jagat Elang wajahnya menegangkan, matanya dengan sorot yang tajam memandangku dengan tatapan kekecewaan. Aku tertunduk tak ingin lagi melihat wajahnya yang garang itu. Sepertinya ada yang salah dengan kata-kata yang barusan aku lontarkan. Tampaknya adegan horor akan berlanjut di tempat ini. “Kenapa?” tanyaku singkat. “Lihat aku, lihat mataku, apakah kamu tidak bisa mengartikannya?” teriak Jagat Elang. Tubuhnya berdiri kokoh di hadapanku dengan pandangannya yang kuat, terus mengarahkan ke dalam dua bola mataku. "Kenapa kamu marah? Gitu aja marah," tanyaku dengan polosnya. "Kamu itu, huh!" tandasnya. Tangan kanannya meraih daguku dan mengangkatnya sedikit ke arah mukanya. “Apa sih, ih lepaskan Jagat Elang,” pintaku. Aku berusaha untuk melepaskan tangannya, tapi alhasil nihil. Semakin aku berusaha melepaskan semakin badannya berusaha mendekat padaku dan itu membuatku semakin tidak nyaman. "Gak akan!" jawabnya. Kulihat satu tangannya berusaha memegang pergelangan tanganku dan menguncinya di belakang pinggangku. “Lepaskan aku Jagat Elang,” pintaku. Aku tidak menyerah begitu saja, ku manfaatkan lagi tanganku yang tidak terikat untuk bebas mendorong serta memukul-mukul dadanya. "Teruskan ... jika itu bisa membawa kelegaan buatmu," terangnya. Matanya melebar melihat ke arahku. Justru Jagat Elang berpasrah diri seolah tak menghiraukan dan tak merasakan sakit ketika tenaga perempuan yang tidak sekuat tenaga laki-laki ini melayangkan pukulan kecil dan ringan. "Kamu ... kenapa diam saja?" tanyaku. Benar-benar aku merasakan kelelahan sendiri karena tidak ada perlawanan darinya yang kemudian membuatku menghentikan tindakan ini. “Hiranya kamu salah jika berpikir aku tidak melihat apa saja yang telah Sinti Hatala lakukan ke kamu. Aku tidak perlu muncul di hadapanmu untuk bisa mengetahui apa saja yang terjadi, tapi semua kejadian buruk yang menimpamu selama ini aku tahu. Dan apa yang aku lakukan belakangan ini yang kamu anggap aku jail, buruk, sombong, jahat itulah caraku menyelamatkan kamu dari Sinti Hatala.” “Aku gak paham dengan apa yang kamu katakan,” kata ku. “Diam! Teriak Jagat Elang. “Jagat Elang, tidak perlu dengan suara yang keras, pendengaran ku masih baik kok.” “Dengarkan penjelasan ku dulu dan jangan memotong pembicaraan,” sembur Jagat Elang. “Jagat Elang, ingatlah dan apakah dirimu kemarin bisa berpikir untuk lebih mendengarkan aku? Tidak kan! Justru kamu malah mementingkan teman-teman kamu. Dulu kamu bilang akan menjaga hubungan kita dengan sebaik-baiknya tapi pada kenyataannya apa? Kamu membuatku tersiksa dengan pemandangan kamu dan Sinti Hatala.” “Stop, Hiranya,” pinta Jagat Elang. “Nanti! Sungguh aku hancur dan di situlah aku mulai belajar untuk menguatkan diri dan mengembalikan senyumku kembali. Jika di kisah yang pernah kita lewati hanya bisa sesingkat itu dan harus usai tanpa ada kata perpisahan. Semua itu bukan salahku tapi kamu yang membiarkan semua ini terjadi,” murkaku kepada Jagat Elang. “Jangan nangis,” ucap Jagat Elang. “Aku sebel sama kamu!” kataku. Rona merah mulai memudar dari wajahku, aku mulai berenang dengan air mata yang meluber membasahi pipiku dan membanjiri tangan Jagat Elang yang sedari tadi menyentuh daguku. "Iya ... iya!" ucapnya. "Aku benci kamu," kataku kepada Jagat Elang. Pandanganku berubah menjadi kesedihan diselimuti kekecewaan dari masa silam yang terseret ke masa sekarang. Suasananya semakin mencekam ketika aku dan Jagat Elang mulai tak terkendalikan. Aku ambil napas dalam-dalam, meredam getaran gempa emosi yang dari tadi menghampiri pikiranku. “Perlu kamu tahu Hiranya, Sinti Hatala dan keluarganya bukanlah orang sembarangan, mereka bisa melakukan apapun untuk mendapatkan apa saja yang menjadi keinginannya. Apa lagi Sinti Hatala ini adalah anak si mata wayang, sudah jelas papanya akan mengusahakan apapun yang menjadi keinginan anaknya. Dan mereka bisa membahayakan bagi kamu,” ungkap Jagat Elang mencoba menjelaskan. “Kenapa membahayakan, aku kan tidak merasa berbuat salah dengan Sinti Hatala ataupun keluarganya, lantas kenapa aku harus takut! Apakah karena aku tidak dari keluarga yang berpunya, atau karena keluargaku tidak sederajat dengan keluarga Sinti Hatala dan juga keluargamu? Jadi orang yang memiliki kekuatan yang lebih menonjol bisa bebas berulah dan menindas orang lain yang tidak sederajat dengan mereka, apakah seperti itu?” cerca ku lagi. “Hiranya yang kamu katakan memang ada benarnya dan itulah kenyataannya yang terjadi di sekitar kita. Tetapi itu baru sebagian kecil, kamu tidak tahu banyak tentang mereka. Tegas Jagat Elang.” Dia memberikan setengah senyam. “Aku tahu, keluarganya adalah orang yang kaya raya, yang menghalalkan segala cara! Terserahlah itu kan kehidupan mereka. Dan apakah benar adanya yang dikatakan Sinti Hatala kalau kamu lebih memilih dia karena kondisi Finansial keluarganya yang lebih unggul dari pada aku? Jawablah, biar aku mengerti,” pintaku pada Jagat Elang. “Aku tidak memiliki hubungan istimewa dengan Sinti Hatala kecuali hanya hubungan pertemanan dan aku juga tidak pernah berpacaran dengan dia ataupun dengan siapapun, semenjak aku udah gak sama kamu, Hiranya,” jawab Jagat Elang. “Oh, iyakah! Tapi aku lihat selama ini kamu sangat dekat dengan dia,” tukas ku. “Aku sudah berteman dengan Sinti Hatala dari kecil, aku tidak memiliki perasaan lebih. Aku dekat karena dulu ayahku adalah partner bisnis papanya Sinti Hatala!” imbuhnya. “Sungguhkah? Apa yang kamu katakan bukan suatu kebohongan? Rasanya sulit sekali seorang Hiranya ini, untuk mempercayai orang yang jelas-jelas sudah kulihat sangat dekat dengan teman perempuannya. Ketus ku kepada Jagat Elang." “Hiranya aku bicara apa adanya dan sekarang ini aku tidak punya waktu untuk hanya sekedar membual. Aku tadi bilang, kalau kamu mau ngmo sama aku, jangan di sini. Aku memintamu untuk berbicara di rumahku saja, karena aku harus segera pulang, ayahku sedang tidak baik kesehatannya jadi aku yang menggantikan posisi ayahku untuk mengurus beberapa berkas karyawan.” “Oh sekarang kamu jadi orang yang super sibuk ya, makanya banyak perubahan sikapmu terhadap aku. Kamu banyak berubah, bukan Jagat Elang yang aku kenal dulu yang meski cuek tapi masih tetap sayang dan perhatian, ” cetusku. “kamu pasti tidak tahukan, kalau papanya Sinti Hatala dalang di balik kehancuran usaha ayahku dulu. Ibuku tertekan, syok, kemudian sakit parah hingga akhirnya meninggal. Tidak hanya dua cobaan yang menghampiri kehidupanku, di saat yang sama pula, aku juga terpaksa harus melepaskan dirimu, yang sebenarnya aku juga tidak pernah sungguhan untuk bisa melepaskan kamu. Yang aku lakukan hanya sebuah kepura-puraan untuk meredam kemurkaan Sinti Hatala dan papanya. Semakin aku dekat sama kamu, maka semakin Sinti Hatala akan menyiksa kamu,” terang Jagat Elang. “Sinti Hatala itu sangat tajam mulutnya dan perlakuannya juga bengis Elang! Dia yang menyakitiku tapi dia seolah yang tersakiti. Begitu lihai dan mahir lisannya memutar balik fakta, seperti kejadian barusan tadi. Dan aku kecewa, kamu tiba-tiba datang tapi malah bertindak kasar menyalahkan aku juga. Kamu justru membela pihak yang salah,” beber ku. “Kamu tidak bisa membedakan! Apakah tadi aku sungguh-sungguh atau hanya sekedar berakting saja. Batinku sebenarnya juga hancur Hiranya, karena aku tadi sudah memperlakukan kamu dengan kasar. Tapi aku harus kuat, harus bisa, meneruskan rencana ku. Sungguh di balik tindakan itu hanya cara aku melindungi kamu dari kesakitan yang lebih miris dari yang sudah dan barusan kamu alami, itu belum apa-apa. “Entahlah, aku tidak bisa berpikir untuk sejauh itu. Aku mengartikan dari tindakan yang sudah kamu lakukan, itu saja. Apakah mereka sekuat itu?” lanjut ku menjelaskan dan bertanya karena penasaran. “Iya mereka memang kuat, karena uang mempunyai kekuatan dan pengaruh yang sangat luar biasa. Uang bagi mereka bukan sekedar angka tetapi sumber daya. Dengan memiliki kekayaan yang bertumpuk menandakan sudah berada di puncak keberhasilan dalam kehidupannya, sukses dalam hidupnya, dengan uangnya mereka bisa berbuat apa saja. Dengan uang kebenaran pun akan diam, karena uang mampu membungkam kebenaran. Itulah pola pikir Sinti Hatala dan keluarganya,” jelas Jagat Elang. “Tapi kalau menurutku, ya memang ada kebenaran yang di beli dengan uang tetapi semua itu terkadang hanya sementara. Karena pada saatnya nanti kebenaran yang hakiki akan membukakan jalannya sendiri,” tegas ku kepada Jagat Elang. “Sudahlah tidak perlu adu argumentasi untuk masalah ini. Yang penting kita jangan menjadi orang yang sudah bahagia karena uang terus terlupa dengan Tuhan. Makanya menjalani hidup ini harus waspada dan berhati-hati. Aku bisa mengambil kesimpulan ini dari pelajaran hidup yang aku alami,” tegas Jagat Elang. “Apakah kamu takut dengan mereka?” tanyaku lagi kepada Jagat Elang. “Bukan masalah aku takut, aku bisa keras jika harga diriku sudah terinjak, Hiranya. Tetapi kekerasan yang aku pakai bisa mendatangkan kerugian bagi diriku sendiri dan ayah ibuku. Sedikit saja ada kecerobohan bisa menghancurkan usaha ayahku. Pernah suatu ketika aku berani sama papanya Hiranya dan ...." “Dan apa Elang?” tanyaku lagi. “Bisnis ayah mengalami kehancuran dan itu menunjukkan betapa kuatnya. Papa Sinti Hatala bisa nekat melakukan apapun untuk merusak usaha ayah yang kemudian mengalami kebangkrutan. Dan itu membuat ibuku banyak pikiran kemudian sakit dan akhirnya aku kehilangan ibuku, sama sekali aku dan ayah belum siap untuk menerima kenyataan ini,” ungkap Jagat Elang. “Terus! Kenapa menyalahkan diri sendiri?” tanyaku. “Aku marah dan benci pada diriku sendiri, karena tidak bisa menahan emosiku, apa lagi aku hanya seorang anak yang masih mengandalkan uang saku dari orang tuaku. Aku belum bisa membantu ayah mengurus perusahaannya. Sungguh aku mengalami guncangan yang hebat.” “Sungguhkah! Yang kamu katakan itu?” tanyaku lagi. “Iya! Dan aku Jagat Elang Hartono telah bersumpah di hadapan pusara ibu bahwa aku akan berjuang mewujudkan mimpinya, untuk mengembalikan usaha keluarga kita. Aku fokus pada usaha dan aku juga tidak dapat membiarkan diriku terlalu dekat dengan kamu, aku menjaga jarak dengan kamu! Itu demi kebaikanmu supaya Sinti Hatala tidak membahayakan keselamatan kamu. Aku masih berusaha untuk membuat posisi yang kuat supaya bisa mengalahkan kesombongan keluarga Sinti Hatala,” jelas Jagat Elang. Jagat Elang yang awalnya keras dan marah tiba-tiba raut wajahnya berubah sedih, dia menahan air mata yang tidak ingin tertumpah kan di hadapanku. Dengan perlahan kulihat Jagat Elang melepaskan tanganku dari genggamannya. “Aku tidak tahu jika ceritanya seperti itu,” kataku kepada Jagat Elang. “Itulah kenyataannya,” jawabnya singkat. Dia terduduk lemas dengan pandangan kosong dan dengan mata berkaca-kaca, setetes dua tetes jatuh dan dengan segera Jagat Elang mengusapnya. “Sungguh aku tidak menyangka kalau seperti ini ceritanya," balasku. Aku menyusulnya duduk ku pandangi wajahnya dengan rasa penyesalan yang sangat dalam. Sungguh betapa bodohnya aku yang tidak bisa memahami Jagat Elang. Cueknya Jagat Elang memang sulit untuk ditebak. Selain itu, sosoknya juga misterius, dingin, dan bicara seadanya. Bahkan saat menyukai seseorang, terkadang dia juga tak mudah untuk menunjukkan perhatian atau rasa sukanya. “Tidak apa-apa,” sahutnya. “Elang maafkan aku,” pintaku. Aku memandangi wajahnya dengan perasaan bersalah. “Kamu tahu Hiranya aku sangat mencintai ibuku dan setiap kali aku melihat bola matamu aku merasakan ada sinar yang sama dari sorot mata ibuku,” ungkapnya. Keadaan di tempat ini terlihat sepi, guru-guru dan muridnya sudah meninggalkan sekolah, hanya ada kita dan penjaga yang nampak sibuk sendiri tanpa menghiraukan keberadaan Jagat Elang dan aku. “Aku betul-betul minta maaf,” pintaku. Tak kusadari air mataku juga bertaburan membasahi pipiku. Kita terbawa dalam kesedihan dan penyesalan. “Tidak perlu meminta maaf, kamu tidak bersalah,” ucap Jagat Elang. Kulihat Elang menatap mataku dalam-dalam dan bulir bening jatuh dari matanya lagi, kuseka pelan dengan tanganku. “Tapi aku selama ini sudah salah paham.” Ku mampu merasakan betapa Jagat Elang sangat dekat dengan ibunya, dan air mata dari seorang anak laki-laki adalah tanda cinta dan kerinduan untuk ibundanya. “Rindu itu sangat menyiksa Hiranya, rindu membuatku menjadi tidak karuan. Betapa perihnya hatiku harus membohongi perasaanku. Aku harus bersandiwara demi menyelamatkanmu. Aku sakit Hiranya, ketika obat rindu adalah bertemu namun bertemu ku dengan kamu justru dengan drama pertikaian. Aku sangat lelah, sungguh jiwa ragaku tersiksa.” “Iya jagat,” sahutku. Betapa terkejutnya aku ketika Jagat Elang menjatuhkan kepalanya ke samping pundak ini. Aku bingung harus berbuat apa, aku terdiam dan tak mampu lagi berkata-kata, tak tega untuk mengelakkan diri. Kubiarkan sesaat dia dalam sandaran tubuh kecilku ini. “Peluk aku sebentar, Hiranya,” rengekannya manja. “M-maksudnya,” tanyaku terbata-bata. “Pelukanmu membuatku tenang,” jelasnya lagi. “Elang, kamu harus segera pulang nanti ayahmu menunggu,” tegur ku. “Sebentar saja," pintanya. Terpampang melas di wajahnya yang tampan, sorot matanya yang teduh seolah sedang merasakan kekagumannya memandangi wajahku yang berubah menjadi merah muda. Jagat Elang memegang erat tanganku lagi dan berusaha membawaku dalam dekapan hangatnya. “Elang — ayo pulang,” ucapku. “Nanti dulu! Biarkanlah aku menumpahkan dahaga kerinduanku padamu. Balaslah pelukanku Hiranya?” pinta Jagat Elang. Tubuhnya terus mendekapku. Kedua pergelangan tangannya melingkar di pinggangku yang langsing. Kepalanya di sandarkan ke samping kepalaku. Berulang kali bergeser ke pipiku dan menyentuhkan bibirnya ke bibirku. “Eeh ....” “Jangan menolak!” Jagat Elang yang berupaya untuk menciumiku lagi. “Ta-tapi ....” “Apa kamu tidak merasakan sesuatu yang aku rasakan saat ini?” tanya Jagat Elang sembari mendekatkan hidupnya ke hidungku. “Apa! Ak —u ....” Ucapku terputus-putus karena bingung harus menjawab apa. “Kamu masih mencintaiku kan?” sambungnya lagi. Sungguh aku terdiam kaku, tak ada respons yang kuberikan untuk membalas apa yang di inginkan Jagat Elang. “Ayo kita pulang!” pintaku. Ku dorong sedikit dan pelan untuk membebaskan diri dari dekapan Jagat Elang. “Sebentar lagi,” jawab Jagat Elang. Dia tersenyum dan menarik tubuhku kembali dan terus saja matanya menatap mataku. “Aah, lepaskan!" “Baiklah, tapi ... tidak sekarang,” sahutnya. “Kamu kok gitu sih.” “Biar,” jawabnya singkat sambil memelukku dengan erat. “Elang, sepertinya kamu sudah berlebihan." “Apanya?" tanya Jagat Elang yang masih tetap setia dengan pelukannya. “I-itulah pokoknya.” “Itu apa?” tanya Jagat Elang dengan suara lirih. “Ya, ini,” jawabku cepat dengan mendorong tengah tubuh Elang dengan pinggulku. “Oh.” Dia bergeser dari tempatnya. Menarik tanganku dan digenggamnya. "Yaa." Dia menatapku dalam-dalam. Ada rasa rindu yang tertahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD