Main Kasar

4038 Words
Sakral kidung-kidung doa terlantunkan untukmu, untuknya dan untuk mereka sang penoreh luka, penghias lara. Terbungkus hadiah manis tersematkan sebuah keihklasan maaf. Terbawa hening semakin larut dalam balutan cinta-Nya. Menghadap ke segala penjuru mata angin bertemu pada titik pancer. Mengagungkan asma-Mu ya Robb. Dzikir terpatri dalam batin, mengalun merdu Tiada bosan tiada lelah. Sampai titik nafas penghabisan. Hingga saatnya tiba Engkau berkata ayo pulang. Dan betapa bahagianya terlepas dari rangka dunia. Kini aku baru mengerti, ternyata bersabar itu lebih terasa berat. Tatkala dalam keadaan darah yang sudah melonjak tinggi, mendidih-didih terbakar api amarah. Sesaat parasku yang ceria kini berganti muram, tertunduk terdiam mengamati air dengan wadahnya yang usang. Diriku kembali terseret jauh ke dalam kenangan. Melamun mengingat kembali pada kisah kemarin dimana bara api yang berkobar-kobar menyambar kesabaran. Kisah pilu ini terjadi ketika aku masih di kelas dua belas semester akhir, beberapa Minggu menjelang kelulusan. Aku memiliki teman yang sangat kaya harta namun sayang hatinya tidak sekaya hartanya. Namanya Sinti Hatala, dia adalah orang kaya baru. Sebenarnya dulu dia itu juga dari keluarga yang biasa, ayah ibunya juga dari desa tempat aku dan keluargaku berasal. Tapi setelah pindah ke kota ayahnya ini melakukan pinjaman besar untuk modal usaha dan membeli kendaraan roda empat. Inilah yang menjadikan Sinti Hatala sombong karena bisa mengandalkan harta ayahnya. Congkaknya tumbuh semakin besar tatkala orang tuanya bisa memiliki rumah, usaha dan mobil. Sinti Hatala memiliki dendam membara denganku karena Jagat Elang yang dia taksir justru memilih dekat denganku yang hanya berpenampilan anggun dan tidak seheboh Sinti Hatala yang ramai dan ngejreng. Kala itu jam kosong dan para siswa siswinya hanya masuk untuk mengisi absensi kehadiran. Waktu itu aku dan beberapa teman duduk berjejer di depan gudang yang bersebelahan dengan ruang perpustakaan. Dan bukan lagi suatu kebetulan, memang di sengaja jikalau di depan ruangan itu ada tumpukan meja dan kursi siswa-siswi yang sudah tidak muat di dalam gudang. Jadi wajar saja, jikalau jam istirahat tempat ini yang jadi pilihan buat para murid bersantai atau pun mengerjakan tugas. Sungguh siang ini aku dan teman-teman terlalu seru membahas sesuatu, tak kusadari ada seseorang menghampiri. Dari kisah yang disampaikan Sekar Arum Cempaka sahabatku, ia yang menyaksikan dari kejauhan nampak seseorang berjalan ke arah kami. Dia Sinti Hatala teman sekolah kami tapi beda kelasnya dengan aku dan Sekar Arum Cempaka yang berada di jurusan Sosial 1, sedangkan Sinti Hatala di kelas Sosial 3. Dia yang terkenal dengan sosoknya yang galak, cerewet, keras kepala dan di takuti oleh adik-adik kelas serta beberapa temanku juga. “Rasakan ini,” ucap Sinti Hatala sembari mendorongku dengan kuat. Dengan napas yang tersengal-sengal seperti menahan amarah yang sudah di puncak ubun-ubunnya, dia pun mendorongku dengan secepat kilat dan seketika membuat diriku jatuh terpelanting ke samping menghantam meja kursi yang kemudian membuatku juga tersungkur di tanah. “Aaauuuww!” teriakku. Meringis menahan rasa sakit. “Hiraaaaaanya,” suara teman-temanku. Semua teman-teman terkejut melihat kejadian ini. “Aduh ... tolongin ... tolongin dia,” teriak Sekar Arum Cempaka. Beberapa teman ku spontanitas berhamburan dari tempat duduknya dan menolongku. Sekar Arum Cempaka yang duduknya di sebelahku dengan sigapnya membantuku berdiri. “Putri Hiranya, kamu baik-baik saja? Coba ada yang luka gak?” Tanya Sekar Arum Cempaka dengan khawatir. Ia membersihkan baju dan lenganku yang sedikit kotor terkena tanah basah. “Engga, enggaaaaaaaaa! Gak apa-apa kok,” jawabku. Wajahku sedikit memerah menahan sakit sekaligus amarah. Sesekali dua kali mengerutkan kening seraya mulutku juga ikut meniup-niup pelan ke arah jari kelingking kiri ku yang kecil, terasa sedikit perih terjepit meja yang tanpa sengaja ikut roboh terkena hempasan tubuhku yang di dorong Sinti Hatala. “Engga apa! Lihat ini loh luka. Ayo bangkit Putri Hiranya dan duduk sini, kita istirahat di teras perpustakaan?“ Ajak Sekar Arum Cempaka. Ia mengajakku duduk dengan sedikit bergeser ke arah lantai di sebelah kami. “Ehmmm,” aku mengangguk mengiyakan permintaan sahabatku. Menghela napas panjang dari hidung menuju kerongkongan kemudian menghembuskannya lagi. Dengan mulut terbungkam menahan perihnya luka akibat tersungkur mencium tanah. Betapa beratnya menahan diri untuk tidak marah tatkala pikiran sudah di rajai amarah. “Jahat banget dia,” suara Sekar Arum Cempaka lirih. “Kenapa dia seberingas itu?” tanyaku pelan kepada Sekar Arum Cempaka. “Mana aku tahu, tiba-tiba saja langsung mendorong kamu kok,” jawab Sekar Arum Cempaka. “Bangun ...! Sini hadapi gua.” Memerintah dengan seenaknya kepadaku. Berlagak seperti seorang jagoan. “Sinti nantangin kamu Hiranya.” Sekar Arum Cempaka geram dengan sikap Sinti Hatala. “Jagoan kok,” jawabku. Biarkan beberapa kata aku lontarkan sebagai tanda perlindungan diri ketika harga diri sudah terinjak. Aku tidak takut untuk mengarahkan pandanganku yang tajam ke bola mata Sinti Hatala. Batinku berteriak tidak bisa menerima perlakuannya. “Berani loe sama gua? Ha!” Teriak Sinti Hatala. Ku saksikan di hadapanku Sinti Hatala berdiri kokoh dan tenang, seolah-olah tiada penyesalan atau rasa khawatir dan bersalah sedikitpun. Dia terlihat begitu angkuh, nyata aku dibuat takjub dengan adegan kekerasan seperti ini. Dia menyeringai dan berkali-kali mengerutkan bibirnya kemudian kembali rahangnya meregang dan berteriak lantang. “Loe itu Hiranya! Terlalu kepedean amat jadi cewek, loe tahu terlahir dari kasta apa? Miskin, rendahan.” Sinti Hatala berdiri dengan bertolak pinggang sambil memaki-maki. “Jangan berkata seperti itu Sinti!” Ucapku dengan menahan amarah. “Kenapa? Kan fakta nyokap bokap loe kere. Coba loe itu buka mata lebar-lebar, dan sadarlah kalo loe hanyalah segelintir pasir yang tak berguna.” Dengan sangat percaya diri Sinti Hatala terus saja menggonggong. “Jangan bawa-bawa orang tua,” pesanku kepada Sinti Hatala. Sebenarnya aku sudah mulai terpancing untuk membela orang tuaku yang dihina cewek ini. “Terserah gua, mulut-mulut gua. Loe gak bisa larang-larang gua, siapa loe itu? Sama sekali gak ada apa-apanya di hadapan gua ...! Mau gak, gua pinjamin kaca! Supaya loe bisa ngaca, gitu loh!“ semburan kata-kata kasar dari mulutnya Sinti Hatala sambil melempar kaca kecil ke arahku. “Kamu lama-lama keterlaluan ya,” kataku kepada Sinti Hatala. “Suka-suka gua dong. Loe itu, lah! Cuma apa?" Dilanjut Sinti Hatala mengayunkan jari telunjuknya ke atas bawah menunjuk-nunjuk tepat di depan wajahku. “Apa, apa maksudnya,” tanyaku balik. Sudah mulai tidak tahan untuk memberikan pelajaran yang bijak kepada manusia yang sudah keterlaluan kata-katanya itu. “Ini maksudnya,” sahut Sinti Hatala. Sinti juga berusaha menarik bajuku, namun kali ini aku sudah siaga serta kilatnya aku menampik tangannya tak akan kubiarkan lagi seorang Sinti Hatala menyentuh dan melukai diriku. “Jangan kasar!” teriakku sambil membela diri. “Stop, Sinti,” teriak Sekar Arum Cempaka. Sekar Arum Cempaka sahabatku yang menyaksikan kejadian ini, ia terlihat tidak terima melihatku di aniaya. Sekar Arum Cempaka berubah jadi sangat berani dan sesekali juga berusaha untuk membalas mendorong Sinti Hatala. “Apa loe? Mau ikutan juga bela cewek kampungan!” ujar Sinti Hatala kepada Sekar Arum Cempaka. Sinti Hatala memandangi wajah Sekar Arum Cempaka dengan penuh amarah. “Sinti! Stop, jangan sakiti Hiranya," teriak Sekar Arum Cempaka. Ia coba menghentikan kenekatan Sinti Hatala, dengan memelukku dan menghadang kan punggungnya ke arah Sinti Hatala. Dengan tergesa Sekar Arum Cempaka memberikan perlindungan agar aku tidak menjadi sasaran amukan anakan singa betina ini. “Oh, ada pahlawan kesiangan. Mau gua gituin juga loe Sekar Arum Cempaka?” tanya Sinti Hatala. Dia mengancam Sekar Arum Cempaka. “Stop Sinti, ulah mu sudah keterlaluan. Aku bisa lapor ke guru BK,” ucap Sekar Arum Cempaka. “Loe berani ...! Hem rasakan ini,” ujar Sinti Hatala dengan memukul punggung Sekar Arum Cempaka. “Aduh ....” Sekar Arum Cempaka kesakitan karena pukulan dari Sinti Hatala. “Makanya loe itu jangan ikut campurrrrrrrr!“ Bentak Sinti Hatala. Suara Sinti Hatala terdengar lantang menggelegar seraya mengguncangkan gedung perpustakaan. “Benar-benar cewek bar- bar,” ujar Sekar Arum Cempaka. “Minggir loe, gak usah ikut campur urusan gua sama Hiranya.” Dengan kasarnya Sinti Hatala juga berusaha menarik pundak Sekar Arum Cempaka dan di dorongnya ke samping. “Auw,” keluh Sekar Arum Cempaka. Sekar Cempaka berusaha untuk terlihat baik-baik saja, ia kembali ke posisinya lagi, meraih dan merangkul tubuhku. “Sudah Sekar! Biar aku urus sendiri orang ini, aku bisa mengatasinya,” sahutku seraya mencoba untuk menenangkan sahabatku ini. Aku bangkit dari duduknya untuk mendekati Sinti Hatala, aku sama sekali tidak ingin membalas tindakan kasarnya. Masih aku ingat betul bagaimana bapakku berpesan untuk tidak melakukan kekerasan dan inilah yang menjadi rem amarahku. Ku lepaskan secara perlahan kepalan kekesalan di dalam dadaku yang sedari tadi mengeras dan ingin meledak menghancurkan orang yang menyakitiku. “Cukup Sinti! Aku tidak ingin membuat kekacauan dengan meladeni mu. Dan kamu jangan berpikir bahwa aku takut padamu, sama sekali aku tidak takut!” gertak ku. “Heh! Coba yaa, situ jangan sok pintar sok cerdas, sok imut, sok alim dan sok baik! Badan kurus gitu aja sok kecantikan.” “Jangan menghina fisik seseorang, apa loe itu iri dengan fisikku, dengan otakku?” tanyaku kepada Sinti Hatala. “Sorry, apa yang perlu gua iri dari cewek kampungan. Gua ini lebih memesona dan lebih kaya dari loe!" Serunya. “Lantas kenapa masih suka mengusikku. Kalau kamu iri ayuk kita bersaing secara sehat, secara cerdas dan sportif. Tanpa kekerasan fisik dan verbal, jangan beraninya main belakang dengan menyebarkan ujaran kebencian kepada teman-teman agar di pihak mu dan memusuhiku,” ujar ku kepada Sinti Hatala. “Jangan sampai gua lihat loe dekat-dekat lagi sama Jagat Elang,” pekiknya. “Jadi kamu cem– “Iya. Gua cemburu, kenapa?” ucap Sinti Hatala cepat. “Hahahaha, ini lucu sekali Sinti! Cemburu mu sudah tidak mendasar dan itu membuat dirimu berbicara ngawur dan bertindak sangat sembrono,” sembur ku. Ini terlihat lucu bagiku. Jelas sekali dia merasa sangat percaya diri dan merasa jauh lebih baik dari aku dan aku dianggapnya hanya sebutir pasir yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dia. Lantas kenapa dia cemburu dengan, kan katanya aku bukan saingan yang berat buat dia. “Oh tidak! Seorang Sinti Hatala tidak pernah ngawur dan gua yakin sekali loe sudah tebar pesona di depan Jagat Elang, iyakan?” sambung Sinti lagi. Darahnya semakin mendidih mengalirkan amarah menguasai lisannya. “Sudah, sudah! Aku tidak ingin berdebat dengan alasan sepele seperti ini, buang-buang waktuku saja. Dan perlu dirimu tahu, aku sudah tidak ada lagi urusan sama Jagat Elang Hartono,” sanggahku pada Sinti Hatala. Aku berusaha untuk menghentikan lisannya, alhasil tidak bisa. “Mana mungkin cewek ganjen kayak loe mau mengakui, jelas sekali gua punya banyak mata-mata yang lihat Jagat Elang mendekati loe lagi kan, iyakan! Jadi gak usah mengelabui gua lagi,” sahut Sinti. “Stop, Sinti! Hentikan ocehan tidak berguna ini. Aku tidak merasa melakukan apa yang sudah kamu tuduhkan kepadaku. Aku tidak perlu ganjen jikalau mau mendapatkan hatinya Jagat Elang lagi, aku akan tetap menjadi diriku sendiri dengan versi Gantari Putri Hiranya.” “Halah, jangan sok jual mahal, sok istimewa! Kalau masih suka Jagat Elang mengaku saja! Jagat Elang memang suka jail dan itu hanya dalihnya untuk bisa tetap dekat sama loe!” Cerca Sinti Hatala. “Maunya kamu apa sih, aku suruh mengakui yang seperti apa? Kalaupun kamu merasa Jagat Elang dekat sama aku dan itu membuatmu cemburu, ya itu bukan salahku toh bukan aku yang dekati dia. Akan lebih baik kamu urus sendiri masalah ini sama Jagat Elang. Dia itu hanya bagian masa lalu yang sudah aku tutup rapat!” lanjut ku lagi. “Ya, loe sengaja mau mengambil Jagat Elang dari gua, begitu kan!” Teriak Sinti Hatala. “Aku malas debat sama kamu, percuma! Buang-buang energi saja,” tegas ku. Berulang kali aku menghela nafas panjang untuk mengatur keseimbangan emosiku. Aku berusaha untuk terlihat baik dan tenang. Aku ingin sekali pergi dari tempat ini untuk menyudahi perdebatan ini. Namun Sinti Hatala tak akan membiarkan diriku pergi dari hadapannya sebelum dirinya puas memaki-maki ku. Lidahnya yang tajam terus saja mencerca ku dengan kata-kata yang kasar. Setiap kata yang terucap dari mulutmu, adalah cambuk bagiku yang membuatku semakin kuat. Ucapan kasar yang kamu lontarkan benar-benar telah memecut jiwa ragaku. Pecutan ini akan aku jadikan tongkat untuk membantuku berdiri dan bangkit. Kesakitan dari cambuk mu ini membuat diriku harus lebih maju daripada kamu. Inilah janjiku di dalam hati. “Kenapa diam? Loe takut! Hai, anak orang miskin. Hidupnya saja di desa, sudah jelas pola pikirnya dan penampilannya ketinggalan zaman,” lontar Sinti Hatala. “Tapi aku dan keluargaku tidak merasa seperti yang kamu sebutkan barusan itu,” ucapku kepada Sinti Hatala. “Oh, iyakah ... hahahaha. Percaya diri sekali loe,” ejeknya lagi. “Aku bersyukur dengan apapun yang ada padaku. Kamu boleh merasa hebat saat ini, tapi jangan terlalu sombong, nanti kamu malu kalau keadaan berubah menjadi tidak sesuai ekspektasi mu,” ujar ku. “Waoo, loe berani ... bicara seperti itu sama gua. Buka mata loe, lihat itu teman-teman loe ... juga kayak gitu, tapi cocoklah, kan sama-sama udik. Dan kalian itu pantasnya bergaul dengan kasta rendahan. Jadi jangan dekat-dekat atau berani berteman apa lagi saingan denganku,” makian Sinti Hatala. Wajahnya semakin terlihat menakutkan karena urat syarafnya menegang dan muncul di sekitar lehernya. Sinti Hatala coba menarik bajuku lagi, amarahnya sudah sepenuhnya merasuki pikirannya. Otaknya Sinti Hatala sepertinya sudah tidak berjalan dengan baik. Wajahnya terlihat memerah seperti Angry Birds dengan memberi seringai miring di mulutnya yang lebar dan tebal itu. “Sinti! Kamu benar-benar sudah sangat keterlaluan, kata-kata seperti itu tidak sepantasnya ditujukan untuk kami. Kamu salah besar jika menggunakan kacamatamu untuk mengukur kaca mata orang lain. Kamu sudah terlalu lama kubiarkan mengusik hidupku. “Loe juga, berani menjawab sih, ” ujarnya Sinti Hatala. “Kok aku! Aku kemarin diam saja dan sudah sangat lama mengalah karena tidak ingin bertengkar dengan temanku sendiri. Apa lagi aku tahu kalau orang tua kita berasal dari daerah yang sama. Bedanya saat ini adalah, keluargaku masih setia menggarap tanah-tanahnya alias bertani, berkebun dan tetap setia tinggal di tanah kelahirannya. Sedangkan orang tuamu memilih hijrah di kota dan tinggal di perumahan. Sebenarnya yang kamu bilang kota ini juga tidak terlalu jauh dari desa tempat asalnya kita. Ini lucu sekali. Kita sama-sama orang desa, jangan menghina tempat kelahiran mu sendiri,” ungkap ku kepada Sinti Hatala. "Loe! awas ya," sahutnya sembari bertindak kasar. "Lepaskan!" ujar ku. Aku berusaha melepaskan lenganku dari tangannya. Kali ini aku benar-benar tidak sanggup menyaksikan diriku terus menerus di pojokan. Yang dilakukan Sinti Hatala benar-benar membuatku ingin menjawab untuk melindungi harga diriku. Diam juga ada batasan. Jika sekiranya berkata bijak untuk memberikan efek jera kepadanya, kenapa tidak aku lakukan. “Hiranya! Shut up ....” “Why, Sinti? Are you ashamed to admit, if you are also from the village,” i said to Sinti Hatala. “Gua bukan orang desa! Jangan ngacau kalau ngomong. Loe lihat penampilan gua sehari-harinya, modern, gaul, keren. Jalan-jalan ke Moll, nongkrong di Cafe, makan di restoran-restoran. Memangnya loe yang gaulnya sama kebo di sawah, dih ... enggak banget,” ejeknya Sinti Hatala. “Ok, hidupmu lebih baik dari aku tapi tidak sepantasnya juga kamu menghina orang yang kondisi ekonominya di bawah mu. Sinti, hati-hati dalam berbicara. Orang yang kamu pikir miskin, belum tentu ia sebenarnya miskin. Kamu ini hanya menyimpulkan dari tampilan luarnya saja. Kamu pikir orang yang menjalani kehidupan dengan bertani, berkebun itu tidak memiliki kehidupan yang layak? Jangan memiskinkan seseorang yang menjalani kehidupan dengan sederhana. Jangan menghina orang desa,” ucap ku kepada Sinti Hatala. “Hiranya! What I said is true, you are indeed a country person. You live in the village and your parents work in the fields,” he complained again. “What wrong with that someone from the village?” i asked Sinti Hatala. “You don’t deserve to hang out with city people,” said Sinti Hatala. “Wow, it’s amazing that you want to control someone else’s life.” “Loe tinggal di desa, orang tuamu kerja di sawah, di ladang jadi jangan belagu! Loe, punya mata kan, masih bisa lihat dengan jelas apa gak? Orang seperti gua ini hidupnya bergelimang harta. Loe, saksikan sebentar lagi gua bakal menundukkan Jagat Elang dengan kekayaan yang gua miliki. Jagat Elang bakal lebih memilih gua yang kaya dari pada loe yang hidupnya kere,” sembur Sinti Hatala. “Luar biasa,” balasku singkat. “Jelaslah, gua gitu loh,” sahutnya. Ekspresi wajahnya Sinti Hatala mengeras dengan suara yang terdengar lantang. Aku lihat dia mengangkat kedua tangannya ke pinggang seolah-olah menantang ku. “Berani loe sama gua! Jangan berasa sok kuat, sehingga berani banget menjawab,” tandasnya. Terlihat belum puas memuntahkan kemarahannya, Sinti Hatala terus saja mengoceh liar tanpa memedulikan dirinya jadi tontonan. Kemurkaannya itu seolah-olah tidak ada yang bisa menghentikan lisannya untuk mengumpat. “Terserah kamu! Aku juga tidak pernah ingin tahu urusan kamu sama Jagat Elang. Kalau memang kamu merasa yakin bisa menundukkan dia dengan uangmu, ya itu bukan urusanku,” ungkap ku. “Halah, gak usah banyak omong kosong,” ujar Sinti Hatala. “Memang benar adanya jika aku tidak pernah bisa membeli harga diri Jagat Elang, karena aku menganggap dirinya bukan seperti barang yang bisa di diperjualbelikan serta di hargai murah atau mahal. Yang aku suguhkan selama ini ke Jagat Elang itu ketulusan, kenyamanan, kasih sayang dan cinta. Dan ketulusanku ini tidak bisa di hargai dengan materi mu. Mungkin kamu bisa memberikan Jagat Elang kemewahan tapi perlu kamu tahu suatu saat Jagat Elang akan bosan dan tersiksa karena memaksakan diri bertahan dengan orang yang sebenarnya tidak dia cintai dengan sepenuh hati,” pungkas ku. “Bodo amat, gua gak peduli, mau tulus atau tidak Jagat Elang sama gua. Yang jelas gua bisa mendapatkan dia, gua bisa menundukkan dia dengan harta gua. Asal loe tahu keinginan gua selalu keturutan,” ujar Sinti Hatala. “Hiranya, ayokkkk pergi dari tempat ini,” sahut Sekar Arum Cempaka menyambung obrolan. Sekar bergegas menarik badanku dan mengajakku duduk di kursi depan perpustakaan. Syukurlah kekacauan ini tidak sempat di dengar guru. “Eh, loe takut sama gua kan. Loe kalah saing kan sama gua yang lebih tajir dari pada loe. Ingat! Hiranya, loe gak bakal bisa mengalahkan gua! Lihat saja, bakal gua sikat halus loe! Mampus baru tahu rasa,” ancam Sinti Hatala kepadaku. Situasi semakin memanas dan kondisi Sinti sudah mulai seperti bara api tukang sate yang terkipasi. Sudah waktunya aku diam dan tenang setelah beberapa kata aku lontarkan sebagai bentuk pembelajaran buat Sinti Hatala agar suatu saat tidak melakukan tindakan kasar seperti ini lagi. Jarang ada yang berani melawan ataupun menyalahkan Sinti Hatala, memang dia ini seseorang yang kuat, sebab dia benar-benar kuat karena dari keluarga berpunya. Karena sudah merasa sangat kaya serta di dorong dengan wataknya pemberani dan keras kepala, banyak orang malas jika berurusan dengan orang seperti ini. Jadi sebagian orang memilih untuk menghindarinya bukan karena takut tapi malu berurusan dengan orang yang gak punya malu yang suka mengumbar amarahnya di mana-mana. Baik didepan umum ataupun di media sosialnya. “Sudah Hiranya, gak perlu ikutan gak waras kayak Sinti Hatala, dia orang yang sudah terlalu percaya diri. Tinggi hati!” ungkap Sekar Arum Cempaka. “Ehmmm,” jawabku. “Yang sabar ya,” sambung Sekar Arum Cempaka. “Entahlah apa yang akan terjadi padaku nanti, karena aku berani melawannya,” kataku kepada temanku. “Sudah, jangan khawatir. Pasti kamu baik-baik saja,” hibur temanku satunya. “Mungkin benar kata Sinti Hatala, jika aku tak sederajat dengannya dan Jagat Elang. Tapi aku dan keluargaku tidak pernah merendahkan harga diri dengan meminta-minta justru kita berlaku sebaliknya, meskipun tidak seberapa tapi kita ikhlas memberikannya,” ungkap ku pada temanku dengan meneteskan air mata. “Sudah Hiranya, gak usah di ambil hati ucapannya,” bujuk Sekar Arum Cempaka. “Heemmmm,” jawabku. Keluargaku memang berprofesi sebagai petani. Dan dari penampilan luar terlihat biasa-biasa saja. Karena memang orang desa seperti kami hidupnya sederhana. Memang kelihatannya tak sekaya Sinti Hatala tetapi kita juga melakukan usaha, bekerja di ladang dan sawah sendiri. Biar dengan hasil yang biasa, tapi kami ikhlas dengan rezeki yang Tuhan berikan. Selalu bersyukur atas yang di peroleh itu dan bisa untuk berputar sehari-hari. Kita sadar karena tinggal di desa dengan pola hidup sederhana, lantas apa yang mesti aku sombong kan. Toh, apa yang kita miliki di dunia hanya pinjaman dari Tuhan dan pada waktunya satu persatu bakal sirna dan diambil-Nya. Tapi sebagai manusia yang dianugerahi otak untuk berpikir, bagaimana caranya harus terus melakukan pergerakan untuk bertahan hidup serta bertanggung jawab pada kehidupan saat ini dan kelak. Itulah yang menjadi alasan kenapa kita tetap bersemangat dan positif dalam berjuang. Jika sebagai manusia biasa rasanya normal jika hatiku juga terluka dengan adanya penghinaan itu. Mungkin benar jika kesuksesan itu ternyata bisa membungkam mulut seseorang. Jadi tak perlu buang energi untuk membalas dendam dengan pertengkaran. Berusaha untuk tetap tenang, tunjukkanlah kesabaran terhadap semua hinaan, cacian, makian dan sikap meremehkan dari orang lain. Semakin banyak yang mengkritik, semakin banyak yang memperhatikan berarti mereka peduli. Petik hikmahnya, jika bisa mengubah ocehan negatif menjadi semangat positif maka akan semakin berkualitas diri kita. Jangan mudah patah semangat, apalagi berputus asa hanya karena cibiran dan hinaan mereka. Teruslah berjuang untuk mewujudkan apa yang menjadi impianmu. Jatuh, berdirilah jika jatuh lagi berdiri lagi teruslah memiliki semangat tinggi. Jangan pernah takut gagal, bangkitlah perbaiki apa yang menjadi penyebab kegagalan itu. Yakinlah Tuhan akan melihat kerja keras seseorang yang tulus menjalani kehidupan. Inilah nyanyian ku, ungkapan gejolak hati seorang anak perempuan yang pernah teraniaya. “Dasar! Cemen,” ejeknya Sinti Hatala. “Tahan Hiranya, jangan dibalas ya,” ucap temanku. “Iya.” “Kampungan, udik, miskin, sok kecakapan, sok pintar, sok kalem, sok istimewa dan sok apa lagi ya yang pantas ditujukan buat loe,” cercaannya Sinti Hatala. “Eh lama-lama kok aku jadi pingin ketawa ya,” ucapku pelan kepada teman-temanku. “Kenapa Hiranya, tanya Sekar Arum Cempaka dengan penasaran. “Hustttt, pelan-pelan saja ngomongnya biar Sinti Hatala gak mendengar,” sambung salah satu temanku. “Iya-iya, ” sahut Sekar Arum Cempaka. “Kalian pikir saja apa yang barusan dikatakannya,” kataku kepada temanku. “Hehehe,” tawa pelan temanku. “Oh itu, jelas banget yang dikatakan Sinti Hatala itu benar adanya dan bukan sok-sokan. Kita semua juga tahu Hiranya asli cantik, otaknya cerdas, posturnya ideal, mandiri dan keren,” ungkap Sekar Arum Cempaka memujiku. “Iya aku juga mikir begitu makanya aku ini nahan tawa loh, berasa lucu saja dengar ocehan Sinti Hatala yang sudah ngawur itu terlihat malah bikin dirinya di nilai buruk orang lain karena sering menghujat Hiranya di hadapan umum dan media sosialnya,” sambungnya temanku. “Penilaian Sinti Hatala kan gak sama kayak penilaian kalian,” kataku kepada teman-temanku. “Kita kan mikirnya positif, sebagai manusia kita sadar bahwa tidak ada manusia yang sempurna yang tidak memiliki kekurangan atau tidak pernah berbuat kesalahan. Pasti orang ada kurang ada salahnya juga. Kita semua juga kan termasuk Sinti Hatala. Sebenarnya kita juga kasihan melihat Sinti Hatala tapi mau bagaimana lagi dia yang membenci orang sederhana seperti kita. Dia sukanya bergaul sama yang kaya jadi biar dipuji dan disanjung,” ungkap Sekar Arum Cempaka. “Ngomong yang kenceng biar aku dengar,” tukas Sinti Hatala. “Kalau kita ngomongnya kenceng bakal bikin geger dunia persilatan. Kita itu kasihan sama kamu sebenarnya, janganlah kasar dan garang seperti itu. Malulah,” ucap Sekar Arum Cempaka. “Bodo amat, diam loe orang miskin,” makian Sinti Hatala. Memang benar adanya jika lidah itu lebih tajam dari pada pedang. Satu ucapan kotor saja yang keluar dari mulut, dapat menghancurkan hati seseorang menjadi berkeping-keping. Ingin aku selalu berusaha untuk tegar, saat aku terlalu optimis dan terobsesi akan mimpi dan cita-citaku, sedangkan disisi lain ada orang yang sibuk berkoar berusaha memojokkan ku, menghinaku, menjatuhkan ku, meremehkan ku bahkan berkata buruk terhadap orang tuaku. Ketika aku dihadapkan pada situasi seperti itu aku sebenarnya juga berusaha untuk tetap tenang dan sikapi dengan kepala dingin. Jika kata-kata kebencian itu adalah kritik yang membangun atau bahan introspeksi diri maka aku akan mendengarkan. Tapi kalau yang dikatakan itu berisi fitnah dan bualan, aku juga berhak membela diri. Beberapa orang termasuk Sinti Hatala itu tipikal orang yang kesulitan untuk mengendalikan emosinya, dia akan mengalami amarah yang meledak-ledak. Dan akan lebih baik jika menghindari interaksi dengan orang semacam ini. Buat apa menang karena adu mulut, apakah akan memperoleh tropi kebanggaan? Seorang Hiranya selalu menganggap keselamatan manusia juga tergantung pada kemampuannya menjaga lisan. Kita bisa mengukur kualitas seseorang dari lontaran ucapannya yang kerap keluar. Ucapan seseorang bisa jadi cermin dirinya sendiri. Melalui ucapannya akan nampak bagaimana pola hati dan pikirannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD