Aku hanya pasrah mengikuti langkah lebar milik Derian. Rahangnya mengeras. Ada raut benci di saat dia melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri kalau Delvin memiliki seorang kekasih.
Lalu kami berhenti di sebuah swalayan. Entah apa yang ingin Derian lakukan di swalayan ini. Mungkin dia butuh beberapa kebutuhan disini.
"Batalkan perjodohan ini Fer!" Perintahnya sambil memandangku lekat.
Aku menghembuskan napas dengan kasar, "aku tidak bisa Der," lirihku.
Derian berdecak sebal lalu menggenggam tanganku membawa ku mengelilingi sudut swalayan ini.
"Apa kamu sanggup melihat dia bersama wanita lain? Seperti tadi, apakah kamu merasa sakit hati? Aku sayang sama kamu Fer sebagai sepupu, jadi aku tidak mau kamu sakit hati lagi karena ulahnya."
Aku tersenyum masam, "terima kasih atas perhatiannya, aku juga sayang sama kamu Der, sebagai sepupu. Tetapi, aku tidak bisa membatalkan perjodohan ini. Maaf."
•••
Derian dan aku tidak sengaja berpapasan dengan Delvin. Delvin menatap kami dengan kaget. Sedangkan Derian menatap Delvin dengan sinis dan dingin. Padahal mereka adalah rekan kerja.
"Ferlyn?!" Delvin menunjukku, aku membalasnya hanya tersenyum. "Kamu ngapain disini?" Tanyanya sambil memicingkan matanya curiga.
Aku hendak membuka mulut tetapi Derian lebih cepat membalas pertanyaan Delvin.
"Oh, kami sedang jalan-jalan. Bagaimana dengan Anda, apakah ini salah satu koleksi pacar Anda?" Tanya Derian formal lalu menatap Delvin dan pacarnya dengan sinis.
Rahang Delvin mengeras, "bukan urusan Anda!"
Derian menatap Delvin dengan tajam, begitu pula sebaliknya. Aku mendengus, daripada mereka berantam atau adu jotos di mall ini lebih baik aku membawa Derian menjauh dari Delvin.
Aku memegang pundak Derian, "sudahlah Der, lebih baik kita pergi saja."
Derian menoleh lalu tersenyum tipis, Derian menggengam tanganku membawa kami pergi dari hadapan Delvin.
Tetapi tangan sebelahku ditarik oleh seseorang, yang sudah kuketahui pasti Delvin. Lantas aku menoleh kehadapan pria yang sedang menatapku tajam.
"Kau pulang bersamaku."
Nadanya memerintah dan terdengar tidak ada penolakkan. Aku mentap pria ini dengan bingung, begitu pula dengan pacarnya yang tidak terima atas perintah Delvin tadi.
Pacar Delvin merengut lalu memeluk lengan Delvin dengan manja membuatku muak dengan tingkahnya yang terlalu kecentilan.
"Sayang, kok bawa dia sih? Terus kita gak jadi beli dress dong?"
Delvin mendengus sebal, "beli dress-nya kapan-kapan saja ya! Aku mau bawa dia ke apart dulu, soalnya dia pembantu aku yang lagi kencan sama pacarnya tanpa seizin majikkannya." Katanya sambil memandangku sinis.
Mendengar kalimat yang ia lontarkan membuatku sakit hati, ternyata dia benar-benar menyembunyikan status kami dihadapan pacarnya.
Derian menggeram kecil di sampingku. Lagi-lagi aku menenangkannya sebelum Derian salah langkah dan akan kupastikan bentar lagi wajah Delvin bakal memar. Jadi aku menenangkan Derian sebelum Delvin wajahnya babak belur.
"Maaf Tuan, sa-saya tadi di paksa sama eng..."
Delvin berdecak, "sudahlah kamu ikut saya." Delvin menyentakkan tanganku dan Derian yang daling menggengam. Lalu dia menatap pacarnya, "kau pulanglah dulu pakai Taxi, nanti biayanya biar aku saja yang urus."
Pacarnya Delvin mencebikkan bibirnya dengan sebal lalu mematuhi perintah Delvin. Lantas Delvin menarikku --entah kemana tujuannya-- meninggalkan Derian dan pacarnya. Saat itu Derian ingin mencegah Delvin yang akan membawaku tetapi aku menatapnya agar dia tidak mencegahku agar bersama Delvin. Seakan tahu arti pandanganku, Derian akhirnya menatap kepergianku dengan menatap kami sampai aku dan Delvin tidak lagi tampak dari penglihatannya.
Aku meringis sakit saat tangan Delvin tambah mencengkram tanganku dengan kuat. Namun Delvin tidak memperdulikan tanganku yang sudah memerah karena ulahnya.
"Lepas Del! Sakit." Ringisku. Namun Delvin bergeming.
"Sakit Del!" ringisku kembali.
Delvin melepaskan tanganku, "bisakah kau diam? Dan ikuti perintahku."
Nyaliku menciut saat mata Delvin menatapku dengan marah. Saat dia marah, dia sangat menyeramkan.
Saat aku mematuhi perintah Delvin, dia mengajakku masuk jedalam mobil Porsche nya.
Mobil sport miliknya membelah kota Batam. Aku hanya melihat luar jendela mobil, dan aku tidak tahu Delvin akan membawaku kemana.
Daripada memikirkan atau menebak kemana Delvin akan membawaku, aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Kita mau kemana?" Tanyaku sambil menatapnya dengan ragu.
Tanpa menoleh, Delvin membuka suara, "kita bakal fitting baju akad dan resepsi."
Aku mengernyit, kenapa tujuannya jadi fitting sih? Bukannya dia menolak ya kemarin?
"Tapi..."
"Aku sudah tidak ada kencan lagi sama pacarku, jadi lebih baik kita fitting."
•••
Aku ternyata berani juga berdebat sama pria dingin macam Delvin. Entah kenapa kami berdebat tentang warna pakaian untuk acara resepsi.
Delvin yang suka berwarna biru dan hitam sedangkan aku suka warna merah jambu. Delvin tidak terima jika gaunnya berwarna merah jambu serta dekorasi resepsinya.
Saat aku mendapat ide kalau dekorasi nya campuran warna antara hitam dan merah jambu langsung disetujui olehnya. Tetapi yang kami bingungkan adalah warna pakaian kami. Untung saja WO nya bilang pengantin wanitanya gaunnya berwarna merah jambu sedangkan pengantin pria memakai jas hitam. Perpaduan yang sangat pas dan cocok. Delvin pun menyetujui ide WO tersebut.
Kalau acara akad nikah tentu saja berwarna putih.
Rasanya saat berdebat dengan Delvin itu serasa kami adalah pengantin yang benar-benar sangat menantikan moment ini. Tetapi dari segi pandang kami itu salah besar, karena Delvin sebenarnya tidak setuju kalau dia bakal menikah denganku. Sayangnya, aku sangat menantikan kalau aku bakal menikah dengannya. Walaupun dulu aku berharap menikah dengannya ternyata sampai sekarang harapan itu belum pupus.
Dan sekarang aku dalam perjalanan pulang bersama Delvin. Tak henti-hentinya aku menyunggingkan senyum bahagia. Tentu saja aku bahagia karena Delvin mengalah tentang warna dekorasi maupun baju pernikahan karena aku.
"Kenapa senyum-senyum?" Suara Delvin menyentakkanku.
"Siapa yang senyum?" Elakku sambil berusaha menahan senyumku.
Delvin tidak menjawab malah mendengus.
Tetapi lima menit kemudian dia kembali bersuara.
"Jangan terlalu berbesar hati karena aku mengalah tentang konsep pernikahan ini, tetapi aku terpaksa karena mamaku memaksaku kaulah yang harus menentukan konsep pernikahan ini." Jelasnya.
Senyum yang kutahan kini pun pudar. Berarti Delvin terpaksa mengikuti kemauanku karena tante Ani?
Ingin rasanya aku menangis tetapi aku tahan karena aku harus kuat agar aku bisa mendapatkan hati Delvin. Ya, aku harus kuat!