"Eheem..." suara Derian menyadarkan kami berdua, lantas aku dan Delvin pun kembali duduk di kursi, lain halnya dengan client kami, mereka menatap kami --aku dan Delvin--dengan tatapan penasaran.
Derian sedari tadi menjelaskan persentasi tetapi penjelasan Derian tidak masuk ke dalam otakku. Semua yang Derian jelaskan tidak satupun kalimat yang ia lontarkan lengket di otak.
Bagaimana bisa fokus apa yang Derian jelaskan tentang persentasi jika otakku sudah berkelana menerawang jauh tentang Delvin.
Astaga! Aku kan sudah bertekad dari dulu untuk melupakannya. Kenapa di saat pikiran dia telah hilang kini sosok itu muncul? Huftt... Ini sangat rumit Tuhan!
"Baiklah, semua sudah jelas, jadi meeting ini ditutup. Selamat siang." Suara Derian yang tegas saat menutup meeting ini membuat aku terkesiap.
Aduhhh gawat ini! Kenapa aku belum sedikitpun menuliskan isi kalimat yang di persentasikan oleh Derian?! Astaga... Kalau Derian ngamuk bagaimana?!
Ruangan meeting pun kosong, kecuali di dalam ruangan ini masih ada aku, Derian dan Delvin. Entah kenapa makhluk satu itu bukannya pergi malah masih berdiam diri disini.
"Jadi Delv, aku memintamu menunggu disini adalah, kita akan bekerjasama menyelesaikan proyek ini. Apakah Anda setuju dengan pendapat saya?" Derian membuka pembicaraan pada Delvin.
Sialan! Jadi si Derian ulahnya membuat Delvin harus berada disini?
Arghhh... Derian bego'!
"Baik, saya sangat setuju atas kerjasama dengan Anda untuk membangun proyek ini." Delvin berkata seraya melirikku dari ujung matanya.
Merasa di acuhkan oleh dua orang pria ini, aku berdiri niat untuk meninggalkan ruangan ini. Bukan, maksudku menghindari sosok Delvin. Karena sedari tadi aku menahan nafas hanya melihat mata indah berwarna turquoise itu. Aku tau bahwa rasa itu belum hilang. Tapi, bagaimana bisa? Padahal sebelumnya aku sudah membuang jauh-jauh rasa itu padanya! Kenapa saat aku melihatnya, melihat wajahnya, melihat mata indah itu membuat jantungku berdegub dengan kencang?! Aishh.... Seharusnya aku sadar kalau Delvin tidak akan pernah menyukaiku! Aku harus menutup rasa itu agar tidak kembali.
"Ferlyn, kenapa kau berdiri?" Derian bertanya, dahinya mengkerut kecil.
Aku menggeleng, "maaf Pak, mungkin saya harus permisi dulu, karena saya tidak mau mengganggu pembicaraan bapak dan Pak Delvin karena saya." kataku.
Derian menahan senyumnya.
Sebenarnya Derian tau kalau aku dulu sangat suka eh, bukan! Aku bukan suka, melainkan jatuh cinta pada Delvin. Iya, dia cinta pertamaku. Cinta yang susah buat dilupakan walaupun dia sudah berkali-kali menghinaku dan mencaci makiku kalau aku tidak pantas dengannya dulu.
Saat mataku bersibobok pada mata indah turquoise itu, ada raut sedih atau kecewa (?) Saat aku ingin meninggalkan ruangan ini.
"Tidak apa-apa Ferlyn, sebentar lagi aku dan Pak Delvin akan lunch bersama, bukankah kau sebelumnya memintaku untuk lunch bareng? Jadi apa salahnya kita lunch bareng?" Ucao Delvin dengan seringaiannya.
Arghh.. Derian kampret! Memang kalau aku mau lunch bareng sama Derian, tetapi tidak dengan Delvin! Sialan kau Derian!
"Tapi..."
"Saya tidak ingin mendengar penolakan, Ferlyn!"
Derian sompreeeeet! Kalau begini mau gak mau aku turuti permintaannya.
**
Derian memang menyebalkan! Masa aku ditempatkan duduknya berhadapan dengan Delvin, sedangkan manusia menyebalkan itu di sampingku.
Mataku terkunci oleh tatapan tajam milik Delvin, mengapa Delvin melihatku dengan tatapan tajam seperti itu? Demi Tuhan, itu sangat menakutkan.
"Jadi, kalian mau pesan apa?" tanya Derian menyadarkanku dari tatapan Delvin.
Lantas aku membuang muka dari hadapan Delvin lalu menatap Derian yang tersenyum geli. "Samakan saja denganmu." kataku sambil melotot garang padanya.
Derian menatapku dengan geli, "baiklah nona manis." katanya sambil menyengir. "Lalu bagaimana denganmu Delv, kau mau memesan apa?" tanya Derian.
Delvin berbicara tanpa melihat Derian, matanya terus menatapku tajam. Membuat tubuhku merinding seketika.
"Samakan saja dengan Ferlyn!" sahutnya cepat sambil bersedekap.
Apa-apaan itu? Kenapa menunya sama sepertiku? Jadi, kami bertiga hidangannya sama?
Derian terkekeh geli, "hahaha... kalian lucu ya, masa menu makanannya sama sepertiku." ucap Derian lalu melambaikan tangannya pada pelayan.
Pelayan itu pun datang dengan membawa buku pesanan kecil.
"Ya, pesan apa ya Pak?" tanya pelayan itu ramah. Tatapan wanita itu memandang Derian dengan mupeng.
"Saya pesan ayam rica-ricanya tiga, lalu minumnya cola, tiga." kata Derian lalu menatap pelayan itu.
Pelayan wanita itu hanya melamun memandang wajah Derian. Sudah kuduga, pasti pelayan ini terpesona pada Derian.
"Halo mbak!" Derian menyadarkan pelayan itu dari lamunannya.
Pelayan wanita itu gelagapan, wajahnya bersemu merah. "Eh, eng... maaf, pak, bisa di ulangi lagi pesanannya?" pelayan itu tertunduk malu.
"Saya pesan ayam rica-ricanya tiga, lalu minumnya cola, tiga. Anda sudah paham? Atau mau mengulanginya sekali lagi?"
Derian memandang pelayan itu tajam. Dasar Derian! Selalu dingin sifatnya pada wanita diluar sana begitupun pelayan disini.
Pelayan itu menggeleng cepat, "tidah usah Pak," sanggahnya cepat, "maaf, kalau begitu saya permisi."
•••
Aku memarkirkan baby Kitty ku ke dalam garasi. Di halaman depan yang cukup luas, aku melihat papa dan mama sedang menikmati teh hangat di gazebo. Mereka tampak mesra, apalagi papa sangat mencintai Mama.
Lalu aku melangkah mendekati keduanya. Bisa kudengar suara gelak tawa dari Mama karena papa menggodanya.
Aku terkesima pada pandangan keduanya. Aku ingin jika menikah nanti hubungan pernikahan kami romantis seperti mama dan papa.
"Selamat sore, pa, ma." sapaku pada keduanya. Mama dan papa menghentikan aktivitas romantisnya. Lalu memandangku dengan senyum merekah.
"Sore sayang..." balas mama, sedangkan papa hanya mengangguk.
Singkat cerita, papa itu orang yang berwibawa dan berkharisma. Papa itu tidak banyak berbicara selain pada mama tentunya.
"Apa aku menggangu papa dan mama?" Tanyaku.
Mama menggeleng, "tidak saya, sini bergabung bersama kami." kata mama lalu menuangkan teh kedalam gelas dari teko.
"Ini untukmu, pasti anak mama lelah kan seharian ini bekerja," mama mengasihkan secangkir teh untukku yang sebelumnya ia tuangkan.
Aku meminum teh dari mama. "Tidak terlalu kok ma,"
Mama hanya tersenyum. Sedangkan papa kini sedang bermain gadgetnya. Bisa kutebak kalau papa lagi main Hay Day di dalam gadgetnya. Dasar Papa!
"Jadi, apa kamu sudah mendapat pasangan?" tembak mama.
Aku mengerucutkan bibirku. Kenapa Mama harus menanyakan soal perihal ini melulu sih?Kan dengernya lama-lama sebel juga. Asik itu-itu aja pertanyaannya.
"Ma, bisa tidak jangan bahas ini dulu, Ferlyn lagi betê ma denger kapan Ferlyn dapat pasangan. Ferlyn sudah besar, nanti juga jodoh pasti datang pada Ferlyn kok."
Mama berdecak sebal, "kamu ini! Pandai sekali nge-lesnya. Mama gak mau tau, dua hari lagi jika kamu tidak ada pasangan, mama terpaksa harus menjodohkanmu pada temen anak mama." kata Mama sadis.
Astaga, tega sekali mama cantikku ini, akan menjodohkanku. Ya Tuhan, harus darimana aku mendapatkan pasangan pada temen anak mama.
Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak mau dijodohin sama teman anak mama.
"Ma, bisa ditambah lagi gak harinya? Kenapa sedikit sekali mama memberikanku waktu." tukasku tidak terima.
"Mama gak mau tau, pokoknya jika dua hari kamu tidak membawa pasanganmu pada mama, kamu mama jodohkan!" perkataan mama membuatku meringis.
Astaga, mamaku kejam sekali. Kenapa ngebet banget sih yang namanya soal pernikahan. Aku aja gak peduli soal tentang itu.
"Ma..." rengekku.
Mama melotot garang, wajahnya nyeremin kayak mamanya film animasi Rapunzel yang tinggal di menara.
"Mama. Tidak. Ingin. Mendengar. Bantahan!" ujar mama penuh penekanan.
Tuhan, kalau begini temukan aku jodoh untuk dua hari kedepan. Amiiiinn...