Ibu ibu bapak bapak, yang punya anak harap datang ke kompleks Grand Summit. Bawa anak anda dan daftarkan data diri anak Anda pada saya. Huhuhu... malangnya nasibku ini.
Nyari calon imam bukannya gampang seperti mencari rujak petis. Haduhhh...
Ini sudah dua hari permintaan ababil Mama yang menyuruhku mencari jodoh. Sebenarnya aku bukannya gak laku, tetapi aku mencari pasangan yang benar-benar cocok atau bisa di bilang bisa menjadi calon imam yang baik.
Aish, nyebelin ah kalo begini, mau gak mau aku menuruti permintaan mama yaitu "Menjodohkanku!" huh!
Kalau yang mama jodohin itu bapak-bapak gimana? Atau aki-akik? Atau juragan jengkol? Juragan pete? Pemilik sawah di kampung? Alamak, gak mau!!!
Lebih baik aku di jodohin sama anjing Cihuahua tetangga yang lagi ngebet kawin.Astaga amit-amit dah.
"Eh, daritadi manyun aja lo." suara Sherly membuatku menatapnya jengkel.
Ini anak ganggu orang aja deh, sudah tau lagi pusing mikirin jodoh eh tambah pusing karena suara melengking dia.
"Apaan deh," gerutuku sebal.
Sherly menatapku lekat, "biar gue tebak, lo pasti ada masalah kan ya? Iya kan?" tanyanya seraya menaik turunkan kedua alisnya.
Sialan!
Aku berdecak gemas, "tauk ah, pikir aja sendiri."
Sherly mengerucutkan bibir, "ih gak asik mah sama Ferlyn, kasih tau aja napa sih, katanya gue temen lo." rajuknya.
Aku menghela napas, kalau aku kasih tau semua sampai detail bakalan diketawain sama ni makhluk satu.
Gak ah, pokoknya ini rahasia. Hanya keluarga Edwardo yang tahu.
"Maaf, tapi gue gak bisa ceritain sekarang, gak apa-apa kan?" tanyaku merubah mimik merasa bersalah.
Sherly melongos, "yaudah gak apa kok kalau kamu belum mau cerita," katanya.
Sherly orangnya emang pengertian banget. Kalau aku tidak sanggup mengatakan apa yang aku rasa pada Sherly, Sherly pasti mengerti tapi sebagai gantinya aku akan menceritakannya tetapi nanti bukan sekarang.
•••
"Jadi Ferlyn, apa kamu sudah dapat pasangan?"
Sabarkan hambamu ini Ya Allah!
Mama menagih pertanyaan kok di meja makan sih, ish. Jadi gak mood makan jadinya. Apalagi akunya belum dapat pasangan. Jadi makin tambah bad mood. Huee... Mama nyebelin!
Aku menutup garpu dan sendokku, "ma, bisa gak pertanyaan ini nanti dulu di bicarain? Ferlyn kan lagi makan ma."
Mama memutar kedua bola matanya malas, "halah kamu itu, alasannya banyak banget! Ah, mama tau, kamu pasti belum menemukan pasanganmu kan? Apalagi waktu pencarian jodohmu sudah habis. Mau tidak mau kamu harus menuruti permintaan mama yaitu kamu akan mama jodohkan!" Setelah berkata seperti itu, mama memasang senyum kemenangan.
Aku SKAKMAT!
Kan benar dugaanku, pasti aku bakal dijodohin sama Mama, toh dari ujung penggaris sampai unjung pensil pun jodohku tidak bisa ditemukan.
Aih, kalau gini aku bakal dijodohin seperti cerita Siti Nurbaya dong? Iya bisa dibilang begitu, tetapi ini beda zaman. Siti Nurbaya kan zaman baholok, lha ini zaman modern masih memakai perjodohan pula.
Ck, malang sekali nasibmu Ferlyn!
"Ma,masa mama tega sih jodohin Ferlyn, kalau dia orangnya gak baik gimana ma?" rengekku. Mudah-mudahan mama berubah pikiran dan membatalkan niat beliau yang akan menjodohkanku.
Mama meneguk air di gelas lalu kembali bersuara, "dengerin mama ya Fer, yang mau mama jodohin itu orangnya sukses. Baik juga kok orangnya, apalagi shalat lima waktunya itu tidak pernah ia tinggalkan. Setiap subuh dia tadarus. Mapan lagi, apa yang kurang? Gak ada! Kamu yang sebagai istrinya nanti hidup nyaman aja di rumahnya.Tapi jangan lupa sama tugasmu sebagai istri, yaitu mengurus suami kamu. Jadi apa yang kamu ragukan pada 'dia'?"
Mama menatapku lekat.
Yang aku ragukan, 'Apa dia bisa menerima ku sebagai istrinya nanti?'
Tapi pertanyaan itu aku simpan dalam hati. Karena aku tidak ingin mengecewakan mama yang tidak meragukan sosok calon menantu itu.
Aku menghela napas panjang, "apa mama pernah menemuinya?" tanyaku.
"Pertanyaanmu kita potong dulu, tidak baik membicarakan hal ini dimeja makan. Cepat habiskan makananmu biar mama beritahu kamu bagaimana pria itu." kata mama tegas.
Ampun dah, kan mama yang memulainya duluan membicarakan hal ini, kenapa seolah-olah aku yang duluan membicarakan perihal ini sih. Ish, dasar mama!
Aku menggeleng, "Ferlyn udah kenyang ma, bisa kita bicarakan sekarang?" Aku mengelap mulutku dengan tisu basah.
Mama tersenyum tipis, "baiklah kita bicarakan sekarang sekalian menunggu papamu pulang." kata mama akhirnya.
Aku mengikuti langkah mama ke ruang keluarga, sesampainya di ruang keluarga, mama menyalakan televisi lalu duduk santai di sofa.
Aku mengikuti mama dan duduk tepat di sebelahnya.
Aku menunggu mama memulai ceritanya. Dan mama pun mulai bersuara.
"Mama pernah bertemu dengannya, dia adalah anak teman akrab mama, dulu mama dan sahabat mama pernah berjanji akan menikahkan anak kami jika kalian berbeda jenis. Dan waktu kami tau kalian berbeda jenis kami pun bertekad tidak akan merubah keputusan kami. Dan jika kalian sudah dewasa nanti kalian akan kami jodohkan. Saat itu beruntung sekali mama kalau kamu belum ada pasangan dan begitu pula anak teman mama. Jadi, semoga kalian menerima keputusan kami kalau kalian akan kami jodohkan." mama tersenyum di akhir kalimat. Serasa mama itu bangga jika aku bisa menjadi istri anak sahabat mama.
Tuhan, apakah aku dosa jika membatalkan perjodohan ini? Apalagi melihat mama yang sangat senang menceritakan anak sahabatnya itu.
"Ma, bisa kasih Ferlyn untuk berpikir? Karena Ferlyn masih bingung dengan semua ini ma."
Yep, aku butuh waktu antara membatalkan atau menerima kemauan mama menjodohkanku. Karena aku harus shalat istikharah untuk menemukan jawaban apakah keputusan ini tepat atau tidak.
Mama mengangguk setuju, "baik mama akan memberikanmu waktu tetap dua hari, tidak ada meminta waktu lebih! Paham?"
Aku mengagguk, "paham ma."
"Jadi setelah dua hari itu kamu sudah menemukan jawabannya, malamnya mama akan menemukan kamu pada pria itu."
Astaga... Langsung bertemu pria itu pada malam hari ya?! Ampun dah! Tapi... aku tidak tau paras wajah pria itu seperti apa? Apa jangan-jangan dugaanku benar kalau mama akan menjodohkanku dengan pria tua? Makanya mama tidak memberikan profil atau photo pria itu.
Membayangkan aku menikah sama pria tua membuatku bergidik. Amit-amit jabang bajay! Hih!