Chapter 4

1179 Words
Malamnya aku menunaikan kewajibanku yaitu shalat istikharah. Mencari petunjuk Nya apakah keputusan mama menjodohkanku itu benar atau tidak. Setelah shalat istikharah aku membaca kitab suci sampai menjelang subuh. Aku melepaskan mukenahku, lalu melipatnya dan meletakan mukenahku ke dalam lemari. Tadinya aku sempat mau berbalik tidur lagi, tetapi sekarang waktu subuh, matahari pun tampak malu menyinari bumi. Aku memutuskan ke dapur membantu Mbok Mirnah memasak sarapan untuk keluarga. Aku juga pandai memasak karena Mbok mengajariku memasak sejak SMP. Karena waktu aku semasa SMP, mama dan papa sibuk mengurusi pekerjaannya sedangkan aku di tinggal di mansion kecil ini bersama asissten rumah tangga keluarga Edwardo. Aku melihat Mbok sedang sibuk memotong wortel. Tanpa tedeng aling aling, aku mendekati mbok. "Selamat pagi mbok." sapaku. Mbok berjingkat kaget. "duh si Non, ngagetin mbok saja." dengus mbok Mirnah sambil mengelus d**a. Aku hanya terkekeh sambil memeluk mbok, "mau Ferlyn bantuin mbok?" tanyaku. "Tentu saja jika Nona bersedia." Aku pun memulai memasak di bantu oleh Mbok Mirnah. ••• Aku sudah menemukan jawabannya, dari lubuk hati ini aku harus menerima permintaan mama. Bukan menolaknya. Jawaban hati aku adalah aku harus menerima pria yang mama pilih untuk aku. Aku sudah mantap dengan pilihan mama. Aku tau mama memilihkan pria untukku bukan pria sembarangan. Jadi aku harus percaya sepenuhnya pada pria yang mama pilihkan untukku. "Ferlyn! Kenapa sering melamun sih akhir-akhir ini?!" suara Derian menyentakkanku. Astaga pria ini benar-benar! Hobi sekali sih ngagetin aku mulu. Dengan sebal aku mengetuk pelan kepalanya, "Nyebelin ah! Ganggu orang aja." rajukku. Derian terkekeh geli, "Lha, emang benar kan? Kamu ini bukannya catatin hasil meeting kemarin malah note nya kosong. Dan lagi-lagi kamu melamun. Mikirin apa sih?" Yah mulai deh keponya. Nanti kalau gak di jawab malah dia mengganggu ku. Dari bbm lah, nge-Line aku pokoknya aku di usik mulu sama dia sampai aku mau menceritakan masalah yang aku hadapi. Malah aku sempat berpikir kalau Derian ini sifatnya seperti Sherly, kerjaannya kepo. "Dih, kepo!" Derian mencolek daguku, "sensi amat sih neng. Lagi PMS ya?" katanya menggoda sambil mengedip centil ala banci kaleng. Huh! "Derian udah deh gak usah nyentuh aku!" kataku sambil menepis tangannya yang masih di daguku. "Gak ah sebelum kamu ceritain." Aih, minta dikurban ini orang! Sambil menghela napas panjang aku menceritakan semuanya, dari awal sampai dijodohkan. Derian menatapku dengan iba. Memang aku pantas untuk dikasihankan. "Yang kuat ya," Derian berkata tanpa nada menggoda lagi, aku tersenyum seolah ini tidak apa-apa. ••• Aku meminta dukungan pada adikku yang berada di Scotlandia. Entah kenapa waktu mama memberitahu bahwa aku akan ke rumah sahabatnya tadinya aku tidak gugup. Tetapi saat sorenya nyaliku menciut. Keberanianku pupus sudah. Aku tidak tau lagi harus bersikap bagaimana pada sahabat mama --calon mertua-- dan pria itu yang notabenenya anak dari sahabat mama --calon suamiku--. Adikku, Fadli yang lagi melanjutkan study kuliahnya langsung pengen balik ke Indonesia. Katanya penasaran sama sosok calon kakak iparnya. Boro-boro mau tau gimana paras calon kakak iparnya, wong aku aja belum bertemu. "Fer, kamu cantik sekali." puji mama. Aku tau, bukannya berbesar hati tapi memang kenyataannya aku cantik. Apalagi aku memakai dress selutut tanpa lengan model kemben. Aku hanya tersenyum kecil menanggapi pujian mama. Entahlah, aku tidak dalam mood baik saat ini. Apalagi tadi siang Derian bercerita kalau Delvin sudah menemukan jodohnya. Aku sakit. Aku patah hati. Tapi siapalah aku bagi Delvin. Aku hanya orang asing yang menyukainya. Bagi Delvin aku bukan siapa-siapa. Mirisnya. Walau begitu, hatiku tidak pernah kebal sama Delvin. Walaupun Delvin dulunya pernah menyakitiku tetapi hatiku terlalu kuat menahan gejolak sakit yang diberikan oleh Delvin. Entah kenapa waktu Derian bilang Delvin sudah menemukan jodoh membuatku ingin merusak wajah wanita Delvin itu. Jika mereka sampai ke jenjang pernikahan bakal aku bakar resepsi pernikahannya beserta tamu undangan. Kejam memang, tapi itulah Ferlyn. "Kamu sudah siap, sayang?" Mama bertanya sambil memakaikanku flower crown. Aku menarik napas lalu menghembuskannya dengan perlahan. Aku mentekadkan diriku kalau aku siap. Demi mama yang sangat antusias dengan perjodohan ini. "InsyaAllah, Ferlyn siap." kataku sambil menatap mama lekat. Disana, di dalam manik mata mama terdapat pancaran kebahagiaan yang membuncah. Senyum mama pun tambah mengembang. "Syukurlah, ayok kita langsung ke rumah teman mama." Bukan aku dan mama saja ke rumah sahabatnya, tetapi papa pun ikut serta karena papa adalah sahabat dari suaminya sahabat mama. Sepanjang jalan aku gelisah. Aku gelisah karena bagaimana jika pria itu sudah tua? Tidaaak! Hilangkan pikiran konyolmu Ferlyn! Tidak terasa mobil yang dikemudi oleh Pak Man sudah sampai di depan rumah bergaya mediteran. Rumah yang mewah dan sangat luas. Halaman depannya terdapat air mancur serta kolam ikan berukuran kecil. Di halamannya juga terdapat patung kuda yang berukuran sedang. Astaga... Ini rumah atau gedung istana?! "Ayok turun!" perintah mama dengan semangat. Bahkan yang duluan turun dari mobil itu mama. Papa hanya menggelengkan kepala melihat mama yang terlalu semangat, saat kami sudah keluar dari mobil, kami --mama, papa dan aku-- pun memasuki rumahnya. Saat kami memencet bel sampai dua kali, pintu pun terbuka, disana ada wanita setengah baya yang sangat cantik dengan balutan gamis berwarna pink serta jilbab yang menutupi sebagian dari kepalanya. "Aaahh... Jeng Vira akhirnya datang, sudah ditungguin lho, hihihi..." ujarnya senang sambil bercipika-cipiki sama mama. Aku hanya tersenyum memandang dua orang yang sedang bahagia dengan pertemuannya. "Haha... maaf jeng Ani, biasa anak gadisku harus berdandan biar cantik kayak mamanya." ujar mama sok eksis. Wanita ini menatapku sambil tersenyum lembut, "Ferlyn tante." ujarku memperkenalkan diri. Masih dengan senyuman manis yang dimiliki wanita ini beliau pun membalas perkenalanku, "Halo Ferlyn, senang bertemu denganmu. Ayokk masuk dulu, suamiku sudah menunggu di ruang tamu." katanya mempersilahkan. Saat masuk kedalam rumahnya, tak henti-hentinya aku berdecak kagum dengan segala hiasan interiornya. Rumahnya rapi dan bersih. Yaiyalah, masak rumah bagus dalamnya hancur. Suara bass milik seorang pria membuatku berhenti mengagumi interior rumah ini, "eh, sudah datang rombongan Edwardo," katanya lalu berdiri. Ya ampun udah tua masih gagah aja, apalagi senyum yang dimiliki pria itu sangat menawan. Apa jangan-jangan orang itu yang akan dijodohkan padaku?! Astaga.... "Hai, pak! Haduh tambah gagah saja, gimana perusahaan?" papa menyapa balik lalu kami semua di suruh pemilik rumah untuk duduk di sofa. Sempat lega juga karena bukan bapak-bapak itu yang akan dijodohkanku. Semua pada bernostalgia sampai melupakanku. Huh, menyebalkan! Tiba-tiba suara tante Ani memanggil namaku, "Ferlyn, maaf ya kalau kami cuekkin, soalnya bentar lagi calon kamu datang kok." Alamak, kok jadi dikira aku lagi gelisah nunggu calonnya sih? Aku hanya tersenyum, lalu tidak lama kemudian ada suara maskulin yang membuat jantungku berdegub sangat kencang. "Assalamu'alaikum." Ya Tuhan, suaranya sangat seksi. Tetapi saat melihat wajahnya, rasa kagumku musnah. Menjadi rasa marah yang membuncah dalam diriku. Pria itu... Apakah pria itu yang akan dijodohkan olehku? Tidaaaakkk! Dulu aku memang niat banget dijodohkan dengannya. Ingat, tapi itu DULU! Senang sih bisa dijodohin sama dia, tetapi gak mungkin juga sih ya, kan dia menolakku. Apakah saat dia tau aku akan dijodohkan dengannya si Delvin akan langsung menolakku? Seketika rasa takut sekaligus sakit menghampiri diriku. Aku tidak bisa mendeskripsikan perasaanku, dalam lubuk hati aku sangat senang bisa dijodohkan dengannya, tetapi dalam egoku aku tidak bisa menerimanya karena masa lalu itu. Yup, pria itu adalah Delvin Arfa Patterson. Pria yang selama ini membuat hidupku jungkir balik karenanya.                
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD