Prolog
Abimanyu harus menelan kepahitan dalam hidupnya. bagaimana tidak, di usia yang masih terbilang muda, ia harus di hadapkan pada kenyataan terpisah dari keluarganya. Bukan karena faktor ketidaksengajaan, tapi sang ayah lah yang sengaja memisahkan dia dari keluarganya.
Malam itu ia memulai semuanya dengan berat hati. Abi tak tahu apakah ia bisa menciptakan kebahagiaannya sendiri, meski harus jauh dari keluarganya. dan pula, Abi tak bisa menebak takdir macam apa yang akan ia hadapi di sana, di tempatnya yang baru, di rumah keluarga nya yang baru. meski ia tahu, keluarga yang mengadopsinya adalah keluarga yang berkecukupan. keluarga yang cukup terpandang dan juga religius.
Langit malam yang Abi pandangi dari jendela burung besi itu hanya menampakkan awan kelabu. Abi menghela nafas panjang. Di sebelahnya duduk seseorang yang tak asing, datang jauh-jauh sengaja untuk menjemputnya. Yusuf Maulana. Pemuda itu selalu memasang senyum manisnya di depan Abi. " Abang tahu, kamu merasa canggung. tapi , abang juga tau, kamu pasti bisa melewati dan menjalani ini. Kamu sudah seperti adek kandung buat abang. Dari dulu. Hem.... "Yusuf mulai bicara ketika dilihatnya kegelisahan di mata Abi. Abi tersenyum. Ia memang merasa canggung, tapi melihat ketulusan yang ditunjukkan Yusuf, Abi merasa tenang. Semoga Allah menghadirkan takdir yang baik untuknya, ia berdoa dalam hatinya.