Sholat Isya sudah usai sejak 10 menit yang lalu. Jamaah pun sudah berhamburan dan kembali ke rumah masing-masing, termasuk 2 orang anak laki-laki berusia 14 tahun dan ayahnya. Masjid dan rumah mereka berjarak 20 menit dengan berjalan kaki. Mereka tampak terlibat pembicaraan yang serius dalam perjalanan pulang itu.
“ Ayah minta maaf, nak. Ayah diberikan tanggung jawab untuk membesarkanmu, mendidikmu, dengan baik. Ayah tentu saja memikul beban yang tidak ringan. Sudah sejak lama ayah memikirkan hal ini, bahkan sejak ayah menerima tanggung jawab untuk mengurus dan membesarkanmu”. Suara yang sendu itu perlahan berubah serak, sang ayah berjalan tertatih, sambil tertunduk lesu. Sesekali ia menyentuh sudut dalam matanya dengan jari nya agar air mata nya tak serta merta tumpah, di depan anak laki-laki itu, ia ingin terlihat tegar, terlihat kuat walaupun kegelisahan tak pernah hilang dari pikiran dan hatinya. Saat seperti inilah yang selalu ditakutinya terjadi. Sesering apapun hatinya menampik, tapi ia harus tetap melewati nya. Takdir nya, takdir putra nya, yang sangat ia sayangi.
Langkah nya terhenti ketika ia tersadar, langkah putra kesayangannya tak sejajar dengan nya. Putranya berjalan beberapa langkah di belakangnya. Pandangan mata anak itu kosong, ia tak menangis. Tapi ayahnya tahu, hatinya terluka, jiwa nya hancur. Ia akan merasakan kehilangan, kesepian, lagi. Mereka berpelukan dalam diam. Keduanya merasakan sakit yang sama. Sakit akan kehilangan dan perpisahan.