CHAPTER 2 ANKARA, TURKEY.

543 Words
02 Juli 2003                 Esenboga International Airport, Ankara, Turkey.                               Perjalanan panjang selama 14 jam lebih itu cukup menguras tenaga dan pikiran Abimanyu. Walaupun perjalanan lewat udara, keletihan tetap ia rasakan. Walaupun ia di fasilitasi dengan penerbangan Executive Class Garuda Indonesia, letih itu tetap ada. “ Ayo Dek, papa Danu dan mama Yun sudah menunggu.” Ujar seorang pria muda. Pria itu yang menemaninya melewati perjalanan ini. “ Iya Mas. Ayo.” Sahut Abimanyu sembari menyambut tangan Yusuf untuk menggandengnya. Sekitar 25  menit perjalanan dari Bandara Esenboga – Akyurt, sebuah distrik di provinsi Ankara. Mobil yang menjemput Abimanyu dan Yusuf sudah memasuki sebuah halaman rumah yang tidak terlalu luas namun terlihat asri dan menentramkan, setidaknya itulah harapan yang berbisik di hati Abi. Ia sangat baru di lingkungan itu. Sebelum mobil Civic hitam yang mereka tumpangi itu berhenti sempurna, mata Abi menangkap dua sosok manusia yang berdiri di depan pintu masuk rumah itu. Rumah yang tidak terlalu besar sederhana dengan arsitektur minimalis classic khas rumah gaya Eropa. Tentu saja mereka Papa Danu dan Mama Yun. Abi tak asing dengan wajah itu. Dan bang Yusuf tentu saja. “ Assalamualaikum, Ma, Pa”, Abi menyapa, begitu ia turun dari mobil lalu mencium takzim kedua tangan Danu dan Yun.“ Waalaikumsalam, Abi. Gimana perjalanannya?” Yun menyahut sekaligus menyapa. “ Alhamdulillah Ma, lancar.” Jawab Abi. “ Ayo, masuk dulu, ngobrolnya kita lanjutin di dalam aja. Di luar terik. Abi juga  pasti capek. Ayo!” ajak Danu. Lalu mereka masuk melewati ruang tamu langsung menuju ruang keluarga rumah itu. Abi menatap sekeliling. Ada kaligrafi besar dengan tulisan Allah dan Muhammad di dindingnya, dipajang berdampingan. Serasi, religius. Di dinding yang berlawanan jam dinding kayu berukiran kaligrafi berdiameter kira-kira 50 cm bertengger dengan apik. Abi bersyukur,keluarga nya memiliki kehidupan yang cukup religius. Setelah cukup saling menyapa sambil menikmati teh dan makanan ringan yang disiapkan Yun, Abi pun diantar oleh Yusuf ke kamarnya. “ Ayo dek, ini kamar kamu, sudah rapi. Kamu pasti capek banget kan. Kamu mandi dan sholat aja dulu, nanti abang panggil unutk makan siang.” Ujar Yusuf sambil meletakkan koper Abi yang ia bawa di dekat lemari kayu. “ Oh ya, lemari nya juga sdh abang bersihin, kamu bisa pake mulai sekarang. Jangan sungkan, kita ini keluarga.” Ujar nya lagi sambil tersenyum. “ Iya bang. Makasih ya Bang, Abi seneng bisa tinggal di sini, apalagi tinggal sama mama Yun dan papa Danu. Kalian baik. Makasih Yaa...” balas Abi, juga tersenyum. Yusuf pun tersenyum lagi. Abi menutup pintu kamar nya pelan. Ia terpekur. Tiba-tiba saja ia di sini. Di tempat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia melepaskan Backpack yang masih bertengger di pundaknya. Di letakkannya di lantai samping tempat tidur. Tempat tidur ukuran sedang yang cukup untuk 2 orang itu berbungkus sprei motif monochrome dengan gradasi hitam, abu dan putih, warna yang serasi dan terlihat memang di siapkan untuk seorang anak laki-laki. Abi membuka dan merogoh Backpacknya, ia mengeluarka sebuah frame yang berisi foro dirinya, ayah dan dia. Dielusnya pelan frame itu, ia menghela nafas dalam , berat. Tak ada yang lebih berharga dalam hidupnya selain dua orang yang ada di foto itu.” Yah... abi kangen ayah sama adek....” lirihnya. Dan di sinilah kehidupan barunya dimulai. Kesepian yang akan perlahan berganti kebahagiaan, namun Abi tak pernah melupakan kenangannya. “ Bismillahirrahmanirrahim... Ya Allah, aku berserah padaMu.” Gumamnya pelan. Ia beranjak menyiapkan dirinya menyambut kehidupannya yang baru. Di Ankara, Turkey.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD