Agustus 2006
Abdullah Breck
Hari pertamanya menginjakkan kaki di Istanbul University. Tak ada yang istimewa. Seperti biasa, Yusuf selalu saja membuntutinya kemana Ia pergi. Tampaknya Abang nya yang satu ini tak pernah rela berpisah darinya. Bahkan di usianya yang kini menginjak 19 tahun pun, tahun pertama ia memasuki dunia perkuliahan menjadi seorang mahasiswa, tetap saja tak luput dari campur tangan abang satu-satunya.
“ Bang, aku berangkat dulu ya... doain loh....” Ucap Abdullah sambil mencium takzim permukaan tangan Yusuf.
“ Pasti dong Bi.... “
“ Baaaaang......”
“ Kenapa? Iya iya...., nanti siang abang jemput makan siang ya?!” kata Yusuf lagi.
“ Baaanng, napa ga sibuk cari calon istri aja sih? Malah sibuk ngurusin aku. Aku udah gede loh ini, udah jadi mahasiswa...., masa kemana-mana dibuntuti mulu...?” Protes Abdullah.
“ Di mata abang, kamu tuh tetep adek kecil abang yang nggemesin .... hahaha” Yusuf malah asyik menggoda sembari mencubit kedua pipi adik kesayangannya itu. Yang dicubit malah memasang wajah cemberut.
“ Udah donk, jangan cemberut, gantengnya ilang loohhh...” Kata Yusuf lagi. Dia tetap tersenyum.
Abdullah hanya memandang abangnya pasrah. Nasibnya memang terlalu baik, karena memiliki abang yang sangat memperhatikannya.
“ Ya udah sana. Nanti telat di kuliah pertama, kan malu.” UcapYusuf.
“ Kan abang yang mulai...” Sungut Abdullah sembari keluar dari mobil SUV Silver abangnya.
Begitu pintu mobil ditutup, Yusuf membuka kaca jendela, menghardik adiknya yang sudah hendak melangkah. “ Breck.... Serius nih, nanti siang abang jemput, sekalian makan siang ya... , kan besok abang udah balik ke Ankara. Abang perlu ngobrol nih...” kata yusuf setengah berteriak.
Abdullah menoleh , “ Iya bang, Assalamualaikum....” balas Abdullah sembari melambaikan tangannya dan melangkah menuju gedung fakultas tempat ia akan segera menimba ilmu.
Abdullah tersenyum riang, betapa tidak, ia bisa lulus di ujian pendaftaran masuk universitas Istanbul, universitas terbaik kedua di seluruh Turki, dan masuk dalam 100 universitas terbaik di Asia Pasifik. Konon, dari jumlah seluruh pendaftar, hanya 10% nya saja yang bisa lulus untuk menimba ilmu di sana. Dan dirinya adalah salah satunya.
Kuliah hari pertama mengesankan bagi Abdullah. Kekagumannya akan kampus nya ini, bertambah. Kuliah hari pertama adalah sesi perkenalan. Para mahasiswa di perkenalkan dengan profil kampus, mulai dari sejarah berdirinya, hingga perubahan Nama Universitas dari Darulfunun menjadi Istanbul University pada tahun 1933. Mahasiswa nya tidak hanya berasal dari warga lokal, bahkan warga negara Mesir, Iran, KSA pun banyak yang menjatuhkan pilihan untuk kuliah di sini. Dan inilah mereka yang kemudian menjadi teman satu kampus satu jurusan, satu fakultas.
Sambil mengulurkan tangan di tengah perkuliahan ...
“ Hello, i’m Hossam Yazid from Egypt...” Ujar Hossam ke Abdullah.
“ I’m Abdullah , from Ankara. ” Balas Abdullah sambil tersenyum.
“ SSSShhhhh... Your voice... we are having a subject now...” Pria di depan Hossam berbisik. Lalu menoleh sedikit. “ I’m Zayeed , Iran.” Lanjutnya, lalu langsung menoleh lagi ke depan.
Lalu di tengah kekhuyusukan kuliah yang sudah berjalan setengah jam lebih itu, tiba-tiba pintu ruangan itu berderit keras. Seseorang datang terlambat rupanya.
“ You! In the first Class, coming late. Come to the front class, you have to introduce yourself from here.” Mr. Barrack menunjuk mahasiswa itu. Dengan langkah menahan malu, si mahasiswa melangkah maju. Dan mulai memperkenalkan diri.
“ Assalamualaikum... ana...ups, sorry, I am Said Ibrahim from KSA, mmm Saudia Arabia.... please forgive me for my coming late...” Ujar mahasiswa itu agak gugup, namun tetap bersemangat. Terlihat dari raut senyumnya yang mengembang.
“I’m really sorry for coming late , Sir.” Ia berkata pada Mr. Barrack.
“ Okay, for 40 minutes late, you have to come to my office after last lecture. “ Mr. Barrack.
“ Pardon me, sir??” Said menatap sang dosen dengan harap, bahwa dosen itu tidak sedang menghukumnya. Tapi hanya harapan, karena Mr. Barrack ternyata serius akan memberikan hukuman di hari pertamanya kuliah. Said tampak menyesali keterlambatannya hari ini. Sejarah yang harus terus diingatnya. Terlambat 40 menit di hari pertama kuliah. Hhhft.
“ Take your seat!” ujar Mr. Barrack.
Said melangkah menuju bangku kosong yang sengaja ditunjuk Zayeed disebelahnya. Said pun duduk dan tersenyum pada Zayeed, Abdullah dan Hossam. Sebelum tiba-tiba seseorang menyeret kursinya untuk duduk bergabung bersama mereka. “Assalamualaikum. Aku Kareem, asli Turki “ Ujarnya sembari melebarkan kedua bibirnya, senyumnya sumringah. Detik itulah persahabatan mereka dimulai.