Palembang, Agustus 2010
Sultan Mahmud Badarudin II International AirPort.
Gadis bertubuh mungil dengan kerudung yang menggelayut dari ujung kepala hingga menutupi setengah badannya itu masih terduduk di Lounge menunggu keberangkatan penerbangannya. Sambil membaca Novel favoritnya Pesantren Impian besutan penulis Ternama Asma Nadia itu selalu setia menemani, terutama di saat –saat yang menurutnya ia bingung untuk bersikap. Seperti saat ini, antara harus merasa senang atau malah bersedih. Di satu sisi hatinya , Aida bahagia karena ia Lulus dan berhasil emndapatkan beasiswa untuk kuliah di Universitas Al Azhar , di Kairo Mesir. Namun di sisi hatinya yang lain, ia berat meninggalkan abah Santoro yang sudah memberikan banyak kasih sayang padanya. Ia terngiang kembali saat abah menasehatinya sebelum ia mantap untuk pergi.
“ Nak, kamu adalah putri abah, walaupun tidak dilahirkan dari rahim istri abah. Tapi nasabmu, tetaplah mengikuti garis keturunanku. Harapan abah adalah kamu menjadi gadis yang berakhlak mulia, sholehah tentu saja. Agar jika abah nanti dimintai pertanggung jawaban oleh Allah , juga kedua orang tuamu, maka abah tak perlu menyesali apapun. Abah percaya padamu Aida. Jagalah diri baik-baik di sana. Kak Yudi mu akan menggantikan abah menjagamu di sana. Akur-akurlah dengan nya. Mungkin awalnya akan canggung,karena kalian sangat jarang bertemu. Tapi abah yakin, kalian akan baik-baik saja di sana. Daan, hafalanmu, temuilah guru yang sudah abah kenal...” Abah Santoro mengeluarkan secarik kertas. Tertulis sebuah nama lengkap dengan alamat dan nomor telepon di sana. Aida menatap sendu ke arah kertas, lalu menangkap tatap netra abah dengan sedih.
“ Bah, Aida berat meninggalkan abah di sini. Abah sudah memberikan banyak kebahagiaan untuk Aida seperti anak abah sendiri. Aida sudah terbiasa mengurus Abah. Kalo Aida ga ada siapa yang masakin abah? Yang nyuciin , nyetrikain pakaian abah? “ Aida berkata dengan sedih.
“ Nak, kamu gak perlu khawatarin abah, masih ada kak Ahmad disini dengan istrinya. Mereka juga anak-anak abah, mereka pasti bantu abah. Hmmm. Sudah . besok kamu harus berangkat pagi-pagi kan. Tidurlah, besok abah, bang Ahmad dan Laila akan mengantar kamu ke bandara. Sudah sana, tidur.” Ujar abah lagi.
“ Baiklah. Abah juga langsung tidur ya... Jangan begadang terus. Kan ada bang Kak Ahmad yang bisa ngurusin kerjaan kantor.” Balas Aida. “ Iya, abah Cuma tinggal beresin dokumen-dokumen ini aja. 5 menit juga kelar. Sudah sana tidur. Besok kesiangan looh...” hardik Pak Santoso lagi.
Pak Santoro adalah pria paruh baya yang hampir seperempat umurnya mengasuh dan membesarkan Aida keponakannya. Ibu kandungnya meninggal karena sakit Meningitis yang dideritanya saat usia Aida masih 6 tahun. Dan Ayahnya meninggal dalam kecelakaan saat Aida masih berusia 10 tahun, itu berarti sudah 9 tahun Aida tinggal bersama keluarga Santoro, melalui hari-hari beratnya dulu, hingga Aida mulai beranjak dewasa. Aida tumbuh menjadi anak yang cerdas, periang, cantik dan sifatnya pun lembut tapi tegas. Aida sudah terbiasa hidup mandiri sejak dari ibunya tiada.
Pak Santoro sendiri mempunyai dua anak laki-laki. Ahmad Santoro, yang sudah menikah dan akan segera dikaruniai anak. Dan Yudi santoro yang kini masih menimba ilmu di Tanah Firaun , Mesir, di universitas Al Azhar, Kairo.
Lamunan Aida buyar seketika, saat ia mendengar Nomor penerbangannya di sebut di Speaker bandara. Gate 4. Penerbangan Domestic, PLM-CKG dengan nomor penerbangan GA 486, Garuda Indonesia, tujuan Soekarno-Hatta International Airport, cengkareng. Penerbangannya menuju jakarta tidak akan memamakan waktu lama. Hanya 50 menit saja. Transit di Jakarta pun hanya memakan waktu 1 jam, Pak Santoro telah memilihkan penerbangan jam 11.00 dengan Egypt air, yang hanya akan transit selama 2 jam 15 menit di Jeddah, baru kemudian akan terbang lagi menuju Cairo, Mesir. Dilihatnya sesaat waktu di jam tangannya. Masih terbilang pagi 08.30 wib. Jam penerbangan masih setengah jam lagi, tapi kru pesawat tentu harus bersiap-siap untuk Take Off. Tak heran jika Garuda Indonesia tetap menjadi Maskapai Penerbangan terbaik di tanah air. Selain pelayanannya dari bandara hingga akan turun dari pesawat yang terkenal perfect, waktu penerbangan pun selalu On Time. Jikapun ada penundaan akan ada pemberitahuan dari pihak maskapai. Itulah kenapa abah Santoro selalu menggunakan Maskapai ini jika hendak melakukan Bussiness Trip. Aida melangkah, ia berdoa dalam hati , semoga apa yang dijalaninya, apa yang telah dilaluinya ini menjadi titik balik dalam hidupnya.
“Bismillahirrahmanirrohim.... “ lirihnya, memantapkan hati , menyerahkan takdir nya pada Allah.