(4) 3- Sorry

1751 Words
Suasana riuh pagi itu di kediaman Prayuda, si kembar yang sudah bangun dan belum mandi sibuk berlari ke sana kemari mencari sepatu milik Mama dan Papanya yang sebentar lagi akan berangkat pergi bekerja sedangkan Kanika sedang asyik menyusu di atas sofa tanpa memperdulikan adik-adik kembarnya yang berlari terhunyung-huyung. "Maaaa..." panggil Bian. "Patu..." ucapnya sambil menyodorkan sepatu milik Mai dengan memasang tampang imutnya. "Oh? Bian ambilin sepatu Mama ya? Terimakasih sayang." sebuah kecupan manis mendarat di pipi Bian. "Hmm, anak Mama kok bau asem ya?" ia mendengkus "Nda.. Ian dah ndi Mama." ucap Bian dengan bahasa bayinya. "Siapa yang bilang Bian udah mandi? Kapan mandinya? Kan tadi Mama mandi sendirian nggak sama Mas Bian sama Mamas Bhima, hayo belum mandi kan?" canda Mai lalu menjawil pipi Bian lalu dikelitiki sampai tertawa geli. "Tickle Tickle tickle..." "Eyi mama eyiiii..." Bian tertawa geli dipangkuan Mamanya. Sementara Bhima bersama Papanya, ia mengikuti kemana Papa nya melangkah tanpa mau ketinggalan, Bhima lebih dekat dengan Papanya dan Bian lebih dekat dengan Mamanya. "Mama, Aliya ikut ke klinik ya?" tiba-tiba suara Aliya menghentikan kegiatannya bersama Bian. "Lho kamu masih libur, Kak?" "Baru hari ini Aliya libur, Ma." jawab Aliya sambil menarik kursi makannya. "Oh iya kamu baru libur kuliah ya. Tapi kalau kamu ikut ini adik kamu siapa yang jagain? Kasian Bik Minah sendirian jaga krucil tiga yang lagi lincah begini. Nggak usah ya, kamu di rumah dulu aja." Mailanny tidak mengizinkan Aliya ikut dengan alasan tidak ada yang membantu Bik Minah menjaga ketiga adiknya ini. Aliya tidak menjawab, hanya diam saja. Ia lebih memilih untuk mengambil selembar roti dan mengolesi selai di atasnya lalu memulai sarapannya. "Aduh! Salah ngomong nih."  rutuk Mai dalam hati saat melihat tampang datar Aliya yang berarti ia sedang kesal dengan orang-orang di sekitarnya. Suara tangisan Bhima menyadarkan Mai dari lamunannya saat melihat Aliya di ruang makan. "Eeeh, Bhima. Kenapa sayang?" ia menghampiri Bhima yang sedang menangis dan memegangi kepalanya. "Atit, Ma. Kani, kul-kul Mash, Ma!" rajuknya. Kanika memukul Bhima dengan botol susunya hingga Bhima menangis mengaduh kesakitan, Kanika kesal karena Bhima terus saja menggoda nya dengan menarik-narik rambut Kanika yang panjang. "Kani pukul Mamas?" tanya Mai saat menggendong Bhima, Kanika berlari ke balik gorden. "Kanika, kenapa Mamas  Bhima dipukul?" ucap Mai lagi saat melihat Kanika sedang bersembunyi ketakutan di balik gorden. "Kanika?" panggil Mai lembut dan menyingkap gorden di depannya sambil masih terus menggendong Bhima yang masih menangis. Ia melihat Kanika sedang menahan tangisnya, wajahnya sudah memerah, Kanika menampilkan wajah innocent dan puppy eyes- nya agar Mai tidak memarahinya. "Sayang kenapa Mamas nya dipukul?" Mai berjongkok di hadapan Kanika yang menunduk ketakutan. "Mash bandel Mamaaaaaa." teriaknya lalu menangis. "Ambut, Ka. Tarik Mash. Atit MAAAAAA!!!!" teriaknya kesal. "Ooh, Mamas juga bandel sih. Ditarik-tarik rambut Kakak ya? Ya udah sekarang baikkan. Mama nggak mau kalau pas Mama tinggal kerja kalian belum baikkan. Ayo, pinky swear dulu sama Kani, mana kelingkingnya. Yang salah minta maaf." matanya melihat Bhima yang masih menunduk usai menangis. "Ma-af." ucap Bhima terbata sambil menunjukkan jari kelingkingnya. Kanika terdiam sejenak sebelum menautkan kelingkingnya ke kelingking Bhima. "Yaaa." jawabnya pendek lalu menit berikutnya mereka kembali bermain lagi. "Sekarang tinggal si sulung nih yang belum baikkan sama Papa." ucap Mai dalam hati. Ia memberi isyarat pada Hardi untuk menghampiri Aliya yang baru saja menyelesaikan sarapannya sedang melihat ponsel di tangannya. "Kak?" sapa Hardi, Aliya masih pada ponsel di tangannya. "Aliya Ariana? Di panggil Papa." suara lembut Mai mengalihkan perhatian Aliya. "Kenapa, Pa?" jawab Aliya dingin. Hardi duduk di hadapan Aliya, ia menatap wajah si sulung dalam-dalam walau ia mencoba membuang pandangannya. "Kak, maafin Papa ya?" ucap Hardi tanpa mengalihkan pandangannya. "Papa egois sama kamu, nak. Papa nggak pernah peka sama kamu, maafin Papa ya sayang?" ucapnya lagi. "Please?" Aliya menghela nafasnya berat, sekilas ia melihat Mai yang menganggukan kepala untuk memaafkan Papanya. "Ya udah, kali ini Papa Aliya maafin." ucapnya masih dingin. "Tapi Aliya kesel sama Papa. Kenapa sih selalu ingkar janji?" bibirnya mengerucut. Hardi terkekeh. "Maaf ya kalau Papa suka ingkar. Janji deh besok-besok nggak lagi." "Janji ya, Pa? Jangan PHP." ancamnya. "PHP? Apaan lagi itu?" "Pemberi harapan palsu. Ih Papa kudet banget sih!" ucap Aliya sarkas. Hardi tertawa keras mendengar ucapan Aliya yang mengatakan bahwa dirinya kudet alias Kurang Update. Lanny hanya bisa tersenyum melihat Aliya akhirnya akur lagi dengan Papa nya. "Mas, berangkat yuk. Nanti macet" ajak Mai saat ia melihat jam tangannya Hardi mengangguk. "Sayang, Mama berangkat ya." Mai mengecup pipi Aliya. "Papa juga ya." Aliya hanya mengangguk pasrah. "Siang nanti aja ya sayang kalau mau susul Mama. Mama juga baru sedikit pompa ASI nya buat si kembar, nanti kalau rewel ke sana ya?" suara Mai memenuhi pendengaran Aliya sebelum ia masuk ke dalam mobil. "Iya Ma" jawab Aliya pendek. Begini risikonya punya orang tua yang dua-duanya bekerja. Di saat Aliya libur, Mama Papa justru tak bisa ke mana-mana apalagi Mama yang harus ada di klinil sejak pagi sampai menjelang sore nanti. Terkadang, sedihnya juga bukan karena kepergian Anneke saja tapi dari Mama Papa yang kelewat sibuk sampai liburan saja sepertinya di kejar waktu. Tahun lalu waktu baru beberapa minggu Anneke meninggal, Aliya memang sengaja di bawa jalan-jalan tapi tetap saja tidak merubah apapun. Katakanlah tidak mempan dan kondisi itu di perparah saat Mama mulai membuka klinik sendiri bersama Adiknya, Papa yang perusahaannya mulai berjalan seperti sedia kala setelah persiapan berbulan-bulan langsung mendapat banyak proyek sana sini di beberapa titik di Indonesia. Aliya jadi semakin kesepian, satu-satunya teman di rumah yang bisa Aliya ajak bicara dan bercanda saat ini adalah Bik Minah. Izza hanya bertemu di kampus, selebihnya memang jarang keluar, Aliya pun. Jadi kegiatan saat liburan ini adalah menjaga ke tiga Adiknya yang sedang aktif bermain apalagi si kembar baru bisa berjalan membuat mereka berdua harus terus di awasi seperti sekarang ini agar tidak lari ke kolam renang. "Eehhh..." Aliya langsung menangkap Bhima yang sudah berjalan ke arah pintu kaca yang terbuka, Aliya langsung menutup pagar kecil setinggi badan Bhima dan menutup pintu kacanya.  Aliya mendudukan Bhima di kursi tinggi dan memakaikan celemek di lehernya. "Duduk sini, aku cari Bian dulu." ucap Aliya sambil menjawil pipi gembul Bhima. Aliya sedang mencari-cari di mana Bian, ternyata anak kecil itu sedang mengacak-acak rak buku yang pendek hingga semua buku berserakkan. Aliya menepuk dahinya lalu mengangkat Bian dari sana meski penuh penolakan. "Hayoo, ngapain kamu di sini. Mau ngacak-ngacak yaa.." Bian meronta minta turun. "Aaaaa.. Ukuu ukuuu..." rengeknya lalu manyun, Aliya tertawa kecil melihat kelakuan adiknya lalu Bian duduk di kursi sebelah Bhima. "Kak Iyaa, mammm..." Kanika menarik-narik baju Aliya. "Iya, kita maem yaa sini..." Aliya juga mendudukan Kanika di sebelah Bian lalu menyuapi mereka sarapan paginya yang sudah disiapkan Bik Minah. ☘️☘️☘️☘️ Mai sudah sampai di klinik, ia duduk di nurse station sambil menikmati teh hangatnya. Mai ingat setiap sudut ruangan ini karena dulu tempat ini adalah bekas panti asuhan milik Anneke yang anak-anak asuhnya sudah di serahkan pada dinas sosial. Terkadang Mai seperti melihat bayang-bayang Anneke di sini sedang bermain dengan anak-anak, apalagi jika ia duduk di depan dekat pintu masuk. Ada halaman yang cukup luas untuk bermain dan Anneke ada di sama bersama anak-anak. Wajar saja jika Aliya betah di sini berlama-lama, mungkin Aliya merasakan hal yang sama seperti apa yang Mai sering rasakan setiap harinya. Ingin sekali Mai mengembalikan fungsi rumah ini seperti sebelumnya tapi ia takut kuwalahan karena anak-anaknya di rumah pun menunggunya dan waktu Mai pasti akan terbagi ke sana ke mari. Jadi cukuplah rumah ini di amanahkan padanya untuk menjadi sebuah klinik yang memang Mai inginkan tapi ia tak menyangka jika Anneke masih ingat sampai menulis hal itu di berkas-berkas peralihan harta benda yang ia buat sebelum pergi. "Assalamualaikum..." ucap Ellea saat masuk dan melihat Kakaknya tengah termenung di nurse station. "Assalamualaikum..." ulangnya lagi sambil melambaikan tangannya di depan wajah Mai. "Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.! Dokter Maiiii..." panggil Ellea agak kencang. Mai terjingkat langsung mengelus dadanya. "Astagfirullah. Wa'alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh..." jawab Mai akhirnya. Ellea geleng-geleng kepala. "Isuk-isuk geus ngalamun. Mikirin apa sih, mbak?" Mai hanya terkekeh mendengar repetan Adiknya itu. Lalu setelahnya karyawan lainnya mulai berdatangan satu persatu dan menyapa Mai. "Pagi dok.." "Pagi.." jawab Mai penuh senyum. Klinik pun mulai sibuk, pasien masuk silih berganti hingga jam makan siang tiba Mai baru bisa duduk dengan tenang sampai ketukan pintu mengalihkannya lagi. "Ya, masuk." jawab Mai sambil merapikan berkas yang berantakan di mejanya. "Permisi dok, ada yang cari." ucap Suster sambil membuka pintu ruangan Mai lebar - lebar. Mai menongak dan cukup terkejut melihat seseorang yang mencarinya siang-siang begini di klinik. "Assalamualaikum," ucap orang itu. "Wa'alaikumsalam..." sambut Mai sambil cipika cipiki. "Saya kira dokter masih di Kalimantan..." ujar Mai sambil mengajaknya duduk, orang itu adalah dr. Nadia. "Ini saya lagi pulang. Saya denger udah nggak di KMC lagi?" tanyanya. "Masih dok, on call aja. Sama hari Jumat saya tetap di KMC kok." jawab Mai. Dokter Nadia menepuk lengan Mai pelan. "I'm sorry for your lost, Mai. Saya baru dengan begitu tiba di sini dan ternyata sudah setahun ya?" Mai mengangguk. "Nggak apa-apa dok, terima kasih. Makanya saya jarang terlihat di KMC karena baru merintis klinik ini dok." "Gimana anak-anak? Saya dengar dari dr. Rifqi kalau Aliya sangat terpukul ya?" Mai mengangguk lagi. "Semuanya terpukul dok, termasuk saya dan suami. Kami benar-benar merasa kehilangan tapi ya kami mencoba menerima meski Aliya masih nampak terpuruk." "Time will heal. Nanti kalau dia sudah Koas juga pasti tidak akan seperti ini lagi, i know that hurts. I've been there, Mai, i lost my daughter when she was five years old and i'm depressed that time." Mai meremas jemari dr. Nadia lalu memeluknya merasakan kehilangan dan kepedihan yang sama. Mereka sama-sama pernah kehilangan dan pernah terpuruk juga terpukul. "I'm sorry." ujar Mai. Dokter Nadia tersenyum maklum. "Namanya Aureline." "Pretty name." gumam Mai, dr. Nadia tersenyum. "Time will heal, Mai trust me. Pasti banyak perubahan yang terjadi sama Aliya kan? Penerimaan setiap orang atas kepergian orang yang di sayangi pasti berbeda dan seperti inilah penerimaannya. Pegang dia, Mai, jangan abaikan. Dia butuh Mamanya..." Mai mengangguk lalu dr. Nadia memeluknya erat. Benar katanya, memang banyak perubahan pada Aliya dan Mai memang harus terus bersama Aliya apapun yang terjadi saat ini. Time will heal Time will heal..  ❤️☘️❤️☘️❤️☘️❤️☘️❤️ Jujur aja sih, aku juga baru mengalami kehilangan seperti Aliya dan time will heal itu terbukti walaupun kadang masih suka nangis tapi kalau udah nangis, lega aja... Hujani aku dengan vote dan komen kalian ya gaes #dahgituaja #awastypo Dudui Danke, Ifa  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD