Aliya sedang berada di kampus bersama Izza, mereka memilih duduk di kantin dekat fakultas kedokteran untuk meminum jus jeruk yang terasa segar rasanya di minum saat hari yang panas seperti ini sambil mengerjakan tugas-tugas kuliah yang belum selesai menjelang liburan kuliah seperti ini.
"Aliya?"
Aliya mengangkat kepalanya dan ternyata itu Ve, Vero. Ketua kelas di kampusnya. Wanita berparas manis, berkulit kuning langsat berambut hitam sebahu itu menyapa Aliya yang tengah menikmati minumannya.
"Ya?" jawabnya pendek.
"Gue boleh duduk?"
"Boleh kok." jawab Aliya lagi.
Vero pun menarik kursi yang berhadapan dengan Aliya. "Al, ada yang mau gue tanyain sama lo?" Vero mulai berbicara pada Aliya yang terlihat masih acuh tak acuh terhadapnya.
"Tanya apa?"
"Kalau gue perhatiin kok lo jarang kumpul ya sama anak-anak?"
Aliya menarik nafasnya dengan berat, ia tahu kemana arah pembicaraan Vero itu.
"Masih ada hal yang lebih penting dari sekedar kumpul, Ve. Gue punya tanggung jawab sama adik gue di rumah karena bokap gue sibuk di kantor dan nyokap gue sibuk di klinik, bahkan gue kadang harus bawa mereka bertiga ke klinik karena mereka rewel cari Mama kalau stok ASI dari Mama habis. Jadi gue nggak ada waktu selain kuliah-pulang- jemput nyokap- jagain adik gue." jelasnya.
Vero hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Aliya yang terperinci, ia tahu bahwa ada alasan besar apalagi yang belum Aliya ucapkan selain itu. "Yakin cuma itu?"
Aliya hanya mengangkat kedua alisnya dengan malas dan ia merasa jengah mendengar pertanyaan Vero yang sesungguhnya tahu apa alasan terbesar Aliya menjadi seperti sekarang ini, mereka datang saat pemakaman Anneke setahun lalu, pertanyaan Vero membuat Aliya sedikit gerah.
Padahal sesungguhnya saat hari-hari pertama masuk kuliah Aliya, ia adalah anak yang ceria dan ramah namun setelah kejadian itu, ia berubah 180 derajat.
"I'm sorry for your lost Aliya. Maaf gue bukannya mau ikut campur urusan lo, gue tahu perasaan lo masih sakit dan belum bisa terima apa yang udah terjadi. Tapi lagi-lagi life must go on. Sorry Aliya, kalau pertanyaan gue ini bikin lo sedih." tandasnya, lalu Vero beranjak dari kursi di depan Aliya dan meninggalkan Aliya yang masih terduduk diam di sana.
Sebenarnya ucapan Vero barusan ada benarnya.
Memang Aliya jarang terlihat bahkan sepertinya tidak pernah sama sekali berkumpul dengan teman-teman kampusnya karena ia merasa mempunyai tanggung jawab terhadap ketiga adiknya di rumah yang hanya di jaga Bik Minah yang terkadang kelimpungan sendiri dengan mereka bertiga.
"Udah Al, jangan peduliin itu si Vero ngomong apa. Gue tahu lo jarang kumpul karena punya tanggung jawab lain dan gue maklum." Izza menepuk pundak Aliya pelan.
"Emangnya dia, sana sini ngumpul nggak jelas." celoteh Izza lagi membuat Aliya tertawa.
"Ya udah yuk, Za. Balik, gue mau ke makam habis ini." Aliya segera membereskan barang-barangnya.
"Pengin nenangin diri ya, Al?"
"Iya. Bete gue." jawab Aliya sambil berjalan ke parkiran dengan Izza dan mereka segera menuju tujuan masing-masing.
Membelah jalanan Jakarta menjelang sore hari begini bersamaan dengan sebagian orang yang baru pulang dari kantornya membuat jalanan sudah nampak padat.
Kalau tidak sabar-sabar, mungkin Aliya sudah meninggalkan mobilnya di tengah jalan dan melanjutkan pergi dengan ojek online saja.
Pukul 3 sore Aliya baru sampai di TPU, ia memarkirkan mobilnya lalu berjalan dengan gontai membawa bunga lily putih dan pink favorit Ibunya dan sekantong plastik bunga tabur juga air mawar.
Ia berdiri di depan pusara yang di tumbuhi rumput-rumput segar, ia menatap nisan yang terpatri nama Ibu nya di sana, ia menarik nafasnya dalam-dalam agar tidak limbung dan mengumpulkan semua tenaga nya untuk duduk di samping pusara itu.
"Assalamualaikum, bu?" senyumnya terasa sangat getir.
Ia berjongkok lalu membersihkan daun-daun yang jatuh dan membiarkan pusara itu tetap bersih dan sejenak memanjatkan doa-doa untuk Ibu nya.
"Bu, Aliya kangen. Maaf kalau Yaya masih suka nangisin Ibu, maaf ya bu." ucapnya setelah mengaminkan doa nya.
"Nggak terasa udah setahun Ibu nggak ada sama Yaya, waktu terasa cepet banget ya?" ucapnya lagi, air matanya terus menetes.
"Sampaikan salam Yaya untuk Kakek sama Nenek ya, bu?" lalu ia menaburkan bunga-bunga yang ia bawa tadi, meletakkan bouqet bunga lily di sana dan menyiraminya dengan air mawar.
"Aliya pamit, bu. Assalamualaikum." ucapnya lalu beranjak dari sana dengan segala rasa yang tak bisa diungkapkannya dengan kata apapun.
Kakinya terasa berat melangkah keluar, sesekali Aliya masih menoleh ke belakang dan berharap semua yang terjadi adalah mimpi namun ternyata bukan. Aliya berhenti sejenak, menghapus air matanya dan memaksa kedua kakinya untuk melangkah menjauh dari sana.
.
.
.
Mobil Aliya baru saja sampai di pekarangan rumah dan langsung memarkirkannya ke dalam garasi. Mobil berwarna abu-abu milik Mamanya sudah ada di sana, tandanya beliau sudah pulang dan pasti ada di dalam karena suara tawanya terdengar sedang bermain dengan si kembar dan Kanika.
"Assalamualaikum." ucapnya pelan.
Kanika yang melihat Aliya ada di ujung pintu langsung berlari menghampirinya dan minta di gendong, Aliya mengangkatnya ke dalam gendongannya dan Kanika menciumnya.
Mai hanya bisa tersenyum melihat kedua putrinya akur. Bahkan kadang Mai berpikir bahwa Aliya lebih pantas menjadi Ibu untuk Kanika di bandingkan menjadi Kakaknya.
"Wa'alaikumsalam. Kok baru pulang, Kak?"
"Iya Ma, biasa tadi Aliya habis dari nengok Ibu." ucapnya lalu mencium Mamanya.
Mai sudah paham dengan kebiasaan putri sulungnya yang selalu mengunjungi makam setiap ia ada waktu dan kesempatan untuk pergi bahkan di sore hari pun pasti ia sempatkan.
"Gimana kuliahmu? Udah mau libur kan?" tanya Mai sambil membawakan semangkuk buah dingin.
"Biasa aja. Iya udah mau libur, lusa." jawab Aliya lalu memasukan potongan buah ke dalam mulutnya.
Mai hanya tersenyum saja menanggapi sikap Aliya yang seperti ini, ia mulai terbiasa lagi. "Kakak masih marah ya sama Papa?" tanya Mai sambil mengepang rambut Aliya.
Aliya diam saja.
"Marah kenapa atuh? " tanya Mai lagi, Aliya masih diam sambil terus mengunyah buahnya malas-malasan. "Ulah kitu ka Papa."
"Ya menurut Mama aja, gimana kalau di janjiin terus tapi nggak pernah ditepati. Mama kesel nggak?" Aliya balik bertanya.
"Kesel sih, Kak. Tapi itu Papa lho, nggak baik Kakak marah sama Papa lama-lama." Mai terus menasehati Aliya.
Aliya memutar matanya jengah lalu meletakkan kembali mangkuk di pangkuannya dan pergi dari ruang tengah.
"Kak.. Kakak?" Mai menghela napasnya berat melihat Aliya meninggalkannya di sofa.
Mai seolah sudah kehabisan kata membujuk Aliya untuk melunak sedikit saja. Aliya menjadi semakin keras belakangan ini salah sedikit saja efeknya akan seperti ini dan untuk mengembalikannya butuh waktu yang cukup lama.
"Sampai kapan, Kak?" Mai menatap pintu berpelitur coklat di lantai dua, kamar Aliya berada.
☘️☘️☘️☘️☘️
Aliya masuk ke dalam klinik dan menyapa suster-suster di sana. "Siang Sus," sapanya sambil berlalu menuju ke ruangan Mamanya.
"Siang Mbak."
Langkah kaki Aliya terhenti begitu melihat salah satu pintu ruangan terbuka, ia melirik ke dalam sana dan melihat pasangan muda di sana sedang menggendong bayinya yang baru saja lahir.
"Bayi? Sejak kapan di sini ada Dokter kandungan?" pikirnya lalu tersenyum.
"Aliya?"
"Mama." Aliya terkesiap mendengar suara Mamanya dan ia mencoba untuk tersenyum.
"Sejak kapan di klinik kita ada dokter kandungan, Ma?" tanyanya yang masih heran dengan apa yang ia lihat barusan.
Mai tersenyum dan membuat Aliya penasaran, Aliya terus mengulangi pertanyaannya lalu ia menjawab pertanyaan Aliya. "Tadi itu, sebenarnya cuma accident aja. Dia datang ke sini karena di jalan depan tadi itu macet banget sementara si Ibu itu udah mules-mules. Awalnya Mama ragu tapi akhirnya Tante Andara angkat telepon Mama dan Tante Dara bantuin Mama sama Tante Ellea di bimbing lewat video call deh" jelasnya.
"...Kamu harus siap di segala situasi seperti ini ya sayang. Mama mau transfer mereka ke rumah sakit setelah ini."
Aliya mengangguk sementara Mamanya sibuk menelepon rumah sakit untuk dikirimkan ambulance ke klinik dan membawa pasien tadi ke rumah sakit.
"Bunda bawa apa?" tanya Aliya saat masuk ke ruangan melihat Ellea yang baru mengeluarkan Tupperwarenya dari cooler bag.
"Sini Kak, bunda bawa pudding cokelat sama fla vanilla enak deh."
Aliya membuka tutup Tupperware di depannya lalu memakan sepotong pudding cokelat saus vanilla tadi tanpa banyak bicara. Ellea memperhatikan keponakannya itu diam-diam, dulu Aliya tidak begini.
"Kak, Cerita-cerita dong sama Bunda. Kakak udah lama lho nggak sharing sama Bunda." pinta Ellea sambil menikmati puddingnya juga.
Aliya menatap Ellea lalu menggeleng enggan sambil tersenyum. Ia ingin sekali bercerita tapi entah kenapa ia tak mau berbagi masalahnya saat ini pada siapapun, terlebih hanya masalah sepele. Seperti kemarin Vero menegurnya di kantin.
Ellea tersenyum. "Ya udah kalau nggak mau, sok atuh dilanjutin maemnya."
Aliya hanya mengangguk saja dan melanjutkan makannya.
Ellea juga merasakan perubahan sangat besar, dulu Aliya suka bercerita apapun padanya jika Mai sedang sibuk seperti sekarang ini. Tapi sekarang tidak lagi.
"Kamu nggak kasihan sama Mama ya, Kak? Kasihan Ibu juga kalau kamu kayak begini. Ikhlas Kak, ikhlas..." gumam Ellea dalam hati.
"Kak, tunggu Mama bentar lagi selesai ya. Sampai ambulance datang nanti baru kita pulang." ujar Mai saat masuk ke ruangan.
"Emang Mama nggak ikut ke rumah sakit?"
"Nggak. Kita langsung pulang aja nanti atau Kakak mau jajan dulu?" tawar Mai lalu menyendok puding di Tupperware.
"Langsung pulang aja, Ma. Kasian krucils kan." jawab Aliya, Mai mengangguk mengusap kepala Aliya lalu memeluknya dari samping.
"Kangen Mama tuh, Kak." gumam Mai.
"I know, Ma. Sorry." jawab Aliya pelan.
"Move on, Kak." ujar Ellea lalu mengusap tangan Aliya.
.
.
.
Setelah praktik Mai selesai dan pasien tadi sudah dipindah ke rumah sakit, Aliya pulang bersama Mai seperti biasa. Sepanjang perjalanan juga tak ada percakapan apapun, Aliya hanya fokus menyetir dalam diam, tenggelam bersama macetnya kota sore hari. Mai hanya memperhatikan saja padahal ia ingin sekali bertanya tentang kuliahnya tapi pasti ia enggan menjawab.
Sampai di rumah bahkan Aliya langsung naik ke kamarnya tanpa peduli adiknya yang mengejar-ngejar minta diajak bermain akhirnya mereka bertiga menangis di ruang tengah karena merasa terabaikan.
"Ya Allah Kakak kok begitu sih..." lirih Mai sambil menenangkan ketiga anaknya, setelah tenang barulah mereka asyik main lagi dengan mainan yang berserakan di karpet.
"Bik, titip ya. Mau bersih-bersih, gerah." ujar Mai sambil berjalan ke kamar, Bik Minah mengangguk lalu menemani krucils main.
Tak lama kemudian ada suara mobil masuk ke pekarangan rumah, Kanika yang tahu siapa itu langsung berlari ke jendela dan tepuk tangan saat Papanya keluar dari dalam mobil melambaikan tangan pada Kanika yang ada di jendela.
"Mamaasss, papaa langg..." Kanika memanggil si kembar, mereka lantas berlari kesenangan.
"Papa pulang." ucap Hardi langsung di sambut ketiga anaknya.
"Paaaaaaa...." ketiganya langsung rebutan minta di gendong.
"Iya sini Papa gendong semua." benar saja, ketiganya langsung nempel dengan Papanya.
"Mama mana?" tanya Hardi.
"Mama ndii..." jawab Bhima.
Hardi menangguk. "Kakak?"
"Kak iya amaarr, kak iya akalll papaa.. Nda mau main." adu Kanika dan Bian bersamaan. Katanya Kakak di kamar, nakal, nggak mau main.
Hardi berusaha mencerna kata-kata yang belum jelas keluar dari mulut anak-anaknya ini. Sampai akhirnya paham lalu mengangguk. Aliya pasti masih badmood bahkan tak ingin bermain dengan Adiknya seperti kata Kanika dan Bian tadi.
"Mai." panggil Hardi saat melihat Mai keluar dari kamar.
"Iyaa," Mai segera mencium tangan Hardi begitu ia duduk di sampingnya. "Kakaknya masih ngambek, sampai adeknya nggak mau diajak main." cerita Mai.
Hardi mengusap wajahnya. "Gimana caranya biar dia nggak ngambek lagi sama aku?"
"Tepati janji, luangkan waktu. That's it. Walau pasti akan seperti liburan sebelumnya, tapi setidaknya kamu udah tepati." ujar Mai.
"Nggak usah deh liburan, kamu libur di rumah bonding lagi sama anak-anak. Pelan-pelan lagi sama Aliya, nanti pasti dia luluh lagi kok." ujar Mai sambil mengusap lengan Hardi di sebelahnya.
"Kita ini harus bisa jadi sahabatnya. Aku tahu Aliya masih sangat-sangat terpuruk setelah semua yang terjadi selama setahun belakangan ini. Tapi jangan sampai karena itu kita jadi ada jarak, aku selalu terus berusaha untuk mendengarkannya kalau mau cerita, kalau nggak mau ya jangan paksa. Toh nanti dia akan cari kita ketika butuh. Jangan nyerah, Pa, justru di saat seperti inilah Aliya butuh kita untuk tetap support dia di saat merasa terpuruk. Banti dia untuk bangun saat jatuh seperti ini, don't give up Pa. She needs us..."
Mai menyandarkan kepalanya di d**a Hardi sambil Hardi terus memeluknya hingga pelukan itu terinsterupsi oleh tiga anak kecil yang juga berebut ingin di peluk Mama Papa mereka.
☘️☘️☘️☘️
Hujani aku dengan vote dan komen kalian ya genks.
#dahgituaja
#awastypo
Dudui
Danke,
Ifa