7. Terbuai Sentuhan Miguel

1083 Words
Malam itu, kamar hotel yang tadinya terasa dingin dan penuh ketegangan perlahan berubah. Suara napas Miguel yang berat, sentuhan kulitnya yang panas, serta aroma maskulin yang tajam memenuhi udara di sekeliling Olivia. Ketika Miguel mulai melonggarkan cengkeramannya di tubuhnya, sesuatu yang tak terduga terjadi. Alih-alih melawan dengan sekuat tenaga, tubuh Olivia terasa menyerah, meski pikirannya masih dipenuhi kebencian dan ketakutan. Miguel menatap Olivia dengan intens, mata gelapnya menyiratkan kekuasaan yang tak tertandingi. Namun, di balik d******i itu, ada sesuatu yang lebih lembut, sesuatu yang hampir membuat Olivia goyah. Jemari Miguel yang kuat namun lembut mulai menjelajahi setiap lekuk tubuh Olivia, merasakan kehangatan kulitnya. Olivia terdiam, membiarkan diri terbawa arus, terbawa oleh sensasi yang tak mampu ia tolak, meski hatinya penuh pertentangan. "Kenapa kau melawan apa yang kau inginkan, Baby?" bisik Miguel, suaranya serak namun terdengar manis di telinga Olivia. "Aku tahu, kau merasakannya. Aku tahu kita memiliki sesuatu yang lebih dalam dari sekadar permainan ini." Olivia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa apa yang dikatakan Miguel hanyalah delusi. Tapi setiap kali dia hendak membuka mulut, sentuhan Miguel mengalihkan perhatiannya. Tangan Miguel menelusuri pipi Olivia, lalu turun ke lehernya dengan lembut. Setiap sentuhan terasa seperti bara api yang membakar, namun juga menghangatkan bagian dalam dirinya yang selama ini ia coba matikan. "Miguel..." Olivia akhirnya berbisik, tapi suaranya hilang saat Miguel mencium bibirnya. Bibir mereka bertemu dengan penuh gairah, dan tiba-tiba, segala sesuatu yang terjadi di antara mereka selama ini- ketegangan, kemarahan, dan kebencian-meleleh menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit. Ciuman Miguel tidak lagi memaksa, melainkan penuh dengan rasa yang mengguncang seluruh sistem saraf Olivia. Sentuhan Miguel pada kulitnya, cara dia menarik tubuh Olivia lebih dekat, membuat perlawanan Olivia melemah. Dalam setiap gerakannya, Miguel mengendalikan situasi, tapi kali ini dengan kelembutan yang Olivia tidak duga. Malam itu, meskipun hatinya masih diliputi kemarahan dan kebingungan, Olivia tak bisa menahan diri untuk tidak terbuai dalam pelukan Miguel. Keduanya tenggelam dalam keintiman yang menyesakkan, membuat perasaan Olivia semakin campur aduk. Sampai pada akhirnya Olivia tertidur pulas di pelukan Miguel. Miguel tersenyum menyeringai. "Kau akan datang padaku setelah ini, Baby. Aku pasti kau sendiri yang akan memohon." Keesokan paginya, Olivia terbangun dengan sinar matahari pagi yang hangat menyelinap masuk melalui tirai jendela. Seketika, rasa kesal dan malu menyeruak di dadanya saat ia menyadari apa yang telah terjadi semalam. Bagaimana mungkin ia bisa terbuai oleh sentuhan Miguel? Bagaimana mungkin ia membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan yang selama ini berusaha ia tolak? Pikiran-pikiran itu menghantui Olivia saat dia duduk di tepi ranjang, merenungi kejadian yang baru saja berlalu. Namun, sebelum Olivia bisa melarikan diri ke pikirannya sendiri, terdengar suara pintu yang terbuka. Miguel masuk ke kamar dengan sebuah nampan sarapan yang ia bawa dengan tangan santai, seolah-olah malam sebelumnya tak terjadi apa-ара. Senyum tipisnya terpampang di wajah, wajah yang selalu menimbulkan perasaan campur aduk di hati Olivia. "Selamat pagi, Baby," sapa Miguel dengan nada yang terdengar begitu akrab. Ia menaruh nampan sarapan di atas meja kecil di dekat tempat tidur. Ada roti panggang, telur orak-arik, dan buah-buahan segar yang tertata rapi. Selain itu, ada dua cangkir kopi yang masih mengepul, menambah aroma hangat yang menyelimuti ruangan. Olivia mengerutkan kening, mengerahkan segala usahanya untuk tidak terpengaruh oleh perhatian Miguel. "Miguel, aku tidak butuh ini," jawabnya dengan nada datar, berusaha menjaga jarak emosional. "Tapi aku tahu kau butuh sarapan," balas Miguel dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajahnya. Ia mendekat, duduk di tepi ranjang di samping Olivia. "Aku tahu semalam cukup melelahkan untuk kita berdua." Olivia menggigit bibir bawahnya, menahan kata-kata tajam yang ingin ia ucapkan. Meskipun marah, dia tak bisa memungkiri bahwa perhatian kecil seperti ini berhasil meruntuhkan sebagian kecil pertahanannya. Ada sesuatu dalam cara Miguel memperlakukannya yang, meski manipulatif, terasa menenangkan di saat bersamaan. "Aku tidak ingin bicara soal semalam," ujar Olivia akhirnya, menatap Miguel dengan tegas. Miguel mengangguk kecil, menunjukkan seolah-olah ia mengerti. "Baiklah. Kita tidak perlu bicara soal itu jika kau tidak mau." Setelah berkata begitu, Miguel berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. "Aku sudah siapkan air panas untuk mandi, Olivia. Kenapa kau tidak ikut mandi dulu, dan kita bisa melanjutkan harimu dengan lebih baik?" Olivia menatap punggung Miguel dengan perasaan yang sulit diungkapkan. Ada rasa marah yang masih membara dalam dirinya, tapi juga ada keraguan yang menggerogoti. Pikirannya berperang, antara ingin menjaga jarak dan keinginan untuk menerima kenyamanan sesaat yang ditawarkan Miguel. Dalam hatinya, Olivia tahu bahwa semua perhatian ini mungkin bagian dari rencana licik Miguel, tetapi tubuhnya terasa lelah untuk terus melawan. Dengan berat hati, Olivia akhirnya berdiri dan mengikuti Miguel ke kamar mandi. Di dalamnya, uap panas dari air yang telah disiapkan memenuhi udara, menciptakan suasana yang intim dan tenang. Miguel sudah menyiapkan segalanya dengan sempurna-handuk yang lembut, sabun dengan aroma menenangkan, dan bahkan lilin kecil yang menyala di sudut kamar mandi. Meskipun merasa kesal dengan dirinya sendiri, Olivia memutuskan untuk menerima apa yang ada di hadapannya. Dia masuk ke dalam bak mandi yang telah diisi penuh dengan air hangat. Rasa nyaman dari air panas meresap ke dalam tubuhnya, membuat otot-ototnya yang tegang perlahan merelaksasi. Miguel bergabung dengannya tak lama kemudian, tanpa berkata-kata, hanya memberikan senyuman kecil yang sulit diartikan. Mereka berbagi keheningan yang canggung tapi juga intim. Setiap kali Miguel menyentuh kulitnya saat membasuh tubuhnya, Olivia merasa campuran antara kemarahan dan ketertarikan yang membingungkan. Ia benci mengakui bahwa tubuhnya bereaksi terhadap sentuhan Miguel, meskipun pikirannya terus melawan. "Apakah kau merasa lebih baik sekarang?" tanya Miguel dengan suara rendah setelah beberapa saat. Miguel mendekatkan wajahnya, menatap Olivia dengan penuh intensitas. "Aku tidak pernah ingin mempermainkanmu, Olivia. Yang kuinginkan hanyalah kau bersamaku. Apakah itu terlalu sulit dimengerti?" Olivia menoleh, kali ini menatap Miguel langsung ke matanya. "Aku hanya tidak tahu apakah aku bisa mempercayaimu, Miguel. Kau selalu punya rencana, selalu punya niat tersembunyi." Miguel terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. "Mungkin kau benar. Tapi aku ingin kau tahu satu hal-aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi. Aku tidak bisa. Karena aku sudah jatuh terlalu dalam untuk membiarkanmu meninggalkanku." Kata-kata itu, meskipun terdengar manis, membuat Olivia semakin bingung. Apakah ini cinta atau sekadar obsesi? Dan apakah Olivia benar-benar bisa melawan perasaan yang tumbuh di dalam dirinya setiap kali Miguel ada di dekatnya? Kata-kata itu, meskipun terdengar manis, membuat Olivia semakin bingung. Apakah ini cinta atau sekadar obsesi? Dan apakah Olivia benar-benar bisa melawan perasaan yang tumbuh di dalam dirinya setiap kali Miguel ada di dekatnya? Pagi itu berakhir dengan keduanya menikmati sarapan dalam keheningan, meskipun ketegangan di antara mereka masih terasa. Olivia tahu, meskipun dia mencoba melawan, ada bagian dalam dirinya yang mulai menyerah pada permainan berbahaya yang dimainkan Miguel.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD