6. Rencana Licik Miguel

957 Words
Setelah menyantap hidangan pembuka, Tamara menatap Miguel dengan tatapan penuh kasih sayang. Senyum hangatnya terlihat begitu tulus. "Miguel dan adiknya, Nicola, adalah segalanya bagiku," Tamara mulai bercerita, tangannya dengan lembut menyentuh gelas anggurnya yang setengah penuh. Olivia berusaha menyembunyikan rasa tidak nyaman yang menyelimuti dirinya saat mendengar nama Miguel disebut. "Nicola?" Olivia mencoba untuk berfokus pada cerita Tamara, berharap obrolan ini bisa mengalihkan perhatiannya dari pria di depannya. Tamara mengangguk, matanya bersinar penuh kebanggaan. "Ya, adik perempuan Miguel. Dia baru saja kembali dari Swiss setelah menyelesaikan pendidikannya. Nicola sangat berbakat. Dia seorang model sepertimu, namun tidak terlalu suka di sorot. Berbeda dengan Miguel yang selalu tampak berada di tengah sorotan." Olivia mencoba untuk tetap tersenyum, meskipun pikirannya berlarian jauh. Setiap kata yang keluar dari mulut Tamara tentang Miguel hanya memperkuat kenyataan pahit bahwa ia terjebak dalam situasi ini. Ia mencoba untuk menyimak, tetapi matanya terus mencuri pandang ke arah Miguel yang tampak begitu tenang. Tamara melanjutkan dengan nada yang lebih ceria, seolah mengenang masa-masa mudanya. "Dulu, aku juga seorang model, seperti dirimu, Olivia. Dunia modeling memang indah, tapi juga penuh tantangan. Banyak yang berusaha menjatuhkan satu sama lain." Olivia tersenyum tipis, mencoba menanggapi dengan sopan. "Saya tidak menyangka Anda pernah berkecimpung di dunia modeling, Aunty Tamara. Anda pasti sangat sukses di masa muda." Tamara terkekeh pelan, suaranya lembut namun penuh kebanggaan. "Ya, itu sudah lama sekali. Aku sudah pensiun setelah menikah dengan ayah Miguel dan Nicola. Sejak saat itu, hidupku berfokus pada keluarga. Namun, aku selalu mengikuti perkembangan dunia modeling, dan melihat betapa beratnya tuntutan di zaman sekarang." Obrolan antara Tamara dan Olivia terus mengalir, sementara Miguel tetap diam, mengamati setiap gerak-gerik Olivia. Seiring berjalannya waktu, suasana makan siang menjadi semakin tegang bagi Olivia, meskipun Tamara tidak menyadari ketegangan di udara. Setelah selesai makan, mereka berpisah dengan senyum dan sapaan sopan. Namun, di balik senyum itu, Olivia tahu bahwa Miguel tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Tatapan pria itu saat mereka berpisah seolah memberikan pesan terselubung yang membuatnya gelisah. 'Tatapannya benar-benar menakutkan, dia seakan-akan ingin memangsaku,' batin Olivia. Malam harinya, di kamarnya yang sunyi, Miguel duduk di kursinya, menatap ponsel dengan senyum licik yang tak pernah hilang. Ia memegang segelas anggur merah, dan pikiran liciknya mulai berputar, merencanakan langkah berikutnya. Ia tahu, Olivia tidak akan bisa terus lari darinya. Dia harus membuat Olivia menyadari bahwa mereka ditakdirkan bersama, dengan caranya sendiri. Miguel meraih ponsel dan menelepon salah satu koneksinya di dunia modeling. Setelah percakapan singkat dan pertukaran sejumlah uang, rencananya sudah matang. Dia mengatur agar Olivia dikirim ke Italia untuk pekerjaan pemotretan besar. Namun, ini bukan sekadar pekerjaan biasa. Miguel memastikan bahwa di sana, ia akan mengatur sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pemotretan. Beberapa hari kemudian, Olivia menerima kabar dari agensinya. "Olivia, ada tawaran pemotretan besar di Italia. Kliennya adalah brand internasional terkenal, dan mereka ingin kau sebagai wajah utama untuk kampanye ini," ujar sang manajer dengan antusias. Olivia terkejut dan senang mendengar kabar ini. Tanpa curiga, dia segera setuju. Italia adalah salah satu negara impiannya, dan kesempatan ini tampak seperti jalan untuk melarikan diri sejenak dari bayang-bayang Miguel. Dia merasa ini adalah peluang besar untuk kariernya. Olivia berangkat ke Italia bersama asistennya beberapa hari kemudian. Perjalanan yang semula terasa menyenangkan dan profesional berubah saat mereka tiba di hotel yang mewah di Roma. Asisten Olivia tinggal di kamar yang terpisah, memberi Olivia waktu untuk bersantai di kamarnya sendiri setelah perjalanan panjang. Ketika Olivia masuk ke kamarnya, ia langsung menekan tombol lampu, menerangi seluruh ruangan. Namun, yang dilihatnya membuatnya terkejut dan ketakutan. Di sana, di kursi di sudut ruangan, duduk Miguel dengan santai, seringai penuh kemenangan di wajahnya. "Apa kau terkejut, Baby?" ucap Miguel dengan nada rendah, penuh makna. Darah Olivia mendesir. "Miguel? Apa yang kau lakukan di sini?" Suaranya bergetar di antara kemarahan dan ketakutan. Tanpa pikir panjang, dia berbalik, mencoba membuka pintu kamar untuk melarikan diri. Namun, Miguel bergerak lebih cepat. Dalam satu langkah, ia meraih pergelangan tangan Olivia, menariknya kembali ke dalam kamar dan membanting pintu tertutup. "Kau pikir bisa lari dariku sejauh ini?" Miguel mendorong tubuh Olivia ke ranjang, menindihnya dengan tubuhnya yang kuat. "Aku sudah bilang, Olivia, kau milikku. Tidak ada yang bisa memisahkan kita." Olivia meronta, mencoba melepaskan diri dari genggaman Miguel, tapi pria itu terlalu kuat. "Lepaskan aku, Miguel! Kau gila!" Olivia berteriak, tubuhnya gemetar. Namun Miguel hanya tertawa, sebuah tawa rendah yang penuh kepuasan. "Diam," bisik Miguel, menundukkan wajahnya mendekati Olivia. "Kau tidak tahu betapa aku merindukan saat-saat seperti ini. Kau milikku, Olivia. Tidak peduli berapa kali kau mencoba melarikan diri, aku akan selalu menemukanku." Olivia menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata. Tidak ada jalan keluar. Tubuhnya terperangkap di bawah Miguel, dan ketakutan menguasai dirinya. Miguel semakin mendekat, mencium lehernya dengan paksa. "Kau akan mengerti, Olivia," bisiknya lagi. "Pada akhirnya, kau akan melihat bahwa kita memang ditakdirkan bersama." Olivia menoleh, berusaha menghindari ciuman Miguel, tapi tidak bisa. "Aku membencimu," desisnya dengan marah. "Kau tidak akan pernah bisa membuatku mencintaimu." Miguel tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Kita lihat saja nanti, Baby. Kita lihat siapa yang menang pada akhirnya." "Lepaskan aku, Miguel. Jangan seperti ini, aku tidak ingin merusak hubungan bersama Kak Maria." Miguel menaikkan sebelah alisnya, pria tersebut menatap Olivia dengan serius. "Memangnya kau merusak hubungan kami? Tidak... tidak ada yang kau rusak, Baby." Miguel tersenyum smirk. "Menurutlah, semuanya akan berjalan indah jika kau menurut." Fuck! Apa-apaan ini? Olivia benar-benar ingin sekali memukul kepala Miguel. Apa katanya tadi? Menurutlah, dan semuanya akan berjalan indah? Gila, Miguel memang gila, dan sialnya Olivia bertemu dengan sosok Miguel kembali. Malam itu, Olivia merasa seperti tawanan di kamarnya sendiri, terperangkap dalam permainan licik Miguel. Pria itu telah merencanakan semuanya dengan sempurna, dan kini Olivia harus menemukan cara untuk melarikan diri dari cengkeraman pria berbahaya yang tak pernah berhenti mengejarnya. "Kau b******k, Miguel!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD