5. Insiden

1214 Words
Keesokan paginya. "Aku mohon pergilah dari kamarku sekarang, Miguel." Olivia mendorong tubuh Miguel agar melepaskan pelukannya. "Please, aku tidak mau Kak Maria tahu kau ada di sini b******k!" Olivia benar-benar sangat kesal dengan Miguel, dia ingin sekali memukul kepala Miguel. Miguel mengecup bibir Olivia. "Kenapa bibirmu semakin sexy jika mengumpatiku, Baby?" "Gila! Kau pria gila... astaga, bagaimana bisa aku bertemu denganmu lagi?" "Karena memang kita berjodoh." "Jodoh katamu?" Olivia terkekeh, wanita itu menatap Miguel dengan tajam. "Tidak ada yang mau berjodoh dengan seorang casanova sepertimu, memang Maria saja yang bodoh karena mau bersama pria sepertimu!" Olivia mendorong tubuh Miguel sekuat mungkin. "Menjauh... ah f**k!" Olivia membekap mulutnya sendiri saat Miguel menyesap lehernya, dan meninggalkan bekas kissmark di sana. "Apa yang kau lak---" Olivia menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga ketika Miguel menyesap belahan dadanya. Miguel tersenyum puas. "Jangan lupa jika kau milikku, Olivia. Anggap itu tanda jika mulai sekarang kau wanitaku." Miguel memangut bibir Olivia terlebih dahulu sebelum Olivia bersuara, hingga di akhiri dengan gigitan kecil. "b******k!" Olivia beranjak bangun saat Miguel melepaskan ciuman mereka dan menuruni ranjang. Pria itu mengedipkan sebelah matanya, sebelum akhirnya keluar dari kamar Olivia. Olivia mengusap dadanya dengan pelan. "Oh astaga, aku harus menjauh dari pria gila itu." Siang harinya. Suara kamera yang memotret bertalu-talu mengisi studio. Olivia mengenakan gaun elegan berwarna merah yang membalut tubuhnya dengan sempurna, rambut panjangnya digerai, berkilauan diterpa cahaya lampu sorot. Setiap pose yang ditunjukkannya dipenuhi keanggunan dan karisma, menjadi pusat perhatian semua orang di ruangan itu. Senyumnya terlihat manis, tapi dalam hatinya, kegelisahan dan beban yang ditanggungnya begitu berat, terutama setelah kejadian sarapan pagi dengan Miguel. Namun, seperti biasa, Olivia tetap profesional. Dia membiarkan kamera merekam sisi terbaik dirinya, menyembunyikan kekacauan batinnya di balik kilauan gemerlap gaun dan riasan wajah yang sempurna. Begitu pemotretan selesai, ia menunduk hormat pada kru yang terlibat sebelum melangkah keluar dari studio dengan senyum yang dipaksakan. Saat keluar dari gedung studio, langit mulai senja. Olivia melangkah menuju trotoar, hendak memesan transportasi untuk kembali ke mansion. Angin sore berhembus lembut, membawa rasa lega sejenak dari panasnya hari. Tapi tiba-tiba, di kejauhan, terdengar suara klakson mobil yang menderu keras. Mata Olivia langsung tertuju pada sebuah mobil yang melaju kencang di jalanan kota yang seharusnya ramai. Dengan panik, ia melihat seorang wanita paruh baya yang sedang menyeberang jalan, tidak menyadari mobil yang nyaris menghantamnya. Jantung Olivia berdetak kencang, tubuhnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Tanpa berpikir panjang, ia melesat ke depan, mendekat ke arah wanita itu. Dengan seluruh keberanian yang tersisa, Olivia menerjang, menarik wanita itu ke pinggir jalan hanya sedetik sebelum mobil itu melesat melewati mereka. Suara ban yang menderu menggema di udara, diikuti dengan suara benturan kecil saat mobil itu menghantam tempat sampah di ujung jalan. Olivia terengah-engah, tangannya masih memegang erat bahu wanita itu. Wanita tersebut, yang tadinya terlihat panik, kini memandang Olivia dengan keterkejutan yang luar biasa. Matanya berbinar, campuran antara rasa syukur dan ketidakpercayaan terpancar di wajahnya yang cantik meski terlihat sedikit berusia. "Apakah Anda baik-baik saja?" tanya Olivia dengan napas yang masih terengah, berusaha mengendalikan detak jantungnya yang tak terkendali. Wanita paruh baya itu memandang Olivia dengan tatapan yang penuh penghargaan. "Aku… aku tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih padamu," suaranya terdengar sedikit gemetar, tetapi penuh kelembutan. "Kau menyelamatkan nyawaku." Olivia tersenyum lemah, masih terkejut oleh adrenalin yang mengalir dalam tubuhnya. "Itu bukan apa-apa. Saya hanya kebetulan berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat." Wanita itu menarik napas dalam, berusaha menenangkan dirinya. "Tidak, kau melakukan lebih dari itu." Ia tersenyum hangat, lalu memperkenalkan dirinya. "Namaku Tamara. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu penyelamatku hari ini." Olivia balas tersenyum, namun pikirannya masih berada di antara kejadian barusan dan sosok Miguel yang terus menghantui kesehariannya. "Saya Olivia," jawabnya singkat, lalu melirik jalanan yang sudah kembali tenang. "Olivia, tolong izinkan aku membalas budi baikmu," lanjut Tamara. "Setidaknya biarkan aku mengantarmu pulang." Olivia ragu sejenak, tetapi senyum tulus Tamara membuatnya mengangguk. Mungkin hari ini ia bisa pulang ke mansion dengan sedikit rasa lega, meski sejenak terlepas dari beban yang ada di sana. Tanpa Olivia sadari, pertemuan ini akan mengubah arah hidupnya secara tak terduga. Olivia merasa sedikit canggung ketika Tamara menawarkan untuk makan siang bersama, namun kebaikan wanita paruh baya itu membuatnya tak mampu menolak. Setelah apa yang baru saja terjadi, rasanya wajar jika Tamara ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang yang baru saja menyelamatkan nyawanya. Mereka memilih sebuah restoran mewah yang tak jauh dari tempat kejadian, suasananya tenang dan elegan, cocok untuk percakapan santai di siang hari. Setelah duduk di meja yang dipesan, Tamara tersenyum lembut ke arah Olivia. "Aku seharusnya makan siang dengan putraku hari ini, tapi kau telah menyelamatkan hariku," katanya dengan nada bercanda. "Jadi, aku harap tidak masalah jika aku memintanya untuk bergabung dengan kita." Olivia tersenyum kecil, menepis kegelisahan yang mulai merambat. "Tentu saja, tidak masalah," jawabnya sopan. Ia tak tahu apa yang menunggunya, berpikir bahwa mungkin ini hanya akan menjadi pertemuan makan siang biasa. Namun, ada sesuatu yang aneh mulai terasa di perutnya, seolah firasat buruk mulai merayap perlahan. Tamara mengeluarkan ponselnya dan menelepon putranya. "Miguel, sayang, kau sudah selesai dengan urusanmu? Datanglah ke restoran sekarang. Ada seseorang yang ingin kukenalkan padamu." Nama itu langsung membuat Olivia terhentak, darahnya berdesir dingin. 'Miguel? Tidak mungkin... ya, banyak nama Miguel. Calm down, Olivia,' Namun, Olivia tetap berusaha menjaga ekspresinya tenang, berharap bahwa ini hanyalah sebuah kebetulan nama yang sama. Waktu berlalu dengan cepat, dan tak lama setelah itu, Olivia melihat sosok seorang pria tinggi memasuki restoran. Mata Olivia langsung terpaku pada wajah yang tak asing baginya, wajah yang selalu menghantui setiap langkahnya. Pria itu—Miguel—berjalan dengan tenang, penuh percaya diri, seperti seorang raja yang baru saja memasuki wilayah kekuasaannya. Saat tatapan Miguel bertemu dengan Olivia, senyumnya melebar menjadi seringai yang membuat bulu kuduknya meremang. "Olivia," ucap Miguel, suaranya dalam, penuh dengan arti yang tersembunyi. "Sungguh kebetulan yang luar biasa. Aku tak menyangka akan bertemu denganmu di sini." Olivia membeku di tempatnya, hatinya berdebar kencang. Dalam pikirannya, ia berteriak untuk lari, untuk menjauh dari situasi ini, tetapi tubuhnya menolak bergerak. Semua yang dilakukannya hanyalah menatap Miguel dengan pandangan penuh keterkejutan dan rasa tak percaya. Tamara, tidak menyadari ketegangan yang mulai menggantung di udara, tersenyum hangat saat Miguel duduk di meja. "Miguel, ini Olivia, wanita luar biasa yang tadi menyelamatkan nyawa Mommy. Kau harus berterima kasih padanya." Miguel menoleh ke arah Olivia, matanya memandang dalam, seolah menyelami pikirannya. "Oh, tentu saja, aku sangat berterima kasih," ucap Miguel, dengan nada yang terlampau manis untuk bisa dianggap tulus. "Olivia, kau benar-benar tahu cara membuat hidupku semakin menarik." Olivia menahan napas, berusaha keras untuk mengendalikan emosi yang meluap dalam dirinya. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa di depan Tamara, yang sama sekali tidak menyadari ketegangan antara dirinya dan Miguel. 'Sialan, dari sekian banyaknya manusia... kenapa harus dia?' Olivia mengumpat dalam hati, merasa seperti terperangkap dalam situasi yang sulit dipercaya. "Mari kita nikmati makan siang ini," kata Tamara, mengangkat gelas anggurnya dengan senyum ceria. "Aku bersyukur kita semua bisa berkumpul di sini hari ini." Sementara itu, Miguel terus memandang Olivia, seringai liciknya tak pernah pudar dari wajahnya. Di balik senyum dan keramahan Tamara, Olivia tahu bahwa makan siang ini akan menjadi ujian mental yang sulit baginya. Miguel menyeringai melihat Olivia. 'Kau memang di takdirkan menjadi milikku, kelici kecil. Sejauh apapun kau bersembunyi, kau akan tetap kembali padaku,'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD