Jantung Olivia berdetak kencang, seakan semua udara di ruang makan mendadak terasa menipis. Kata-kata Yura begitu mendadak, begitu menusuk, hingga ia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Matanya membesar, napasnya sejenak tertahan. Ia tak menyangka Yura akan berani mengatakan hal seperti itu dengan begitu terang-terangan. Ada sesuatu dalam tatapan gadis itu yang membuat Olivia merasa seperti sedang terbaca habis—seolah rahasia yang ia simpan rapat-rapat kini terbuka begitu saja. Mengendalikan dirinya, Olivia mencoba meredakan kegugupan yang terasa menghentak di dadanya. Ia memasang senyum tipis, meski hatinya tak tenang. “Apa yang kau pikirkan, Yura?” tanyanya dengan nada ringan, meski sebenarnya ada sedikit getaran dalam suaranya. Yura hanya mengedikkan bahu, seolah apa yang baru

