Ayah Terhebat 36

2017 Words

Tiga hari kemudian. Malam itu, sekitar pukul 7 malam. Fatih dan Ratih belum makan malam sama sekali, Aswat belum pulang, padahal sebelum jam 7 sudah tiba di rumah. "Ayah, di mana, sih, Kak? Latih udah lapel, nih," keluh Ratih, mengelus perutnya yang baru saja berbunyi. Tak hanya Ratih saja, Fatih juga merasa kelaparan, perut mereka keroncong. Fatih meraba saku celananya, baru ingat ada sisa dua permen yang mereka di warung Bu Een siang tadi. "Ini Kakak ada permen, kamu makan ini dulu, ya, buat ganjel perut," ujarnya. Dalam hati sama mengeluhkannya seperti Ratih, hanya saj dia tidak menunjukkan di depan adiknya. Dia tidak mau Ratih membuat Ratih mendengar keluhannya juga. Fatih menatap arah pintu yang tak kunjung terbuka, mereka duduk lesehan di lantai. Tidak biasanya ayah mereka lalai

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD