Ayah Terhebat 48

1908 Words

Semua turut berduka. Menengadahkan tangan mereka, mulai berdoa untuk almarhum. Aswat berjongkok di di depan makan sang ayah, lalu tak beberapa lama para pelayat mulai pergi setelah doa selesai. Suara tangis Santi masih terdengar, sangat pilu bahkan mampu menyayat hati siapapun. Aswat memalingkan wajahnya, tak sanggup lagi. Dia sudah banyak menangis dari kemarin, hingga pagi ini saat dia sendiri menyaksikan tubuh kaku ayahnya di masukkan ke dalam tanah. "Ayah." Dua suara itu amat dia kenali. Aswat langsung menoleh ke belakang, mendapati dua anaknya yang mengenakan baju serba hitam, datang menghampiri. "Kalian." Aswat menarik tubuh dua anaknya, merengkuh tubuh kecil itu. Berharap memberikan kekuatan untuk dirinya yang sedang rapuh kali ini. "Aku turut berduka cita." Suara lain terdengar,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD