Sering Tertukar

1936 Words
“Fauzan” Panggil Dewa, tapi tak ada satu pun yang merespon panggilan absen itu. Semua orang jadi celingukan sendiri karena tak ada yang merasa memiliki nama itu di kelas ini. Begitu pun juga dengan aku yang baru pertama kali mendengar nama itu ada dalam absen mahasiswa di kelasnya sore ini. Karena seingatku di angkatanku dan satu tinggat di atasku yang belum lulus, tak ada yang memiliki nama itu. “Oh, salah... Putri maksud saya” “Apa? Kok tiba-tiba...” Tak kuselesaikan karena aku langsung mengingat dari mana si ‘Fauzan’ itu berasal. Hhhfttt Dewa memang manusia paling menyebalkan di dunia ini. Padahal sudah dua minggu lewat sejak insiden typo itu, bahkan orang-orang pun sudah mulai melupakan kebodohanku itu, tapi ia malah mengungkitnya lagi seperti itu. “Dasar nyebelin” Gumamku pelan sambil menunduk, malu, karena kini beberapa temanku mulai mengulumkan senyumnya ingin menertawakanku. “Apa? Gak kedengeran Put, Fauzan itu siapa kamu? Pacar?” Pacar? Waah... Dia ini benar-benar menguji kesabaranku. Bisa-bisanya ia bertanya begitu setelah sangat tahu kalau aku ini adalah istri dari saudara kembarnya sendiri. Akhirnya karena sudah tak tahan, kutegakan wajahku, bahuku dan tak lupa kulemparkan tatapan tajamku padanya, siap meledakkan amarahku. “Pak-“ “Okey, tak ada yang absen hari ini, dan kita sudahi saja kelas cukup sampai di sini, terimakasih atas waktunya, selamat sore...” Padahal baru saja aku akan protes, tapi Dewa malah menutup kelas sore ini dengan tiba-tiba seperti itu. “Udah, keselnya ditaro aja, anggap aja dia itu suami tercintamu Fau, eh- maksud gue Put” Sialnya lagi teman-temanku malah jadi mengejekku, sampai ada juga yang tertawa ngakak puas karenanya. Brakkk Karena terlampau kesal, sampai jadi kubanting saja handbook materiku pada meja, hingga mengeluarkan suara yang cukup keras di ruangan yang sudah kosong dan di tinggalkan oleh semua orang kecuali Dewa di depan sana. “Keterlaluan banget sih tuh Dewa” Dengan semua keberanian yang kupunya, akhirnya kubawa kakiku melangkah ke arah mejanya bersama dengan semua rasa kesal dan amarahku. “Dewa!” Panggilku, niat awal tadi ingin membentak, tapi malah jadi hanya mampu berbisik saja padanya. Karena aku pikir akan terlalu beresiko, jika aku sampai membentaknya keras-keras dan harus berakhir menjadi pusat perhatian banyak orang. Aku harus ingat kalau aku ini sekarang juga membawa nama suamiku. Aku tak bisa berulah seenaknya karena aku sudah menyandang staturs istri dari seorang direktur utama rumah sakit besar. “Apa?” Dewa menjawabku dengan nada malasnya, tak terlihat ada sedikit pun rasa bersalah yang ingin di tujukannya padaku. “Dewa pliiss kenapa sih di ungkit lagi soal itu, dilupain aja kenapaaa...” Dasar aku, bukannya marah, kini aku malah memelas padanya. “kirimin topik sama tiga judul skripsi kamu, biar bisa langung aku review buat proses awal” Ucap Dewa tiba-tiba, meski arah pembicaraannya itu ‘Gak Nyambung’ tapi aku senang sekali mendengar itu. “Seriuss?? benerankan? gak boong kan??” Tanyaku memastikan, karena mungkin saja aku akan bisa membunuh dirinya, jika apa yang baru saja di katakannya itu hanya sebuah candaan atau kebohongan belaka. “Beneran Putri, kirim ke rumah” “Okey siaaap Pak!” Balasku dengan nada semangat 45’ ku. Dewa langsung terkehkeh mendengarku yang baru saja menjawab perintahnya layaknya seorang prajurit pada komandannya. Niat marahku luruh sudah, tergantikan dengan semua perasaan senangku soal rencana Dewa yang tak kusangka-sangka ternyata mau juga mereview topik skripsiku. “Euhhh dasar” Ucapnya sambil berdiri dan mengacak-acak rambutku jahil. “Ahhh! Rambut aku nanti jadi berantakan Dewa” “Bodo amat” Ucapnya sambil berjalan lebih dulu keluar ruangan kelas. Kali ini karena sedang sangat senang, jadi aku akan mengabaikan soal tingkah menyebalkannya yang satu itu. Bahkan aku masih bisa tersenyum dengan sangat lebar, tak sedikit pun merasa kesal, karena skripsiku akhirnya mau di terima Dewa, setelah topik dan judulku yang selaluuuu... saja mendapat penolakan darinya. Aku memang mulai mengerjakan skripsiku. Dan mungkin karena memang jodohnya harus dengan kembaran suamiku, jadilah akhirnya Dewa menjadi dosen pembimbing skripsiku. Tak ada yang mudah saat bersamanya. Aku selalu mendapat ocehan panjang dari Dewa, sampai sampai daun telingaku jadi panas dan layu setiap kali bersamanya. “Oh iya, aku harus bayar uang semester aku dulu di bagian administrasi” Padahal Mas Nakula sudah memberikan uang kuliahku itu sejak dua hari yang lalu, tapi tak tahu kenapa aku selalu saja lupa untuk membayarnya. Akhirnya aku langsung saja berjalan ke bagian administrasi, sebelum nanti aku lupa lagi. Tapi setelah sampai, anehnya semua orang melihatku dengan tatapan anehnya, sampai aku jadi berpikir mungkinkah ada yang salah dengan diriku. “Put, sini” Dewa yang entah datang dari mana, kini menarik tanganku dan membawaku ke sisi yang tak seramai area sebelumnya. “Put, tas kamu” Ucapnya tiba-tiba, “Dewa, jangan bilang kamu mau todong aku ya?” Curigaku, kemudian Dewa terlihat hanya menghembuskan napas panjangnya saja alih-alih menjawab tanyaku. Ia kemudian malah semakin berani memasukan tangannya ke dalam tasku, mencari sesuatu di sana. “Dewa! Aku serius, uang aku gak banyak loh, itu cuma buat bayaran semester, jadi jangan di ambil! atau aku bakal teria-” “Ini Put, kamu tuh sisirin rambut kamu kenapa sih... atau ngaca gitu, rambut kamu itu berantakan” Mendengar ucapannya itu, aku langsung merebut kaca di tangan Dewa yang baru saja di ambilnya juga dari dalam tasku bersama dengan sisir pink-ku. “OMG! kenapa jadi berantakan gini, tadi-“ Aku langsung menemukan pelaku yang membuat rambutku jadi berubah wujud seperti rambut singa ini. “Apa?” “Apa? Waahh... Gak sadar rambut aku jadi kaya gini itu ulah siapa?” “Emang gara-gara siap-“ Kutatap dirinya tajam, sampai ia jadi terdiam sekarang. “yaudah deh, sini gue sisirin, huhh dasar Fauzan” “Aaaa!!! jangan panggil aku fauzan lagi Dewa!” Protesku, Dewa tertawa saja sambil menyisiri dan menata kembali rambutku. “Loh, Dokter Nakula kok udah di sini aja, tadi bukannya masih di parkiran ya?” Tanya seorang dosen, Bu Fara namanya, jelas tanyanya itu di tujukannya pada Dewa yang berwajah sama dengan suamiku. “Aah, pasti cepet-cepet ke sini pengen ketemu istrinya yang cantic banget ini yaa, manis banget sih Dokter Nakula ini...” Tambahnya, aku dan Dewa kini jadi tak bisa berkata apapun untuk menjawabnya. Karena kecanggungan pasti akan tercipta, jika aku atau Dewa mengungkapkan kalau ia baru saja salah orang atau lebih tepatnya ter-tu-kar. “Oh iya Put, katanya kamu dapet Pak Dewa ya jadi dosen bimbingan skripsi kamu itu” Aku lantas mengangguk saja tersenyum canggung padanya, “Kamu harus sering sering sabar hadapin dia, kayanya Pak Dewa itu bertolak belakang sekali dengan dokter Nakula, suami kamu ini yang perhatian banget, sampe mau bantu rapihin rambut kamu Put...” Aku sampai jadi menaikan kedua alisku, sepertinya Bu Fara benar-benar sudah salah paham saat ini. “...Kalo Pak Dewa kan saya tahu sendiri... hobinya dia itu ya marahin kamu Put...” Tutupnya, dan itu membuatku langsung menatap orang yang sedang di bicarakan oleh Bu Fara kini. Dewa sudah pasti sedang berusaha menahan amarahnya sekarang ini. “Bu, maaf kami harus pergi, saya dan istri sudah ada jadwal, lain kali di sambung kembali ya, permisi” Ucap Dewa tiba-tiba, ia bahkan memanggilku sebagai istrinya dan bertingkah ramah menirukan sikap Mas Nakula saat ini. Ah Lucu sekali dia itu. Padahal aku sangat tahu dalam hati Dewa, sekarang ini ia sedang ingin marah sampai meledak-ledak. Tapi ia lebih memilih untuk berakting saja menjadi kakaknya yang terkenal dengan kebaikan hatinya. “Ah iya, permisi Bu” Pamitku sambil menahan tawaku, rasanya benar-benar puas sekali mendengar ada yang mengatakan dengan jujur bagaimana sifat Dewa itu tepat di depan wajahnya sendiri. “ahahahhh... hahahh...” Tawaku pecah setelah berjalan cukup jauh dari Bu Fara. “Ish, bahagia di atas penderitaan orang lain itu gak baik loh” “Abis Lucu banget hahahahh....” Saking puasnya, aku tertawa sampai memegangi perutku yang terasa melilit, lebih geli dari pada di gelitiki oleh Mas Nakula. “Kualat loh, nanti malah beneran jadi istri gue gimana? mau?” “Idiiih amit-amit” Balasku langsung mejauhkan diri darinya. Tapi dasar jahilnya Dewa, ia malah mendekat-dekatkan diri padaku, sampai aku jadi berlari untuk menjauh darinya. “Putrii!!” Aku terus berlari tak mempedulikan panggilannya sampai... Dukkk “Awww!!” “Ahhh sakit...” Aku baru saja membentur pintu masuk gedung bagian administrasi yang kebetulan terbuat dari kaca transparan, sampai aku jadi terjatuh ke lantai, sambil memegangi keningku yang terasa pening, sakit sekali. Aku hanya bisa meringis sambil menunduk, pandanganku juga jadi berputar-putar efek dari benturan itu. Tak lama kemudian kurasakan ada satu tangan, yang kini tengah merangkul dan membantuku untuk berdiri. Kemudian di raihnya wajahku, di tatapnya diriku lekat-lekat dari jarak yang amat dekat. Ia tengah memeriksa keningku yang baru saja terbentur pintu kaca dengan cukup keras itu. “Put, sakit ya?” “Kamu sih jailin aku! jadinya aku kebentur deh..” Marahku pada Dewa, bahkan saking kesalnya kudorong dadanya yang sedang berada di dekatku. “Dasar nyebelin!” Umpatku padanya. “Sayang kok gara-gara aku sih?” Tanyanya seolah tak bersalah. “Sayang? kamu berani panggil aku sayang? Dewa kamu-“ Kuperhatikan dirinya. Mendadak aku jadi keheranan. Kenapa ia memakai kaca mata dan mengenakan pakaian yang berbeda, itu seperti kemeja milik... OH MY GOD!! Aku langsung menutup mulutku tak percaya, saat sadar yang tengah berada di hadapanku, yang baru saja kudorong dan yang tadi membantuku untuk bangun dari jatuhku adalah suamiku, Mas Nakula, bukan Dewa. Kulirik ke belakang dan orang yang seharusnya mendapat marahku barusan itu, masih ada di tempatnya semula tadi, tengah menertawakanku yang baru saja jatuh sampai mendorong suamiku sendiri yang kuanggap itu adalah dirinya. “Ish Dewa, dasar nyebeliiinnnn!!” Kesalku sambil kuhentak-hentakan kakiku. “Sayang, ada apa sih, kok bisa sampe kebentur, jatoh gitu? terus kenapa kamu marah-marah gini sih?” Heran Mas Nakula atas tinggahku. “Itu loh Mas, Dewa jailin aku, aku tadi lari dia, eh... malah kebentur” Kuadukan tingkah jahil kembarannya itu, berharap ia bisa di marahi lagi oleh Mas Nakula. “Terus kamu jadi marahnya sama aku? gitu?” Tanya Mas Nakula. Mungkin ia merasa tak adil karena marahku malah sasaran jadi padanya barusan itu. “Tadi ketuker Mas hehe, aku pikir tadi Mas itu Dewa, jadinya aja...” Mas Nakula terlihat memasang wajah datarnya saja, sambil menghembuskan napas panjangnya. “Yaudah kita obatin dulu jidat kamu ini” “Itu Dewanya pukul duluuu” Pintaku pada Mas Nakula. Tak adil kalau Dewa hanya di biarkan begitu saja. “Nanti aja di rumah, sekarang ayo ke mobil” Akhirnya aku di tuntun oleh Mas Nakula untuk berjalan ke mobilnya. Kalau di pikir lagi kenapa aku sampai mengira tangan yang di ulurkan Mas Nakula tadi itu adalah tangan Dewa. Nada bicara Dewa juga tak mungkin bisa sampai sekhawatir itu saat aku jatuh tadi. Aku seharusnya sadar, kalau hal yang paling membahagiakan bagi Dewa adalah saat melihat aku sedang kesulitan. “Maaf ya Mas, bisa-bisanya aku marah terus anggep kamu Dewa tadi” “Ehm, ga papa kok, resiko orang kembar, ketuker itu udah biasa” Tapi tetap saja rasanya tak enak sekali, karena aku ini bukan orang yang melihatnya untuk pertama kalinya, tapi aku ini adalah perempuan yang sudah di nikahinya selama setahun ini. “Tapi aku kan istri Mas, masa masih aja ketuker sih...” “Gak papa sayang, ehmm tapi kalo kamu ngerasa bersalah banget... ganti cium pipi aku kayanya cocok buat permintaan maaf” Ucapnya padaku. Dan langsung saja dengan senang hati kuberikan kecupan, bahkan banyak kecupan di pipinya. “Ehmm isri cantik aku kasian banget sih, gara-gara Dewa jadi kepentok gini jidatnya” Ucapnya sambil menangkup wajahku lembut dan mesra. “Cium Mas, biar sakitnya ilang Pintaku manja. Cup Cup Cup ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD